Here is the ultimate resource for detailed purwalodra guides, and tips. Find about purwalodra that will match your need | Education | Life | Writing | Politics

Click

30 July 2009

SEBUAH WEB, ADALAH SATU KEPRIBADIAN


Oleh. Purwalodra

Ketika kita membuat situs/web untuk menampung buah pikiran melalui tulisan, maka situs itu berubah menjadi suatu kepribadian seseorang. Buah pikiran yang lahir dari dalam lubuk jiwanya, adalah cerminan kharakter orang tersebut. Kita bisa menebak kepribadian seseorang melalui tulisan-tulisannya.

Steven Covey pun mengulas bahwa kepribadian atau kharakter seseorang tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari kebiasannya sehari-hari. Kebiasaan ini lahir dari tindakan seseorang yang konsisten dan terus-menerus. Sementara menurut ilmu perilaku (behavior science) tindakan atau perilaku manusia lahir dari apa yang dipikirkannya. Makanya ada pepatah bilang, jika pikiran seseorang tidak bermusuhan, maka fisiknya tidak akan pernah menyerang.

Dalam dunia tulis-menulis, tak terhitung banyaknya teori menulis terpapar di dunia maya ini, namun tak terhitung pula jumlahnya, orang yang belum bisa memulai menulis. Banyak alasan yang menyelimuti kondisi ini, salah satunya motivasi yang ada dalam fikiran seseorang.

Awalnya kita melakukan kegiatan menulis karena iming-iming adanya imbalan yang bersifat materi. Tetapi ketika uang tidak kunjung datang, sementara aktifitas menulis harus tetap hidup, maka motivasi menulispun ikut lenyap dari aktifitas keseharian kita.

Banyak pakar menyarankan agar aktivitas menulis dijadikan hobi alias kesenangan, sehingga meski imbalan financial tak kunjung datang, maka kegiatan menulis terus berjalan. Namun lagi-lagi, bahwa hobipun lahir bukan karena paksaan, ia lahir karena kesenangan, yang mungkin kemudian diikuti oleh sang bakat/minat. Jadi menjadikan menulis sebagai hobi, bukan persoalan mudah.

Perkembangan dunia website dengan berbagai ragam bentuk, isi dan desain, telah banyak memotivasi jutaan orang untuk bisa secepat mungkin menjadi penulis kelas mahir. Mulai dari anak-anak yang memiliki tubuh fisik kecil, sampai dengan anak-anak yang berbadan tinggi besar. Memangnya nggak ada orang dewasa yang bisa menulis ?. Menurut para pakar lagi, orang yang hebat menulis itu sebenarnya bukan orang dewasa. Orang dewasa nggak bisa nulis karena sudah dikuasai oleh otak kirinya yang setia memberi advis-advis untuk selalu menghalanginya menulis. Sementara anak-anak masih dikuasi otak kanannya yang selalu bilang, ‘emang gue pikirin, nulis aja lagi !!!’.

Bukti bahwa saya masih anak-anak bisa dilihat di www.purwalodra.com. Situs ini saya buat untuk sekedar menumpakkan uneg-uneg yang nyangkut di kepala, tumpah begitu saja tanpa diganggu otak kiri saya.

Nggak puas dengan www.purwalodra.com, saya buat lagi www.asianpurwalodrabrain.com. Situs yang satu ini adalah buah dari pendidikan saya di sekolah formal, yakni tentang pengetahuan sumber daya manusia. Meski saya buat dalam bahasa bule’, tapi tulisan-tulisannya memang dari orang bule’ yang saya anggap pakar gitu lhooo !. Pokoknya saya pengen banget menambah pengetahuan tentang Human resources dari orang bule’ langsung.

Tentu bisa ditebak khan ?. Saya nggak bisa berhenti disitus kedua, maklum pikiran saya adalah pikiran anak-anak, nggak pernah capek lagiii !!!. Buah dari ‘ngoprek-oprek’ situs orang dan hasil baca buku-buku terjemahan tentang ‘jiwa’ dan spiritual, maka sayapun buat web www.soulspirit34.com. Dari situs ini pengen saya sih belajar tentang kejiwaan dan spiritualitas juga dari orang bule’.

Ternyata sampe ke situs ke-3, bukannya jenuh malah muncul lagi gagasan untuk bikin situs selanjutnya yaitu www.edumanagementtrailer.com. Situs ini lahir karena pekerjaan saya sehari-hari memang di bidang PENDIDIKAN. Sejak lulus kuliah sampai sekarang saya bekerja sebagai pendidik, makanya kok rasanya kurang lengkap ya kalo nggak buat situs pendidikan, gitu kata pikiran saya. Dari situs inilah saya juga mulai belajar dari orang bule’, langsung enak !!!.

Baru beberapa minggu lahir si jabang bayi www.edumanagementtrailer.com disusul adiknya di www.lifecargotrailer.com. Situs ini ngajarin saya untuk bisa memiliki gaya hidup yang gimana gitu ?. karena situs ini selain menampilkan kiat-kiat tentang kesehatan dan gaya hidup, juga mengajari saya tentang peran Soul Spirit dalam kehidupan. Gaya, gitu lhooo !!!

Kalo sekarang ditanya berapa web yang saya buat sejak awal tahun ini saja ? Saya kok jadi bingung jawabnya. Karena selain situs-situs informatif yang menjadi hobi saya, berebut lahir, juga puluhan situs-situs jualan juga menyusul lahir disela-sela kelahiran situs informasi tersebut.

Terus terang, saya pengennya terus tetap bisa begini, lahir, lahir, dan lahir. Kelahiran satu web atau situs bagi saya, adalah kelahiran kepribadian atau kharakter baru dalam hidup saya. Kuncinya sederhana aja, tetaplah berfikir seperti anak-anak, gitu khan nggak repot ya !!!

Bekasi, 30 Juli 2009.
















Baca selengkapnya……

11 June 2009

MERUBAH KEINGINAN MENJADI TINDAKAN

Oleh. Purwalodra

Sebuah kalimat yang mengantarkan jari-jemari ini sampai diatas keyboard, adalah gagasan yang tiba-tiba muncul mengisi kekosongan waktu pagi, dihari libur ini. Gagasan ini tiba-tiba lahir, dan terdorong, oleh sebuah buku yang baru beberapa lembar saya baca, yang membicarakan bagaimana aturan fikiran itu berlaku dalam diri kita. Gagasan ini menjadi rudal yang siap meledakkan apa saja yang menjadi sasaran yang terkontrol secara cermat, dalam bahasa lain adalah fokus (baca, tindakan yang penuh ketekunan) yang jelas, tentang apa yang kita inginkan.

Saya bisa melakukan dengan fokus yang tinggi, apabila keinginan saya menjadi jelas di dalam fikiran. Ketika keinginan masih belum memiliki daya dorong yang kuat, maka keinginan itu sebenarnya masih berupa angan-angan saja, dan berhenti tepat ditengah fikiran yang menyesatkan. Keinginan yang menghasilkan tindakan adalah keinginan yang berubah menjadi kebutuhan untuk segera terpenuhi. Contoh nyata, keinginan yang berubah menjadi kebutuhan adalah ketika kita menginginkan makanan, sementara pada saat bersamaan perut kita melagukan musik keroncong. Pada saat itulah, keinginan kita berbuah melahirkan tindakan untuk memenuhinya. Dan kita bisa lebih fokus (baca, tekun) pada apa yang kita lakukan.

Menjadi penulis pemula, adalah masa dimana kita dipenuhi oleh banyak keinginan yang berubah menjadi angan-angan. Keinginan yang terlalu banyak tidak satupun melahirkan tindakan kongkrit, ia berbelok menyusuri ranah angan-angan yang menyesatkan. Jika keinginan sudah menjadi angan-angan maka energi kehidupan berhenti hanya di dalam benak kita saja. Berputar-putar tanpa sasaran. Bahanyanya antara lain, tubuh fisik kita tidak mampu melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk tujuan hidup atau kepentingan kehidupan kita.

Bagaimana kita mengendalikan agar keinginan kita bisa melahirkan tindakan, bukan angan-angan ?. Ada beberapa saran dari Mary T. Browne yang tinggal di New York City, sebagai penulis kelas dunia. Dalam bukunya yang berjudul The 5 Rules of Thought (lima aturan pikiran), Browne mengatakan bahwa usaha untuk mewujudkan keinginan menjadi realitas yang nyata adalah dengan memahami lima aturan pikiran, yaitu :
1. Menentukan apa yang sebenarnya kita inginkan.
2. Melihat dengan mata bathin, bahwa apa yang kita inginkan itu, sudah terjadi.
3. Jangan pernah meragukan apapun yang kita inginkan.
4. Meyakini bahwa apa yang kita inginkan sesuai dengan takdir kita.
5. Miliki ketekunan sebagai energi untuk mengarahkan keinginan menjadi tindakan yang terus-menerus.

Ternyata pikiran juga memiliki aturan-aturannya tersendiri, agar pikiran yang ada dalam batok kepala kita membuahkan wujud nyata secara fisik, maka keinginan kita harus dikendalikan sekuat pikiran kita sampai kepada ranah ketekunan. Kalau tidak maka keinginan kita akan tersesat di lembah angan-angan, dan kalau sudah begitu, kita akan mengalami kesulitan untuk kembali kepada keinginan kita yang murni.

Bekasi, 7 Juni 2009


Baca selengkapnya……

JANGAN SELINGKUHI PIKIRAN !

Oleh. Purwalodra

Beberapa hari ini pikiran saya tumbuh, mengembangkan banyak cabang-cabang kecil. Satu pikiran besar yang kemudian berubah menjadi pikiran-pikiran kecil ini berdesakan mencari perhatiannya sendiri-sendiri, untuk berlama-lama diperhatikan. Akhirnya, tidak ada satupun pikiran-pikiran kecil ini mewujudkan diri menjadi realitas yang saya inginkan. Kondisi ini kemudian menjadi rumit dan membingungkan, ketika keinginan yang sebenarnya sederhana terganggu oleh pikiran-pikiran yang sebenarnya tidak berguna.

Prolog diatas menggambarkan kondisi yang dialami oleh banyak orang termasuk saya. Kita menjadi tidak focus dengan apa yang sebenarnya kita inginkan. Banyak pikiran yang tidak berguna nyelonong masuk, tanpa permisi, mencerai-beraikan pikiran pokok yang semula kita tanam. Contoh kongkritnya begini, pada saat saya mau menulis, ada saja pikiran yang tiba-tiba nyelonong masuk, mengganggu pikiran awal saya, yaitu langsung menulis. Pikiran pengganggu itu biasanya memunculkan gambaran-gambaran yang lebih besar, lebih indah, lebih keren atau ngetrend, dan lain-lain. Ketika saya diliputi hasrat menulis, pikiran saya mengembara mencari bentuk-bentuk baru, seperti misalnya, ah … saya mau nulis tentang pendidikan, hmm … saya mau menulis tentang politik yang lagi rame-ramenya nih, atau hei … saya mau menulis tentang ekonomi, ya … saya perlu bikin kopi dulu, oh … saya perlu siapkan kliping, atau apa saja. Pikiran-piran ini kemudian menjadi virus, yang pada akhirnya saya akan melupakan keputusan saya untuk menulis. Saya menjadi terlalu sibuk memilih tema, topik atau bahkan teori yang hanya berfungsi melegitimasi bahwa tulisan saya, bener-bener tulisan.

Kitapun lupa bahwa sebenarnya ketika kita berkeinginan menulis, dibenak kita sudah ada tulisan yang siap untuk kita tuangkan ke komputer. Namun kita justru tidak mencari sesuatu yang ada di dalam benak kita, eh malah mencari bahan-bahan yang ada di luar batok kepala kita. Wal hasil tulisan hanya bisa bertahan sampai satu paragraph saja, itupun sudah untung. Saya biasanya cuma diwarisi judul aja. Sementara pikiran kita habis terbuang untuk mencari bahan atau materi tulisan yang pas sebagai bahan referensi.

Sebagai penulis pemula, awalnya saya sering mengalami kondisi seperti itu. Namun lama-kelamaan, sedikit demi sedikit saya mampu merubah kebingungan dalam melakoni proses menulis ini. Saya menjadi yakin bahwa ketika saya berkehendak menulis, saya tidak mau terjebak kepada topik atau tema, bahkan struktur tulisan, yang konon menurut para praktisi menulis sebagai aliran sesat yang terlanjur diajarkan disekolah-sekolah formal. Saya lebih fokus untuk bertanya kepada diri saya sendiri, ada apa di dalam batok kepala saya ?. Keluarlah segera, jari jemariku siap melayanimu ?. Dengan begitu, tiba-tiba jari-jari ini begitu lincahnya menari-nari diatas keyboard dan dengan bebasnya pikiran saya mengelana kesana-kemari, menangkap gagasan-gagasan yang sebenarnya sudah ada di dalam pikiran kita sendiri.

Dalam menuangkan pikiran saya ke dalam tulisan, aturan pokok yang saya berlakukan adalah saya tidak pernah menduakan pikiran saya sendiri. Maksud saya begini, ketika saya berhasrat menulis saya hanya fokus kepada apa yang ada di dalam fikiran saya aja dulu. Saya akan tuangkan sampai habis, pikiran-pikiran yang ada di dalam batok kepala saya. Lalu setelah semuanya selesai, baru saya melakukan finishing, yang kemungkinan bisa saya tambahkan referensi dari orang lain, atau tidak saya tambah atau kurangi sama sekali, apa yang memang sudah saya tumpahkan tersebut.

Pernah sekali-sekali saya selingkuhi pikiran saya, pada saat hasrat menulis tumbuh, dan siap menuangkannya ke komputer, saya kemudian menduakan pikiran saya dengan tidak fokus pada apa yang ada di dalam kepala saya sendiri. Saya mencoba mencari-cari topik yang lagi ngetren atau paling tidak tulisan yang lagi banyak di baca orang. Wal hasil, pikiran saya memutuskan hubungan secara sepihak. Dan saya hanya diwarisi halaman MSWord yang bersih tanpa kalimat, hanya judul yang ditulis tebal-tebal, bergaris bawah dan identitas nama penulis. Cuma itu !. Capek deeech…

Bekasi, 6 Juni 2009.


Baca selengkapnya……

16 April 2009

MENULIS, KEMAUAN MENULIS

Oleh. Purwalodra

Setelah pikiran ngeluyur kesana-kemari, mencari-cari bongkahan ide tulisan yang tepat, untuk teman makan malam, ternyata sulit saya dapatkan. Justru yang saya dapatkan hanya semakin kehausan pengetahuan. Untuk menghentikan pikiran yang terlanjur mendendangkan lagu ‘Berkelanan’ Rhoma Irama, saya berusaha untuk ti-dak memikirkan apa yang akan saya tulis, tetapi mulai menulis apa yang ada dalam pikiran. Dan seketika itu pula, saya menemukan judul yang aneh yang bisa saya kunyak-kunyah dengan lembut.

Sebelum menemukan judul ini, hasil keluyuran pikiran saya menemukan kalimat dari bang Ersis W. Abbas, yang memperkuat ide tulisan ini. Begini katanya, membaca yang nikmat adalah ‘membaca diri’, menulis yang aduhai adalah ‘menulis diri’. Se-pintar apa pun sesorang menulis, kalau yang ditulis hal-hal di luar dirinya, tidaklah senikmat menulis tentang dirinya sendiri.

Bang Ersis juga mengemukakan bahwa manakala kita tidak menyenangi puisi, apalagi tidak berminat sama-sekali, maka sesuaikan kemauan diri kita dengan apa yang kita sukai. Jangan sampai terjebak, semua hal ingin ditulis, ingin dikuasai. Kalau menyenangi sejarah, jangan memaksakan diri menulis tentang kimia. Kalau-pun berkehendak, tau dirilah, pelajari seperlunya. Tidak mungkin semua orang men-guasai semua hal, tidak akan pernah orang menjadi ahli semua hal, dan berkeahl-ianlah menulis pada ilmu yang disenanginya saja. Hidup bukan angan-angan kok.

Dari pernyataan bang Ersis inilah, saya menangkap dua pandangan yang dapat menjadi bahan bakar menulis. Pertama, menulis apa yang ada di pikiran (jangan me-maksakan sesuatu di luar pikiran). Kedua, menuliskan tentang isi (content) apa yang paling disenangi (jangan memaksakan apa yang tidak dimengerti). Dan kedua pan-dangan ini jika disatukan, menjadi judul tulisan saya, yaitu menulis tentang ke-mauan menulis.

Beberapa saat lalu, saya juga membaca tulisan tentang sulitnya menulis dari seorang Penulis, yang mengatakannya sedikit emosi bahwa kesulitan menulis bukan persepsi yang dibuat-buat, tetapi kenyataan alias fakta. Sebagian orang memang mengatakan menulis itu mudah, ya, karena ia sudah biasa menulis. Sebagian lagi menulis itu sulit, ya, karena nggak biasa menulis. Inti tulisan yang saya baca itu adalah jangan mengingkari fakta bahwa menulis itu memang sulit alias tidak mudah.

Saya yakin, banyak guru yang mengajarkan menulis tidak mengatakan hal sebenarnya tentang susahnya memulai menulis. Begitu juga, guru matematika, fisika atau pelajaran lainnya, mereka tidak akan mengatakan bahwa matematika, fisika dan pelajaran lainnya sulit dipahami. Para guru itu mengatakan bahwa tidak ada yang sulit memahami ilmu pengetahuan, apapun itu. Yang sulit adalah memahami kemauan kita. Apapun ilmunya, kalau ada kemauan, apalagi kesukaan terhadap ilmu itu, tidak ada yang sulit, semua menjadi mudah.

Semua menjadi mudah kalau mau, semua menjadi nikmat kalau kita suka, bukan begitu !. Para ahli spiritual bilang, jika murid sudah siap maka guru akan datang, se-baliknya jika guru sudah siap maka murid akan datang. Nah, akhirnya jika kemauan sudah mantap, maka apapun yang kita maui ada jalan untuk mewujudkannya. Seir-ing dengan adanya kemauan ini, maka akan tumbuh semangat untuk merealisasikan kemauan tersebut.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana melahirkan kemauan ? ya, sebenarnya ngak su-lit-sulit amat menumbuhkan kemauan. Kemauan tumbuh ketika kita menyenangi atau menyukai apa yang kita lakukan. Ketika kita sudah melakukan apa yang kita sukai, maka kita bisa naik tangga kepada menyukai apa yang kita lakukan. Kegiatan menulis pun lahir dari perasaan suka atau senang dulu, kalau tidak senang ngapain dilakukan, tinggalkan saja.

Dengan menyukai kegiatan menulis, dengan menyenangi menjadi penulis, dengan menikmati jalan sebagai penulis, maka kemauan menulis bisa kita lakukan kapan saja, dimana saja, dan dalam kondisi apa saja. Maka mulailah dari menulis kemauan kita dulu, baru kemudian menulis apa yang ada di dalam pikiran kita.

Bagaimana, kalau begitu !

Bekasi, 26 Maret 2009.


Baca selengkapnya……

BUNTU AJA, LAGI !

Gara-gara tadi siang, di depan teman-teman yang belum siap menulis, saya berencana menulis essai atau artikel pendidikan. Eh, malam ini, jari-jemari tak mampu mengalirkan ide-ide hebat, yang tadi siang tergambar di dalam batok kepala. Kesalnya bukan main-main. Sudah tiga jam lebih, berlalu tanpa ada kesepakatan antara pikiran, perasaan dan sepuluh jemari. Buntu aja, lagi !.

Gara-gara tadi siang, di depan teman-teman yang belum siap menulis, saya berencana menulis essai atau artikel pendidikan. Eh, malam ini, jari-jemari tak mampu mengalirkan ide-ide hebat, yang tadi siang tergambar di dalam batok kepala. Kesalnya bukan main-main. Sudah tiga jam lebih, berlalu tanpa ada kesepakatan antara pikiran, perasaan dan sepuluh jemari. Buntu aja, lagi !.

Data-data terbaru, tentang issue-issue kritis dunia pendidikan, sudah siap membumbui artikel yang bakal saya susun, malam ini, namun apa daya, buntu aja, lagi ! Capek deeech !. Mungkin hanya saya aja, yang mengalami kutukan semacam ini, maklum, baru mendadak kreatif. Semangat menggebu-gebu. Meskipun, harus dipaksa-paksa nulis. Ya, begini inilah jadinya, nggak karuan arah tujuannya. Tapi, biarin aja, saya tetap menulis, menulis, dan menulis.

Kondisi seperti ini, sering terjadi. Ketika persiapan sudah bener-bener matang, data-data lengkap, bahkan kepenuhan. Eh, tahu-tahu buntu aja lagi ! Nggak tahu apa penyebab sebenarnya. Biasanya, kalau sudah menyerah begini, aku cuma bisa baca-baca aja, tulisan orang. Salah duanya adalah Bang Jonru, pendiri penulis lepas dot com dan Bang Ersis alias Ersis Warmansyah Abbas dari Kalsel, yang telah berhasil merumuskan teori menulis, dan dia beri nama Ersis writing Theory (EWT).

Bang Jonru dalam tulisannya berjudul Status Penulis Pemula Bukan Kutukan, mengisahkan tentang pengalaman Kang Abik alias Habiburrahman El Shirazy. Kata Bang Jonru, sebelum Novel Ayat-ayat Cinta-nya menjadi best seller, kang Abik juga mengalami status sebagai penulis pemula. Sebelum novelnya dibaca oleh jutaan orang dan di filmkan, Kang Abik nggak pernah dikenal orang, apalagi sebagai penulis pemula. Dikenal aja nggak !.

Senasib dengan Kang Abik, Penulis Laskar Pelangi, Andrea Hirata, dia nggak kepikiran menjadi penulis, apalagi menulis buku best seller. Aditya Mulya, yang menulis Novel Jomblo, dan masih sangat pemula, boro-boro dikenal orang, cerpennya pun nggak pernah dilirik redaksi. Dan masih banyak lagi penulis pemula, yang mampu membebaskan diri dari ‘kutukan penulis pemula.’

Bang Jonru, yang pada 8 Maret 2009, manggung di Faperta Unisma Bekasi, menyimpulkan, bahwa secara logika, tak ada penulis yang tiba-tiba jadi terkenal dan sukses. Mereka semua pasti pernah melewati status, yang bernama penulis pemula. Eh, ngomong-ngomong, saya selaku pengelola website : www.alazhar-bekasi.org, pengen juga ngundang bang Jonru, ngoceh di YW Al Muhajirien Jakapermai Bekasi, tentang dunia lis menulis, tak iye. Perlu bang Jonru ketahui, website kita memiliki 15 admin, dan satu orang web developer, 9 orang kepala Tata usaha sekolah, dan 200 lebih guru. Tapi, yang namanya menulis, lagi-lagi, persis seperti judul tulisan ini, buntu aja, lagi !.

Nggak beda dengan Bang Jonru, Bang Ersis yang sindirannya cukup pedes itu, ngomel begini, jangan pernah memikirkan apa yang akan ditulis, tetapi tulislah apa yang ada di pikiran. Kepercayaan diri alias Pe-De tidak pernah didapat kalau hanya bermain pada tataran ide. Kepercayaan diri bangkit apabila kita melakukan sesuatu. Lagi pula, bagaimana orang mengapresiasi manakala pikiran masih bersemanyam di otak, di pikiran. Tuangkan, lahirkan, tuliskan.

Bang Ersis, selalu meneriakkan kepada khalayak penulis dadakan, seperti saya, jangan pernah menilai tulisan yang masih di otak sebab belum menjadi (belum jadi tulisan). Memikirkan hal tersebut membuang-buang energi, itu dunia para pelamun. Nilailah, perbaiki, diskusikan, tulisan yang telah menjadi. Dengan demikian kita belajar darinya.

Biasanya, kalau sudah diomelin begini, sama Bang Ersis dan Bang Jonru, semangat langsung kebakar lagi. Ujung-ujungnya, meskipun judulnya juga nggak nyambung, selesai juga tuh tulisan.

Kadang-kadang saya seperti orang nggak waras, saya bilang sama pikiran, hai pikiran, mau ikut saya nggak ! kalau nggak mau, ya sudah, saya nulis terus, he .. he.. he…, akhirnya ngikut juga dia. Sama, ketika mata sudah mulai sepet, bodi sudah ngajak ke kamar tidur, trus saya bilang aja begini, hai mata, hai bodi, kamu boleh ngantuk n kamu juga boleh ke kamar tidur, tapi saya masih mau ngetik, sana pergi tidur !. Eh, akhirnya dia mau juga ikut saya, melototin komputer. Mungkin mereka merasa, kaleee ya ? Ngantuknya hilang, dan si bodi alias tubuh yang jauh dari ideal ini, tetep aja nongkrong di depan komputer. Dan nulisnya bisa dipaksa bubar, kalau istri tiba-tiba mendusin dan kaget melihat jam sudah menunjukkan waktu tahajud.

Ssssssttt, pelan-pelan. Jadi, saya pikir tidak perlu ada kesimpulan, yang penting, apa yang ditanya oleh judul tulisan, sudah menemukan jawabannya, yaitu jangan pernah memikirkan apa yang akan ditulis, tetapi tulislah apa yang ada di pikiran. “Capek deeeech !” bentak istri saya, dari kamar tidur.

Bekasi, 24 Februari 2009.


Baca selengkapnya……

WRITERPRENEURSHIP, ULAMA DAN UMARO

Ketika istilah Writerpreneessman, manager, pimpinan perusahaan, dengan gagahnya, men-genakan jas hitam dan dasi, handphone ditangan, sambil menjinjing laptop. Persepsi yang saya bangun, dari Istilah diatas, bahwa dalam dunia tulis menulis, predikat seorang penulis sama sejajarnya dengan pengusaha. Ia memproduksi dan mema-sarkan karya-karyanya, kepada publik konsumennya.

Writerpreneurship, dibentuk dari dua kata berbahasa asing, yaitu writer, yang berarti penulis. Interprurship ini pertamakali saya kenal, terlintas dibenak saya, seorang busineneurship, wirausaha atau pengusaha. Jadi writerpreneurship, adalah seseorang yang memilih kegiatan menulis, sebagai ladang usahanya.

TUJUAN MENULIS

Mungkin bukan hal yang baru, ketika kegiatan tulis-menulis menjadi suatu industri massal. Karena, maraknya kegiatan menulis, tidak lebih dari suatu akibat saja. Sekarang ini, yang menjadi penyebab, adalah minat baca masyarakat yang semakin marak. Sangat berbeda, pada saat, kegiatan tulis-menulis pertama kali tumbuh pada budaya manusia. Sehingga, perkembangan berikutnya, ketika dunia menulis menjadi aktivitas yang sangat efektif, untuk menyediakan kebutuhan para pembacanya, maka writerpreneurship menjadi bagian penting dari mata rantai industri tulis-menulis.

Pada awalnya, kegiatan menulis, adalah milik para ilmuan yang menemukan dan meneliti, dengan bahasa filsafat. Tujuannya adalah menginformasikan adanya penemuan baru, teori baru bahkan cara baru di dalam melihat alam semesta. Tidak jarang terjadi benturan yang sangat tajam, di antara para ilmuan. Karena berbeda cara pandangnya. Bahkan, banyak ilmuan yang dihukum mati oleh penguasa gara-gara teorinya bersimpangan jalan, dengan keyakinan awal yang dianut penguasa pada saat itu.

Di dunia Islam, aktivitas menulis, dipelopori oleh para ulama, orang-orang yang memiliki pengetahuan agama Islam. Dan, tidak jarang dari para ulama tersebut, saling bersimpang jalan. Argumen-argumen logik dan masuk akal, berdasar kepada Kitab Suci, sejarah, filsafat, maupun pendapat-pendapat ulama sebelumnya. Perbe-daan pendapat, pola berpikir dan pendekatan kebenaran inilah, yang akhirnya mem-buahkan empat mahzab, yang diikuti sebagai penuntun dalam beragama Islam. Saya tidak membahas persoalan ini lebih dalam, tetapi sekedar menggambarkan tu-juan awal kegiatan menulis di kalangan pemilik pengetahuan.

Sekarang, kemajuan kegiatan menulis, bukan milik para peneliti, ulama, atau ilmuan saja, tetapi milik semua orang yang berkehendak menyediakan kebutuhan informasi bagi para pembacanya. Tujuannya, mulai dari komunikasi informasi biasa, sampai dengan mempengaruhi opini masyarakat tentang sesuatu, bisa ekonomi, politik, hu-kum, budaya, dan lain-lain. Oleh karena itu, kharakter suatu bangsa, bisa dilihat dari aktivitas menulisnya.

SIFAT INFORMASI YANG MEMBENTUK KHARAKTER

Beralihnya, pilihan para pembaca kepada buku-buku, dan sedikit melupakan infor-masi yang dijual di media-media massa, seperti Koran dan majalah. Adalah bukti, bahwa buku-buku yang sekarang beredar, semakin nikmat, semakin menghibur, dan semakin memberi pencerahan. Masyarakat, saat ini membutuhkan bahan bacaan atau informasi, yang dapat dinikmati, dapat menghibur dan dapat memberi pencera-han. Berita-berita yang dipaparkan melalui media massa, Koran dan majalah, mung-kin saja saat ini kehilangan ‘ruh’ untuk bisa dinikmati, tidak mampu memberi hibu-ran dan pencerahan bagi pembacanya. Bagaimana tidak, jika berita-berita yang disa-jikan hanya persoalan krisis di masyarakat, masalah politik, masalah ekonomi, kon-flik, korupsi, perampokan, kemiskinan, penganiayaan dan sebagainya, yang ditulis tanpa pesan dan ‘ruh’ spiritual.

Masyarakat sudah jemu, dengan persoalan-persoalan yang ada di republik ini. Karena kondisinya yang memang sudah akut. Masyarakat butuh solusi secara indi-vidual, bukan solusi kolektif. Solusi kolektif ini tidak mungkin terwujud, jika masalah individu masih belum menemukan jalan keluarnya. Oleh karena itu, masyarakat kita, haus informasi-informasi mampu memberi kenikmatan, hiburan dan pencerahan.

Beriringan dengan persoalan tersebut, pemerintah telah memberikan fasilitas buku gratis, bagi murid-murid sekolah, sehingga para penulis yang tidak kebagian order, menulis buku pelajaran, banting stir untuk menulis karya-karya popular yang men-jadi kebutuhan individual. Inilah salah satu, sebab berkembangnya penulis-penulis pemula yang karyanya langsung bisa diterima masyarakat, dan best seller.

Ketika minat baca masyarakat semakin tinggi, dilain pihak, berita-berita media massa, menginformasikan bermacam-macam negatifitas di masyarakat, maka buku-buku yang membawa pesan spiritual dan membangun sikap individual akan sangat diminati. Apalagi ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami publik, serta menghibur.

Berawal dari kondisi ini, maka writerpreneurship menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari. Mulai dari penulis pemula, sampai penulis kelas sepuh (baca penulis sen-ior), beramai-ramai memutar roda industrialisasi lis-menulis ini. Kita sangat ber-harap baik, kepada para penulis, agar kelak mampu menyajikan informasi yang ber-nuansa spiritual. Sehingga, informasi yang sampai kepada publik menjadi cermin dan sebagai fondasi membangun kharakter bangsa. Tetapi, kenyataan yang terjadi, sekarang, bahwa informasi yang sangat berlimpah digunakan sebagai bahan strategi, taktik dan siasat, untuk mengantisipasi keuntungan material sebesar-besarnya. Bukan untuk memberikan kesadaran individual.

Selanjutnya, kita juga tidak bisa menutup mata, bahwa sebagian besar informasi diperoleh dari data-data investigasi. Sementara, pihak-pihak yang terinvestigasi ti-dak mengetahui, bahwa data-data tersebut kelak menjadi komoditas publik, yang menghasilkan keuntungan material. Kondisi ini akan menjadi mata-rantai yang tidak pernah putus. Akibatnya, informasi yang tersaji di media massa tidak memiliki ‘ruh’ yang membagun kharakter bangsa.

Ketika, masyarakat dihidangkan informasi yang sarat negativitas, dengan demikian kita secara langsung mendidik masyarakat ke arah ‘anakhisme’ mental. Sebagai con-toh saja, tukang ojek, tukang becak sampai pedagang rokok dipinggir jalan, mema-hami bahwa negaranya berada dalam krisis ekonomi global. Padahal, sehari-hari mereka masih bisa makan, menyekolahkan anak-anaknya dan membayar cicilan se-peda motor. Akibatnya akan sangat fatal, jika setiap individu merasa dirinya juga tertimpa krisis global. Mereka akan kesulitan makan, sulit menyekolahkan anak-anaknya, bahkan mangkir menyicil kredit sepeda motornya. Maka, terbentuklah si-kap merasa sulit, susah, tidak bisa, tidak mampu, tidak mungkin, dari masyarakat yang meresahkannya. Kalau sudah begini, perhatikan apa yang terjadi ?. Produktivi-tasnya menurun, semangatnya kendur, dan harapannya sudah tidak baik lagi.

PERAN ULAMA DAN UMARO

Kalau dipikir-pikir, media massa (Koran dan majalah), saat ini, bukan lagi bertujuan menyampaikan informasi dengan cara indah untuk dinikmati, menghibur apalagi mencerahkan. Tapi lebih kepada usaha untuk menakut-nakuti masyarakat, bahwa negatifitas sudah merebak dimana-mana. Maka ujung-ujungnya, peran orang-orang yang punya kuasalah (umaro dan ulama), yang dituntut untuk memperbaikinya.

Izinkan saya melebarkan, cara pandang saya, tentang peran Ulama dan Umaro, dalam memperbaiki kondisi masyarakat yang katanya sedang mengalami beban penderitaan, berupa krisis ekonomi global. Bagi saya, Ulama adalah Ibu, bagi masyarakat atau ummatnya. Sementara, Umaro adalah Bapak bagi masyarakat atau rakyatnya.

Seorang Ibu, yang penuh kasih kepada anak-anaknya, akan berusaha melindungi apapun yang membahayakan bagi anaknya, sekaligus mendidiknya dengan lembut, agar kelak kemudian hari, si anak mampu menjadi individu yang dewasa, mandiri dan memiliki kekuasaan (bagi diri sendiri dan pengikutnya). Sedangkan, seorang Bapak, selain memberikan nafkah lahir dan bathin, akan berusaha mendisiplinkan anak-anaknya, memberikan bekal pengetahuan, bagaimana menjadi seorang yang dewasa, mandiri dan memiliki kekuasaan tersebut.

Kemana lagi, masyarakat, rakyat atau ummat, sebagai anak dari Ulama dan Umaro di republik ini, untuk meminta solusi hidupnya. Jika Ulama sebagai Ibunya masyara-kat, rakyat atau Ummat, tidak lagi peduli dengan pendidikan anak-anaknya, tidak lagi melindungi dan bertanggungjawab atas keselamatan anaknya, tidak lagi lembut dan penuh kasih kepada anaknya. Kalau benar-benar ribuan Ulama melakukan peran dan fungsi sebagai Ibu bagi ummatnya, tidak mungkin kondisi masyarakat semende-rita sekarang ini, seperti yang kita baca di Koran-koran.

Jika Umaro, juga melaksanakan hal yang sama seperti Ulama, bagaimana caranya menjadi rakyat yang dewasa, mandiri dan memiliki kekuasaan atas dirinya. Maka, krisis apapun yang menimpa rumah tangga Ulama dan Umaro, mampu diatasi den-gan jiwa yang lapang. Tidak perlu melibatkan anak-anaknya untuk menanggung be-ban, yang sebenarnya bisa dipikul sendiri oleh Bapak dan Ibunya. Namun, kondisi ini akan berubah menjadi bencana, apabila Bapak dan Ibu masyarakat, merubah peran dan fungsinya. Ibu ingin berperan menjadi Bapak, sementara si Bapak tidak men-jalankan fungsinya sebagai kepala rumah tangga. Ketika Ibu dan Bapak tidak lagi menjalankan peran dan fungsinya secara proporsional, maka anak-anaknya tidak lagi menemukan solusi-solusi atas hidupnya, yang masih berada dalam masa tran-sisi, secara individual. Akhirnya, keputusan si Ibu menjadi sumber keresahan se-bagian anak-anaknya, dan tindakan si Bapak melahirkan anarkisme mental pada anak-anaknya.

Biasanya anak-anak akan lebih peka dan paham akan konflik kepentingan yang ter-jadi dengan kedua orangtuanya. Oleh karena itu, si anak akan mencari solusi-solusi hidupnya sendiri dengan membaca situasi dirinya dan orang tuanya (menangani ma-salah sendiri), baik melalui indra fisiknya, maupun indra bathinnya, baik secara posi-tip maupun negatif. Dan writerpreneurship adalah bagian dari salah satu solusi anak-anak bangsa, yang mencari identitas dirinya, secara positip.

Mencermati, gambaran peran dan fungsi Ibu dan Bapak dalam mendidik, mendewa-sakan, memandirikan dan mensejahterakan anak-anaknya tersebut, kita tidak perlu heran mengapa kondisi masyarakat kita tidak lagi ramah, kriminalitas dimana-mana, terorisme, premanisme, hedonisme, materialisme dan me-me lainnya. Cukup ber-tanya, ada apa dengan Bapak Ibunya ?

Bekasi, 21 Februari 2009.

Baca selengkapnya……

MIMPI MENJADI PENULIS

Sebut saja, Anto, seorang yang sejak SMP sudah berkeinginan menjadi penulis. Pendidikan formal yang lebih dari cukup memadai untuk menjadi penulis, sampai sekarang, belum juga mampu menepis ketidakpercayaan pada dirinya sendiri. Seabrek teori menulis, mulai dari esai, opini, artikel (fiksi maupun nonfiksi) bahkan menulis thesis S2, sudah mengisi batok kepalanya. Namun, lagi-lagi masih banyak faktor internal dan eksternal, yang harus ia hadapi, untuk melaju di jalan lurus seba-gai penulis.

Kepanikannya menghadi banyaknya faktor, baik internal maupun eksternal, tidak termasuk teori menulis, telah berkali-kali menghempaskannya ke dalam jurang keputus-asaan. Meskipun, sarana dan peralatan menulis, seperti computer (laptop), teknik membuat blog dan motivasi, telah dimiliki sebagai kelengkapan yang nyata. Namun, lagi-lagi faktor yang ia sendiri nggak ngertilah, yang membelenggunya sam-pai ia kehabisan energi kreatifitas.

Pada saat motivasi menulisnya luber, hampir setiap malam ia menulis satu tulisan, dan langsung dikirimnya via email ke redaksi media massa. Nggak tahu gimana, baru jalan dua minggu, Anto, sudah ambil cuti panjang, bahkan berniat ambil pen-siun dini menjadi penulis. Namun, lagi-lagi motivasinya terbakar, ketika seorang An-drea Hirata menerbitkan tetralogi novelnya, dan laris dibeli masyarakat. Padahal menurut cerita-cerita yang ia dengar dari seorang Andrea Hirata, bahwa satu cerpen pun belum pernah di terbitkan oleh media massa, namun ketika Novel Laskar Pe-langinya di filmkan, novel-novel berikutnya menjadi fenomena bagi penulis di Indo-nesia. Sekarang, Anto, memilih menjadi penulis lagi. Dan lagi-lagi, Anto, mau tidak mau, berhadapan lagi dengan persoalan-persoalan internal dan eksternal.

Kali ini, Anto, harus mampu menulis satu hari satu tulisan. Apapun jenis tulisannya. Di sela-sela kesibukannya sebagai karyawan tetap di salah satu perusahaan. Sudah tujuh tulisan lepas, tiga diantaranya cerpen, ia hasilkan. Berarti sudah tujuh hari ia menulis. Anto mengirimkan ke redaksi, media massa, via email.

Memasuki, minggu kedua, tantangan internal dan eksternal, sudah mulai terlihat. Dia pikir, dengan shalat hajat setiap malam, tantangan internal dan eksternalnya, hilang begitu saja. Ternyata boro-boro, nggaklah yaw !. Persoalan internalnya makin ruwet, persoalannya makin menguat. Anto, sekarang, menemukan dirinya di per-simpangan jalan, mau jalan lurus melanjutkan mimpinya menjadi penulis, atau belok aja ke kanan, menjadi karyawan tetap yang sudah lama dia jalani itu.

Ketika berada di depan computer, Anto, selalu dihadapkan oleh banyak pertanyaan. Dengan jalan lurus, menjadi penulis, Anto, akan mampu mendapat penghasilan tam-bahan, meskipun belum ada jawaban dari redaksi manapun yang dia kirim. Dengan jalan berbelok, dia akan menemukan dirinya dalam keadaan nyaman, tapi penghasi-lannya tak mampu menutup hutang-hutangnya yang mulai mendaki puncak merapi. Anto, terbelenggu sikap pragmatisme materi.

Pada saat, Anto mulai berselancar dengan tulisan-tulisannya, pikirannya memahatnya pada jenis tulisan yang diminati media massa, sehingga ia terpaku pada jenis-jenis tulisan tertentu, seperti artikel atau tulisan yang lagi ngetren saat ini, semen-tara kondisi pikirannya nggak fokus ke hal-hal yang lagi ngetren tersebut.

Suatu hari, teman Anto yang boro-boro bisa nulis, tapi mampu menggoyang jiwanya kearah pencerahan, menasehatinya agar tetap tabah dan sabar terhadap terpaan masalah internal dan eksternalnya. Menurutnya, jika tulisan itu lahir dari jiwa, maka akan mudah dibaca oleh jiwa. Maka gak perlu, pikir ini-itu, tulis aja, kelak akan lahir tulisan yang enak dibaca dan menghibur. Karena, jiwa akan bertemu jiwa, dan pikiran akan bertemu dengan pikiran. “Mana yang lebih baik ?” kataku bersemnagat. “Yang akan banyak dibaca orang adalah tulisan yang lahir dari jiwa.” Jawabnya man-tap.

Mulanya, anto, nggak yakin dengan kata-kata temannya itu, bagaimana menulis dengan jiwa dan bagaimana juga menulis dengan pikiran. Justru, temannya yang nggak bisa nulis itu bilang begini, “Tulisan yang lahir dari pikiran, menumpahkan apa saja dari pikiran kita ke dalam tulisan, apa saja bentuknya, pokonya tulisan. Trus, tulisan yang lahir dari jiwa, selain kita mampu menumpahkan isi kepala kita ke dalam tulisan, kita merasakan adanya kenikmatan dalam mengalirkannya. Ibarat sungai yang jernih, mengalir deras, tanpa hambatan. Kita menjadi enjoy, menikmati kata-kata kita yang mengalir.”

“Subhanallah, ini bukan sekedar teori.” Kata Anto dalam hati. Sejak saat itu, meski istri dan anak-anaknya menggangu dan mengeluh, karena kecintaannya terbagi, Anto tetap mampu menembus pikiran keruhnya dengan kenikmatannya tanpa batas, dengan berlimpahnya ide-ide, kapanpun dan dimanapun. Tulisan inilah, bukti, Anto mampu menembus pikirannya yang lama keruh.

Bekasi, 16 Februari 2009.

Baca selengkapnya……

MENULIS, KEBUTUHAN SEMUA ORANG

Tulisan ini sengaja di-up load, bukan untuk mengolok-olok Guru saja, tetapi untuk kita semua, yang belum menjadikan kegiatan menulis sebagai kebiasaan yang mengasyikkan. Kata, megolok-olok, mengejek, bahkan menghina sekalipun, menjadi kata yang paling indah di dengar, kalau tahu rahasianya. Masa, iya sih !

Sebagai contoh, jika saya diberi sesuatu (bisa barang, bisa jasa, apalagi uang) dari orang lain dan saya menolaknya, maka sesuatu itu masih milik orang lain, bukan milik kita. Ya, iyalah. Maksud lhoooo. Begini, anggap saja olok-olok, ejekan dan hinaan itu adalah sesuatu itu, kemudian kalau kita menolaknya, maka omongan yang bernada olok-olok, ejekan dan hinaan itu, masih melekat pada orang yang mengolok-olok, mengejek dan menghina, tadi. Jadi, ngapain pake marah. Capek deeeeech ?

Selanjutnya, orang-orang sufi punya paradigma, jika dia dihina, direndahkan, diremehkan, bahkan dihujat sekalipun, derajadnya di sisi Allah Swt, meningkat satu tingkat. Sementara, ketika dia dipuji-puji, dan dia menerimanya sebagai penghargaan, maka derajatnya turun satu tingkat. Oleh karena itu, banyak orang-orang yang jiwa spiritualnya tinggi, lebih suka di rendahkan dan dihina, dari pada dipuji-puji orang lain.

Kembali ke persoalan diatas. Tak dapat dipungkiri oleh siapapun bahwa menulis bagi sebagian besar kita adalah kegiatan yang amat sangat sulit... lit... lit... lit, untuk dilakukan. Sehingga sedikit sekali kita yang menentukan pilihan sebagai penulis. Selain, kata orang menguras pikiran, juga menguras waktu. Bahayanya, jika hal ini terjadi pada lingkungan pendidikan, seperti Sekolah, yang seharusnya menjadi komunitas pelopor atas bangkit dan berkembangnya kegiatan lis-menulis, tak iye !

Mungkin, saking parahnya, gairah menulis pada komunitas sekolah dan lingkungan pendidikan, sampai-sampai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, menelorkan Surat Keputusan Nomor: 025/O/1995 yang mensyaratkan adanya kewajiban guru, sebagai tenaga kependidikan, yang telah menduduki jabatan fungsional sebagai guru pembina sampai dengan guru utama, untuk melaksanakan pengembangan profesi berupa kegiatan karya tullis/karya ilmiah di bidang kependidikan.

Surat Keputusan tersebut juga sebagai wujud keprihatinan yang mendalam, atas rendahnya minat para guru di bidang tulis-menulis, serta sebagai upaya untuk menumbuhsuburkan kembali gairah menulis, khususnya karya tulis ilmiah di kalangan para praktisi pendidikan.

Ya, menulis memang kegiatan yang sulit. Seperti halnya, kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak kta sukai. Namun apabila di dalami, menulis memiliki dampak yang sangat mendasar bagi sang penulis, baik sebagai pribadi, lebih-lebih sebagai makhluk sosial. Menulis dapat mempengaruhi dan menyentuh dimensi spiritual sang penulis. Maka bagi seorang penulis, menulis dapat dirasakan dan dinikmati sebagai rekreasi spiritual, yakni suatu aktifitas kajian yang dapat menumbuhkan kesadaran pribadi atas pentingnya eksploitasi nilai-nilai spiritual dan norma-norma sosial serta kemurnian dan keindahan religius. Pendek kata, menemukan pencerahan spiritual.


FAKTANYA

Kesulitan kita dalam menulis walaupun kelihatan tidak wajar, tetapi mungkin masih bisa dimaafkan, kalau ditinjau dari sudut budaya kita yang memang masih berkutat pada budaya lisan. Namun, menjadi sulit dimaafkan, bilamana kita, di lingkungan pendidikan, tidak mengakui kelemahannya dalam menulis karya ilmiah, apalagi ada indikasi yang cenderung mengambing-kambingkan pihak lain. Sehubungan dengan itu, kondisi dan fakta yang dikemukakan berikut ini, mungkin bisa dijadikan indikator agar duduk perkaranya menjadi jelas.

Pertama, bahwa jumlah penerbitan buku yang ditulis oleh kita, pekerja pendidikan, relatif masih kurang, dibandingkan dengan jumlah tenaga kependidikan, yang hampir 3 juta orang. Kurangnya jumlah penerbitan tersebut, bagaimanapun, sedikit-banyaknya, berkorelasi ‘sangat significant,’ dengan kemampuan menulis.

Kedua, Belum berkembangnya budaya menulis di sekolah kita. Hal ini, sangat kasat mata, terlihat dari proses pembelajaran yang jarang mampu merangsang murid agar tergerak untuk menulis. Atau paling tidak, kita mau mengintegrasikan kegiatan menulis dengan mata pelajaran yang kita ajarkan. Dalam hal ini, hendaknya pembelajaran menulis tidak hanya dibebankan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia saja, tetapi bila perlu untuk semua mata pelajaran. Dengan cara ini secara otomatis kita pun akan terkondisi untuk melakukan pembimbingan, sehingga kita pun tergerak untuk belajar menulis.

PENYEBABNYA

Mencari dimana penyebab, kenapa kita sulit menulis, banyak ahlinya. Orang yang tidak bisa menulispun bahkan lebih mampu dan paling ahli, mencari penyebab dengan variabel-variabel yang masuk akal. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada kita semua, yang bekerja di bidang pendidikan, beberapa variabel yang bisa saya ketahui antara lain :

Pertama, disebabkan karena kita kurang membaca. Kegiatan membaca dapat dikatakan sebagai faktor kunci dalam menulis. Penulis besar sekalipun tidak akan dapat berbuat banyak apabila tidak membaca berbagai literatur sehubungan dengan materi yang ditulis. Dengan banyaknya seseorang menguasai informasi maka ada kecenderungan semakin mudah pula ia dalam menulis. Kalau Anda sering menulis pasti pernah merasakan bagaimana sulitnya menulis bilamana tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang topik yang ditulis. Tulisan pun terasa kering, monoton, bahkan bisa menjadi subyektif karena kekurangan data dan informasi pendukung. Menguasai informasi, dengan cara membaca, adalah material untuk membangun tulisan.

Kedua, kesulitan disebabkan karena kita kurang latihan menulis. Belajar menulis sama halnya dengan belajar berenang; kalau tidak dipraktikkan tidak akan pernah bisa berenang. Makin banyak guru berlatih akan semakin baik. Penulis yang baik akan selalu belajar secara terus-menerus dari pengalaman yang didapat dari latihan tersebut. Perlu dicatat bahwa kegiatan menulis merupakan proses belajar yang tidak pernah tamat. Cara terbaik untuk belajar menulis, ya, dengan menulis, itu aja. Emang gua pikirin, nulis aja lagiiii ?

Ketiga, kesulitan disebabkan karena kekacauan dalam berpikir. Faktor ini sering sekali terjadi sehingga tulisan kelihatan kacau dan tidak jelas alur logika yang digunakan. Pesan ilmiah yang ingin disampaikan biasanya menjadi kabur, tidak sistematis sehingga sangat sulit dipahami. Benang merah, mulai dari permasalahan sampai kepada penarikan kesimpulan biasanya tidak nyambung. Oleh karena itu tidak aneh apabila sering berbeda antara permasalahan yang dikemukakan dengan pemecahan, beserta penarikan kesimpulannya. Menulis bukan sekedar menuangkan pengetahuan yang kita miliki saja, tetapi menulis adalah proses membangun pikiran, agar sistemik, analitis dan jujur, apa adanya.

Keempat, kesulitan disebabkan karena takut dan ketakutan. Seperti juga berani dan keberanian, adalah bagian ‘diri’ seseorang. Tidak ada orang yang tidak mempunyai rasa takut, betapa pun kecilnya. Rasa takut dan ketakutan adalah hal wajar. Pertanda kita masih waras. Yang perlu dihindarkan adalah takut dan ketakutan yang berlebihan, yang tidak berdasar. Takut dan ketakutan sangat tidak kontributif dalam menulis. Betapa tidak. Banyak orang sulit menulis karena takut. Takut pada diri sendiri, atau ketakutan tulisan ‘direspon’, dicaci n dimaki, dikritisi, de el el.

AKHIRNYA

Sebagai anjuran aja, buat diri saya khususnya, menulislah karena ingin menulis. Kalau ada ide, seliar apapun (emang Singa) ide tersebut ditulis. Kalau sudah selesai, baru pertimbangkan, apakah pantas dilepas ke wilayah publik atau disimpan jadi koleksi saja. Yang penting menulisnya dulu, jadi tulisan.

Soal dimuat dimana, bakalan dapat honor berapa, akan jadi polemik atau dibiarkan bak angin lalu, itu soal nanti. Teori menulis konvensioal memang hal-hal ideal dulu, baru menulisnya.

Dus, jangan ada lagi ‘belenggu’, menulis harus menunggu mood, tempatnya harus nyaman, tidak bising, tengah malam, setelah membaca lima puluh kilo buku, atau hal-hal sepadan yang tidak ada hubungan langsung dengan menulis. Ah, itu teori. Menulis bukan teori kog, tetapi praktek.

Keseluruhan aktivitas menulis adalah pelajaran itu sendiri, adalah guru itu sendiri. Bahkan, proses pemulanya, katakanlah membaca, mengamati, menganalisi, atau konsepsi di otak, di pikiran adalah rangkaian belajar. Sesuatu yang tidak dapat dicantolkan atau dicangkokkan. Bingung? Syukur, pertanda kita semua masih sadar, masih berpikir.

Kesimpulannya, sederhana aja, biasakan menulis. Latih kemampuan menulis dengan menulis, menulis dan menulis lagi. Ketika belajar tertawa, berdiri, bicara, dan seterusnya, memangnya ada guru khusus, guru ahli ? Yang ada, mama, papa, kakek-nenek, kakak dan atau saudara yang menuntun. Selanjutnya, terserah anda ....

Bekasi, 05 Februari 2009.



Baca selengkapnya……

MENULIS DI OTAK, SALIN KE KOMPUTER

Ketika kita sulit menulis, bukan berarti kita tidak bisa menulis. Sebagian kita yang percaya bahwa menulis itu sulit, disebabkan karena banyaknya aturan yang sengaja diciptakan, untuk menjadi pagar kawat berduri, penghalang aktivitas menulis. Aturan-aturan inilah yang kemudian memenjarakan pikiran kita dan menciptakan keterbatasan-keterbatasan. Aturan-aturan tersebut membelenggu pikiran, kita tidak lagi bisa bergerak, tidak lagi bisa (bebas) kesana-kemari, lantas tidak bisa lagi ber-pikir jernih (cair), yang akhirnya kegiatan menulis, tidak bisa lagi mengalir.

Kebanyakan kita, sebelum menulis, selalu ingin mempersiapkan ini-itu, agar benar-benar siap menulis, mengalokasikan waktu, mengkondisikan badan agar tetap dalam stamina prima, selama menulis, kita mengumpulkan bahan-bahan untuk referensi tulisan, dan mengkomunikasikan kepada anak-istri agar jangan mengganggu kita sebelum tulisannya selesai. Setelah itu, perhatikan apa yang terjadi ? Buntu aja lagi !. Eh, Ini bukan bahasa yang baik dan benar. Bahasa yang baiknya dan benarnya mungkin begini, pikiran jadi putus-nyambung, putus-nyambung, putus nyambung. Byar-pet, gitu lhooo !. Susah amat sih cari bahasa yang baik dan yang benar !

Sewaktu, penulis masih nguli di kampus, nyombong dikit ah !, tidak ada tulisan yang tidak menggunakan referensi. Semua tulisan harus merujuk pada teori-teori para ilmuan, kalau tidak, maka tulisan kita tidak bisa dianggap ilmiah dan tidak pula bisa dikatakan valid. Ilmiah-tidaknya tergantung kepada teori-teori yang berhubungan dengan variable dan indikator yang dipilih. Kemudian, valid tidaknya tergantung kepada jumlah dan jenis sample yang digunakan, untuk menguji instrument peneli-tian. Biasanya, yang baca tulisan ini, mahasiswa yang berkepentingan menyusun skripsi, thesis atau disertasi. Kalau sudah selesai nyusun, mana mungkin dia mau baca-baca lagi, paling banter disimpen dirak buku, sampai berdebu.

Tetapi, ketika mengetahui bahwa tulisan yang baik bukan cuma menulis artikel ilmiah saja, dan demi melancarkan kegiatan menulis, ternyata tulisan alamiah (baca fiksi, essai, opini, dll) lebih banyak diminati oleh pembaca. Apalagi dalam menulis fiksi, bebannya lebih ringan. Kita tidak terlalu terikat fakta, sebab fiksi lebih berori-entasi kepada imajinasi.

Apabila saya ditanya, apa sih tujuan anda menulis ? Saya katakan bahwa saya menulis hanya untuk dibaca. Kalau sudah dibaca, mau dikritisi, dibahas, dicaci-maki, diambil buat referensi, atau dibuat bungkus kacang, terserahlah. Yang penting di-baca. Kalau kemudian nggak dibaca ?, EGP aja lagi !

Kalau saja, tulisan saya tidak dibaca orang, bukan berarti tulisan yang saya buat mubajir alias sia-sia. Perpektif saya mengatakan bahwa semua tulisan yang bisa saya selesaikan, tidak pernah sia-sia, apalagi mubajir. Semua tulisan yang saya se-lesaikan, akan membiasakan saya untuk terus menulis. Kata ahli teori menulis, kalau tulisan kita menjadi polemik di media, maka tulisan kita dinyatakan berbobot. Bener juga tuh ! Tapi buat saya, menulis, ya, menulis, aja terus !. Tak ada kepentingan apapun, selain menulis, menulis, dan menulis. Kalau tokh, kemudian dikritisi, dicemooh, apalagi jadi polemik, EGP aja lagi !. Dan saya selalu ingat apa kata Imam Ghozalie, kalau anda bukan anak seorang tokoh spiritual atau anak ulama, maka menulislah.

Kembali ke konteks diatas, bahwa kesiapan menulis, sebenarnya tidak pernah ada, yang ada hanya, lakukan saja menulis. Apalagi, waktu menulis, sebenarnya juga ti-dak pernah ada, yang ada hanya sekaranglah saat yang tepat untuk menulis. Jika kita menginginkan kondisi tubuh prima, maka menulis tidak pernah mendapat ke-sempatan untuk disegerakan. Mengapa begitu ? pada hakekatnya, ketika kita menginginkan kesiapan menulis, kita sebebarnya tidak pernah siap untuk menulis. Dan pada saat kita memilih waktu yang tepat untuk menulis, pada hakekatnya, kita kehabisan waktu sekarang untuk menulis. Oleh karena itu, menulislah sekarang, ti-tik.

Banyak teoritikus memaparkan bahwa, jika ingin menulis, mantapkan dulu tu-juannya, tentukan dulu temanya, apa misinya, dan lain-lain. Tidak salah memang. Tetapi, coba sekali-kali ‘teori’ tersebut dibalik. Jangan pikirkan apa yang akan ditulis, tapi tuliskan yang ada di pikiran. Perhatikan apa yang terjadi ? Tulisan itupun men-jadi, bukti.

Menurut teman saya yang orang indramayu, mengatakan bahwa menulis itu adalah, sa-ucaping pangucap, sa-krenteg-ing ati, bukti. Artinya begini, menulis itu sama seperti kita berbicara dengan seseorang, yang lahir langsung dari pikiran. Menulis itu adalah kehendak hati (jiwa), dimana jiwa tidak bisa diatur-atur untuk merencanakan apa dan kapan mulai menulis. Nah, kalau sudah bisa menulis apa yang ada dipikiran dan tanpa aturan yang membelenggu jiwa, maka tulisan kita akan menjadi bukti.

Menurut ahli strategi, rencana menulis nggak ada hubungannya dengan tindakan menulis. Rencana menulis yang dimatangkan di pikiran, hanya berguna untuk men-segerakkan tindakan. Namun, ketika kita menulis, content (isi) tulisan sedikit banyak akan menyimpang dari rencana semula. Makanya, kalau mau memulai menjadi pe-nulis, jangan pake rencana-rencana segala, mau nulis apa ya ?. Langsung, tulis aja yang ada dipikiran kita. Titik. Baru setelah itu, kita bisa mikirin kemana tulisan ini bisa di kirim atau di-upload.

Bang Ersis, dalam Ersis writing Theory, mengemukakan bahwa pada hakekatnya, kita semua, setiap saat, menulis di otak. Apa pun yang kita pikirkan, begitu otak dioperasikan, apalagi merespon hal di luar diri, proses menulis di otak terjadi. Kita semua, tanpa kecuali, adalah penulis di otak sendiri. Dalam sehari semalam, menu-rut para ahli neurology, kita mengganti content (isi) tulisan di otak, antara 60.000 sampai 65.000 tulisan. Dahsyat meeen ? Tapi, kenapa satu tulisan pun nggak pernah selesai, meskipun sudah seharian melototin komputer.
Bang Ersis Warmansya Abbas bilang, kalau begitu, menulis itu mudah dong. Yes. Siapa bilang susah. Mereka yang berpendapat demikian, setidaknya diganjar dua hal mendasar. Pertama, tidak pernah sadar otak setiap saat ‘merekam’ apa pun, ditulis di memori. Kalau tidak percaya ‘panggil’, apa yang dimaui akan muncul seketika. Kedua, tidak membiasakan menuliskan yang telah ditulis di otak. Padahal hanya tinggal ‘menyalin’ saja. Kalau pemahaman kita sudah demikian, kata Bang Ersis lagi, menulis akan dirasakan mudah, dan menyenangkan. Sebab, tidak lagi diganduli ke-hendak ini-itu, angan-angan ini-itu, target ini-itu, syarat ini-itu, dan kepentingan ini-itu. Kalau sudah begini, tulisan akan mengalir dan meluap, sampai jauh, seperti kali Bengawan di Solo.

Bagaimana, kalau begitu !

Bekasi, 4 Maret 2009.

Baca selengkapnya……

MENEMBUS FIKIRAN KERUH

Sebagian Penulis tentu sangat yakin, bahwa ide menulis ada dimana-mana, kapan saja dan tak terbatas jumlahnya. Ide tulisan, tidak bersifat positip atau negatif, ide tulisan itu netral. Oleh karena itu, ide tulisan, tidak bisa dihakimi dan tidak bisa menghakimi, tidak bisa dinilai baik-buruknya, bahkan ide tulisan adalah lautan tak bertepi. Ide tulisan adalah fikiran kita sendiri, lebih jauh lagi, ide tulisan adalah diri kita sendiri. Descartes bulang, aku ada Karena aku berfikir, aku berfikir karena aku ada.


Munculnya sebuah ide, karena indra kita bekerja. Menurut Ersis Warmansyah Abbas, pakar yang sering disebut-sebut sebagai motivator menulis, mengatakan bahwa alam sekitar yang dipantau alat indera, informasi bacaan, atau proses responsif di ranah otak memantik hal-hal baru, yang kalau dimatangkan menjadi tulisan.

Ide menulis, yang jumlahnya tidak terbatas, datang kapan saja, dan ada dimana-mana itu, tidak akan menjadi alasan untuk mengatakan bahwa kita kehilangan ide dan kekurangan ide. Yang sering terjadi adalah kita diganggu oleh fikiran kita, yang tidak mampu memilih-memilah, mana ide yang akan ditumpahkan. Fikiran kita memagarinya dengan sangat kuat. Pagar besi pikiran itu mulai dari pemilihan kata (diksi) yang tepat, sampai teori-teori penulisan yang njlimet. Faktor yang dianggap klasik, adalah tidak adanya kemauan untuk menulis dan persepsi tentang menulis itu sendiri.

Setiap teman, yang saya temui, berkeinginan kuat untuk menulis, apalagi tulisannya mendapat penghargaan dari orang lain, dimuat di media massa lagi. Menjadi penulis adalah mimpi semua orang. Apalagi kalau teman-teman saya mendengar, bahwa dengan menulis akan mendatangkan penghasilan besar. ”Wuuuih ?”, buru-buru cari komputer dan menulis. Aneh bin ajaib, ketika sampai di depan komputer, duduk manis sambil menarik nafas panjang, seketika itu juga, ide menulispun hilang bersama hembusan nafas panjang tersebut.

Menimbang dan seterusnya, memperhatikan dan seterusnya, memutuskan, menetapkan dan seterusnya, bahwa sumber ide itu tak terbilang. Ketika melihat sesuatu akan muncul ide, apa yang kita lihat. Ketika kita mendengar sesuatu, muncul ide, apa yang kita dengar. Ketika kita merasakan sesuatu, muncul ide, apa yang kita rasakan. Ketika kita mencium sesuatu, muncul ide, apa yang kita baui. Ketika semua itu dijadikan tulisan, bisa muncul ide di atas ide. Proses kegiatan operasional otak yang dibarengi bagian-bagian raga, juga sentuhan perasaaan dan naluri, adalah sumber ide.

Kemudian, kenapa kita nggak bisa menulis ide tersebut. Padahal tinggal nuangin aja di dalam kata-kata, gitu aja kok repot. Tapi, kenyataannya memang kata-kata yang lahir dari sebuah ide, seketika membeku, dingin bagai es batu. Sulit tumpah. Menunggu kata-kata itu mencair, mungkin baru bisa dituang di layar komputer. Namun, pengalaman seperti ini menjadi sesuatu yang biasa bagi sebagian besar kita, yang hasratnya menggebu-gebu menulis. Lantas, kita meringkuk sendirian di penjara pikiran, dan mimpi-mimpi indah menjadi penulis hanya menggumpal di batok kepala kita yang keras. Keruh, tidak jernih lagi. Buntu, tidak ada lagi jalan lurus.

Kalau saja kita mampu sedikit menemukan jalan keluar, mungkin nggak ada jalan lain, kecuali terus menulis, menulis dan menulis. Nulis apa aja, yang penting menulis. Tetapi, coba saya hitung, siapa-siapa saja yang mampu menjalaninya, tanpa rekasa, memaksa, terpaksa dan nelangsa ?. Sepertinya, buah meng-kudu rekasa, meng-kudu maksa, meng-kudu nelangsa, dan satu lagi meng-kudu bisa, harus dimakan mentah-mentah, supaya sehat dan kuat gituuu lhooo ?. Nemu aja lagi, ya ?.

Ayo, sekarang, siapa yang bisa menulis, ketika anak-anak merengek minta dipijitin, istri uring-uringan gara-gara melupakan makan malam, tagihan telepon membengkak, tagihan-tagihan hutang dah jatuh tempo, nggak punya duit lagi, nggak berani ngangkat HP. Trus, tagihan listrik sejak bulan lalu nunggak, teman-teman dikantor tidak bersahabat, motor dah tiga bulan blom bayar pajak, Ortu butuh biaya berobat, teman yang menghutangiku SMS balik ke HP saya, yang berisi kalimat tentang janji saya mau melunasi pinjaman hari ini, uang kursus anak blom kebayar, tulisan yang dikirim ke media massa nggak ada balasan, tabungan cuma ada saldo 70 rebu, capek deeech ?. Masih satu paragraf lagi kalau ditulis disini. Saya nggak tahu, ini masalah internal apa masalah eksternal. Kalau dibilang masalah eksternal, pikiran saya kok jadi mumet. kalau saya anggap masalah internal, ya memang ini terjadi pada diri saya, bukan masalah tetangga saya.

Ujung-ujungnya, nanya ama teman saya, yang sudah jadi pejabat teras, ”gimana ya, kok jadi begini ?”. Teman saya bilang, ”Nggak tahu ?”. Tapi saya pengen bisa menulis, meskipun masalah-malasah ini tetap eksis ?

”Coba gunain jiwa, kalau menulis.” kata teman saya.
”Gimana, gunainnya, sementara saya belum berteman dengan, nyang mana daripada jiwa.”
”Semua, yang kamu sebut masalah, datang dari pikiranmu sendiri. Jadi, gimana kalau dilupain dulu.”
”Mana bisa, atuh !, aya-aya wae kang ?”
”Harus bisa ! kalau nggak bisa, silahkan aja hidup dalam lumpur penderitaan !”
”Jadi, gimana dooong ?”
”Lupakan semua, yang ada di kepalamu, pikiran yang menjadi masalahmu. Trus, jadikan dirimu tenang, semakin tenang, semakin banyak tenang, dan tenang sepenuhnya !”
”Jangan, menghipnotis begitu, dong ?”
”Ya, sudah, kalau nggak mau dihipnotis !”
”Oke, oke, aku mau, sepertinya nikmat juga, dihipnotis. He .. he .. he .. ?”
”Oke, siap !” Perintahnya.
”Siap, kang ?”
”Pertama-tama, pejamkan mata, hembuskan nafas, sampai habis dari bibir yang sedikit di monyongin. Biar udaranya sedikit-sedikit keluarnya. Kalau sudah, tarik pe-lan-pelan udara di depanmu, pake lubang hidung, masukkan ke dalam diafragma, dibawah paru-parumu, sampai penuh. Kemudian, keluarin pelan-pelan juga, udara yang tadi ada di bawah paru-parumu, sampai habis. Lakukan ini, minimal tiga kali aja.”
”....... oke, sudah.”
”Sekarang, ulangi lagi pernafasan tadi, sampai tiga kali, mainkan pikiranmu, seakan-akan kamu sedang menulis di depan komputer, terus lakukan sampai kamu mene-mukan ide untuk menulis lagi.”

Dengan khusuk, saya menikmati nafas yang keluar-masuk dalam paru-paruku. Ke-tenangan, kedamaian menyelimuti ruang dan waktuku. Dalam pikiran yang mulai damai, tergambar jelas, saya sedang menulis di depan komputer, dan menyelesai-kan satu tulisan. Saya menjadi bangga dengan tulisan saya sendiri. Dan ketika ide menulis saya muncul, tersadar, mata kembali terbuka, teman saya itupun nggak tahu lagi, ada dimana.

Bekasi, 16 Februari 2009.

Baca selengkapnya……

MAU NULIS APA ?

Sangat sulit menulis kalimat awal, apa yang akan kutulis belum juga menggerakkan sepuluh jemari, meskipun difikiran beratus-ratus kalimat berebut keluar. Portal dalam kepalaku selalu menyeleksi, kemana arah kalimat akan ditujukan. Skenario di batok kepalaku, bising, mengguruiku. Kemudian berhenti begitu saja, ketika jemari telunjuk menyentuh tuts computer. Tanpa awal dan akhir yang jelas. Aku mandeg menulis.


Ketika terlintas lagi, pokok awal kalimat, buru-buru aku membuka file document yang berlum ada namanya itu. Lantas mandeg lagi. Tadinya sih jelas, kalimat apa yang bakal mengawali tulisan, kesal bukan main, dan terpaksa aku membaca lagi file-file yang sudah ku download dari internet, yang membuatku termotivasi menulis. Baca lagi, baca, dan baca. Begitu seterusnya, aku baru mulai rajin menulis.

Kerja keras, membaca dan menulis, menjadi bagian hidup disela-sela nafas kehidupanku. Tidak jarang terbersit, keinginan untuk terkenal, kadang takut dikritik, bahkan sering merasa minder sama orang lain, sama orang yang jauh lebih muda dariku, tulisannya ada dimana-mana. Di Koran nasional dan daerah, bahkan ada di situs-situs internet yang paling diminati banyak orang. Minder, jadi penyakit yang sulit disembukan.

Sampai beberapa paragraph inipun belum jelas, apa sebenarnya yang akan ku tulis, biar aja, yang penting kedua jari tengah dan telunjukku masih ingin bermain-main dengan tuts-tuts laptop, yang belum lunas ini. Aku membiarkan jari-jariku menari, apa saja. Kadang-kadang aku biarkan jari kelingkingku ikut-ikutan menekan tuts, mekipun si jempol cemburu, ingin nimbrung, menyerimpung jari telunjuk dan jari tengah.

Nah, ketika mulai lancar begini, tahu-tahu istri menyuruhku makan siang. Anak bontotku minta dibuatkan es sirop, bahkan minta dicebokin dikamar mandi, anak keduaku berisik dengan PS-nya, dan tahu-tahu minta dibuatin mie instan. Anak pertamaku, paling ogah menggangguku, ia asik belajar, tapi kalau sudah muncul permintaan, tuntutannya pantang di tolak. Pada awalnya, gangguan ini, bisa mematikan semua ide-ideku.Sangat mengganggu konsentrasiku, tapi lama-lama, kok bisa ya ? dijadikan bahan tulisan alias jadi sumber inspirasi juga. Mungkin ini yang disebut hikmah dari buah kesabaran dan berfikir terbuka. Aku juga nggak tahu, apa sih, sebenarnya sabar dan berfikir terbuka itu.

Contoh aja barusan, anak bontotku memintaku untuk jalan-jalan sore nanti, “jangan nulis melulu, jalan-jalan dong Pa ?”. Sementara, anak keduaku memintaku, “Pa selesai nulis, buatkan mie goreng, ya ?” sedangkan anak pertamaku yang sudah kelas tiga Es-em-Pe, minta dibuatkan email Yahoo, pakai Co dot Id, bukan pakai dot com. Anehnya, istiku, mengeluh, situasi rumah yang berantakan, seperti kapal pecah, “Semua ngggaaaak pada peduli, sandal dimana-mana, mainan tidak pada tempatnya, pakaian belum diseterika, buku berserakan ! Uuuuuggh !”. Istriku membanting badannya di tempat tidur, sambil berteriak lagi, “jangan lupa nanti ke bengkel motor, sudah tiga kali hari minggu belum, jadi-jadi juga.” Capeeek dech !. kesal, Cuma dalam hati aja, “Emang gue pikirin !”. Tapi setelah itu, tulisanku mandeg total.

Selesai, memenuhi kebutuhan semua anak-anak, trus beres-beres rumah, nyuci piring, ngisi bak mandi, shalat dzuhur dan bikin kopi. Baru aja pantatku sampai dilandasan kursi, dan siap mengetik. Hujan tiba-tiba turun. “Pa, ruang dapur bocooor ! Peduli dooong !” dengan sigap aku tinggalkan laptopku yang lama ngelamun, lantas mengatasi bocor dengan ember seadanya. Setelah situasi tenang, aku kembali duduk depan laptop. Sekarang, isi batok kepalaku sosong, song, song, song … ! Bener-bener, capek deeech.

Bekasi, 15 Februari 2009.

Baca selengkapnya……

GOOD MOOD, IDE, TIDAK PERMANEN !

Pada saat diskusi atau ngobrol santai, tak bertujuan, sering kita menemukan ide dasar untuk bahan tulisan. Point of view, arah tulisan, seakan-akan tergambar nyata, dikepala kita. Bahkan struktur dan pola tulisan, terbentuk dengan sendirinya. Bagi kita, yang akan menulis artikel ilmiahpun, ketika bahan terkumpul, data-data yang sudah dianggap valid, struktur dan sistematika sudah terencana baik, ternyata belum juga mampu membakar semangat, untuk mensegerakan tindakan menulis. Pertanyaannya, mengapa, ketika kita mulai menulis, seluruh gambaran yang tadi dianggap masih eksis, hilang tak berbekas ? Bagaimana hal itu bisa terjadi ? Nah, tulisan ini, insya Allah akan mengurai persoalan ide dan problematikanya dari sudut pandang saya.


Boleh jadi, kita merasa senang ketika tiba-tiba, entah darimana datangnya, muncul ide di batok kepala. Dalam fikiran yang ditunggangi perasaan, kita berkeinginan mau menulis ini-itu, nanti malam. Bahkan catatan kecil di HP atau di sobekan kertas bon-bon tagihan hutang, dianggap mampu merekam ide/gagasan yang tertangkap dikepala kita. Ternyata, bukan main kesalnya kita, pada saat siap menulis, ide/gagasan itupun menguap bersama kekecewaan kita yang dalam. Meskipun sesa-jen kita, untuk menghadirkan ide tulisan, sudah siap disamping komputer. Tinggal diminum aja, tinggal ngunyah aja, n tinggal nelen aja. Ennnnak, tennaaaan ?

Para ahli teori, yang belum tentu bisa menulis, kalau nggak dipaksa, mengatakan bahwa hilangnya ide menulis di sebabkan karena kondisi fisik kita kurang mendu-kung. Mulai dari gejala masuk angin, sampai koreng yang nggak sembuh-sembuh. Bercanda, jangan serius. Maksud saya begini, fenomena good mood, bukan monopoli aktivitas menulis saja. Aktivitas yang lainnya, seperti apel (bukan buah) ke rumah pacar, kalau nggak ada good mood juga akan menimbulakan bencana besar alias mandeg komunikasi serta keindahannya. Emang ada, yang apel pacar, nggak giood mood ?, banyak atuh kang !. Sebagai contoh, kisah Benyamin Syuaeb, dalam la-gunya Nonton Bioskop !.

Menurut bang Ersis di Padang, dan bang Jonru di Jakarta, yang saya akui telah ban-yak menggurui saya tentang gimana menulis, mengatakan bahwa mood, atau good mood bermakna suasana hati. Bagi kedua abang saya ini, good mood berkaitan langsung dengan suasana hati. Karena itu, tidak ada istilah ‘menunggu mood’. Emang kalau menunggu good mood di pinggri kolam ikan ia akan datang? Nggak lah yaw, kata bang Ersis.

Selanjutnya, bang Ersis berpendapat, kalau menginginkan good mood, ya nyamankan perasaaan, nyamankan suasana hati. Kalau sudah nyaman, jangankan menulis, pekerjaan apa saja akan asyik dilakukan. Logika jangan dijungkarbalik, mood mampir baru menulis. Kalau perasaan rusuh melulu bagaimana?. Betul bang, he...he...he...

Dari pandangan kedua pakar sekaligus motivator menulis tersebut, saya sangat ber-harap baik, bahwa good mood adalah ilusi yang kita buat-buat sendiri. Ken-yataannya, good mood lahir karena kita sendiri yang melahirkannya. Emang, kapan hamilnya ? Maksud saya, kalau toh, nggak penting-penting amat kita hadirkan good mood, ngapain dibikin hidup. Seringnya sih, ketika good mood itu berada bersama kita, kita mencoba menjaganya mati-matian. Lupa istirahat, lupa makan dan lupa sholat. Anehnya, pada saat penjagaan kita terlalu ketat, good mood itu menghilang, entah kemana. Jadi, bisa saya katakan, good mood itu, datang nggak diundang, pu-lang nggak diantar. Jelangkung kaleee ! Makanya, nggak usah dijaga-jaga, dipagari atau dikurung di sangkar mas yang indah.

Good mood, akan menemani kita selama menulis, jika kita penuhi syarat dan rukun-nya. Syaratnya adalah mengenal good mood sebagai sesuatu yang alamiah, bukan ilmiah. Ia hadir, jika fikiran dan perasaan kita berdamai. Tidak saling merasa lebih mampu dan lebih berkuasa. Fikiran dan perasaan sama-sama memiliki andil dalam menghadikan good mood. Artinya, selaraskan antara fikiran kita yang memiliki keinginan menulis, dengan perasaan kita, yang tidak memiliki beban apapun untuk menulis. Sebelum kita membicarakan rukunnya, kita wajib memahami bahwa good mood adalah akibat, bukan sebab. Oleh karena itu, sebabkan hadirnya good mood bersama kita. Caranya, dengan mendamaikan fikiran dan perasaan kita. Bikin agar terjadi gencatan senjata.

Selanjutnya, rukun yang pertama, adalah segerakan menulis, jangan sampai menundanya. Karena ide menulis, selalu berubah dalam hitungan detik, menit, jam atau hari. Rukun kedua, jadikan fikiran dan perasaan kita sealamiah mungkin, mak-sudnya jangan terpengaruh dengan teori-teori menulis, yang juga terus berubah itu. Rukun yang terakhir, menulis aja terus, jangan sampai berhenti, kecuali istirahat, makan dan sholat. Nah, dengan demikian, maka kita akan menulis dengan baik dan lancar-lancar aja.

Mari kita merujuk tulisan saya berjudul Menerobos Pikiran Keruh, bahwa ide menulis ada dimana-mana, kapan saja dan tak terbatas jumlahnya. Ide tulisan, tidak bersifat positip atau negatif, ide tulisan itu netral dan alami sifatnya. Oleh karena itu, ide tulisan, tidak bisa dihakimi dan tidak bisa menghakimi, tidak bisa dinilai baik-buruknya, sebelum jadi sebuat tulisan. Bahkan ide tulisan adalah lautan tak bertepi. Ide tulisan adalah fikiran kita sendiri, lebih jauh lagi, ide tulisan adalah diri kita sendiri. Syukuri ketika ide tulisan melintas dibenak kita, perintahkan pada perasaan di hati kita, untuk berniat menulis ini dan itu. Kemudian, kalau tidak segera menuliskannya, lupakan !

Penulis pemula seperti saya, sangat pamali, menangkap ide dan memenjarakannya di batok kepala. Saya biarkan ide tulisan melintas, saya syukuri kehadirannya, dan membiarkannya pergi ke lain hati, jika saya sibuk dengan pekerjaan lainnya. Kalau nggak percaya, coba aja catat, dikertas, ide-ide tulisan yang melintas di benak kita, kemudian malamnya kita buka lagi catatan ide-ide tersebut. Perhatikan apa yang terjadi ! Pikiran dan perasaan kita akan berkelahi, saling tuduh, salah menyalahkan, kenapa ide tersebut tidak langsung dubuat tulisan aja tadi ! Sekarang ide itu sudah berubah, bukan ide tadi siang, basi tau, kata perasaan kepada pikiran. Ujung-ujungnya, semangat menulis berakhir di catatan ide aja.

Sebagai penutup tulisan ini, saya petik salah satu paragaraf dari seorang motivator, bahwa landasan pacu untuk menulis adalah menulis apa yang ada di pikiran, apa yang terpikirkan, atau apa yang dipikirkan. Tidak perlu, menghabiskan waktu untuk memikirkan apa yang akan ditulis (ide menulis). Sekali lagi, menulislah apa yang ada di pikiran. Selaraskan fikiran dan perasaan kita, bahwa menulis sebagai sesuatu yang menyenangkan. Jangan lagi menunggu good mood, ya ?

Bekasi, 20 Februari 2009.

Baca selengkapnya……

15 April 2009

MODAL DASAR MENULIS

Dunia menulis, seperti halnya dunia kis-melukis, hat-memahat, lat-menjilat, eh … sak-memasak, maksudnya itu, tak iye !. Sangat dipengaruhi oleh keberadaan indra bathin. Indra bathin ini, meskipun tidak terlihat secara fisik, tapi kekuatannya luar biasa, hebat. Banyak orang terselamatkan hidupnya, gara-gara indra bathinnya bekerja. Namun, tidak jarang orang tertipu dengan indra fisiknya, yang kelihatannya nyata dan masuk akal. Pertanyaannya, bagaimana seorang penulis menggunakan kedua indranya ?

INDRA BATHIN DAN INDRA FISIK

Di dalam dunia lahir, fisik atau jasmani, kita mengenal hanya lima indra saja. Indra penglihatan, penciuman, pendengaran, rasa yang dilakukan lidah, dan sentuhan (perabaan). Semua indra ini terhubung langsung ke otak manusia. Sehingga, dengan sangat cepat otak akan memilah, memilih bahkan menafsirkan data-data yang dikirm indra-indra tersebut, menjadi informasi. Informasi tentang suara, berisik atau merdu, datanya diperoleh dari telinga. Informasi tentang gambar, indah atau tidak, datanya berasal dari mata. Informasi tentang bebauan, harum atau sebaliknya, datanya diolah dari hidung. Dan seterusnya.

Indra bathin dan indra lahir (fisik) sebenarnya saling bekerja sama, saling melengkapi dan saling mengerti satu sama lain. Ketika kita melakukan sesuatu, maka proses yang berjalan adalah synergy antara indra bathin dan indra fisik. Seluruh tindakan manusia adalah perpaduan antara, indra bathin dan indra fisik. Apapun, dimanapun, kapanpun. Kedua indra itu saling bergandengan tangan. Persoalannya adalah, mana diantara kedua Indra tersebut yang paling dominant bekerja ?

Pada saat, kita masih nak-kanak, indra bathin lebih dominant bekerja. Namun ketika kita sekolah, indra fisik atau lahiriah, dilatih dan diberi pembelajaran, melalui pengenalan dan pemahaman IPTEK. Makanya, di sekolah-sekolah formal, manusia dibentuk suatu pemahaman agar segala sesuatu menjadi ilmiah. Namun demikian, bukan berarti tidak ada yang tidak ilmiah.

Pada awal, segala sesuatu di alam semesta ini, alamiah. Tapi karena berkembangnya pengetahuan manusia, maka alam yang alamiah atau natural (apa adanya) ini, menjadi ilmiah (bukan atau jangan apa adanya). Infoemasi yang ilmiah dimotori oleh indra fisik, sementara sesuatu yang alamiah dipegang teguh oleh indra bathin. Kalau dipikir-pikir, memang segala sesuatu di alam semesta ini khan, keberadaannya berpasang-pasangan. Ada laki-laki, ada perempuan. Ada baik dan ada buruk. Ada siang, ada malam. Ada indra bathin, ada indra lahir/fisik. Dan seterusnya.

Tentu, ada maksud dan tujuan Allah Swt. menciiptakannya, baik yang bisa diindrai secara fisik maupun secara bathin. Ketika seseorang memiliki kemampuan lebih dari manusia pada umumnya, maka ia dikatakan memiliki indra ke-enam. Untuk memberikan arti bahwa informasi yang dimiliki orang tersebut, diperoleh bukan dari indra yang lima, secara fisik. Ia menggunakan indra bathin.

Orang yang memiliki indra bathin lebih kuat dari pada indra fisiknya, gampang memilih profesi paranormal. Sementara bagi orang yang indra fisiknya lebih tajam dari indra bathinnya, “Mbah sarankan jadi peneliti, aja.” Ketik reg, mbah roso, kirim ke 021.8843242, wah ini sih, telpon kantor saya.

Bagi orang yang memiliki indra bathin kuat, segala sesuatu di alam ini tidak pernah diragukan. Semua hal di alam semesta ini, berada dalam pengaturan yang sempurna. Mereka, paham low of attraction, hukum sebab akibat, the screet. Namun, bagi orang yang mempunyai indra fisik lebih tajam, akan meragukan terlebih dahulu, sebelum ada penelitian dengan data dan sample yang valid. Indra fisiknya, akan membawa persepsinya kepada sikap apriori, meragukan semua yang ada di kolong langit ini. Makanya harus diteliti dulu eksistensinya, baru percaya. Banyak peneliti, selalu menduga dulu kebenarannya, setelah terbukti secara klinis dan signifikan, baru boleh percaya.

Friksi, bahkan konflik sering terjadi, antara orang-orang yang memiliki indra bathin kuat, dengan orang-orang yang memiliki indra fisik tajam. Saya tidak akan membahas, contohnya. Kuatir ada yang menafsirkannya berbeda dari konteks sebenarnya.


Sebagai bahan renungan saja, mampukan kita menyeimbangkan antara kekuatan indra batin dengan kekuatan indra fisik. Ketika keseimbangan itu terjadi, keselarasan akan tercipta, dan kedamaian akan menjadi bagian hidup kita. Dengan kedamaian, para penulis mampu menciptakan karya tulis yang hebat.

MODAL MENULIS

Para pakar menulis selalu menyarankan, kepada para penulis pemula, agar menggunakan indra bathin aja dulu, atau alamiah aja gituuu. Biarkan, apa yang kita lihat, dengar, tahu, dan rasakan, tulis, apa adanya, mengalir aja. Biarkan dalam kondisi alamiah. Jangan dicampur dengan hal-hal yang ilmiah, seperti metodologi dan teori-teori menulis, yang justru akan mengganggu, proses kelancaran menuangkan kata-kata dalam bentuk tulisan.

Sama, seperti kita belajar bahasa Inggris, bila kita terpatok pada grammer, mulut kita terasa digembok dari luar. Begitupun, dengan menulis. Ketika kita terpaku dengan, yang mana daripada teori dan metodologi, pikiran kita terasa digembok dari segala penjuru. Kemudian, mandeg dech, perjuangan kita, menjadi penulis hebat.

Bagi penulis pemula, seperti saya, biasakan memakan buah mengkudu, mentah-mentah, agar sehat dan kuat staminanya untuk menulis. Kata mengkudu, ternyata berasal dari kata ‘emang kudu’. Berarti khan, kita emang-kudu nulis, emang-kudu nulis lagi, emang-kudu nulis terus, emang –kudu bisa nulis, gitu lhoooo.

Sudah banyak kok contoh, orang yang menamakan dirinya ilmuan, dosen, guru, sulit menulis, bahkan untuk disiplin ilmu, yang dipelajarinya. Sementara, banyak orang yang tidak tamat kuliah, lancar banget menulisnya. Saya bisa berani ngomong disini, bahwa ilmuan, dosen dan guru, bisa jadi bukan penulis. Tapi, seorang penulis, bisa jadi ilmuan, bisa jadi dosen atau bisa jadi seorang guru.

Saya mencoba merenung lagi, ketika Nabi Muhammad menerima wahyu pertama di gua Hiro, malaikat Jibril khan bilang, Iqro’, Iqro’, Iqro’ …. Baca, baca, baca ….. Berarti khan, Allah Swt. sudah menyiapkan tulisan di alam semesta ini. Ternyata, tulisan yang dibuat Allah Swt, ada yang bisa di indrai secara fisik dan ada yang hanya bisa diindrai secara bathin.

Bekasi, 17 Februari 2009.

Baca selengkapnya……

08 April 2009

Sebabkan Tiadanya Keterbatasan Menulis

Sebagian besar kita, pernah kenal, bahkan akrab banget’s dengan yang mana daripada hantu keterbatasan. Gimana ngak kenal, atau gimana nggak akrab, jika si hantu ini sering banget main ke rumah pikiran dan ke rumah hati kita. Tidak jarang, dia menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari, bahkan mampu mengendalikan persepsi dan perpektif kita tentang hidup yang sedang kita jalani ini. Mari kita sama-sama bahas hantu keterbatasan itu, berkaitan dengan upaya untuk menjadi penulis beneran.

Pernah suatu ketika, saya bertanya kepada teman yang baru saja lulus dari S1 Ekonomi, kenapa nggak coba menggiatkan menulis. Dia jawab, waktu saya terbatas, pulang kerja sudah malam, mandi, nonton TV, trus tidur. Kenapa nggak nulis pada hari sabtu atau minggu, aja. Dia jawab lagi, hari sabtu saya ngeles anak-anak tetangga yang kurang mampu berhitung, trus minggunya ada aja acara keluarga. Kasihan dech looo ?. Teman saya ini bener-bener kehabisan waktu. Kehabisan waktu atau nggak mau nambah kegiatan baru, tau ah gelap !

Kalau saja kita mau belajar memahami, meskipun dengan banyak keterbatasan yang kita miliki, bahwa keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki, bukan untuk membatasi kita untuk menginginkan sesuatu. Makanya Allah mengatakan bahwa perbuatan manusia tergantung bukan pada keterbatasannya, tapi pada niatnya. Oleh karena itu, apapun, kapanpun dan dimanapun, usaha manusia tidak pernah bisa dibatasi oleh keterbatasannya. Tokh, kita sering membaca, baik secara tersirat maupun tersurat, bahwa orang yang bodoh bisa kaya raya dan jadi pejabat, sementara orang pintar malah miskin nggak punya kerjaan. Orang yang nggak punya asset bisa sekolah sampai S3, sementara orang yang berlimpah harta, lulus SMA aja pake ujian persamaan. Trus, orang yang nggak lulus S1 lancar banget menulis, tapi seorang dosen yang lulus S3, ngak bisa-bisa memulai kegiatan menulis. Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang membuktikan bahwa keterbatasan di alam semesta ini, tidak berfungsi untuk membatasi hidup kita.

Sepertinya, keterbatasan yang ada pada diri kita, selain bukan untuk membatasi hidup kita, juga bukan untuk dijadikan alasan untuk tidak berniat memiliki, mendapatkan dan menguasai ini-itu. Bagi kita, keterbatasan harus diakui sebagai kenyataan untuk melahirkan kreativitas, melahirkan kesenangan, melahirkan kegembiraan, melahirkan yang lain-lainnya, yang kita inginkan. Karena setiap kelahiran dan kematian ada rasa sakit disitu. Tetapi, jangan dikira rasa sakit itu adalah penderitaan. Orang yang bisa merubah rasa sakit menjadi kenikmatan, adalah orang yang arif dan bijaksana, alias orang yang berjiwa besar. Saya batasi tulisan ini untuk tidak membahas tentang orang arif bijaksana ini, bisa panjang ceritanya. Njlentreh kemana-mana.

Oke saya lanjutkan, kalau saja kita menginginkan menjadi penulis beneran, jadikan keterbatasan pengetahuan dengan terus belajar menulis. Jika pengen jadi usahawan/wati, jadikan keterbatasan modal, untuk terus meningkatkan semangat dalam mencari partner-partner bisnis yang memiliki modal. Kalau pengen punya penghasilan besar, jadikan keterbatasan sebagai dorongan untuk mencari tambahan penghasilan. Sok tahu ya ? EGP aja, gitu lhooo.

Ketika kita sudah sedikit paham tentang makna dan hakekat keterbatasan ini, coba kita hubungkan keterbatasan kita dengan hukum sebab-akibat, yang sudah ada sejak alam semesta ini diciptakan. Hukum sebab-akibat ini menjadi sunatullah, yang tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh semua penghuninya. Persis ustadz !. Misalnya, keterbatasan kita dalam menulis, ikhtiar yang kita lakukan adalah sebabkan tiadanya belenggu menulis, hal ini diupayakan agar kita memiliki akibat untuk terwujudnya kebiasaan menulis. Belenggu kreativitas menulis yang kita pahami sementara ini adalah selalu memikirkan apa yang akan ditulis. Coba mulai dari sekarang menuliskan apa yang ada di pikiran. Perhatikan, apa yang terjadi !

Seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa keterbatasan yang ada pada diri kita, selain bukan untuk membatasi hidup kita, juga bukan untuk dijadikan alasan tidak bisa memiliki, mendapatkan dan menguasai ini-itu. Sementara, kita memahami niat sebagai ucapan lisan saja, saya ber-niat menjadi penulis, gitu aja. Niat buat saya adalah kesungguhan hati untuk melakukan sesuatu dalam rangka mencapai apa yang saya inginkan. Ah .. teori !

Teori atau praktek, sama saja, sama-sama mensegerakan tindakan. Niat yang sungguh-sungguh, akan melahirkan tindakan sesegera mungkin, seketika. Dalam hal teori, niat bisa mensegerakan tindakan untuk mengerti, lalu memahami apa yang dibicarakan dalam teori itu dengan pikiran. Sementara dalam praktek, niat mampu mensegerakan tindakan untuk melakukan apa yang diinginkan, secara fisik.

Akhirnya, ketika kita mengetahui keterbatasan bukanlah hantu yang menakut-nakuti kita, maka kita berani bilang, SIAPA TAKUT !. Tokh, keterbatasan adalah asset yang bisa kita ubah menjadi berbagai kemungkinan, untuk memberikan kenikmatan, kegembiraan, dan kebahagiaan hidup. Pesannya hanya, sebabkan tiadanya keterbatasan menulis. Gitu aja kok repot !

Bagaimana, kalau begitu !

Bekasi, 14 Maret 2009.

Baca selengkapnya……

Viviti