Here is the ultimate resource for detailed purwalodra guides, and tips. Find about purwalodra that will match your need | Education | Life | Writing | Politics

Click

Showing newest posts with label Kehidupan. Show older posts
Showing newest posts with label Kehidupan. Show older posts

10 April 2010

Life Limit

Ambang Batas Kelayakan
Oleh. Purwalodra

Memaknai Ambang Batas Kelayakan dari pikiran dan hidup saya sekarang, adalah mimpi buruk yang selalu menghantui. Bagaimana tidak, semua keinginan, rencana bahkan mimpi sekalipun hanya bisa berhenti dipintu-pintu harapan yang terkunci oleh batas-batas kelayakan. Dunia ini pun seketika menjadi mustahil hanya karena saya mendiskriminasikan segala sesuatu, ini layak untukku dan yang lainnya tidak.

Ambang batas kelayakan ini menjadi kerikil-kerikil tajam yang menghalangiku disetiap jengkal langkah. Sehingga batas pikiranpun menyempit. Ketika pikiran menjadi sempit, otomatis dunia yang menjadi arena petualangan hidup ini pun menjadi semakin sempit. Tantangan-tantangan menjadi sangat mengerikan, kesempatan-kesempatan hanyalah pepesan konsong, tidak lagi menyemangati. Kehidupan menjadi ajang egosentris dengan batasan yang semangkin menghimpit. Akhir tragedi ini hanyalah penghakiman-penghakiman atas lingkungan eksternal, situasi-kondisi dan diri sendiri.

Teman-teman yang peduli terhadap penyakit mental ini menyarankan agar saya segera melakukan pembersihan, dengan melakukan rukiyah. Ada juga yang menyarankan agar saya mengikuti seminar-seminar tentang pengembangan diri, agar bisa melakukan self suggestion. Bahkan banyak lagi yang menasehatkan saya untuk melakukan Taubatan Nasuha, Dzikir sebanyak yang saya mampu, dan shalat-shalat sunat lainnya.

Sekarang saran dan nasehat teman-teman yang berharga itu, sudah menjadi rutinitas keseharian, dan nyaris menjadi candu yang tidak bisa saya tinggalkan. Kalau saja saya meninggalkan secara sengaja maupun tidak, kegelisahan dan cemas langsung merusak ketenangan dan kedamian yang kumiliki.

Tidak jarang saya menyikapi kondisi yang berkembang di negri ini dengan perasaan pilu, menyayat bathin bahkan hidup seakan sebuah perjalanan dari halte ke halte, dan kembali ke halte semula. Sangat menjenuhkan. Keindahan, cinta dan kedamaian adalah mimpiku saat ini. Akankah semua ini menjadi rencana yang berada dalam jangkauan kemampuanku sendiri. Atau akan tetap menjadi mimpi-mimpi.

Dalam kehidupanku sekarang telah terprogram bahwa uang itu buruk, mengurusi diri sendiri itu buruk, benda materiil itu tidak spiritual dan lain-lain. Maka apapun yang saya lakukan, jika saya menginginkan uang sementara dalam pikiranku yang lain berfokus pada uang itu buruk atau egois, saya akan tetap mendorong agar uang menjauhi saya.

Program tersebut diperparah oleh kondisi di negri ini pula bahwa dimana banyak pegawai publik yang baru golongan rendah bahkan baru beberapa tahun bekerja sudah bisa menimbun banyak uang. Alangkah naifnya saya !!!, pikirku, yang sudah bertahun-tahun bahkan hampir selesai menjalani masa bhakti, bukannya uang atau harta lainnya yang terkumpul, malah hutang yang semakin bertambah di warung-warung tetangga dan teman-teman sekantor. Saya mengakui bahwa sayalah yang paling bersalah dalam hidup ini. Saya mungkin kurang banyak bersyukur dari apa yang saya miliki saat ini, atau ambang batas kelayakan yang tertanam dalam benak saya memang terprogram seperti ini.

Selesai shalat subuh, dihari minggu ini, saya kembali bersimpuh dihadapan Illahi Robbi, setelah bermunajat saya bisa sedikit menyadari bahwa semua ini (termasuk hidup saya sekarang), tergantung pada keyakinan saya sendiri, khususya keyakinan saya tentang apa yang menurut saya patut alias pantas saya terima dalam hidup ini. Pesan saya terhadap diri saya sendiri, yakini dan perluas ambang batas kelayakanmu, jika kamu ingin berubah !!!.

Bekasi, 10 April 2010.

Baca selengkapnya……

31 December 2009

Cultivate Future

Refleksi Akhir Tahun 2009 : “Membudidayakan Masa Depan”
Oleh. Purwalodra

Mungkin kelihatan agak janggal mengartikan kalimat sebagaimana judul diatas, namun makna yang tersirat dalam kalimat tersebut tidaklah sesulit kita memahami padanan kata-katanya. Padanan kata yang lazim pada kata ‘budidaya’ pada umumnya diiringi oleh kata ‘tumbuhan’, ‘hewan’ ato lainnya, tentu yang berkaitan dengan ekonomi.

Budidaya masa depan disini maknanya tidak menyimpang jauh dari apa yang sering didefinisikan oleh para ahli ekonomi maupun pertanian. Cuma konteksnya saja yang bebeda. Dibidang ekonomi, kata ‘budidaya’ dimaknai sebagai usaha untuk melipatgandakan komoditas yang bisa dijual (marketable) sehingga akan terjadi kelipatan keuntungan secara finansial. Dibidang pertanian, kata ‘budidaya’ bermakna sebagai usaha untuk meipatgandakan hasil-hasil pertanian dari suatu tanaman, sehingga akan terjadi kelipatan keuntungan secara financial juga. Nah, kalo kata ‘budidaya’ kemudian diikuti dengan kata ‘masa depan’ saya memaknainya sebagai usaha untuk melipatgandakan (baca : meningkatkan) kesadaran kita, sehingga diharapkan akan terjadi kelipatan kesempatan pada hari ini dan dikemudian hari.

Selain kita mengetahui batasan kata ‘budidaya’, lahan ato tempat untuk membudidayakan, baik di bidang ekonomi maupun pertanian, sudah kita pahami bersama. Sebagai contoh saja, budidaya secara ekonomi salah satunya bertempat di Bursa Effek, dan budidaya pertanian ada di kebun ato sawah. Kemudian kita bertanya, kalo budidaya ‘masa depan’ ada dimana donk ?. Buat sebagian besar orang yang menggunakan secara dominan otak kirinya, kemungkinan besar tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Karena mereka harus berfikir rasional, analitis dan fisikal. Buat saya yang selalu bermain-main dengan otak kanan, mudah saja kok jawabannya. ‘Gitu aja kok repot,” kata Almarhum Gus Dur semasa hidupnya, yang pada hari ini jenazahnya di semayamkan di Jombang, Jawa Timur.

Tempat membudidayakan masa depan dengan satu-satunya benih ‘kesadaran’ cuma ada di dalam jiwa/kalbu. Kesadaran kita sekarang akan menentukan kondisi/situasi bahkan nasib kita sekarang dan masa depan. Karena dengan melipatgandakan kesadaran kita maka hidup menjadi lebih bermakna, indah, damai dan menyenangkan. Menurut rumus Einstein yang terkenal, yaitu : E = m.c2. Kesadaran (consciuousness – c2) yang dikuadratkan (dilipatgandakan) dikalikan dengan berat tubuh fisik kita maka akan menghasilkan ENERGI yang luar biasa. Kalo saja kecepatan cahaya (Newton - c2) adalah 300.000 km per detik, maka kecepatan kesadaran kita (manusia) bisa sepuluh kali lipat dari kecepatan cahaya menurut Newton, perdetik. Luar bisa … !!!. Dan kalo rumus Einsten tersebut dikemas menjadi Bom Atom, bisa mengancurkan 2 kota di jepang, Nagasaki dan Heroshima, maka bayangkan berapa kekuatan Energi yang di dalamnya terdapat kecepatan kesadaran manusia ?. Maka kemudian, akan terbukti benar bahwa bumi kelak akan hancur oleh kekuatan manusia itu sendiri. For example : The Day After Tommorow and 1912 flim. So, consciousness is cultivated in the soul, would actually have great power, which can not be defeated by anyone and anything.

Bagaimana kita bisa membudidayakan masa depan melalui kesadaran yang kita lipatgandakan tersebut ?. Mungkin saja setiap orang memiliki banyak cara untuk bisa membudidayakan masa depannya melalui kesadaran ini, salah satunya adalah menghargai dan mensyukuri masa sekarang. Syukuri dan hargai apa yang ada dan apa yang kita miliki. Jangan berharap burung yang sedang terbang, sementara punai (anak burung) ditangan kita lepaskan.

Pergantian tahun masehi malam ini, mungkin bisa kita gunakan untuk mengevaluasi apakah kesadaran tahun 2009 kemaren benar-benar maksimal kita lakukan ? Mungkin hanya anda dan Tuhan andalah yang tahu.

Bekasi, 31 Desember 2009.


Baca selengkapnya……

20 September 2009

HARI KEMENANGAN

Oleh. Purwalodra

Setelah berpuasa sebulan penuh, tibalah hari ini saya merayakan kemenangan melawan diri saya sendiri. Diri saya yang selalu mengumbar nafsu tanpa mengendalikannya; diri saya yang memanjakan fisik tanpa mengontrolnya; diri saya yang selalu melanggar hukum sebab-akibat tanpa memikirkan konsekuensinya. Hari ini semua itu terkalahkan. Saya menganggapnya sebagai kemenangan terhadap diri saya sendiri.

Kemenangan atas diri saya sendiri ini, adalah pintu untuk memasuki suasana dan kondisi fitrah, baik dari sisi fisik maupun mental. Kemenangan ini adalah kemenangan keyakinan atas perasaan kekurangan, keterbatasan, ketakutan dan kekuatiran. Kondisi yang fitrah yang saya miliki adalah bekal saya meyatukan diri kepada yang tidak terbatas dan yang menguasai hdup kita secara fisik dan mental.

Hari ini, kemenangan itu melahirkan kemerdekaan, baik secara fisik maupun mental. Kemenangan yang telah mengukir prasasti di dalam energi murni kehidupan, dan berhasil membentuk sirkuit hidup, yang kelak akan menjadi pelita perjalanan saya sebelas bulan kemudian. Hari ini, hidup saya bukan lagi transaksi perdagangan, tidak ada untung-rugi. Semuanya saling memberi, saling melengkapi dan saling mengisi.

Hidup saya yang fitri ini, melambangkan pergantian kekuasaan yang ada dalam diri saya. Kekuasaan dalam menentukan apa-apa yang harus saya fikirkan dan apa-apa yang mestinya saya lakukan. Semua ini demi akibat-akibat yang saya kehendaki, bukannya akibat-akibat yang tidak saya kehendaki. Oleh karena itu, berkah dari kondisi yang fitri ini antara lain, saya akan menjadi penguasa terhadap fikiran saya, mental saya dan fisik saya.

Fikiran saya yang telah menjembatani antara keterbatasan dan ketidak-terbatasan, insya Allah telah semakin kuat untuk beban berat yang melintas diatasnya, karena latihan saya selama sebulan kemaren. Dengan fikiran yang sudah terlatih untuk hanya yang terbaik saja yang melintas di dalamnya, saya yakin benar bahwa fikiran yang menurut saya tidak baik akan terfilter dengan sendirinya.

Yang penting untuk saya renungkan, pada hari ini, apakah niat ibadah saya kemaren diperuntukan pada Dzat yang saya yakini keberadaannya ? atau hanya merasa malu saja kepada keluarga, teman, mertua atau siapa saja, kalau tidak berpuasa ?.

Purworedjo, 20 September 2009.


Baca selengkapnya……

14 July 2009

SAYA DAN OUTSOURCHING

Oleh. Purwalodra

Lepas sudah impian saya untuk mengabdi di Yayasan yang mengelola sekolah-sekolah yang bernafaskan keagamaan. Karena sudah beberapa hari ini, saya tidak lagi bekerja pada yayasan tersebut, dan beralih ke satu perusahaan yang teman-teman bilang ‘outsourching’. Meskipun pekerjaan saya terbilang kasar alias bukan kantoran, sebenarnya ada rasa bangga ketika bekerja di yayasan yang bernafaskan keagamaan itu. Selain saya bisa bebas beribadah, status saya sebagai manusia bisa sedikit mendapat penghargaan. Namun, mungkin Tuhan berkehendak lain, sehingga hari ini, tanpa uang pesangon sepeserpun, dan meski sudah lima tahun lebih saya bekerja, saya sudah berada dalam situasi kerja yang penuh sumpah serapah dan caci maki para supervisor kebersihan.

Hanya tinggal menghitung hari saja, kapan saya mulai beranjak pergi meninggalkan pekerjaan ini atau tinggal menunggu secara resmi saja perusahaan outsourching ini memecat saya dengan tidak hormat. Harapan satu-satunya yang tersisa sekarang, adalah semoga istri dan anak-anak saya tidak merasa kecewa dengan apa yang telah terjadi pada bapaknya. Saya selalu berdoa agar anak-anak dan istri tabah menghadapi ujian keluarga yang tidak ringan ini.

Saya tidak tahu persisnya, kenapa yayasan menyewa perusahaan outsourching untuk mempekerjakan saya dan enam belas teman-teman saya, yang cuma bekerja sebagai buruh kebersihan gedung sekolah. Padahal kata Pengurus yayasan, biaya yang dikeluarkan lebih besar daripada ketika saya masih berada dibawah pengelolaan yayasan. Saya tidak pernah tahu logikanya.

Lima tahun lalu, ketika saya dan teman-teman melamar bekerja di yayasan ini, tujuannya adalah ibadah. Ikhlash, apapun yang diberikan yayasan kepada saya dan teman-teman. Tetapi sekarang, selain jam kerja meningkat menjadi 12 jam sehari tanpa lembur, saya dan teman-teman mendapat potongan honor ketika tidak masuk bekerja, meskipun dengan alasan sakit sekalipun. Saya tidak lagi mampu berfikir dan berbuat banyak, selain menerima apa adanya keputusan pengurus yayasan. Kata pengurus yayasan lagi, tindakan untuk mengoutsouchingkan tenaga buruh seperti saya ini biasa dilakukan oleh yayasan-yayasan lain yang muridnya terus menurun, sehingga pendapatan yayasan menjadi sedikit. Tapi mengapa juga yayasan berani membayar mahal untuk perusahaan outsourching itu ? sementara, katanya, penghasilan yayasan semakin mengecil.

Kata teman-teman saya yang bekerja melalui outsourching di pabrik, selain mereka bekerja seperti robot, mereka harus membayar 1,5 sampai 2 juta yang dibayar angsur setiap bulan, dari gajinya yang sebatas UMR kabupaten. Sementara mereka bekerja di pabrik itu hanya 6 bulan saja, selanjutnya dimulai dari awal kembali. Membayar uang pendaftaran dan mengangsur uang gaji sebulan untuk perusahaan outsourching, Nah, kalo umur sudah mentok maka perusahaan outsourching tidak bakal menerimanya kembali, kecuali ada uang tambahan untuk biaya kelancaran seleksi administrasi di perusahaan, katanya.

Ternyata, saya masih bisa bersyukur dibanding teman-teman saya yang bekerja di pabrik melalui perusahaan outsourching. Meski, di sekolah ini masih ada karyawan kebersihan yang dikelola oleh yayasan, saya dan keenambelas teman saya termasuk karyawan kontrak, yang diperpanjang setiap tahunnya. Dalam hati saya selalu berkata, apakah mereka tidak merasakan bahwa kelak teman-teman saya yang masih bekerja sebagai karyawan kebersihan di yayasan ini bakal bernasib sama dengan saya ?

Bekasi, 9 Juli 2009.


Baca selengkapnya……

BERHEMAT UNTUK KEUNTUNGAN ?

Oleh. Purwalodra

Setiap perusahaan yang berorientasi profit maupun non profit, pasti mengenal apa yang disebut dengan ’efisiensi’. Kata ’efisiensi’ baru muncul ketika suatu perusahaan mengalami penurunan pendapatan atau mengalami penurunan keuntungan. Kata efisiensi belum tentu terdengar dan bergema keras, kalau saja perusahaan atau institusi usaha tersebut mampu memaksimalkan keuntungannya. Jadi kata efisiensi akan lahir ketika perusahaan atau institusi usaha mengalami ketidakmampuan meningkatkan produktivitasnya alias kinerjanya.

Sebagian besar perusahaan jika mengalami penurunan keuntungan, umumnya, langkah pertama yang dilakukan adalah menengencangkan ikat pinggang alias melakukan efisiensi di segala bidang. Langkah efisiensi adalah mengurangi pos-pos pengeluaran yang dianggap tidak penting atau tidak perlu bagi operasional perusahaan. Yang ada dalam pikiran pimpinan perusahaan hanya bagaimana mengurangi pengeluaran apapun bentuknya, kalau perlu biaya untuk karyawan pun dikurangi.

Dalam masa krisis, fikiran pengelola perusahaan, adalah menyeimbangkan penghasilan perusahaan dengan pengeluaran yang dibutuhkan. Fokusnya hanya disitu-situ saja. Pada akhirnya perusahaan menetapkan strategi bertahan sambil mengurangi pengeluaran, termasuk mengurangi sumber daya manusianya. Hanya sebagian kecil saja, pengelola perusahaan memahami bahwa untuk memaksimalkan keuntungan bukan dengan efisiensi alias berhemat. Mario Teguh, semalam bilang, perilaku berhemat adalah cermin seseorang yang tidak mampu memaksimalkan keuntungan atau orang yang selalu menerima apa adanya dari pendapatan yang pas-pasan itu. Ia tidak memiliki kemampuan untuk bisa keluar dari penghasilan yang pas-pasan itu. Semua tindakan yang bermuara kepada efisensi alias penghematan di segala bidang, pada akhirnya bangkrut ...krut ...krut ... krut.

Lalu, bagaimana seorang pengusaha mampu lepas dari kondisi krisi semacam ini, dimana penghasilan perusahaanya semakin menukik tajam ?. jawabannya adalah tetap fokus pada kualitas produk, pada kualitas pelayanan dan fokus pada stakeholders, termasuk para pelanggan dan pemasok. Jika perusahaan hanya bisa fokus pada penghasilannya yang berkurang itu, maka apa yang terjadi ?. Perusahaan akan semakin merosot penghasilannya dan kemudian bangkrut bin pailit gitu lhooo...

Apabila perusahaan diibaratkan manusia, maka manusia dalam kondisi apapun, termasuk hidup dalam krisis keuangan, hubungan maupun kepercayaan, ia harus tetap menjaga stamina ketawaqalannya kepada Yang Maha Memberi Pertolongan, yakni Allah Swt. Manusia diwajibkan untuk tetap ikhtiar, sabar dan senantiasa berfikir positip, dan dilarang keras untuk fokus kepada krisis itu terlalu lama, tetapi harus bisa sesegera mungkin beralih fokus kepada bagaimana keluar dari masalahnya itu.

Begitu pula perusahaan. Perusahaan dalam kondisi apapun harus tetap fokus pada kualitas produk, kualitas pelayanan dan kualitan hubungan, kalau mau selamat dalam masa-masa krisis yang dialami. Banyak contoh perusahaan-perusahaan besar (cuma ada di luar negeri) yang mampu keluar dari masa krisis tanpa istilah efisiensi dan tanpa merumahkan karyawannya. Bagaimana bisa begitu ?. Jawabannya, sekolah aja ke luar negeri biar bisa menyelesaikan krisis seperti itu !. Bercanda ... banyak kok buku-buku terjemahan yang bisa kita serap pengalamannya untuk bisa mengelola perusahaan di masa krisis dan bisa selamat menghadapi masa krisis tersebut tanpa korban jiwa. Semoga makin banyak aja para wirausaha kita yang cerdas, cerdik, pandai, dan memiliki kekuatan mental spiritual dalam mengelola perusahaannya.

Bekasi, 6 Juli 2009.


Baca selengkapnya……

APAPUN PEMBERIAN TUHAN, TERIMALAH DENGAN IKHLAS

Oleh. Purwalodra

Hampir lima bulan ini, Ibu saya menderita sindrome masa lalu yang cukup menyedihkan. Setiap jam, setiap hari, bahkan setiap saat, Ibu hanya bisa menagis dan menangis. Hanya lantaran ditinggal anak bontotnya beberapa saat saja, dia bilang sudah seharian nggak ketemu anak kesangannya itu. Meskipun anak bungsunya, saya sendiri, sedang berada di sampingnya memijat-mijat lengan dan pangkal lehernya yang selalu pegal dan linu-linu.

Penderitaan Ibu saya semakin bertambah parah, ketika ingatan masa lalunya tiba-tiba muncul. Tangisan yang menyayat pilu pun terus berkumandang, dan tak mudah dihentikan. Cucunya pun merasa terheran-heran sendiri melihat perilaku neneknya yang terus-terusan menangis. Mungkin dia pikir seperti dirinya saja, ketika merengek sesuatu yang tak kesampaian pada orang tuanya.

Berhari-hari sampai ketemu minggu, berminggu-minggu sampai ketemu bulan, kondisi fisik Ibu saya semakin melemah, maklum setiap makanan dan minuman apapun tidak bisa langsung masuk dalam perutnya. Hampir setiap tiga minggu, Ibu harus digotong ke rumah sakit, karena kekurangan cairan tubuh alias dehidrasi. Dua sampai tiga hari setelah makan cairan infusan di rumah sakit, Ibu kembali pulih dan bisa jalan. Namun, kurang dari sebulan Ibu kembali harus mondok di rumah sakit, lagi-lagi karena kekurangan cairan tubuh.

Ibu saya, selama dirumah sakit maupun ketika dirumah sendiri, yang terfikir adalah kisah-kisah sedih yang pernah dialami dalam hidupnya saja. Pengalaman keceriaan, kegembiraan dan kebahagiaan seakan ter-delete dari memorinya. Tubuh fisiknya, semakin hari semakin menyusut, mulai dari berat badan 80 kilogram, sekarang mungkin tinggal 40 kilogram. Om, pakde, bude, bulek dan paklik, menyarankan agar saya dan adik-adik selalu menemani Ibu, dan selalu diajak ngomong yang senang-senang saja. Jangan bicara tentang anak bontotnya yang baru di PHK, meski belum punya istri. Jangan bicara tentang Bapak yang levernya sudah stadium mentok itu, dan jangan ngomongin anak bungsunya yang lagi dikejar-kejar debt collector.

Semua saran sudah saya penuhi, semua nasehat sudah tepat saya jalani, namun tetap saja sebelum sebulan anak-anaknya harus membawa Ibu ke rumah sakit. Pernah suatu ketika, tepat jam 2 dinihari, Ibu dengan paksa membuka jarum infusan dari tangan kirinya. Lalu, ia menarik tangan saya untuk cepat-cepat lari dari rumah sakit. Ibu bilang bahwa seluruh isi rumah sakit ini sudah dipenuhi oleh orang-orang PKI, makanya saya diajak kabur oleh Ibu saya, yang fikirannya sedang diselimuti oelh masa-masa mudanya ketika aktif di organisasi pergerakan, empat puluh tahun yang lalu. Untuk menenangkan fikirannya, terpaksa para suster rumah sakit menyuntikkan cairan penenang tepat dibekas jarum infusan yang sudah dicabut Ibu barusan.

Bukan hanya itu, setiap pagi di rumah sakit, Ibu selalu menanyakan keberadaan dirinya ada dimana, mengapa ada di rumah sakit padahal ia tidak merasa pernah sakit, dan kalau sudah berkata demikian buru-buru Ibu melipat semua pakaian dan mengajak saya segera pulang ke rumah.

Tidak jarang ditengah malam, Ibu menanyakan kondisi Bapak, saya cuma bisa bilang
Bahwa Bapak sehat-sehat saja di rumah, bersama cucu-cucunya. Meskipun saya tahu Bapak hanya bisa berbaring ditempat tidur tanpa daya. Tapi saya berusaha agar Ibu tidak fokus ke kondisi Bapak di rumah. Namun naluri dan perasaan Ibu tidak bisa dibohongi, Ibu tidak pernah percaya dengan apa yang saya ucapkan tentang kondisi Bapak di rumah.

Situasi agak mulai berubah, ketika diawal bulan rajab 1430 hijriah ini, seorang kiyai dari Indramayu, mau mondok seminggu di rumah saya. Awal kedatangannya memang atas undangan saya sebulan lalu, untuk berkenan melihat kondisi kedua orang tua saya di Bekasi. Selama satu minggu penuh, setiap pagi Pak Kiyai memberi dua gelas air hujan, yang sudah dipersiapkan sore sebelumnya, lalu kedua orang tua saya meminumnya.

Sejak kedatangan Pak Kiyai itu, perut Bapak yang semula mengeras dan buncit, perlahan-lahan kempes. Demikian juga sikap Ibu yang selalu sedih dan menangis, sekarang memorinya penuh terisi peristiwa-peristiwa yang menyenangkan, menggembirakan dan penuh tawa. Bahkan setiap pagi Ibu minta diantar jalan-jalan keliling kampung dan bertemu tetangga-tetangga, berpelukan, menyapa dengan riangnya, sekan-akan sudah berpisah lama dengan teman-temannya.

Meskipun, setiap ba’da Maghrib saya masih memijat Bapak karena pegal-pegal di punggungnya, namun perubahan yang bisa terlihat, Bapak sudah bisa shalat berjama’ah di masjid terdekat. Dan yang lebih membuat haru saya adalah Bapak sudah menerima dengan ikhlas apa yang sekarang dideritanya.

Bekasi, 10 Juli 2009.


Baca selengkapnya……

28 April 2009

WORK, FOR WHAT AND WHO FOR?

BEKERJA UNTUK APA DAN UNTUK SIAPA ?

Oleh. Purwalodra

Hari ini saya tidak masuk kerja seperti biasanya, seperti kemaren-kemaren, ber-angkat pagi-pagi dan pulang menjelang Maghrib. Selesai mengantar anak-anak ke sekolah, beres-beres rumah, kemudian saya dengan kepuasan tidak terba-yangkan mengencani laptop sendirian. Sementara istri saya, mengantar dan menunggui anak bontotku di Taman kanak-kanak.

Sering sekali, saya merindukan saat-saat seperti ini, hanya sekedar untuk melampiaskan ketidakpuasan saya di kantor, tempat saya bekerja. Saat-saat sepi, saat-saat dimana saya mampu bercengkerama dengan jiwa dan diri saya sendiri. Meskipun dengan seribu satu alasan untuk meninggalkan kantor yang penuh tekanan dan intrik office politic. Saya yakin, bukan saya saja yang men-galami hal seperti ini. Terlihat dari perilaku teman-teman sekantor yang merasa tenang dan nyaman berada di kantin ketika jam-jam istirahat.

Dalam hati kecil saya selalu bertanya, apakah ini kharater dunia kerja ?. Kondis-inya selalu diliputi dengan banyak tekanan, ketidakpuasan dan keluh-kesah lain-nya ?. Atasan tidak puas dengan pekerjaan bawahan, dan bawahan tidak puas dengan sikap atasannya. Semua saling menyalahkan, semua sama-sama men-cari kambing-hitam alias mencari siapa yang dipersalahkan. Yang menjadi ata-san, bersikap angkuh, tidak menghargai bawahannya. Sementara, yang menjadi bawahan, bersikap keras kepala, tidak menghormati teman sejawat dan setiap hari ada saja yang menjadi korban dari ucapan manisnya dengan tujuan menjilat atasannya.

Sering pula saya berfikir, saya ini bekerja untuk apa ?. Kalau saja saya bekerja hanya hanya untuk nafkah keluarga, betapa menderitanya saya. Uang yang saya peroleh untuk keluarga dari menenggelamkan diri dalam kubangan ketidakpua-san sama saja dengan merusak fikiran dan mengotori jiwa. Sehingga apa yang saya lakukan tidak memiliki nilai ke-ikhlasan. Lalu saya bekerja untuk siapa ?. Ya, kalau saja saya bekerja untuk atasan saya yang cerewet itu, yang mere-mehkan pekerjaan bawahannya itu, apakah saya bekerja untuknya ?. Oh, mungkin saya bekerja untuk perusahaan ?. Tetapi, kalaupun saya bekerja untuk perusahaan, mengapa juga visi, misi dan etika perusahaan sengaja tidak di-jalankan oleh pimpinan perusahaan ?.

Ketika fikiran saya mentog mencari legitimasi, untuk apa dan siapa saya bekerja, maka saya tidak lagi mau berfikir keluar dari diri saya sendiri. Saya berketetapan hati bahwa saya bekerja untuk diri saya sendiri, dan saya bekerja untuk pertumbuhan potensi yang saya miliki, apapun kondisi dan situasi yang ada diluar diri saya. Dengan demikian, saya mampu mengekspresikan dengan sepenuh fikiran dan jiwa saya, untuk menyelesaikan tugas-tugas sesuai job de-scription yang ada. Saya tidak lagi membutuhkan pujian, perhatian dari orang lain, termasuk atasan saya. Saya hanya bekerja untuk diri saya sendiri dan po-tensi yang saya miliki, titik.

Dengan berfikir demikian, kok carut marut dunia kerja seketika menghilang. Saya menjadi lebih tenang bekerja, tidak ada perasaan kuatir, takut, apalagi ketidakpuasan. Apapun yang orang lain katakan tentang hasil kerja saya, ‘EGP’ aja gitu lhoo. Kalau saja saya boleh berteori, mungkin bisa saya deskripsikan begini, bahwa motivasi merupakan suatu kekuatan yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan motif bersifat potensial, yang ak-tualisasinya dinamakan motivasi. Motivasi pada umumnya diwujudkan dalam bentuk perbuatan nyata secara fisik. Jelas, bahwa orang yang memiliki motivasi tinggi bisa mempengaruhi prestasi seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan tertentu. Seseorang yang memiliki motivasi kerja yang tinggi, mereka akan ter-dorong dan berusaha untuk meningkatkan kemampuannya dalam merencana-kan, melaksanakan, dan mengevaluasi pekerjaannya. Beberapa faktor yang da-pat menimbulkan motivasi bekerja seseorang di lingkungan kerjanya, antara lain :

a. Kebutuhannya

Seseorang dalam melaksanakan pekerjaan, didorong oleh keinginan-keinginan yang ada pada dirinya. Keinginan-keinginan tersebut merupakan penjelmaan dari kebutuhan manusia dalam rangka melangsungkan hidupnya. Maslow dalam Nasution mengemukakan lima kebutuhan manusia dalam suatu hirarki, yaitu ke-butuhan psiologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan cinta kasih, dan kebutuhan aktualisasi diri. Sementara, Mc Clelland menyebutkan ada tiga kebutuhan yang mempengaruhi manusia untuk bekerja, yaitu kebutuhan kekuasaan, kebutuhan afiliasi, dan kebutuhan berprestasi. Jadi, dari definisi ini, kebutuhanlah yang mendorong seseorang melakukan aktivitas. Sehingga tidak salah jika seseorang bekerja karena uang, karena perusahaan ataupun karena atasannya. Lagi-lagi, kalau ketiga hal tersebut menjadi tujuan dan menjadi harapannya, maka ber-siap-siaplah untuk kecewa.

b. Tanggung Jawabnya

Tanggungjawab terhadap tugas yang tertuang dalam job description, adalah salah satu dari penggerak seseorang untuk bekerja. Biasanya tanggungjawab ini disertai dengan wewenang, namun banyak juga sih, perusahaan yang melim-pahkan tanggungjawab tanpa diiringi dengan pelimpahan wewenang. perusa-haan seperti ini biasanya menganut sistem otoriter atau pimpinannya takut kehi-langan wewenang, sehingga melimpahkan tanggungjawab kepada karyawannya tanpa memberikan wewenang sedikitpun.

Sebagai konsekuensi atas tanggungjawab yang diemban oleh seorang karyawan, maka seorang akan mempunyai sejumlah tugas yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus dilakukan sesuai posisinya. Beban tugas ini berkaitan dengan kuan-titas dan kualitas tugas yang diberikannya. Dengan demikian, berat ringannya beban tugas yang ada pada seseorang karyawan akan mempengaruhi usaha-usahanya dalam bekerja sesuai kemampuannya.

Dengan tanggung jawab ini, karyawan akan memiliki kebebasan untuk memu-tuskan sendiri bagaimana menyelesaikan pekerjaannya, yang diberikan kepadanya. Pemberian tanggung jawab secara individual kepada karyawan ini memungkinkan kesempatan kepada karyawan untuk mengoptimalkan segenap potensi yang dimilikinya dalam bekerja. Tanggung jawab ini dapat diartikan se-bagai suatu tuntutan yang ada dalam diri seseorang untuk melaksanakan tugas yang menjadi kewajibannya. Perlu diwaspadai, bahwa ketika tanggungjawab ini tidak diiringi dengan reward (imbalan) yang mampu memberikan seseorang kepuasan, maka tanggungjawab ini akan mudah ditinggalkan alias tidak dilak-sanakan sesuai job description yang ditetapkan.

c. Minat Terhadap Sesuatu yang Dikerjakan.

Faktor berikutnya yang dapat menimbulkan motivasi bekerja seseorang di ling-kungan kerjanya, yaitu minat terhadap apa yang dilakukannya. Minat (interest) adalah dorongan seseorang untuk melakukan pekerjaan dengan memilih sesuatu yang disukai, atau tidak memilih yang tidak disukai. Objek minat ini dapat berupa materi dan benda lainnya, kegiatan, jabatan, atasan, perusahaan atau pekerjaan. Sedangkan minat ini diekspresikan dengan perasaan suka atau tidak suka terhadap objek tersebut.

Menurut Sukartini, untuk mengetahui minat seseorang terhadap sesuatu objek, dapat diketahui dengan memperhatikan apa yang ia tanyakan, apa yang ia bicarakan pada waktu-waktu tertentu, apa yang ia baca, dan apa yang ia gambar atau lukis secara spontan. Oleh karena itu, minat seorang karyawan terhadap tugasnya dapat dilihat dari kerajinan dalam bekerja, mendalami tugas yang diberikan, dan menerima tugas-tugas dengan perasaan senang.

Dengan kata lain, orang yang memiliki minat ini biasanya melakukan sesuatu yang dia sukai saja, kemudian menyukai apa yang dia lakukannya. Minat ini muncul karena pengaruh dari dalam diri atau dan luar diri seseorang. Seseorang yang memiliki minat yang tinggi, akan melakukan pekerjaannya sepenuh fikiran dan jiwanya, sehingga hasil kerjanya akan menuai prestasi yang diharapkan.

d. Penghargaan Terhadap Pekerjaan

Penghargaan terhadap pekerjaan ini menjadi faktor berikutnya, yang dapat men-imbulkan motivasi bekerja seseorang di lingkungan kerjanya. Penghargaan atas suatu posisi tugas atau keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan merupakan salah satu motivator yang mendorong seseorang bekerja lebih baik. Hadari Nawawi mengatakan bahwa penghargaan, penghormatan, pengakuan, serta perlakuan terhadap karyawan sebagai subyek atau manusia yang memiliki kehendak, pikiran, perasaan dan lain-lain sangat besar pengaruhnya temadap moral kerja mereka.

Adanya penghargaan terhadap tugas atau pekerjaan, dapat menyebabkan munculnya rasa cinta dan bangga terhadap tugas-tugas yang diberikan. Rasa cinta dan bangga yang dimilikinya itu, memungkinkan yang bersangkutan dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab. Seperti yang dikatakan oleh Wiranto Arismunandar dalam Mimbar Pendidikan "Suatu profesi yang tidak memiliki kebanggaan sukar berkembang. Orang harus menyenangi pekerjaannya. Buat apa seseorang bekerja atau melakukan kegiatan kalau dia sendiri tidak menyenangi pekerjaan atau kegiatan itu".

Kesimpulan

Secara teoritis, faktor-faktor yang menimbulkan motivasi kerja seseorang, baik karyawan maupun profesional lainnya, untuk mencapai apa yang diinginkan, dibutuhkan, dan dicita-citakan, antara lain orang tersebut harus memiliki tanggung jawab, memiliki minat yang tinggi terhadap pekerjaan tersebut, dan menghargai pekerjaannya. Jadi untuk apa dan untuk siapa seseorang bekerja atau melakukan kegiatan ?. Jawaban saya adalah, untuk diri saya sendiri dan pertumbuhan potensi yang saya miliki.

Bekasi, 28 April 2009.


Baca selengkapnya……

STREET AND ROAD MIND SOUL

JALAN FIKIRAN DAN JALAN JIWA
Oleh. Purwalodra

Pembuktian adanya jalan fikiran dan jalan jiwa memang tidak semudah menetapkan jalan lurus atau berbelok. Metode pembuktiannya memerlukan pengalaman, penge-tahuan dan bersinerginya lima indra yang kita miliki. Ketika kita menggunakan akal dari fikiran kita untuk memilih, maka fikiran kita selalu merujuk kepada pengalaman, pengetahuan dan semua indra kita. Namun, banyaknya pengalaman hidup kita mengharuskan kita bertindak dan melakukan seuatu tanpa pengalaman, tanpa pen-getahuan dan tanpa bekerjanya kelima indra kita, sehingga tindakan untuk men-gambil keputusan hanya mengandalkan keyakinan semata.

Sebagai contoh, sekarang ini banyak para caleg mengalami depresi mental yang be-rat, bahkan yang saya ketahui ada caleg yang sampai berani bunuh diri segala. Dari kasus para caleg inilah saya terusik untuk menjlentrehkan sedikit tentang apa itu jalan fikiran dan apa sih jalan jiwa, agar kita-kita yang belum sempat depresi ini bisa memilih mana jalan yang terbaik untuk kita lalui, dalam rangka menjalani hidup yang cuma sebentar ini.

Seperti yang telah saya katakan pada tulisan-tulisan saya sebelumnya, bahwa ke-yakinan tanpa dibumbui pengalaman, pengetahuan dan bersinerginya panca indra merupakan keyakinan yang lemah. Tetapi keyakinan yang berdasar kepada pen-galaman, pengetahuan dan panca indera merupakan keyakinan yang sempurna. Dengan demikian, keyakinan manusia yang baik adalah keyakinan yang berdasarkan kepada pengalamannya, pengetahuannya dan panca inderanya. Makanya wajar-wajar aja, kalau sekolah atau pendidikan adalah sarana untuk membangun pen-galaman, pengetahuan dan wadah untuk mengasah panca indera kita, demi lahirnya keyakinan yang kuat, ya paling tidak, keyakinan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik sesuai keinginannya, dan pada akhirnya adalah keyakinan untuk menjadi manu-sia Indonesia seutuhnya.

Apabila pengalaman, pengetahuan dan indra-indra seseorang tidak mampu mem-bangun keyakinan, maka orang tersebut dikatakan sebagai orang yang tidak percaya diri. Orang-orang yang tidak percaya diri adalah orang yang paling lemah di dunia, karena apa yang diniatkan, diinginkan dan dicita-citakan akan sulit terwujud. Lain halnya, jika seseorang yang memiliki kepercayaan diri tinggi, ia akan mampu me-rubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, ia akan mampu menciptakan sesuatu yang belum ada menjadi ada, dan banyak lagi yang lainnya. Namun, tidak kecil tantangan yang dihadapi oleh orang-orang yang memiliki kepercayaan tinggi, tantangan yang paling berat adalah dirinya sendiri. Mampukah seseorang konsisten dengan keyakinannya tersebut ? sementara orang-orang yang tidak percaya diri menghalang-halanginya agar keyakinannya hancur.

Menurut pengalaman, seseorang yang memiliki keyakinan tinggi, jarang sekali mem-bicarakan keyakinannya terhadap keinginan, rencana, dan cita-citanya, kepada orang lain. Karena kepercayaan diri untuk menjalani hidup yang belum diketahui (baca diyakini) adalah misteri yang paling indah di dunia ini. Jika apa yang kita laku-kan sudah diketahui ending-nya, maka apa yang kita lakukan itu hanya bernilai ru-tinitas belaka. Makanya banyak orang-orang bijak melakukan pekerjaan tanpa ke-pentingan apapun, tanpa berharap hasil secara material (baca financial) apapun. Se-hingga apa yang dilakukannya akan bernilai ikhlas, dan apa yang dihasilkannya bernilai keberserahan kepada Allah Swt.

Dari uraian singkat diatas, saya bisa menarik benang merah terhadap judul yang te-lah saya tentapkan, bahwa ketika kita mempercayai sesuatu yang belum kita ketahui namun terus kita ikhtiarkan maka kita telah menempuh jalan jiwa. Dan ketika kita mempercayai dan melakukan sesuatu yang sudah kita ketahui (dalam fikiran), maka ini yang saya sebut sebagai jalan fikiran.

Jalan fikiran dan jalan jiwa, menurut saya adalah sama-sama baik, namun kekuatan jalan fikiran lebih rendah daripada jalan jiwa. Kemampuan untuk mewujudkan keinginan menjadi wujud yang fisik lebih kuat dengan jalan jiwa. Para ahli psikologi, kesadaran menggunakan jalan fikiran hanya memiliki kekuatan 12 % saja, semen-tara kekuatan untuk menggunakan jalan jiwa dalam merealisasikan keinginan, ke-kuatannya mencapai 88 %. Lalu bagaimana kita bisa mengatakan bahwa jalan yang kita lalui itu jalan fikiran dan bagaimana pula kita mengatakan bahwa jalan yang kita gunakan adalah jalan jiwa ?

Untuk mengetahui mana jalan fikiran dan mana jalan jiwa, sangatlah sederhana. Ketika kita melakukan pekerjaan atau menginginkan sesuatu untuk terwujud dalam hidup kita, adakah kepentingan dan harapan kepada pekerjaan dan keinginan kita, di sana ?, kalau masih ada maka jalan yang kita lalui adalah jalan fikiran. Kemudian, ketika kita melakukan pekerjaan atau menghendaki sesuatu hadir dalam hidup kita, tanpa kepentingan dan harapan apapun, kecuali keberserahan kepada Allah Swt, dan bisa tetap fokus dalam menyelesaikan pekerjaan yang kita lakukan, maka inilah yang saya sebut sebagai jalan jiwa.

Jadi kata kunci untuk mengetahui mana jalan jiwa dan mana jalan fikiran terletak kepada nilai-nilai keikhlasannya dan keberserahannya. Lalu, apa konsekwensi dari penggunaan kedua jalan tersebut ?. Mudah saja, konsekwensi ketika kita meng-gunakan jalan fikiran adalah depresi, pada saat kepentingan dan harapannya tidak kesampaian. Namun penggunaan jalan jiwa tidak memiliki konsekwensi apapun, se-lain terciptanya realitas hidup yang damai dan wujud keinginan secara fisik.

Nah, kalau sekarang ini kita menyaksikan banyak sekali caleg mengalami depresi, gara-gara perolehan suaranya tidak menenuhi target satu kursi, bisa kita pastikan bahwa mereka hanya menggunakan jalan fikiran saja, tidak menggunakan jalan jiwa. Tapi buat para caleg yang depresi pun tidak perlu kuatir kok, karena sebentar lagi KPU mau membentuk Lembaga Trauma Nasional (LTN) untuk menampung dan memberikan konsultasi cuma-cuma kepada para caleg yang mengalami depresi mental tersebut.

Bekasi, 23 April 2009.

Baca selengkapnya……

17 April 2009

K E P A S T I A N

Oleh. Purwalodra

Saat-saat sekarang ini, para calon pejabat legislatif, dari tingkat daerah sampai pusat, sudah mewujudkan kepastiannya masing-masing, apakah perolehan suaranya membuahkan kursi atau tidak. Kalaupun perolehan suaranya tidak mendapatkan kursi, daripada stress, lebih baik mencari-cari alasan agar kekalahannya wajar alias bukan salahnya sendiri. Mulai dari alasan Daftar Calon Tetap (DPT) yang tidak me-menuhi syarat sampai money politic, bisa dijadikan sebagai alasan berkurangnya perolehan suara, yang penting kepastian itu harus disambut dengan berbagai cara untuk lepas dari ketidakwarasan (baca stress, aja gituuu).

Kepastian secara definitif adalah menganggap sesuatu yang dipercayai berhasil, suk-ses dan terwujud dengan berbagai pengorbanan yang mengiringinya. Sebelum hari pemungutan suara digelar, kepastian bisa berasal dari gegap gempitanya para pen-dukung, dari keberlimpahan dananya, dari peta politik yang dibuatnya, dan dari penasehat spiritualnya alias dukunnya. Koksepertinya jarang kepastian itu datang dari keyakinan jiwanya.

Padahal, secara kebahasaan, kepastian itu lawan kata dari kebimbangan alias kera-guan. Orang yang tidak memiliki kepastian, adalah orang yang bimbang atau orang yang ragu untuk mempercayai sesuatu. Para ahli kebatinan mengatakan bahwa kepastian bersifat individual atau personal. Oleh karena itu, kepastian tumbuh dari keyakinannya kepada Tuhan, sehingga Tuhan akan memberikan kepastian itu kepada jiwa-jiwa yang tenang. Jadi kalau boleh saya mengatakan, kepastian itu datangnya dari Tuhan, bukan dari mana-mana, apalagi dari pendukungnya, duitnya, atau dari peta politik yang dibuatnya.

Kepastian menurut bahasa metafisika adalah mempercayai sesuatu yang tidak diketahuinya. Wah, sepertinya ini terlalu tinggi. Kalau sesuatu itu tidak diketahui, kenapa pake strategi-strategi segala, menyusun peta politik segala, dan berani ke-luar duit banyak !. Yang cocok mungkin begini, kepastian adalah mempercayai segala sesuatu yang sudah diketahuinya. Nah, ini sepertinya cocok buat teman-teman saya, para politisi. Apa yang sudah diketahuinya ?. Ya, tentu saja yang sudah diketahuinya adalah kemenangan atau perolehan suara yang mencapai target kursi legislatif. Kalau saja kepastian ini tidak ada pada diri para caleg, ngapain capek-capek daftar jadi caleg ?. Meskipun daftar caleg tercantum di nomor buncit (akhir), tapi kepastian sih tetap harus terpelihara, gitu lhooo !

Menurut pengalaman, ketika kepastian itu dikomunikasikan kepada orang lain, selain diri kita sendiri, maka kepastian itupun akan mengalami degradasi, kepastian itupun lambat laun berubah menjadi kebimbangan. Coba perhatikan, banyak orang yang telah memiliki kepastian berlaku santun, tenang dan perasaannya selalu damai. Lain halnya, bagi orang yang tidak memiliki kepastian, mereka tidak akan tenang, emosional dan selalu terburu-buru.

Kepastian dibutuhkan oleh para politisi untuk tetap bisa menjanjikan ini-itu kepada masyarakatnya. Kalau saja kepastian para caleg itu merosot menjadi keraguan dan kebimbangan, mana mungkin mereka semangat untuk berkorban dana, pikiran dan tenaganya untuk mempengaruhi rakyat agar mencontreng namanya. Kepastian benar-benar menjadi bahan bakar (baca motivasi) agar supaya tetap semangat un-tuk mengorbankan apa saja yang sisa. Meskipun, pada saat kampanye kemaren, ada caleg yang kemana-nama mengatakan, saya mencalonkan diri menjadi caleg, terpilih syukur, nggak terpilih ya tidak apa-apa. Apakah caleg ini memiliki kepastian ?. Ya tentu saja, dia memiliki kepastian luar biasa untuk mendapatkan kursi. Kalau nggak, ngapain dia mau kampanye ke sana-kemari dengan bahasa yang sama.

Paradigma berkorban untuk kepentingan politik, yang dimiliki oleh teman-teman saya yang caleg itu, adalah sama dengan berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian (artinya kalau nggak salah, bersakit-sakit dahulu sebelum pemilu, bersenang-senang kemudian setelah pencontrengan). Ternyata, peribahasa ini benar dan jelas, banyak teman-teman saya yang caleg itu, pada hari Kamis sore, Ba’da Ashar, berduyun-duyun ke Puncak Cipanas, ada juga yang pulang kampung atau memancing angan-angan di empang pemancingan. Semua ini dilakukan untuk seke-dar menjinakkan kepastiannya yang pahit dirasakan. Namun, bagi saya, jalan-jalan ke Puncak Cipanas, pulang kampung atau mancing ikan bawal di empang merupakan refresing yang luar biasa nikmatnya. Saya kurang tahu, kenapa justru mereka pergi ke sana ya ?, mestinya khan ke KPU kek, ngopi bareng sambil ketemu dengan masyarakat kek, atau kek-kek yang lainnya.

Mungkin bagi teman-teman caleg yang bukan pimpinan partai bisa saja plesiran, tapi bagi pimpinan partai harus memutar otak agar kepastian yang didapatkannya memiliki alasan yang masuk akal. Apapun kepastiannya, baik yang kalah maupun yang menang, sama-sama memiliki alasan yang tentu saja masuk akal. Partai yang kalah, sah-sah saja menuduh partai yang menang bertindak curang. Begitu juga, partai yang menang juga bisa menuduh partai yang kalah tidak dewasa alias kalah curang aja kok marah, kacianlah yaw !.

Kelihatannya, baru babak pertama Pemilu Legislatif (Pileg), konstalasi politik sudah berubah ya ?. Koalisi yang kemudian terbentuk dari partai-partai telah mengaburkan siapa-siapa figur, yang pada masa kampanye kemaren pengen jadi presiden. Seingat saya sih, hampir semua pimpinan partai mencalonkan diri jadi orang nomor satu di republik ini. Kenapa sekarang, kok kepastian mereka pada luntur ?. Malah berkoalisi lagi !. He .. he .. he …, ketahuan nggak ngertinya saya.

Akhirnya, saya dan mungkin seluruh rakyat menebak-nebak, siapa ya kira-kira ca-lon-calon presiden dan wakil presiden yang bertarung dari koalisi-koalisi partai itu, dalam Pilpres besok ?. Yang jelas mereka punya kepastian untuk menang !. Tapi anehnya, kok saya malah belum punya kepastian ikut mencontreng ya !

Bekasi, 16 April 2009.
www.purwalodra.com







Baca selengkapnya……

16 April 2009

SOLUSI KEHIDUPAN BANGSA

Oleh. Purwalodra

Sebentar lagi Negara dan bangsa kita akan menyelenggarakan Pemilu Presiden dan anggota parlemen. Persiapan untuk menyambut perhelatan akbar pun sudah jauh-jauh hari dilakukan, demi suksesnya Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden. Undang-undang dan mekanisme permainanya menjadi jalan menuju kursi pemimpin Negara. Lagi-lagi rakyatlah yang menjadi kunci legitimasi demokrasi untuk membangun supremasi kekuasaan, atas nama perseorangan, partai atau komunitas pendukungnya. Rakyat, selain dijadikan sebagai kunci keberhasilan demokrasi, juga sebagai komoditas untuk diperdagangkan secara politik.

Komoditas politik yang terkait dengan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan, diperjualbelikan oleh semua partai yang belum maupun yang sudah memperoleh kursi kekuasaan. Sementara, partai yang sudah berkuasa pun, menjual kinerjanya sebagai pemerintah yang baik, amanah dan dapat dipercaya. Pergumulan antara yang menyerang dengan yang bertahan ini, menjadi bagian penting dari proses demokrasi, yang diyakini akan membangkitkan dan membangunkan semua unsur-unsur yang membentuk suatu Negara.

Kita sudah sangat memahami bahwa membangun demokrasi perlu waktu yang sangat panjang dan berliku, mengorbankan harta, raga dan jiwa. Kita dihadapkan kepada perjalanan demokrasi di Negara adi daya, Amerika Serikat, ratusan tahun Negara ini menempuh jalan demokrasi. Kita menjadikan demokrasi sebagai suatu alat untuk mencapai kekuasaan, dan kekuasaan merupakan tujuan akhir perjalanan seseorang dan institusi politik.

Kondisi ini menjadi sangat signifikan, ketika kita dihadapkan kepada persoalan-persoalan publik yang kemudian disalahgunakan. Rakyat menyaksikan dari pemilu ke pemilu, dan merasakan denyut perubahan hidup dan kehidupan dari waktu ke waktu, rakyat menjadi komoditas politik yang diperjual belikan. Bahkan tokoh-tokoh rohaniawan-rohaniawati dan ulama, ikut serta mengobrak-abrik hati nurani rakyat dengan memutuskan bahwa golput haram hukumnya bagi rakyat. Sepakat atau tidak, rohaniawan dan Ulama adalah Ibu, bagi rakyat, masyarakat atau ummatnya. Sementara, Umaro adalah Bapak untuk rakyatnya.

Seorang Ibu, yang penuh kasih kepada anak-anaknya, akan berusaha melindungi apapun yang membahayakan bagi anak-anaknya, sekaligus mendidiknya dengan lembut, agar kelak kemudian hari, si anak mampu menjadi individu yang dewasa, mandiri dan memiliki kekuasaan seperti Bapaknya. Sedangkan, seorang Bapak, selain memberikan nafkah lahir dan bathin, dan berusaha mendisiplinkan anak-anaknya, serta memberikan bekal pengetahuan (mencerdaskan). Tanggung jawab seorang Ibu dan Bapak, meskipun berbeda, namun memiliki nilai yang sama tinggi, untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya.

Ketika rakyat menyaksikan dan merasakan, perubahan hidupnya hanya berjalan ditempat, maka kemana lagi, masyarakat, rakyat atau ummat, sebagai anak dari Ulama dan Umaro di republik ini, untuk meminta solusi atas hidupnya ? Tidak bisa dipungkiri, berbagai indikator, muncul mewarnai wajah republik kita ini. Berbagai argument dan apologi menjadi kosmetik, yang bisa dijual-belikan secara bebas atas nama demokrasi. Kita tidak tahu lagi, mana kosmetik yang berbahaya dan mana yang tidak.

Jika kita mau lebih terbuka terhadap fenomena dan kondisi di republik ini menjelang pemilu tahun 2009, mungkin kita akan bercermin kepada Ponari di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, Jawa Timur. Terlepas dari semuanya, fakta bahwa Ponari mengundang antusiasme publik, yang kemudian diliput media, bahkan menjadi "headline" utama koran dan televisi, sungguh merupakan fenomena menarik dan sarat dengan pembelajaran hidup. Mestinya kita tercerahkan dengan dengan munculnya fenomena ini, bukannya merumuskan fatwa-fatwa, menilai bahkan menghakimi menjadi salah atau benar, baik atau buruk.

Sebagian besar kita, yang merasa paling intelek dan reljius, berupaya membentuk opini, agar apa yang terjadi pada Ponari dan batu temuannya itu, adalah sesuatu yang tidak masuk akal, tidak rasional dan mustahil terjadi. Bahkan, Ponari yang tidak pernah mempersiapkan argumen rasional pun, dibombardir dengan fatwa-fatwa yang tidak akan pernah terlintas dalam pikirannya. Kitapun tidak pernah menyadari bahwa hidup yang kita jalani ini pun, jauh dari masuk akal, tidak pernah rasional, dan tidak logis. Semua yang terjadi dalam hidup dan kehidupan manusia diluar batas rasional. Namun, kenapa seorang Ponari yang lugu dan baru kelas III-SD saja, dihabisi dengan hal-hal yang masuk akal ?, kemudian masyarakat yang membutuhkannya pun dianggap sebagai orang-orang yang ikut-ikutan tidak waras ?. Apakah kita menyadari bahwa semua ini akibat dari perilaku ketidakrasionalan kita terhadap rakyat, bangsa dan negara ?, dalam memimpin, memberikan suri tauladan, dan mengambil keputusan.

Ponari telah membangunkan raksasa yang ada dalam hati nurani kita, untuk segera bercermin, ada apa dan mengapa ?. Kekuasaan Tuhan diperlihatkan kepada kita semua di republik ini ? Untuk apa Ponari begitu menyedot perhatian publik, sehingga para pakar dan praktisi ikut menyatakan pendapat pro dan kontra. Kita tidak bisa menemukan pembelajaran yang tersembunyi di balik peristiwa ini dengan akal fikiran. Kita harus melihatnya dengan cermin yang ada dalam jiwa kita, karena tidak ada peristiwa yang terjadi secara kebetulan di alam semesta ini. Semuanya berada dalam pengaturan yang Maha Sempurna dan Yang Maha Tahu, Tuhan semesta alam.

Tulisan-tulisan di banyak media, memaparkan bahwa secara rasional (bagi mereka yang berfikir terbuka), peristiwa Ponari ada hubungannya secara langsung dengan semua persolan bangsa dan Negara ini, dan persoalan kehidupan manusia pada umumnya. Pengalaman Ponari dan batu temuannya itu, langsung menjawab persoalan bangsa ini (gunakan akal budi atau hati nurani). Mulai dari persoalan idiologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum dan lain sebagainya. Pembahasannya akan menjadi sangat luas ketika kita menggunakan Ponari sebagai cermin kehidupan. Tidak hanya menggunakan akal fikiran semata yang bersifat fisika.

Lengkap sudah, kita menyimak dan membaca fenomena ini di awal pergantian kepemimpinan negara, bahwa di balik cermin hidup Ponari, masih banyak yang belum bisa kita gali, apa saja solusi yang ditawarkan Ponari oleh bangsa ini, yang ingin merangkak menjadi masyarakat maju, dewasa dan mandiri. Jangan lagi, setiap permasalahan yang muncul, hanya sekadar kita pecahkan saja, sekadar kita selesaikan, dalam arti sekadar dihentikan, kemudian dibiarkan, selesai begitu saja. Sembari menyelesaikan, kita menyadarkan diri kita sendiri dan masyarakat, untuk menghidupkan kembali jiwa kita masing-masing, karena tidak akan berubah suatu kaum, bila kaum itu sendiri tidak merubahnya.

Bagaimana, kalau begitu !

Bekasi, 7 Maret 2009.



Baca selengkapnya……

MELARIKAN DIRI DARI PERUBAHAN

Oleh. Purwalodra

BERUBAH adalah kata yang sangat mengerikan bagi kita, yang mencintai kemapanan. Mapan hartanya, mapan jabatannya, mapan dengan satu-satunya istri, yang memarah-inya setiap hari. Mapan bersama anak-anaknya yang penurut, tak berani menuntut. Ma-pan dengan tetangga-tetangganya yang tamatan, Gossip University. Mapan berhubungan dengan teman-temannya yang culas, lagi serakah. Mapan bersama atasannya yang maha penindas.

Orang-orang seperti kita, yang menggandrungi kemapanan, akan berusaha sekuat pikiran dan tenaga, agar tidak ada perubahan yang terjadi, dan mesti dijalani. Persepsi kita yang ganas, selalu meneriakkan, “jangan-jangan haluan hidup kita, membawanya masuk ke dalam jurang penderitaan.” Sementara, kita sadar sesadar-sadarnya bahwa hidup kita, sekarang, lebih tragis dari kecoa kamar mandi.

Cerita-cerita mistis, seputar perubahan, akan membuat orang-orang seperti kita, yang gandrung kemapanan, menutup mata hati, hanya sebatas biji mata kepala kita saja. Sebenarnya, kita masih mengintip dibalik jemari, kalau-kalau perubahan itu menyenang-kan, meskipun menyeramkan.

Paradigmanya, jika di dunia ini tidak ada perubahan, kita semua bisa jalan lurus, nggak belok-belok, tidak naik, tidak juga turun. Semua datar dan menyenangkan. Bumi datar, Pakmi juga ? Yang senang dengan jabatannya, akan selamanya jadi pejabat. Yang senang mengemis, akan selamanya menyukai profesinya. Yang senang menipu, akan memelihara budaya menipu. Yang senang menindas, merawat kekuasaannya sampai kinclong.

Namun, sejak tahun 2008 lalu, dunia dikabarkan mengalami krisis ekonomi global. Mimpi buruk krisis ekonomi dan mulplier effect yang tercipta, kembali menakut-nakuti pikiran kita, yang katanya, terlanjur mencintai kemampanan sebagai teman sehidup semati. Bagi kita, belum pulih benar capeknya, dari krisis 1997, kini krisis ekonomi global, kem-bali menantang. Padahal sampai sekarang, kita masih menjaga sikap kemapanan, meskipun penguasa silih berganti, kerusuhan dimana-mana, kita masih tetap eksis den-gan kemapanan kita, bukan ? Tetap miskin, tetap bayar sekolah, tetap mahal biaya rumah sakit, tetap dapat BLT, tetap dibohongi, tetap tertindas, tetap susaaaah !

Bagi kita, yang mengibarkan bendera tinggi-tinggi kemapanan, harus sering meneguhkan komitment, meski kita makin merasa jengah terhadap kondisi perekonomian dalam negeri. Tiak apalah, hanya sementara, kalau negara-negara tujuan ekspor mengu-rangi permintaannya, akibat konsumsi dalam negerinya kering. Tak apalah, mungkin sementara aja, perusahaan-perusahaan harus merugi, karena omzetnya jungkir balik. Demi menjaga kemapanan, maka minimalkan kerugian perusahaan, kita harus memang-kas jumlah karyawan, dengan cara pemutusan hubungan kerja (PHK), dan bertindak efisien, efisien dan efisien. Kalau sempat, sirami ego-ego kita, agar tumbuh daun dan buah kemapanan yang baru, lakukan investasi, dananya ambil dari anggaran kese-jahteraan karyawan, jangan pinjam dana bank. Targetkan aja, bahwa PHK sepanjang tahun 2009 ini, 2.5 juta orang. Tokh, mereka juga akan mapan nantinya. Mapan penderi-taannya.

Lupakan krisis, sebentar lagi pemilu, bagi kita-kita orang yang sudah hampir lima tahun menikmati kursi wakil rakyat, pertahankan. Jangan sampai orang-orang baru, partai baru, yang kemampuannya masih diragukan, merebut kursi-kursi kita. Kita bisa gunakan anggaran pemerintah, yang nota bene untuk rakyat, kita bagi-bagi secara cuma-cuma kepada rakyat atas nama kita, partai kita, kelompok arisan kita, group kita. Jadikan pro-gram pemerintah menjadi keberhasilan kita dan partai kita. Pahamkan kepada rakyat, bahwa kita juga memelihara kemapanan mereka.

Janji-janji politik, dalam rangka menyemangi perekonomian rakyat, kita harus bisa menggalakkan program Usaha Mandiri Rakyat dari dana pemerintah, yang selama ini sedang berjalan. Jadi, dalam menangani krisis ekonomi ini kita tidak perlu lagi memberi “umpan”, melainkan “kail”. Tokh, ikan-ikannya sudah kita kendalikan agar tidak bernafsu memakan umpannya. Dengan kata lain, kita dapat mendidik rakyat untuk tetap memeli-hara kreativitasnya, bagi mereka yang kreatif, dengan melakukan suatu usaha. Dengan demikian, kita semua bisa menjaga kemapanan ini, bersama-sama.

Bekasi, 6 Februari 2009. Jum’at Kliwon, jam 01.30 WIB


Baca selengkapnya……

STRATEGI KESEHATAN MENTAL

Oleh. Purwalodra

Pagi-pagi jam 05.30 WIB, kedua adik saya sudah berisik, ngoceh di HP, ngabarin kalau Bapak perutnya sakit sejak semalam. Adik-adik menyalahkan orangtuanya yang makan seenaknya, setelah menjalani operasi hernia dan prostate, beberapa hari lalu. Sementara, Ibu yang sudah setengah tahun ini, sulit mengendalikan pikiran negatifnya, selalu saja menangis seperti anak kecil, kalau ingat sama anak bontot-nya. Pasalnya, adik bontot saya sampai sekarang belum beristri alias memiliki bojo, dan belum memiliki pekerjaan tetap setelah di PHK, gara-gara pinjem uang Peneri-maan Murid Baru (PMB) dan terlambat melunasinya, sehingga Kepala Sekolah, yang takut nama baiknya tercemar itu, mengadukannya ke Yayasan. Wal hasil, adil saya di keluarkan dengan tidak hormat.

Sementara, Bapak dan Ibu, beberapa tahun ini sudah menjadi pelanggan tetap rumah sakit. Ibu yang selalu memelihara perasaan kuatir, cemas dan takut ini-itu, menjadikan tubuh fisiknya selalu mengalami dehidrasi (kekuarangan cairan tubuh), sehingga pihak UGD menyuntikkan air infusan dan menyarankan untuk rawat inap. Namun, ketika energi Ibu pulih, tindakan mencabut jarum infus dari tangannya selalu dilakukan sendiri, dan mengatakan bahwa ia tidak sakit apa-apa, kok diinfus-infus segala.

Ketika Ibu kembali dari rumah sakit, pikirannyapun kembali kepada hal-hal yang membuatnya sedih, kuatir dan takut ini-itu, sehingga ketika Ibu lebih perhatian kepada sesuatu yang membuatnya sedih, takut dan kuatir, daripada makan untuk fisiknya, maka dehidrasipun tidak bisa dihindari lagi. Ketika Ibu tidak lagi mampu mendisiplinkan pikirannya, maka Bapak saya tidak mampu mendisiplinkan makanannya. Kedua ketidakdisiplinan inilah yang mengakibatkan kedua orangtua saya harus mondar-mandir ke rumah sakit. Saya berharap kepada ketiga adik saya, agar tetap menjaga disiplin pikiran dan disiplin makan, selama melayani kedua orangtua saya yang sulit untuk tidak melanggar kedua disiplin tersebut.

Pengalaman kedua orang tua saya ini, mengingatkan saya pada buku karangannya Larry Dossey, M.D., yang judulnya The Extra Ordinary Healing Power of Ordinary things, 2007, Ia mengatakan bahwa kekuatan penyembuhan luar biasa berasal dari hal-hal yang biasa, salah satu kekuatan itu adalah ‘melupakan’. Diawal bab tentang melupakan ini, ia menukil pernyataan dari William james, bahwa dalam mengguna-kan akal, melupakan sama pentingnya dengan mengingat.

Dossey mengingatkan bahwa kita perlu melupakan, melepas sesuatu hingga menjauh menjadi masa lalu yang tidak diingat lagi. Melupakan dan mengingat adalah kemampuan yang sama-sama dibutuhkan demi pikiran yang sehat. Coba bayangkan, jika segala sesuatu yang terjadi selama hidup kita (baik yang senang, sedih dan menakutkan) tertanam semua dalam kepala, tak ada yang terlupakan, setiap ke-jadian bisa ditarik dari daftar memori kita, sungguh hidup seperti dalam neraka saja. Untungnya, kita diberikan sifat lupa, yang manfaatnya untuk melupakan peristiwa-peristiwa yang negatif yang pernah terjadi dalam hidup kita. Dan ingatan kita, tidak lain hanya untuk mengingat pristiwa-peristiwa yang positip yang pernah terjadi dalam hidup kita. Jangan dibalik !

Menurut banyak penelitian, bahwa orang yang ingatannya sangat kuat, akan sulit melupakan. Penelitian ini pernah dilakukan pada seorang yang bernama S.V.Shereshevski, Karyawan surat kabar Moskow pada tahun 1920. Menurut peneliti bahwa orang ini memiliki ingatan yang sangat kuat, apapun informasi yang diterima sangat mudah diserap dan sulit untuk melupakan. Bertahun-tahun penelitian itu di-lakukan, dan pada akhirnya S.V.Shereshevski dinyatakan mengidap depresi akut, gara-gara ia tidak mampu melupakan begitu banyak informasi yang tidak bermanfaat. Di benaknya, penuh dengan hal-hal yang mendetail dan tidak berguna.

Banyak para pakar kesehatan, menyarankan agar selama hidup kita berjalan seharusnya menitikberatkan kepada peristiwa-peristiwa lama yang positip, dan mengabaikan kejadian-kejadian lainnya yang dianggap negatif. Hal ini menjadi strategi menjaga kesehatan mental. Namun, jika kita dengan sengaja berkeinginan kuat untuk melupakan suatu peristiwa, maka hasilnya kita akan semakin terperosok masuk ke dalam peristiwa-peristiwa yang dianggap negatif itu. Seperti peribahasa perancis, “ingin melupakan sesuatu, berarti terus memikirkannya.” Sejumlah Peneliti lain juga menambahkan bahwa melupaka pikiran yang tak diinginkan bisa menjadi boomerang. Pasalnya, bukannya tidak mungkin peristiwa yang ingin dilupakan itu justru kian tertanam dalam pikiran.

Saya juga ingin menambahkan, pernahkah kita berusaha ingin melupakan hutang misalnya, apa yang terjadi kemudian ?, justru pikiran-pikiran tentang hutang itu semakin kuat tertanam di benak kita, wal hasil hutang makin meningkat, nyicilnya makin sekarat. Trus gimana cara mengatasinya ?. Begini, menurut pakar tadi, untuk melupakan peristiwa-peristiwa yang negatif, caranya dengan menciptakan peristiwa-peristiwa yang positip. Misalnya, jika kita banyak hutang, coba lakukan dengan ban-yak kegiatan memberi, terserah, bisa memberi uang (sekedarnya, sebagai sha-daqoh), memberi tenaga atau pikiran kita yang bermanfaat buat orang lain. Pokoknya, ciptakan kegiatan memberi, tentu dengan ikhlas, jangan terpaksa, dan jangan ada kepentingan apapun, kecuali memberi aja. Titik.

Jika yang ingin dilupakan adalah peristiwa atau pengalaman yang menyakitkan, maka ciptakan pengalaman yang menyenangkan, menggembirakan dan memba-hagiakan. Nah, untuk kasus kedua orangtua saya, yang tidak disiplin makan dan tidak disiplin berpikir, pangkalnya sama-sama sulit melupakan peristiwa atau sesuatu yang sudah berubah menjadi tekanan kejiwaan (depresi). Dengan sedikit mengetahui hal ini, barangkali saya bisa menciptakan peristiwa-peristiwa baru yang positif agar kedua orangtua saya mampu melupakan peristiwa-peristiwa yang menekannya itu, yang membuatnya depresi.

Bekasi, 3 April 2009.


Baca selengkapnya……

PERCAYA PADA APA YANG TIDAK DIKETAHUI

Oleh. Purwalodra

Dulu, ketika masih seumuran mahasiswa (S1), saya mempunyai gelora semangat yang tidak pernah saya miliki sebelumnya. Apapun yang saya impikan mengalir be-gitu saja dan mewujudkan realitas yang tidak pernah bisa dibendung. Mimpi-mimpi besar bermunculan bereiringan dengan situasi dan kondisi yang sangat menekan, namun semangat untuk konsisten dengan impian-impian tersebut maka kondisi apapun yang melemahkan mimpi-mimpi saya, menyingkir begitu saya melintasinya. Dan mimpi-mimpi saya itupun kemudian mewujudkan diri sebagai realitas secara fisik.

Namun, seiring dengan bergulirnya waktu, pengetahuan dan usia, maka keteguhan memegang gagasan dan mimpi-mimpi hanya dianggap kosong belaka. Tamparan kehidupan dan hempasan gelombang persoalan rumah tangga serta pekerjaan, me-nepiskan saya ke lembah kekuatiran dan ketakutan untuk mempercayai sesuatu yang tidak mempunyai nilai-nilai kepastian. Sehingga setiap langkah, setiap tindakan dan setiap perbuatan mesti harus terukur secara cermat dan akurat, apapun yang tidak diketahui oleh panca indra sebagai pengetahuan mesti dihilangkan dari pikiran-pikiran kita, termasuk mimpi dan gagasan-gagasan saya menjadi apa nantinya.

Ketika saya kehilangan keyakinan kepada sesuatu yang tidak saya ketahui, maka semangat untuk mempercayai sesuatu itu menjadi musnah dan sia-sia. Sebagai satu contoh, dari sekian banyak contoh yang saya alami dalam hidup ini, pada saat kedua orang tua membutuhkan biaya rumah sakit, pada saat tagihan listrik, telepon dan hutang-hutang lainnya belum terbayar, maka gagasan untuk memiliki atau membeli rumah menjadi mustahil untuk dihadirkan, meskipun kerabat saya mempersilahkan rumah yang akan dijualnya tersebut saya tempati dulu sebelum di bayar DP-nya. Saya menjadi takut bukan kepalang, terbayang biaya yang yang harus saya lunasi sekian besar banyaknya. Ditambah lagi, istri yang memang sejak dari sononya nggak pernah percaya kepada sesuatu yang tidak diketahuinya. Semua harus trans-paran, jelas, tidak mengada-ada, dan terprediksi oleh akal serta pikiran.

Kalau saya merujuk pada saat saya masih kuliah, meskipun semua materi kuliah saya adalah hitung-menghitung, mulai dari time and motion study-nya henry Fayol, budgeting, linier programming, project evaluation, sampai dengan product, planning and control (PPC). Namun dalam hal persoalan-persoalan pribadi, saya lebih meyakini sesuatu yang tidak pasti alias meyakini sesuatu yang saya sendiri tidak ketahui menurut panca indra. Wal hasil, apapun yang saya inginkan, apapun yang menjadi gagasan, dan apapun yang menjadi mimpi saya, perwujudannya menjadi sulit untuk dibendung. Tetapi kenapa saat ini, ketika semua persoalan kehidupan terprediksi dengan cermat dan masuk akal, semua keinginan dan mimpi-mimpi tidak lagi menunjukkan realitas yang diharapkan ?

Ironi yang ada dalam kehidupan saya kemudian terjawab, ketika saya mencoba membuka-buka lagi buku berjudul Spiritual Solution to Every Problem, tulisan dari Wayne W. Dyer (253:2001). Menurut Dyer, rasa percaya kepada apa yang tidak diketahui itu seperti magnet yang tak kasat mata dan tak terkalahkan, yang menarik apapun yang menjadi hasrat dan pengharapannya.

Sebelumnya, Dyer menjelaskan bahwa apa yang tidak diketahui adalah hal yang tidak terjangkau oleh indra kita. Sebagai penjelmaan makhluk fisik, kita cenderung mengandalkan indra kita untuk menentukan apa yang nyata. Jika kita tak bisa meli-hat, menyentuh, mencicipi, merasakan, atau membauinya, kita cenderung yakin bahwa hal itu tidak ada. “Kepastian” melibatkan kita untuk begerak melampaui indra untuk menjadikan tempat yang kita percayai sebagai kesadaran spiritual, bukan se-kedar kesadaran secara fisik saja.

Dyer menyarankan, kembangkan rasa percaya meskipun tidak ada bukti fisik yang bisa ditangkap indra Anda. Apapun keadaan atau rintangannya, begitu Anda merancang impian, maka jalan akan terbuka, dan alam semesta menanggapi serta bekerja bersama Anda, untuk mewujudkan gagasan itu ke dalam kenyataan fisik. Dyer juga memastikan kepada saya bahwa yang tidak diketahui bisa dipahami dan jauh lebih banyak daripada yang diketahui.

Pernyataan-pernyataan Dyer ini seakan menyirami keyakinan saya yang lama tandus, dan sekarang saya tidak takut lagi memiliki mimpi dan gagasan-gagasan besar, meskipun saat ini situasi dan kondisi masih sangat-sangat mustahil untuk mewujud-kannya. Saya lebih percaya kepada sesuatu yang tidak saya ketahui.

Bekasi, 12 April 2009.


Baca selengkapnya……

KEPENTINGAN RAKYAT YANG MANA ?

Oleh. Purwalodra

Jam 01.00 WIB, malam Jum’at, saya baru bisa meletakkan badan yang letih ini dikursi tamu, setelah seharian sejak jam 06.00 pagi, menyiapkan, melaksanakan, menghitung dan mengisi dokumen-dokumen Pemilu Legislatif. Meskipun ada 21 persen yang tidak menggunakan hak pilihnya dari 269 orang yang masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) di TPS yang saya pimpin. Alhamdulillah, keseluruhan pelak-sanaan mulai dari pengambilan, penghitungan suara sampai dengan pengisian dokumen berjalan sebagaimana mestinya.

Beberapa hari sebelumnya, pada hari tenang setelah hangar-bingar kampanye selesai digelar, saya sempat mengirim SMS ke beberapa caleg, mengharap ada sisa-sisa dana non budgeter yang bisa digunakan untuk tambahan membiayai operasional beberapa TPS, yang minim itu. Namun pada malam hari-H, SMS balik bermunculan, mulai dari sikap yang jujur sampai dengan yang mengada-ada. Mulai dari alasan yang apa adanya sampai dengan alasan yang merujuk pada undang-undang, pokoknya semua caleg menolak memberikan sesuatu kepada pelaksanaan opera-sional TPS.

Saya cukup memaklumi kondisi seperti ini, saya hanya berharap baik, agar para caleg tidak meriang setelah mendengar pengumuman perolehan suara yang tidak memenuhi target suara untuk satu kursi yang ditetapkan. Dan tetap bergaul dengan masyarakatnya seperti sebelum-sebelumnya. Juga demikian bagi caleg yang mampu memperoleh suara sesuai target kursi yang ditetapkan, paling tidak tetap konsisten dengan janji-janjinya kepada masyarakat, serta tidak membeda-bedakan masyarakat yang mana yang mencontreng namanya pada pemilu kemaren, dan mana yang tidak.

Sementara di tingkat elite politik, konperensi perspun digelar untuk menyatakan pernyataan-pernyataan politk kepada partai politik lainnya, mulai dari desakan untuk berkoalisi sampai dengan rancangan untuk membagi-bagi kekuasaan kepada sepuluh partai yang memperoleh suara terbanyak.

Menurut saya, yang kurang paham tentang politik, untuk melakukan koalisi setelah pemungutan suara adalah hal yang wajar karena sudah diketahui partai-partai mana yang memiliki suara terbanyak, hal ini jelas bahwa tujuan koalisasi adalah mencipta-kan kekuatan dan membagi-bagi kekuasaan politik yang tersedia. Namun, per-nahkan terjadi koalisi dilakukan sebelum pemungutan suara ? Saya kok belum per-nah mendengar ya !

Apapun bentuk koalisinya kalau dilakukan setelah pemungutan suara, menurut saya, tidak lagi mencerminkan kepentingan rakyat, tapi kepentingan partai yang jelas-jelas berorientasi kepada kekuasaan semata. Namun, apabila koalisi diwujudkan sebelum hari pemungutan suara yang sekaligus berkomitmen kepada masyarakat untuk bersikap bahwa jika menang nantinya akan menjalankan pemerintahan dan jika kalah siap untuk menjadi oposisi. Mungkin saja, apakah sayanya yang tidak mendengar pernyataan-pernyataan tegas seperti itu, atau mungkin juga tidak ada partai yang berani menyatakannya, karena resiko menjadi partai oposisi di Indonesia, kondisinya hidup segan mati tak mau. Lebih aman mereka menempel saja di dinding-dinding kekuasaan, siapa tahu ketarik oleh partai yang berkuasa, dan bisa ikutan menjadi penguasa.

Dalam beberapa hari ke depan, kita juga akan menyakasikan adanya partai-partai yang tegas menyatakan sikapnya, ada yang siap menjadi penguasa, ada yang siap beroposisi dan tidak sedikit partai yang siap menjadi bunglon alias kesana oke, kesini juga oke. Bagi saya apapun yang dilakukan oleh partai-partai itu tidaklah sepenting bagaimana mereka berkomitmen kepada rakyat Indonesia secara keseluruhan. Apapun yang mereka tampilkan dalam panggung poltik nasional, adalah cermin kepentingan masyarakat kita yang memiliki kehendak untuk maju, sehat jasmani dan rohani, lepas dari garis kemiskinan dan kebodohan. Semoga nantinya, tidak ada lagi partai yang mengatakan kepada rakyat, “kepentingan rakyat yang mana, dulu !!!.”

Bekasi, 10 April 2009.


Baca selengkapnya……

REZEKI, USAHA DAN IKHTIAR

Oleh. Purwalodra

Hampir dua minggu ini, HP Anto berdering nyaring. Sampai hapal di luar kepala, nomornya. Siapa lagi kalau bukan debt collector, yang setiap hari tanpa jemu, menagih tunggakan cicilan pinjamannya. Sudah dua bulan ini, Anto tidak menyisakan uang sepeserpun untuk memenuhi kewajiban, pada kartu kreditnya dan pinjamkan tanpa agunannya. Kapanpun dan dimanapun, Anto berada, debt collector tidak henti-hentinya menanyakan, “kapan bapak bisa melunasi tagihan !”

Pengalaman Anto ini, menjadi cermin untuk kita renungkan bersama, bahwa dalam diri kita ada dua kehendak (keinginan), yang satu sama lain, saling bertolak belakang. Keinginan tersebut adalah keinginan menurut pikiran dan keinginan hati nurani (jiwa). Sementara, saya membatasi keinginan adalah sebagai suatu kecenderungan atau dorongan yang kuat atas apa yang akan kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan, baik secara lahir maupun batin.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dihadapkan oleh beribu-ribu keinginan. Menurut para pakar psikologi, keinginan manusia berbanding lurus dengan proses berfikirnya. Dalam sehari semalam, selama 24 jam, manusia mampu menghimpun keinginannya antara 60 ribu sampai dengan 65 ribu keinginan. Betapa banyaknya keinginan manusia tersebut ? Pantas saja, manusia tidak pernah puas atas apa yang diinginkannya, karena keinginannya selalu berubah setiap detiknya.

Apakah kita tidak boleh memiliki keinginan ? Tentu saja boleh-boleh saja. Keberadaan pikiran manusia, adalah untuk mengumbar keinginan, apa saja, untuk kemajuan kehidupan manusia itu sendiri. Dan eksistensi pikiran manusia juga, berguna untuk memilah dan memilih, mana keinginan yang sesuai untuk dirinya, sesuai untuk potensinya, sesuai untuk kemampuan pikirannya. Makanya ada ungkapan, bahwa Allah Swt, akan memberi cobaan kepada manusia, sesuai dengan kemampuannya. Artinya, manusia akan mengalami berbagai macam cobaan sesuai dengan akal pikirannya.

Apapun yang dipikirkan manusia adalah bentuk asli keinginannya. Sebagai contoh, seseorang berpikir sedih dan penderitaan, maka ia sebenarnya menginginkan kesedihan dan penderitaan itu datang kepadanya. Orang berpikir bahagia, gembira dan menyenangkan, pada hakekatnya ia menginginkan kebahagiaan, kegembiraan dan kesenangan. Seseorang berpikir tentang uang yang setiap bulan kurang, maka iapun sedang menginginkan kekurangan uang pada dirinya, setiap bulan. Jika ia berpikir tentang keberlimpahan uang setiap hari, maka hakekatnya ia menginginkan keberlimpahan harta setiap harinya.

Ngomong-ngomong tentang rezeki, masih banyak sebagian kita menganggap bahwa rezeki, kadang datang ke dalam hidup kita, dan kadang-kadang menjauh dari hidup kita. Maka kemudian persepsi kitapun menyimpulkan bahwa sholat Dhuhalah yang mampu menghadirkan rezeki. Bahkan selesai sholat dhuha, kita dianjurkan untuk membaca do’a kepada Allah Swt., untuk menghadirkan rezeki. Dalam pemahaman yang awam, okelah kita bisa merutinkan sholat dhuha, namun perlu kita maknai bahwa rezeki bukan dari sholat dhuhanya, rezeki tetap berasal dari allah Swt. Apakah rezeki bisa digunakan sebagai alat, untuk sementara bolehlah, tetapi untuk selanjutnya kita perlu mengkaji apapun yang kita lakukan di dunia ini, asalkan tetap untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia, itupun juga alat untuk bisa menarik rezeki. Nah, kalau kita sudah paham sampai disini, pemahaman kita akan meningkat bahwa tidak ada hubungan langsung antara usaha dengan rezeki, kenapa begitu ?. Sampai disini, kalau sekiranya belum paham, mohon jangan dilanjutkan. Perlu ada referensi lain untuk melengkapinya agar tidak salah persepsi.

Banyak teman-teman langsung mendebat, ungkapan bahwa tidak ada hubungan langsung antara usaha atau ikhtiar dengan yang mana daripada rezeki. Mereka mengira usaha atau ikhtiar adalah awal dan akhir, dari kehadiran rezeki. Ketika mereka tidak sepaham dengan apa yang saya ucapkan, saya sangat’s kuatir akan muncul sikap menghakimi dan menilai salah-benar, sebelum argumen atau alasan rasional dimunculkan. Pada akhirnya, teman-teman yang sedikit bersabar untuk mendapatkan pemahaman, hanya manggut-manggut aja, tanpa komentar. Maklum saja, saya bukan ustadz atau kiayi, bahkan bukan pula akhli agama. Tapi, apa yang saya sampaikan ini cuma pengalaman hidup saya aja.

Sekedar berbagi pengetahuan, tidak kurang dan tidak lebih, bahwa untuk bisa paham atas usaha, ikhtiar dan rezeki, pertama-tama kita perlu memahami hakekat rezeki. Literatur keagamaan maupun pendapat para ahli agama Islam, menyebutkan bahwa Allah Swt. lah yang berkuasa atas rezeki manusia atau makhluknya. Jadi rezeki pada hakekatnya adalah berasal dari Allah, Tuhan kita. Rezeki bisa berwujud fisik (materi) dan bisa berwujud bukan materi. Sebagai contoh sederhana rezeki yang berwujud fisik, antara lain uang, mobil, rumah, tanah, kesehatan dan lain-lain. Kenapa kesehatan termasuk rezeki non fisik, karena sehat dan sakit itu ada dalam ranah jasmani alias fisik. Bahkan para ahli fisika kuantum mengungkapkan bahwa pikiran kita bersifat fisik (meski tidak bisa dilihat dengan kasat mata), karena pikiran masuk kategori energi (zat yang bergetar dan bergerak dari sebuah atom yang dikelilingi oleh proton, electron dan netron). Ketika kita berpikir, ada entitas (yang bersifat fisik) keluar dari sekujur tubuh kita, itulah energi. Semakin kita banyak berpikir, semakin berkurang energi dalam diri kita. Mekanisme kerjanya sama seperti Ha-Pe, ketika meng-SMS atau menelepon, ada energi yang keluar dari Ha-Pe kita itu. Bisa low bat, bo !. Bayangkan saja, jika proses berfikir ini dihubungkan dengan teori kekekalan energi (Newton) dan hukum tarik menarik energi (dimana pikiran positip akan menarik hal-hal yang bersifat positip. Dan sebaliknya, pikiran negatif akan menarik sesuatu yang negatip).

Sampai disini kira-kira pada ngerti nggak ya ? Kalau belum, lanjutkan aja dulu membacanya. Jadi kita sedikit memahami, bahwa rezeki yang berwujud fisik begitu luas ruang lingkupnya, kata para ahli agama, seluas langit dan bumi, seluas alam semesta. Itu baru rezeki dalam bentuknya yang fisik. Sementara, pemahaman saya untuk rezeki yang non fisik antara lain hidup itu sendiri, kesempatan kita bisa mengalami kehidupan di muka bumi ini, adalah rezeki yang berwujud non fisik. Bener atau nggaknya, Tanya sama ahli tafsir agama. Para ahli sufi juga menegaskan bahwa rezeki, baik berwujud fisik maupun non fisik, ada pada hati nurani atau jiwa manusia. Bertawaqallah kepada Allah Swt, agar jiwa kita bersinar memancarkan rezeki dan nikmat yang tiada habis-habisnya.

Jadi jelas khan, pemahaman saya atas rezeki Allah Swt ? Nikmat Allah manalagi yang akan saya dustai ? Kalau pemahaman saya tentang rezeki hanya melulu harta, tahta dan wanita (maklum saya laki-laki), alangkah sempit nikmat allah ?. Dari argumen di atas, saya bisa sedikit merangkum, bahwa rezeki adalah murni dari Allah Swt. Dan untuk mengenal Allah, maka kenalilah diri kita sendiri. Ketika kita mengenal Allah dalam diri kita yang paling dalam (hati nurani/jiwa), maka tidak ada yang mustahil bagi Allah, atas rezeki yang selalu eksis, bersama-sama diri kita, didalam diri kita semua. Sekali lagi, saya katakana, bahwa kita selalu hidup bersma rezeki yang sudah ada sejak kita lahir sampai hayat dikandung badan.

Jika kemudian muncul bertanyaan susulan, kalau memang benar rezeki itu sudah bersama-sama kita sejak lahir, kenapa ada yang kaya dan kenapa pula ada yang miskin ?. Menurut saya, pemahaman pertanyaan ini sangat’s lah dangkal. Karena rezeki manusia tidak hanya berupa fisik saja, tapi juga mencakup hal-hal yang bukan fisik (materi). Tapi kalau tokh kemudian kita menemukan ada orang yang pinter tapi miskin; ada orang bodoh tapi kaya; ada orang berpenghasilan pas-pasan, tapi punya isti lebih dari empat; ada seorang Ponari yang miskin dan belum selesai SD, dibutuhkan oleh ribuan orang; dan lain-lain. Coba perhatikan atau teliti secara spiritual, bagaimana hubungan antara pikirannya dengan hati nurani (jiwa) nya ?. Pemahaman saya tentang fenomena-fenomena tersebut, mengatakan, bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah swt, ketika kita memahaminya dengan jiwa. Kalau saya memahaminya dengan pikiran rasional, pasti saya akan mengatakan itu semua bullshits, omong kosong, mustahil dan lain-lain. Pikiran saya mengatakan, mana ada orang pandai, miskin ?. Mana ada orang bodoh, bisa kaya ?. Mana ada orang semiskin Ponari, belum lulus SD lagi, bisa dibutuhkan orang se-Jawa Timur, gubernurnya aja kalah !. Dan lain-lain.

Nah, sekarang coba kita analisa tentang usaha dan ikhtiar. Menurut pemahaman saya yang bukan ahli agama apalagi tahu tafsir Qur’an, bahwa usaha dan ikhtiar pada hakekatnya berbeda. Orang berusaha untuk hidupnya, berasal dari pikirannya yang rasional. Sementara, orang yang berikhtiar juga untuk hidupnya, berasal dari jiwa alias hati nuraninya. Berbedaan ini mengandung konsekuensi sunatullah, yaitu : Orang yang berusaha dengan pikirannya, kepentingannya adalah materi, pengen untung, pengen nggak rugi, pengen dipercaya, pengen dianggap sukses, pengen dihormati, pengen prestise dan lain-lain. Pikirannya mengatakan, bagaimana nanti aja ? pokonya, untung, nggak rugi, dipercaya orang, dianggap sukses, dihormati dan lain-lain.

Berbeda dengan orang yang berikhtiar. Tidak ada kepentingan yang bersifat fisik maupun non fisik, yang ada hanya tawaqal kepada Allah Swt, hidup dengan keberserahan diri kepada Allah Swt. Jiwa orang yang berikhtiar selalu berbisik, nanti bagaimana ?. Makanya bisikan ini menjadikan orang-orang yang berikhtiar selalu ikhlas terhadap apapun yang dilakukannya dan menyerahkan persoalan hidupnya kepada Allah swt.

Jadi, coba kita bisa analisa fakta yang ada saja, bahwa ketika kita melihat orang berusaha (sebut saja berbisnis), ada yang untung dan ada yang bangkrut. Herannya lagi, orang yang bangkrut, justru modal usahanya milyaran, sementara orang yang untung, modalnya cuma jutaan rupiah saja. Mengapa hal ini terjadi, baca tulisan saya, Bisnis=Keuntungan ?, di Penulis Lepas dot com.

Namun, bagi orang-orang yang ber-ikhtiar dengan tawaqal sebagai modal pokoknya, maka orang-orang ini tidak pernah dinyatakan bangkrut. Mengapa ? Ya, karena orang-orang yang berikhtiar tidak semata-mata mencari untung material atau non material, tidak takut rugi, tidak mencari prestise dan kehormatan lainnya, tidak kuatir dianggap bodoh, dan lain-lain. Orang-orang seperti ini akankah mengalami bangkrut ? Justru, jika kita memahami persoalan ini lebih dalam, maka apa yang sebenarnya diinginkan oleh setiap manusia di muka bumi ini, hanya akibat saja dari keberserahannya kepada yang Maha Sempurna, Allah Swt.

Lalu, apa dong, kesimpulan dari semua ini ? padahal awal tulisan ini mengisahkan kehidupan Anto, yang selalu ditagih hutang, sementara Anto sendiri nggak bisa melunasi hutangya ?. Jawabannya adalah dengan melahirkan pertanyaan lagi. Begini, siapa yang sedang bermain-main di dalam diri Anto, sekarang ?. Pikirannyakah atau Jiwanya ?. Lalu, siapa yang bertanggung jawab menyelesaikan masalahnya ?. Pikirannyakah atau Jiwanya ?

Bagaimana kalau begitu !

Bekasi, 1 Maret 2009.



Baca selengkapnya……

PERTENGKARAN

Oleh. Purwalodra

Dulu, ketika saya masih memiliki banyak waktu untuk aktif di banyak organisasi, tersedia waktu untuk sekedar ngobrol semalam suntuk, tersedia waktu hanya untuk minum segelas kopi, yang baru habis sehari penuh, banyak waktu yang bisa saya lakukan untuk bertemu face to face. Tetapi sekarang, seiring dengan perkembangan pekerjaan yang harus di selesaikan, dan tuntutan hobi yang selalu ingin dipenuhi, waktu menjadi mahal harganya. Orang-orang kapitalis mengatakan waktu adalah uang, kok rasanya waktu yang saya jalani tidak sekedar bernilai uang saja ya ?. Waktu buat saya adalah kedamaian.

Dulu, ketika saya masih memiliki banyak waktu untuk aktif di banyak organisasi, tersedia waktu untuk sekedar ngobrol semalam suntuk, tersedia waktu hanya untuk minum segelas kopi, yang baru habis sehari penuh, banyak waktu yang bisa saya lakukan untuk bertemu face to face. Tetapi sekarang, seiring dengan perkembangan pekerjaan yang harus di selesaikan, dan tuntutan hobi yang selalu ingin dipenuhi, waktu menjadi mahal harganya. Orang-orang kapitalis mengatakan waktu adalah uang, kok rasanya waktu yang saya jalani tidak sekedar bernilai uang saja ya ?. Waktu buat saya adalah kedamaian.

Banyak teman-teman, mencibir sinis dengan pernyataan saya tadi. Emangnya kenyang makan kedamaian ?. Emangnya uang bisa dicari dengan kedamaian ?. Saya cuma bisa jawab, emangnya gue pikirin !. Sebenarnya, saya paling anti mengatakan bahwa kedamaian akan menghasilkan uang, atau kedamaian akan bikin saya ken-yang. Istri saya aja belum tentu percaya.

Dalam situasi yang chaos seperti sekarang ini, nggak ada yang bisa saya lakukan, selain damai aja gituuu ?. Damai dengan siapa ?, Ya, damai dengan diri saya sendiri. Memangnya selama ini kita bertengkar dengan diri kita ?. Tegas bangets jawaban saya, ya iyalah masa ya, iya dong.

Buktinya apa kita bertengakar terus dengan diri kita ?. Ya, gampang aja jawabnya, pernah nggak kita mengeluh ?. Pernah nggak kita marah-marah ?. Pernah tidak kita menilai orang lain atau menghakimi, salah-benar dan baik-buruk kepada diri kita sendiri maupun orang lain ?. Pernah nggak kita merasa takut, kuatir dan cemas ? dan lain-lain. Kalau sudah pernah semua, maka berarti kita sedang bertengkar den-gan diri kita sendiri. Gimana logikanya agar bisa masuk akal, tak iye !

Sebelum menjawab, saya meluruskan dulu istilah masuk akal atau orang bilang, logis. Perlu kita pahami sama-sama, bahwa yang namanya hidup, sebenarnya nggak masuk akal lhoo. Hidup yang diberikan Allah Swt, kepada kita semua, sebenarnya nggak pernah ada yang masuk akal. Contoh secara fisik aja, kenapa dalam satu sel otot manusia ada yang disebut DNA (Dioksiribo nuclead acid) atau bisa juga disebut GEN. Dalam satu sel aja ada milyaran DNA, dan setiap selnya memiliki DNA yang berbeda-beda. Setiap tubuh manusia terdiri dari milyaran sel, jadi berapa tuh jumlah DNA nya ? Itu baru DNA dan sel. Belum lagi system yang sedang hidup dalam tubuh fisik kita. Ada sistem pernafasan, ada sistem peredaran darah, ada system pencer-naan, ada sistem saraf, dan jutaan sistem lainnya. Apa itu semua masuk akal ? Nggak pernah akal kita bisa sampai ke sana, nggak pernah kita bisa paham maksud semua ini. Yang kita pahami, hanyalah Maha Besar Allah, dengan segala ciptaannya. Oleh karena itu, saya menjadikan hidup saya, selama ini, sebagai misteri yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Kembali kepada persoalan pertengkaran yang setiap saat berkecamuk dalam diri kita. Kenapa saya bisa marah ?, karena apa yang saya fikirkan atau inginkan tidak sesuai dengan apa yang saya peroleh. Kenapa saya nerasakan takut, kuatir dan ce-mas ? karena apa yang saya pikirkan atau inginkan lebih besar dari potensi (ke-mampuan) yang kita miliki. Kenapa saya menilai seseorang ?, karena kita memikirkan apa yang benar saja menurut diri saya sendiri. Kenapa pula kita menghakimi orang lain ?, karena kita merasa paling benar sendiri di dunia ini. Orang-orang seperti ini adalah orang yang sedang bertengkar dengan pikirannya sendiri. Pertengkaran antara kehendak Jiwa/hati nurani dengan pikiran saya sendiri.

Kharakter pikiran tidak mau terkalahkan, sementara kharakter jiwa/hati nurani selalu ingin mengalah. Sikap pikiran, bagaimana nanti aja !. Sementara sikap jiwa, nanti bagaimana ?. Kalau pikiran sudah menjadi pengendali hidup kita, maka jiwa/hati nurani lebih banyak mengalah. Daripada benjol ! Nah, kalo dah kena ba-tunya, alias pikiran mentog gara-gara masalah yang dia bikin sendiri, pikiran kabur entah kemana. Lantas, si jiwa/hati nurani, dibiarkan sendiri membersihkan puing-puing masalah yang dibikin si pikiran tadi. Kita bisa lihat, orang-orang yang sudah ditinggalin ama pikirannya, mereka biasanya berserah diri aja. Pasrah bongkokan. Tapi, jangan heran, ketika masalahnya dah selesai, pikiran datang lagi, sikap berserah diri lantas dikubur habis oleh ego yang bersekutu dengan pikiran.

Nah, gitu aja dulu ya ? Besok disambung lagi.

Bekasi, 12 Maret 2009.



Baca selengkapnya……

HUTANG, HUTANG DAN HUTANG

Oleh. Purwalodra

Mudah-mudahan, saya masih dianggap waras mengurai judul diatas. Bagaimanapun dan siapapun orangnya, kalau ditagih, karena nunggak bayar atau belajar mangkir kecil-kecilan, tiba-tiba menjadi sulit menguatkan otot keberanian. Mungkin hanya orang-orang yang kepepet, lalu takut jeroannya ketahuan aja, yang mendadak berani menghadapi penagih hutang. Itupun dengan argumen yang sarat kepentingan agar si penagih hurang tadi, masih percaya atau masih menghargai dirinya. Bahkan, ada sebagian orang, menangis-nangis, menumpahkan seluruh air matanya, memohon agar hutang-hutangnya ditangguhkan pembayarannya. Terus terang, kebenaran yang selalu saya pegang seumur hidup, berhutang bukan fitrah kita. Maunya saya, kebutuhan terpenuhi tanpa berhutang.

Orang bilang, terjadinya hutang, baik uang, barang atau jasa, karena kita tidak bisa lagi mengendalikan ego alias nafsu indrawi, yang terus-menerus harus dipenuhi. Kemudian, dari hutang itu kita berharap, agar gengsi dan status kita meningkat, melampaui garis kemiskinan. Apapun alasannya, hakekat berhutang, adalah dipepet kebutuhan. Apakah mau beli tape recorder, mesin cuci, atau Ha Pe terbaru. Yang jelas, kita dipepet dan kepepet, meminjam judul campur sarinya Didi Kempot.

Pertanyaan konyol yang bisa dipaksa muncul, dari perkara hutang-piutang ini adalah, beranikah kita dengan senyum tulus, mengatakan, ini hari, belum ada uang untuk membayar hutang. “Insya Allah kalau ada duitnya saya bayar seluruhnya atau mencicil ?” Biasanya setelah, kalimat ini berakhir, si penagih hutang naik pitam alias marah besaaaar. Takut ? wajar aja, gituuuu lhoooo, manusiawi namanya. Nah, tulisan ini mudah-mudahan bisa mengatasi rasa takut kita semua, tapi jangan-jangan akan menambah rasa takut saya dan kita semua, amit-amiiiit, mudah-mudahan jangaaan.

Seperti yang sudah saya tulis diatas, berhutang bukan fitrah kita. Tapi, memberi hutang atau pinjaman, buat orang yang mebutuhkan, adalah kewajiban bagi orang yang berpunya (the have). Kalau didunia isinya orang-orang seperti ini, mungkin gak ada lagi profesi debt collector yang marah-marah di rumah orang atau di kantor si penghutang. Bilamana dunia ini diisi oleh orang-orang yang saling menolong, membantu dan saling mengasihi, bukan dunia namanya, tapi surga yang ada di dunia. Kalau sudah begitu, maka setan dan iblis terpaksa pension dini, besar-besaran.

Persoalan tagih-menagih hutang, muncul sebagai akibat, dari suatu sebab yang mendahuluinya. Anehnya, ketika kita kepepet kebutuhan lalu berhutang, orang atau lembaga yang memberi pinjaman, juga memiliki kebutuhan yang mirip. Sama-sama punya kepentingan. Sama-sama pengen punya untung, baik secara financial maupun bukan. Bedanya, kalo si peminjam nggak punya duit, sementara yang meminjamkan punya duit. Itu aja, nggak lebih, nggak kurang.

Nah, kenapa kemudian keduabelah pihak terjebak diatas ring tinju kelas amatir, adu otot leher, ketika angsuran atau pengembalian tidak sesuai skedul yang disepakati ? Jawaban sementara mengatakan, bahwa keduabelah pihak berada dalam kondisi, kepepet dan dipepet kebutuhan. Si peminjam kepepet nggak punya duit untuk bayar hutang, duitnya langka. Sementara si pemberi pinjaman, kepepet aturan, kepepet prestasi kerja lembaga, kepepet harga diri, kepepet hutang juga, yakni uang boleh pinjam, di pinjamkan lagi ke orang lain. Saya jadi su’udzon dengan keberadaan bank-bank, sekarang ! Bukan karena saya banyak hutang dari KTA bank-bank itu. Tapi, lebih dari pada, peran yang dimainkannya, baik kepada nasabah maupun debeturnya.

Coba dech, perhatikan bagaimana bank-bank itu beroperasi. Mereka (bank-bank itu) mengumpulkan dana masyarakat melalui tabungan, deposito dan entah apalagi saya kurang paham. Trus, dana masyarakat itu dijadikan modal bank, nama kerennya Modal Pihak Ketiga. Bank-bank itu, lalu melempar kembali dana pihak ketiga ke masyarakat, dalam bentuk berbagai macam nama pinjaman, ada pinjaman tanpa agunan, ada kartu buat belanja secara kredit, ada pinjaman murabahah, pinjaman musyarakah, “dan banyak lagi yang lainnyaaaaa.” Lagunya Oma Irama tentang Indonesia.

Yang lebih saya nggak ngerti, harga pinjaman (baca bunga atau bagi hasil, terserah aja) dari penabung, deposan, de el el, jauh lebih rendah dari pada harga pinjaman itu sendiri. Udah gitu, kalo si peminjam nunggak bayar angsuran, jelas nggak punya duit, si peminjam selain bayar denda, juga ditekan habis-habisan, sampai seluruh tulangnya lunak. Meminjam produk ayam bakar, tulang lunak.

Dari argumen, yang tidak waras ini, saya jadi ragu, dimana peran bank-bank itu dalam menolong usaha ekonomi masyarakat ? apalagi kalau dihubungkan dengan pelayanan dan perlindungan ?. Makin jauh aja lah yaaawww.

Dalam kamus spiritual saya, nyang mana daripada ‘usaha’, nggak lebih dari suatu pengorbanan untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Bukan mencari keuntungan. Sedikit aja, fikiran kita menjelajah keuntungan finansial, maka kebangkrutan sudah siap menerjang kita. Nggak pandang bulu. Bulu kucing apa bulu macan, sama saja, yang penting bulu. ’Berusaha’ atau istilah sekolahannya, wirausaha, adalah menjawab bagaimana kebutuhan orang lain bisa terpenuhi, baik dalam bentuk barang atau jasa. Sekali lagi, bukan nyari untung, booo ?. Kalau produk yang dijual laku, berarti kebutuhan orang terpenuhi dengan baik, dan sudah pasti juga keuntungan bakal mengalir, gituuu lhooo ?.

Saya tambahkan lagi, bahwa nggak ada hubungan korelasional antara berwirausaha dengan rezeki. Lagi-lagi masih banyak diantara kita punya keyakinan, “kalau mau dapat rezeki, usaha donk, usahaaaa!.” Padahal, nyang mana dari pada ‘rezeki’, datangnya hanya dari Allah Swt, sementara usaha yang kita lakukan, adalah manefestasi dari status kita yang dilekatkan Allah Swt, kepada kita, sebagai rahmatan lil ‘alamien. Lho, gimana dong posisi dan peran ikhtiar ? Menurut para pakar motivator, ikhtiar itu wajib hukumnya, dan hanya ditujukan kepada kebaikan. “Ingat, berlomba-lombalah dalam kebaikan,” kata pak ustadz. Jadi, usaha atau berwirausaha, tujuannya untuk mencapai kebaikan dunia, mudah-mudahan di akherat juga. Penuhi kebutuhan orang lain, mudahkan kepentingan orang lain, kemudian, perhatikan apa yang terjadi !.

Sudah saatnya kita memulai, satu langkah baru, meski hanya sejengkal. “Sebabkan, tiadanya rasa sakit !” Insya Allah dengan kita membuat segala sesuatu menjadi baik alias nggak menyakitkan diri sendiri dan orang lain, maka akibatnya kepada kehidupan kita, adalah kebaikan, kegembiraan, ketenangan dan kedamaian.

Tantangannya, bilamana kita sudah menjalankan sesuatu yang baik, sementara orang lain tidak bisa berbuat baik dengan kita, itu berarti kebaikan kita sudah mempunyai nilai PLUS di sisi Allah Swt. Kalau kita tetap sabar dan istiqomah, kata Mario Teguh, “Perhatikan apa yang terjadi !” Stay with golden ways.

Selanjutnya, coba kita bercermin kepada orang-orang sufi, jika dia dihina, direndahkan, diremehkan, bahkan dihujat sekalipun, derajad-nya di sisi Allah Swt, meningkat satu tingkat. Sementara, ketika dia dipuji-puji, dan dia menerimanya sebagai penghargaan atau pujian, maka derajatnya turun satu tingkat. Oleh karena itu, banyak orang-orang yang jiwa spiritualnya tinggi, lebih suka di rendahkan dan dihina, dari pada dipuji-puji orang lain. Mereka ini meyakini, lebih baik dipuji oleh Allah Swt., daripada dipuji oleh manusia.

Kembali kepada persoalan diatas, bahwa hutang piutang berada pada koridor fikiran, semakin kita menggunakan fikiran untuk mengatasi-nya, maka semakin berkembang-biak masalahnya. Fikiran seakan-akan mampu mengatasinya, dengan munculnya alternative-alternatif, yang dianggap sebagai solusi. Tapi, anehnya malah tersesat, njlentreh, kemana-mana.

Sebagai saran saja, boleh dijalankan atau dilupakan, untuk masalah hutang-piutang, kembalikan kepada spiritualitas, khususon jiwa kita. Kepada Allah Swt. Nggak mungkin dech, gaji kita yang pas-pasan itu, bisa nutupin utang-utang kita yang jumlahnya setinggi langit (biar kelihatan gede banget). Besar pasak dari pada tiang. Cepek deeech ? Dengan berserah diri, kita mengangap diri kita bukan siapa siapa, tidak berdaya, merasa terdesak dan mohon agar Allah Swt, menyelesaikan utang-utang kita. Syukuri apa saja, yang saat ini, masih kita miliki. Lalu, bertawaqallah. Yakini sebisa-bisanya, bahwa ketika kita bertawaqal, maka hutang-hutang itu sudah bukan lagi tanggungjawab kita, tapi kehendak Allah Swt. Menyelesaikannya, untuk kita.

Akhirnya, pada saat, para penagih hutang itu datang lagi, ke rumah atau ke kantor kita, ucapakan salam dan katakan dengan perasaan merdeka, “Mohon maaf Bapak/Ibu, hari ini saya belum ada uang untuk membayar angsuran, Insya Allah bila sudah ada saya akan melunasinya atau mengangsur ?” Kedengarannya begitu indah. Ya, memang indah bila keluar dari jiwa kita yang dalam, rendah hati, tanpa kepentingan dan penuh kasih. Akui semua kelemahan kita, jangan lagi takut, Allah ada dalam diri kita. Pada jiwa-jiwa yang tenag, yang berserah diri, pada-Nya.

Bekasi, 12 Februari 2009.


Baca selengkapnya……

Viviti