Beberapa hari menjelang hari pencontrengan, pemilu legislatif, saya selaku ketua TPS berinisiatif untuk memenuhi perlengkapan operasional pada hari pencontrengan tersebut. Beberapa anggota TPS mengusulkan adanya seragam panitia agar terlihat kompak dan eye cacthing, gitu lhooo !, yang lain mengusulkan adanya makan prasmanan, dan biaya-biaya lain pada malam menjelang hari pencontrengan. Usulan-usulan ini tentu membuat kepala saya agak pening, gimana nggak pening kalau dana dari KPPS Kelurahan untuk setiap TPS yang sudah minim itu, masih dipotong untuk biaya Laporan ke KPPS Kecamatan. Ya, ujung-ujungnya saya mencari donatur tambahan, siapa lagi kalau bukan kepada caleg yang sudah habis-habisan mengeluarkan dana selama kampanye.
Saya pikir, mungkin teman-teman saya yang nyaleg itu masih menyisakan dana non budgeter-nya, namun ternyata mereka takut disebut sebagai caleg yang melakukan tindakan money politik. Saya, yang mungkin memiliki wawasan politik rendah menganggap bahwa memberi tambahan konsumsi pagi Panitia TPS bukanlah money politic, tapi shadaqah. Apalagi mau memberi seragam batik buat teman-teman anggota TPS. Tapi karena para donatur ini adalah politikus, maka segala sesuatu harus dihitung untung-ruginya, berbahaya atau tidak, berpengaruh atau tidak, dan lain-lain. Wal hasil, para Caleg mengurungkan niatnya untuk membantu Panitia TPS, bahkan hanya sekedar air aqua sekalipun. Ada sih yang sudah siap membatu satu kardus air mineral, tapi pesannya jangan sampai ada yang tahu kalau air itu dari caleg partai ’anu’ !.
Ada juga beberapa Panitia TPS tetangga, yang sangat idealis, mereka menolak bantuan apapun dari caleg. Meskipun dananya minim, honor mereka rela dikorbankan untuk mengadakan peralatan assesoris TPS, seperti sewa sound system, lampu penerangan dan biaya-biaya lain yang menurut saya nggak penting-penting amat. Salut juga sih, tapi apa iya keikhlasan Panitia TPS menjadi ukuran sukses tidaknya Pemilu Legislatif ?.
Ketakutan para caleg, atau mungkin duitnya cekak, juga menjadi alasan normatif untuk tidak membantu Panitia TPS yang kesulitan dana operasional, ditambah lagi dengan adanya kewajiban partai dan calon legislatif untuk bisa transparan kepada publik dalam mengelola keuangannya. Saya pikir, kalaupun ada partai maupun caleg yang secara terang-terangan jujur menyatakan jumlah pengeluaran dana selama masa kampanye, pasti hanyalah sandiwara belaka. Ada tujuan tertentu yang diarahkan sebagai sasaran pernyataan tersebut. Ini dugaan saya aja, yang sebenarnya sudah jenuh bicarain politik.
Sengaja, pada hari tenang setelah masa kampanye yang melelahkan ini, saya mengirim SMS kepada seluruh teman-teman caleg di wilayah saya agar mau melakukan serangan fajar kepada rakyat yang tidak mampu secara ekonomi. Tapi jawaban para caleg apa ?. Wah mas, saya takut ketahuan Panwaslu nih !. Alasan saya mengirim SMS serangan fajar hanya mengingatkan saja kepada para caleg, agar mau memberi sembako gratis kepada rakyat, kalau sudah jadi legislatif khan boro-boro kenal rakyat, mau ketemu saja sulit sekali. Rakyat pada hari ini dengan tangan terbuka, sedang menunggu sapaan manis dari para caleg sambil menenteng sembako untuknya. Mereka berharap di akhir-akhir hari tenang ini minimal ada lima caleg aja, yang mau memberi sembako dan uang lauk-pauk, mungkin selama sebulan mereka merasakan adanya kedamaian ekonomi. Terserah apa tujuan para caleg itu, yang penting rakyat merasakan ada perubahan meskipun sesaat.
Menurut saya, yang lebih lucu lagi, ada caleg yang terang-terangan bilang kepada massa-nya, bahwa jangan ada lagi yang melakukan money politic, kalau ada yang memberi uang, ambil uangnya dan jangan contreng partainya. Menurut saya caleg ini mungkin nggak punya duit untuk di sedekahkan kepada rakyat, jadi siasatnya hanya membalik pikiran rakyat saja bahwa caleg yang memberikan uang kepada rakyat adalah caleg yang jelek.
Masa kampanye adalah masa menebar janji, kapan janji itu bisa tumbuh dan berbuah menjadi realitas yang kongkrit ?. Tidak pernah ada. Tidak pernah ada janji yang bisa membuahkan realitas, yang ada hanya pengingkaran terhadap janji itu. Karena kalau kita mau sedikit buang waktu untuk membahas tentang janji ini, kita bisa temukan ketidakrelevanan antara janji yang diucapkan kepada publik dengan waktu yang bergulir.
Pada hakekatnya, janji yang diucapkan oleh para caleg, ada pada kondisi sekarang (saat ini alias the now), sementara realitasnya ada pada kondisi yang akan datang (the future). Pada saat kita berjanji, maka kita harus mampu berada (eksis) pada kondisi yang akan datang yang tidak seorang manusiapun mengetahui kondisi tersebut. Wal hasil, kondisi yang akan datang adalah kondisi yang tidak bisa diprediksi (tidak pasti) keberadaannya, baik secara individual, maupun secara kolektif. Jadi para caleg hanya ngarang dong !. boleh percaya, boleh juga nggak. Justru yang disarankan oleh para rohaniawan dan para spiritualis, berjanjilah kepada diri sendiri, bukannya kepada orang lain.
Ujung-ujungnya sih, saya hanya berharap baik kepada teman-teman calon pejabat legislatif, bahwa kejujuran itu bukan kepada orang lain, tetapi kepada diri kita sendiri. Dan yang penting jangan takut memberi shadaqah, hari ini rakyat butuh serangan fajar dari anda-anda sekalian, caranya bisa bisik-bisik, ngumpet-ngumpet, atau senggol sana-senggol sini, atau apa saja terserah. Emangnya saya pikirin !.
Bekasi, 07 April 2009.
Saya pikir, mungkin teman-teman saya yang nyaleg itu masih menyisakan dana non budgeter-nya, namun ternyata mereka takut disebut sebagai caleg yang melakukan tindakan money politik. Saya, yang mungkin memiliki wawasan politik rendah menganggap bahwa memberi tambahan konsumsi pagi Panitia TPS bukanlah money politic, tapi shadaqah. Apalagi mau memberi seragam batik buat teman-teman anggota TPS. Tapi karena para donatur ini adalah politikus, maka segala sesuatu harus dihitung untung-ruginya, berbahaya atau tidak, berpengaruh atau tidak, dan lain-lain. Wal hasil, para Caleg mengurungkan niatnya untuk membantu Panitia TPS, bahkan hanya sekedar air aqua sekalipun. Ada sih yang sudah siap membatu satu kardus air mineral, tapi pesannya jangan sampai ada yang tahu kalau air itu dari caleg partai ’anu’ !.
Ada juga beberapa Panitia TPS tetangga, yang sangat idealis, mereka menolak bantuan apapun dari caleg. Meskipun dananya minim, honor mereka rela dikorbankan untuk mengadakan peralatan assesoris TPS, seperti sewa sound system, lampu penerangan dan biaya-biaya lain yang menurut saya nggak penting-penting amat. Salut juga sih, tapi apa iya keikhlasan Panitia TPS menjadi ukuran sukses tidaknya Pemilu Legislatif ?.
Ketakutan para caleg, atau mungkin duitnya cekak, juga menjadi alasan normatif untuk tidak membantu Panitia TPS yang kesulitan dana operasional, ditambah lagi dengan adanya kewajiban partai dan calon legislatif untuk bisa transparan kepada publik dalam mengelola keuangannya. Saya pikir, kalaupun ada partai maupun caleg yang secara terang-terangan jujur menyatakan jumlah pengeluaran dana selama masa kampanye, pasti hanyalah sandiwara belaka. Ada tujuan tertentu yang diarahkan sebagai sasaran pernyataan tersebut. Ini dugaan saya aja, yang sebenarnya sudah jenuh bicarain politik.
Sengaja, pada hari tenang setelah masa kampanye yang melelahkan ini, saya mengirim SMS kepada seluruh teman-teman caleg di wilayah saya agar mau melakukan serangan fajar kepada rakyat yang tidak mampu secara ekonomi. Tapi jawaban para caleg apa ?. Wah mas, saya takut ketahuan Panwaslu nih !. Alasan saya mengirim SMS serangan fajar hanya mengingatkan saja kepada para caleg, agar mau memberi sembako gratis kepada rakyat, kalau sudah jadi legislatif khan boro-boro kenal rakyat, mau ketemu saja sulit sekali. Rakyat pada hari ini dengan tangan terbuka, sedang menunggu sapaan manis dari para caleg sambil menenteng sembako untuknya. Mereka berharap di akhir-akhir hari tenang ini minimal ada lima caleg aja, yang mau memberi sembako dan uang lauk-pauk, mungkin selama sebulan mereka merasakan adanya kedamaian ekonomi. Terserah apa tujuan para caleg itu, yang penting rakyat merasakan ada perubahan meskipun sesaat.
Menurut saya, yang lebih lucu lagi, ada caleg yang terang-terangan bilang kepada massa-nya, bahwa jangan ada lagi yang melakukan money politic, kalau ada yang memberi uang, ambil uangnya dan jangan contreng partainya. Menurut saya caleg ini mungkin nggak punya duit untuk di sedekahkan kepada rakyat, jadi siasatnya hanya membalik pikiran rakyat saja bahwa caleg yang memberikan uang kepada rakyat adalah caleg yang jelek.
Masa kampanye adalah masa menebar janji, kapan janji itu bisa tumbuh dan berbuah menjadi realitas yang kongkrit ?. Tidak pernah ada. Tidak pernah ada janji yang bisa membuahkan realitas, yang ada hanya pengingkaran terhadap janji itu. Karena kalau kita mau sedikit buang waktu untuk membahas tentang janji ini, kita bisa temukan ketidakrelevanan antara janji yang diucapkan kepada publik dengan waktu yang bergulir.
Pada hakekatnya, janji yang diucapkan oleh para caleg, ada pada kondisi sekarang (saat ini alias the now), sementara realitasnya ada pada kondisi yang akan datang (the future). Pada saat kita berjanji, maka kita harus mampu berada (eksis) pada kondisi yang akan datang yang tidak seorang manusiapun mengetahui kondisi tersebut. Wal hasil, kondisi yang akan datang adalah kondisi yang tidak bisa diprediksi (tidak pasti) keberadaannya, baik secara individual, maupun secara kolektif. Jadi para caleg hanya ngarang dong !. boleh percaya, boleh juga nggak. Justru yang disarankan oleh para rohaniawan dan para spiritualis, berjanjilah kepada diri sendiri, bukannya kepada orang lain.
Ujung-ujungnya sih, saya hanya berharap baik kepada teman-teman calon pejabat legislatif, bahwa kejujuran itu bukan kepada orang lain, tetapi kepada diri kita sendiri. Dan yang penting jangan takut memberi shadaqah, hari ini rakyat butuh serangan fajar dari anda-anda sekalian, caranya bisa bisik-bisik, ngumpet-ngumpet, atau senggol sana-senggol sini, atau apa saja terserah. Emangnya saya pikirin !.
Bekasi, 07 April 2009.
Baca selengkapnya……







