Here is the ultimate resource for detailed purwalodra guides, and tips. Find about purwalodra that will match your need | Education | Life | Writing | Politics

Click

Showing newest posts with label Cerpen. Show older posts
Showing newest posts with label Cerpen. Show older posts

13 June 2009

NAIK KELAS

Oleh. Purwalodra

Hari ini, mbah kakung mengambilkan aku raport kenaikan kelas di sekolah. Sementara Putut dan Nanto diambilkan oleh Ibunya. Putut sudah mendudukkan Ibunya di bangku kelas I-C. Aku dan mbah kakung baru sampai sekolah jam 07.30 WIB. Mbah kakung duduk di ruang tunggu depan kantor Kepala Sekolah, lalu membaca Koran yang dibelinya sebelum masuk halaman sekolah. Sementara, aku, Putut dan Nanto asik ngobrol di depan tukang nasi gudeg. Halaman sekolah.


“Liburan nanti kamu ke Bekasi, ek ?” Nanto membuka disikusi.
“Aku sudah ke Bekasi dua kali, tahun ini. Liburan Semesteran kemaren sama lebaran.”
“Barangkali, masih kangen sama ortu di Bekasi ?” Putut menyahut.
“Nggak. Aku mau liburan disini aja.”
“Khan di Bekasi lebih rame dari pada disini, sepi !” Nanto menimpali.
“Nggak ah. Lagian mbah kakung sama mbah putri mau pergi ke Wonogiri besok senin.” Aku beralasan, “Katanya sih mau menghadiri pernikahan anaknya adik mbah kakung, sekalian ziarah ke makam saudaranya, disana.”
“Jadi kamu sendirian di rumah ?” Putut penasaran.
“Iya, selama seminggu besok. Tapi Budi dan Dodo khan selalu tidur di rumah mbah ?”
“Iya ya ? Kamu nggak pernah sendirian di rumah mbah, selalu rame !”
“Di rumah mbahku, siapa aja boleh nginep. Asal mau Bantu mbah beres-beres rumah. Kenapa sih, kamu berdua nggak pernah nginep di rumah mbahku ?”
“Nggak boleh sama ortu !” Jawab Putut.
“Kenapa ?” aku penasaran.
“Pokoknya nggak boleh aja.” Jawab Putut ringan.
“Takut hilang ?” Aku mengejek.
“Nggak juga” sahut Nanto.
“Atau takut digantung sama mbah Harjo ?”
“Apalagi itu.” Jawab Nanto tegas.
“Pokoknya nggak boleh aja.” Kata putut.
“Gini aja. Besok minggu khan mbahku nggak ada di rumah. Gimana kalo kamu berdua minta izin ke ortu nemenin aku. Bilang aja mbah Harjo yang nyuruh ?” Mereka saling berpandangan, seakan-akan gagasanku ini menarik untuk ditanggapi secara positip. Beberapa detik kemudian Putut menjawab, “Iya dech, kita lihat aja nanti.”
“Kalo begitu, aku mau ke tempat mbah dulu ya, nanti dia cari-cari aku.” Aku meninggalkan mereka dibawah pohon waru.

Sampai di ruang tunggu. Mbah kakung masih serius membaca Koran. Aku mendekat dan berdiri disampingnya. Mbahku, masih bekerja sebagai kebayan desa. Atau biasa di sebut Pak Bayan. Aku nggak tahu persis apa dan bagaimana tugas dan tanggungjawab Kebayan Desa itu. Yang kutahu, setiap jam delapan pagi mbah kakung naik sepeda, berseragam krem lengkap dengan tanda-tanda kepegawaian. Dan jam 14.00 WIB sudah minum teh pahit di rumah. Bahkan kalo hari Jum’at jam 10.00 WIB sudah ada di rumah. Pokoknya nyantailah.

Mbah kakung, selama di rumah, jarang memegang sapu. Selain ngatur masjid, Adzan, pagi-pagi mbah kakung sudah keliling kampung sambil cari bekicot untuk lima ekor bebek kesayangannya. Kadang-kadang tetangga juga mengirim bekicot ke rumah. Mbah kakung tetap saja jalan-jalan pagi, keliling kampung, meskipun persediaan bekicot sudah terpenuhi.

Pagi-pagi Subuh tadi, aku sudah bangun sebelum mbah kakung Adzan Subuh. Shalat Subuh, menyapu halaman belakang, cuci piring lantas mengumpulkan nasi-nasi bekas dicampur katul dan air secukupnya, makanan lezat ayam didistribusikan dihalaman belakang. Ayam-ayam mbah kakung, tidak bisa keluar, karena tembok tinggi membatasi sekeliling halaman di belakang rumah. Rutinitas ini sudah menjadi kebiasaanku setiap pagi. Jadi tidak perlu lagi membuat jadual tugas seperti dulu. Sementara, Dodo menyapu halaman depan masjid sampai ‘buk’ jembatan kecil dan pinggir jalan aspal. Budi, bertugas menyapu dalam masjid, teras dan tempat wudhu. Begitulah kesibukanku bersama Dodo dan Budi setiap pagi. Setelah semua selesai, aku mandi dan berangkat sekolah.

“Piye le, munggah ora ?” mbah kakung menyapaku, menanyakan apakah aku naik kelas atau tidak. Aku menjawab dengan mengangkat pundakku agak tinggi.
“Siapa nama wali kelasmu ?”
“Bu Sri Mulyani, mbah.”
“Sopo sing juara kelas saiki ?”
“Mungkin sama dengan semester kemaren, mbah. Iswatun Hasanah namanya.”
“Cah ngendi. Darimana dia ?”
“Katanya sih dari sebelah selatan kelurahan Plawikan ini.”

Tidak lama berselang. Tiba-tiba beberapa suara TOA di atas ruang Kepala Sekolah, kantin dan ruang tunggu memotong pembicaraanku, “Perhatian, bagi orang tua atau wali murid yang sudah hadir di sekolah mohon bisa segera masuk ruang kelas sesuai dengan kelas putra/putri Bapak Ibu. Sekian. TerImaksih.” Pengumuman itu sampai diujung halaman sekolah.
“Dimana kelasmu, le ?”
“Di sana mbah.” Aku menunjuk sambil mengantarkan mbah kakung sampai masuk kelas I-B.
“Duduk di depan aja mbah, biar cepat dipanggil.” Aku mencarikan tempat duduk untuk mbah kakung di bangku paling depan.
“Wis, tak tinggal yo mbah.”
“Yo. Jangan jauh-jauh.”
“Iya mbah, aku di depan sekolah aja.”

— *** —

Persis di depan sekolahku, berdiri gedung SD Negeri dimana Ani, Yayuk dan Dion bersekolah. Aku mondar-mandir, clingak-clinguk. Mencari keberadaan mereka bertiga. Hari ini SD-nya juga mengadakan perhelatan akbar, perpisahan kelas VI dan pengambilan Ijazah. Ani, Yayuk dan Dion berhasil lulus Ujian Nasional. Rencananya mereka bertiga melanjutkan ke SMP Negeri dimana aku sekolah. Dan sejak kemaren, SMP Negeriku sudah mulai membuka pendaftaran murid baru.

Sudah sepuluhmenit aku mencari keberadaan mereka bertiga di halaman SD Negeri, bahkan masuk melewati kelas-kelas yang sudah sesak oleh para orang tua murid. Panggung yang dihiasi dengan kertas warna-warni menyemarakkan suasana pentas seni dalam rangka perpisahan kelas VI SD.

Setelah lelah menyusuri koridor SD, akupun bergegas kembali ke menemui mbah kakung di kelasku. Sampai di depan gerbang SD, Yayuk memanggilku dari pintu sekolah sebelah utara. “Ek ! Dari mana ?”

Aku menoleh kekiri, dan melihat Yayuk bersama Ibunya memasuki gerbang sekolah sebelah utara. Aku menghampirinya, bersalaman dan mencium tangan Ibunya. Aku berbisik di dekat telinga Yayuk. “Jadi nggak mendaftar di SMP Negeri ?” Yayuk menoleh ke muka Ibunya. “Bu, nanti jadi khan ?” Ibunya mengangguk, senyum. “Yess.. !” Yayuk mengepalkan tangannya dan mendorongnya ke bawah. Aku masih bingung maksud mereka berdua.

“Ek … ada acara apa di sekolahmu ?”
“Ambil raport.”
“Ada merahnya nggak ?”
“Mbah kakung lagi ada di kelas, tunggu giliran dipanggil !”
“Semoga naik kelas ya ?”
“Terimakasih.”
Nggak lama, diatas panggung, MC memulai acara pentas seni dan mengumumkan kepada semua orang tua murid kelas VI menempati kursi yang sudah disediakan. Aku pun bergegas pamit kembali ke sekolah.
“Aku balik ke sekolah ya ?”
“Ya. Ek. ?” Jawab Yayuk. Ibunya hanya senyum aja.
Aku sedikit berlari dan masuk ke halaman SMP. Beberapa orang tua murid sudah selesai mengambil raport. Ketika aku melewati ruang pendaftaran murid baru, Dion dan Ani sedang berdiri. Ibunya Dion dan Ibunya Ani sibuk mengisi formulir pendaftaran.
“Sudah ada disini tho ?” Dion dan Ani senyum-senyum saja.
“Darimana ek ! Mbah Harjo kemana ?” tegur Dion.
“Dicari di SD malah sudah ada disini ?” sambil mengatur nafas, aku menjawab “Mbahku lagi ada di kelas, ambil raport !”
“Kita berdua sudah ambil Ijazah dua hari lalu !. Baru sekarang bisa daftar di sini.” Kata Dion, menjelaskan.
“Testnya hari Senin besok !” Kata Ani.
“Oooo …” aku nggak pernah baca mading.
“Yo, wis sana. Mbah Harjo nanti pulang duluan lho ?” dion mengusir.
“Iya. Iya !” sambil bergegas lari ke ruang kelas ku.

Aku langsung aja masuk ke kelas. Masih banyak orang tua murid menunggu giliran dipanggil. Aku duduk di bangku depan yang sudah kosong. Aku menoleh ke samping kanan, kiri dan ke belakang. “Dimana mbah kakung ?” Dadaku meletus-letus. Aku berusaha menguasai keadaan dengan senyum yang kubuat semanis-manisnya. Beberapa orang tua murid melihatku dengan senyum yang aneh. Aku memberanikan diri menanyakan keberadaan mbah kakung kepada orang tua murid yang sejak awal aku masuk ruangan, dia terus memasang senyum padaku.

“Maaf pak, mbah kakung saya dimana ya ?”
“Mbah Harjo, Pak bayan ?” orang itu menegaskan nama mbahku.
“Iya. Iya pak ?” Aku masih belum sempurna menguasai dadaku.
“Bapak kenal Pak Bayan ?” aku bertanya.
“Semua orang tua murid disini, kenal baik dengan Pak Bayan.” Aku mende-ngarnya heran. “Kamu cucunya ya ?” orangtua itu kembali bertanya.
“Iya. Iya Pak ? Saya anak pertama dari Pak Haryanto ?”
“Oooo … kamu anaknya mas Yanto, tho ?” Aku tambah heran. “Dulu, saya teman mainnya Bapakmu. Salam dari Pak Naryo buat Bapakmu ya ?
“Iya. Iya Pak ?” Aku merasa sudah mampu menguasai keadaan.
“Tapi, sekarang Bapak saya ada di Bekasi Pak ?”
“Sejak muda, Bapakmu sudah merantau. Saya sempat mau diajak ke Tanjung Pinang, ikut Bapakmu ?” Aku menyimak dengan baik.
“Sekarang Bapak ada di Bekasi ?” aku mengangguk. “Kalo Bapakmu pulang kesini, suruh Bapakmu main ke rumah Pak Naryo ya ? Siapa namamu ?”
“Iya pak. Nama saya Eko pak.”
“Anak Bapak namanya Hasan. Kamu kenal khan ?”
“Sangat kenal pak. Saya juga akrab sama Hasan.” Sekarang aku tahu dia ter-nyata Bapaknya Hasan.
“Besok liburan main ke rumah Hasan ya ?”
“Iya pak Naryo. Ngomong-ngomong Mbah Harjo sudah lama keluar Pak ?”
“Sudah lima belas menit yang lalu !. Karena beliau sesepuh di sekolah ini, Ibu wali kelas tadi memanggilnya diurutan pertama ?”
“Iya pak. Kalo begitu saya pulang saja pak ?”
“Yo wis, ngati-ati.”
“Nggih pak. Terimakasih.” Aku berdiri meninggalkan pak Naryo.

Keluar dari ruang kelas, pikiranku kembali mengamuk. Palu berkali-kali memukul kepalaku. Wajah mbah kakung, yang orang bilang angker itu, Pak Naryo dan Hasan melintas berganti-ganti di dalam batok kepalaku. Aku berjalan sangat cepat. Pikiranku tidak lagi di sekolah. Mbah kakung pasti cari-cari aku tadi. Mbah kakung pasti marah. “Tapi seingatku mbah kakung tidak pernah marah padaku !” Aku berusaha menenangkan diri. Aku berjalan mengikuti banyang-bayang wajah mbah kakung.

— *** —

Aku pulang jalan kaki. Jarak dari sekolah ke rumah tidaklah jauh, kira-kira 500 meteran lah. Bisa lebih kalo menghitungnya akurat. Aku selalu jalan kaki, pulang pergi ke sekolah. Sementara mbah kakung selalu mengendarai sepeda lanang ke tempat kerjanya sebagai Kebayan Desa. Sepeda mbah kakung sangat kokoh dan enak dikendarai. Meski kakiku belum sempurna menginjak seluruh pedal sepeda yang tinggi jika duduk di sedel, aku bisa melarikan sepeda mbah kakung sangat cepat. Aku terus berjalan mengikuti baying-bayang wajah mbah kakung dikepalaku.

Sampai dihalaman rumah. Mbah putri duduk-duduk di teras masjid, sambil merajut benang woll. Mungkin, mbah putri sudah melihatku melenggang sendirian. Ketika aku melewatinya beliau menghentikan langkahku dan langsung bertanya, “Pulangya nggak sama mbah kakung ?”
“Mbah kakung pulang duluan !” Aku mengatur nafas, “Mbah kakung kemana ya mbah ?” Aku pertanya.
“Yo, mboh. Tidak tahu ?
“Apa mbah kakung ke kantor Desa ?”
“Mbah nggak tahu, le.”
“Biasanya kemana mbah kakung ?. Khan tiap hari Sabtu pegawai negeri libur ?”
“Ya. Mungkin lagi jalan-jalan ?”
“Jalan-jalan kemana mbah ?” Aku terus bertanya.
“Ya. Jalan-jalan kemana-mana ?.” Jawaban mbah putri semakin lama kedengarannya bercanda.
“Mbah kakung tadi sudah pulang apa belum, ya mbah ?”
“Lho, tadi khan sama-sama kamu berangkatnya ?”
“Ya. Itu. Tadi mbah kakung pulang duluan nggak bilang-bilang.”
“Mbah kakung pulang duluan ?” Mbah putri, heran. “Mbah kakung pulang duluan, apa kamu yang duluan tinggalin mbah kakung ?” Mbah putri bercanda lagi. Sekarang gantian aku yang penasaran. Apa mbah putri tahu kejadian di sekolah tadi ?.

Pembagian raport semester pertama lalu, kejadiannya persis seperti sekarang. Tapi, waktu itu aku pamit pergi ke warung untuk sarapan. Mungkin aku kelamaan berada di warung bersama teman-teman. “Cul” mbah kakung sudah menghilang dari sekolah. Sesampai dirumah, raportku sudah ada dimejanya lengkap dengan tandatangan wali murid.
“Aku salin baju dulu mbah.”
“Yo, wis kono, makanannya ada di dapur !” Mbah putri menyuruhku makan, namun waktunya belum pas untuk makan siang.
“Iya, mbah !”.

Aku lari masuk rumah dan langsung menuju kamar mengambil pakaian ganti. Setelah mengambil kaos putih dan celana pendek hijau dari lemari pakaian, aku cepat-cepat ke kamar mandi. Tak sengaja mataku mampir di meja mbah kakung. Aku melihat buku tipis bersampul plastik berwarna biru langit. Aku langsung menyambar dan membukanya. “Alhamdulillah !” Perasaanku bangga, “nilai-nilai dalam raportku tidak ada merahnya ?”
Bekasi, 12 Februaaari 2009.


Baca selengkapnya……

MEMETIK PENGALAMAN

Oleh. Purwalodra

“Ek, cepat cari jalan !. Kata teman-teman, ada Polsus Tebu di dekat sekolah !”
“Aku nggak lihat ada polsus tadi ?” Aku memasukkan beberapa ekor jangkrik ke dalam plastik bening.
“Buktinya Dion nggak berani masuk kebun tebu !”
“Dia memang takut ular !”
“Memangnya kamu berani sama ular ?”
“Bukannya nggak berani !. Aku malu aja ?”
“Ek, jangan bercanda !” Nanto mulai kuatir.
“Aku malu sama ular, karena dia siang malam dikebun tebu, sendiriiii aja, nggak takut. Masak kita siang-sing begini takut ?”
“Jangan bercanda dech !”
“Siapa yang bercanda ?” Aku terus menangkap jangkrik-jangkrik di sela-sela batang tebu yang hampir rembang, dipanen. Batang-batang tebu ini besar-besar berwarna merah kehitaman. Tingginya dua kali orang dewasa. Bahkan bisa tiga kali jika dipucuk tebu ada glagah, kembang tebu.
“Ek, buruan keluar didekat sekolah ada polsus !” Hasan berlari keluar bersama tiga teman-teman lainnya.
“Tuh, khan ! Ayo kita keluar cepaaaat !” Nanto semakin kuatir. Aku tetap saja tak bergeming dengan jangkrik-jangkrik besar yang menawan.
“Baru dapet tujuh, To ?” Nanto tidak mendengar apa yang kukatakan.
“Sudaaah, sudah banyak !”
“Belum !”
Tidak begitu lama, Hasan dan teman-temannya yang semula berniat keluar dari kebun tebu, kembali masuk ke dalam.
“San, Hasan ! Kenapa balik lagi kedalam !” Nanto menegur Hasan dan teman-temannya yang sudah bertambah empat orang, nafas mereka naik turun.
“Kita nggak berani keluar ! polsus ada di dekat sekolahan !”
“Trus, kamu mau ke mana !” Nanto bertanya.
“Kita mau lewat jalan raya saja !” Hasan dan teman-temannya terus berjalan sangat cepat kearah selatan. Sementara aku asik membongkar semak-semak tebu.
“Huuuuh !” Nanto kesal bukan main.
“Kenapa kamu nggak keluar sama Hasan, saJa !”
“Kita khan tadi masuknya bareng. Masa aku keluar sama Hasan !”
“Kamu memang ajudan yang baik ? He … he … he ?. Ini pegang jangkriknya !” Nanto menerima plastik berisi jangkrik-jankrik yang sudah lebih dari sepuluh.
“Ayooo eeeek, buruuuaaan. Polsus itu pasti menangkap kitaaaa !” Nanto kesal.
“Ya. Iya, keluar lewat mana kita !” Aku memenuhi permintaan Nanto yang sudah tidak sabaran.
“To. Kalo kita keluar lewat utara, kita ketemu kali. Sebelah selatan ketemu jalan raya, pasti disana banyak orang. Polsus-polsus itu ada disitu !” Aku mulai berstrategi.
“Buktinya, Hasan nggak balik lagi ke dalam, mereka lewat selatan tadi. Berarti mereka sudah bisa keluar dengan selamat ?”
“Mungkin saja Hasan dan kawan-kawan sudah ditangkap polsus ?”
“Jadi, gimanaaaa, eeeeek !” Ketakunan Nanto berkembang biak.
“Nggak ada jalan lain. Kita ke barat saja, langsung ke sekolah !”
“Ngawuuur kamu ek ! Sudah jelas ada polsus di sekolah, kok malah lewat situ !
“Jadi, gimanaaaa, Tooooo ? “ Aku bercanda beneran.
“Ya, Ada jalan ?. Kita kesana ?” Nanto menunjuk ke arah timur.
“Memangnya kita mau pulang ?”
“Habis, gimana lagi !. Kalo ke Barat, kita pasti ditangkap Polsus Tebu. Aku nggak mau dijemur dilapangan sekolah, gara-gara mencuri tebu !” Nanto kuatir lagi.
“Eh… To, memangnya kita mencuri tebu ?”
“Biarpun kita nggak nyuri tebu, kita sekarang ada di kebun tebu !”
“Memangnya jangkrik-jangkrik ini nggak cukup bukti. Kita tidak mencuri tebu ?” Aku berargumen.
“Sekarang. Gimana caranya kita bisa keluar dari kebun tebu ini. Titik !” Nanto makin takut aja.
“Ya. Kita balik aja ke sekolah ?” jawabku enteng.
“Kalo kita ketangkap Polsus Tebu, gimana ?”
“Biar saja, kita nggak nyuri tebu kok ?”
“Biar nggak nyuri, kita pasti dituduh mencuri, tau !”
“Kalo kita dituduh mencuri tebu, memangnya kenapa ?”
“Kita ditangkap. Diserahin ke polisi. Trus di penjara. Mau ?”
“Nggak ah, aku nggak mau dipenjara.”
“Nah !, kalo begitu, kita jangan sampai ketangkap Polsus ?”
“Ya. Kita jalan pelan-pelan aja ke Barat, semoga Polsusnya nggak lihat kita ?”
“Itu sih, Ulo marani pentung. Bunuh diri namannya !” Nanto tambah cemas.
“Iya. Trus gimana ? Apa jangkrik-jangkrik ini kita lepas aja disini ?”
“Aduh ! kok tolol amat sih kamu !. Jangkrik-jangkrik ini khan sebagai bukti kalo kita dtangkap polsus !” Kata Nanto tambah kesel. Sebenarnya yang tolol dia apa aku ?
“Ya. Begini saja. Biar aja kita ditangkap polsus itu, kita khan bawa jangkrik-jangkrik ini sebagai bukti ?”
“Aduh, kenapa sih kamu dari dulu nggak pernah merasa berdosa ?”
“Kenapa harus merasa berdosa ? Harusnya kita merasa punya pahala ?” Aku menerangkan sekenanya.
“To, kata om ku, kalo kita merasa punya pahala kita nggak dihantui dosa. Kalo merasa berdosa, pasti dalam pikirannya cuma bagaimana ngilangin dosa, dosa, dosa !” Nanto makin nggak ngerti. “akhirnya, tau nggak To. Orang seperti kamu yang takut ama dosa, malah nambahin tabungan dosa.”
“Ek, kamu bukan ustadz. Kita pencuri tebu disini sekarang.” Nanto terus mempertegas statusnya.
“Bukan ! Aku pencari jangkrik disini, sekarang ?”
“Pokoknya, aku sekarang mau kearah timur aja !” Nanto mempertegas tekadnya.
“Ingat, ya To. Waktu istirahat kita cuma tinggal 15 menit lagi ?”
“Biar saja. Dari pada ketangkap Polsus !”
“Ya. Sudah. Aku mau keluar lewat sini aja. Lebih dekat. Lebih aman ?”
“Ek. Tunggu. Kamu nggak takut ditangkap polsus ?
“Ya. Takut juga. Tapi gimana lagi ? Sebentar lagi pasti bel berbunyi ?”

Kemudian aku berjalan cepat-cepat, keluar dari kebun tebu yang luas. Sementara Nanto mengurungkan niatnya keluar dari arah timur dan mengikutiku dari belakang. Semakin cepat aku melangkah, Nanto semakin tertinggal jauh. Beberapa meter sebelum keluar dari kebun tebu, aku lari sekencang-kencangnya dan berteriak, “Ada polsuuusss, ada polsuuuusss, ada polsuuuusss !” Nanto yang kaget bukan kepalang, berusaha mengejarku sekuat tenaganya. “Kroooaassaaaaaakkk, byyyuuuuurr !” Nanto terjerembab, masuk ke dalam selokan air.

— *** —

Bel jam terakhir sekolah, baru saja dimulai. Teman-teman yang baru datang dari ruang Guru memberitahukan bahwa pelajaran Bu Mulyani kosong. Untuk mengisi waktu, kita disuruh mencatat buku paket di papan tulis. Seperti biasa, murid terpandai di kelasku bertugas mencatat di papan tulis. Sementara teman-teman yang lain ngobrol sendiri-sendiri.
Bu Mulyani adalah Guru fisika. Beliau sangat baik dan tlaten memahamkan teori-teori fisika kepada murid-muridnya. Jarang marah tapi tegas. Setiap murid yang tidak mengerjakan Pe-eP. Hukumannya berdiri di depan kelas, sambil mengerjakan tugas. Perilakunya santun dan mengerikan. Bu Mulyani paling disegani di kelasku.

Bulan kemaren adalah hari sialku dengan Bu Mulyani. Setiap Rabu, pelajaran Fisika ada di jam pertama dan kedua. Bu Mulyani tidak pernah tidak memberikan Pe-eR. Hari itu aku sama sekali belum menyelesaikan Pe-eR, lantaran pada Selasa malam, Putut dan Nanto tidak datang ke rumah, Mengerjakan Pe-eR bersama. Dan aku sempat ribut malam itu dengan mereka berdua, gara-gara mereka merebut perhatian perempuan yang selama ini kusenangi. Ngobrol sampai jam 09.00 malam dengan Ani dan Yayuk di ‘buk’ jembatan kecil di samping Masjid. Sementara, aku menunggu mereka sampai garing, di pendopo rumah.

Biasanya, alternatif terakhir, ada ditangan Iswatun. Anak yang dianggap paling pinter di seluruh kelas. Iswatun sendiri tidak keberatan kalo aku yang ‘nurun‘ mencontek Pe-eR nya. Bagi Iswatun, PR hanya melatih kita rajin belajar, itu saja. “Tohk, belum tentu benar jawabannya.” kata Iswatun, tanpa beban. Tapi, seingatku, Pe-eR yang dia kerjakan seratus persen selalu benar.

Tapi, entah kenapa, sampai bel berbunyi, Iswatun belum juga ada di kelas. Perasaan cemas sudah mengaduk-aduk fikiranku, meskipun Bu Mulyani belum masuk kelas. Nggak lama, Siti Badriah duduk persis didepanku.

“Ti, Pe-Er Bu Mulyani sudah selesai belum ?” Aku menyapa dengan lembut.
“Sudah.” Jawabnya ringan.
“Aku belum, Sit ?. Semalam ada peringatan Maulid Nabi di masjid ?” aku berbohong.
“Ya. Ini.” Siti memberikan buku PR nya, dengan sangat dingin.
“Terimakasih, ya, Ti ?. Kamu memang teman yang baik ?” Aku memujinya.
“Eh … Iya Ti, Iswatun kemana ya ? Kok belum datang juga !”
“Tadi dia titip surat. Nggak bisa sekolah. Sakit !”
“Sakit apa ?
“Nggak tahu !”
“Sekarang suratnya mana ?”
“Tuh, ada di meja Guru !”

Belum sempat aku mencatat buku Pe-Er Siti badriah, Bu Mulyani sudah berdiri di depan kelas dan memimpin do’a bersama.

“Anak-anak, keluarkan PR nya di atas meja kalian !” Mendengar perintah Bu Mulyani, dadaku meletus, sekali.
“Ayo, Eko maju ke depan, kerjakan Pe-Er nomor satu !”
“Mati aku !” Dadaku meletus tiga kali. “Ti, aku pinjam dulu ya bukumu !” aku berbisik gemetar.
“Jangaaan eeek ! Nanti ketahuuuaaan !” Siti cemas luar biasa.
“Sebentaaaaar aja. Tolloooong, sebenntaaar aja ?” Aku memohon belas kasihan Siti.
“Tapi jangan sampai ketahuan. Ya !” bisiknya sangaaaat lirih.
“Iya. Iya. Beres Ti ?” aku menenangkannya.
“Ayo cepat. Eko !
“Ya. Baik bu !” Aku bergegas ke papan tulis.

Sementara, aku menulis Pe-eR nomor satu, Bu Mulyani keliling dari bangku ke bangku. Memeriksa Pe-eR teman-teman. Belum selesai aku mencatat Pe-Er di papan tulis. Bu Mulyani teriak nyaring sekali.

“Ekkoooo …. Jangan dilanjutkan !” Dadaku meletus berkali-kali. “Berikan buku itu pada Siti. Biar Siti yang melanjutkan !”
“Baik Bu ?” Aku berusaha menguasai dadaku yang sudah mengeluarkan lahar dingin. Siti maju kedepan, melanjutkan apa yang telah kutulis di papan tulis.
“Sekarang, ambil bukumu dan catat !”
“Berdiri Bu ?”
“Ya. Berdiri ! Dibawah tiang bendera, sana !”
“Di bawah tiang bendera ?” Aku nggak yakin, Bu Mulyani sekejam ini.
“Ya. Masa Ibu bohong. Bawa buku Pe-Er mu dan catat apa yang kamu lihat di sekitar tiang bendera. Disana !. Ayo cepaaaat !” Teman-teman sekelas terbahak-bahak. Mendengar gemuruh letusan dalam dadaku.

Bekasi, 5 Januari 2009.


Baca selengkapnya……

SERPIHAN PERJALANAN

Oleh. Purwalodra

“Buuud ! Budiiii ! Awas kamu !” aku berteriak-teriak dari atas tanggul kali ‘dung’dung’.
“Ha … ha … ha. Hi … hi … hi …. ?” Budi kegirangan.
“Hei … Bud ! nggak punya otak kamu, ya !”
“Gitu aja kok takut ?”
“Itu ular beneran taaauuu !
“Siapa bilang ular bohongan ? Ha … ha … ha. Hi … hi … hi …. ?” Budi terus menertawaiku. Aku sudah marah besar, sejak dia tinggalkan aku di tengah sawah.
“Cah … edaaaaaan !” Aku terus mengomel.

Budi, telah memasukkan ular sawah ke dalam karung, yang sudah penuh berisi rumput. Bukan baru sekali ini, Budi berbuat seperti itu. Beberapa waktu lalu, ular lareangon dan anak ular air, sengaja dimasukkan dalam Karung goniku. Kadang-kadang ular itu ter-bawa sampai ke kandang kelinci. Bahkan, aku baru tahu ada ular di situ, ketika rumput-rumput itu habis dimakan kelinci-kelinciku.

Budi sangat berani dengan yang mana daripada ‘ular !’. Ular apa saja. Yang ada di sawah bahkan di kebun tebu. Ilmunya menangkap ular dan kebal terhadap gigitan ular lantaran mbah Slamet, seorang pawang ular di kampungku. Sebenarnya aku sama-sama berguru dengan mbah Slamet. Tapi aku paling takut dan jijik dengan yang namanya ular. Ular apapun itu.

Ketika ujian kenaikan tingkat, mbah Slamet memerintahkan aku dan Budi untuk mencari ular sendok dan ular weling. Mbah Slamet menginginkan aku dan Budi membawa ke rumahnya dalam keadaan hidup. Hampir seminggu aku dan Budi berburu ular. Urusan tangkap menangkap dan bongkar-membongkar sarang ular itu tugas Budi. Sementara, aku hanya bertugas membawakan karung, tempat ular-ular itu disimpan.

Kalau bukan mbah Slamet yang menyuruhku, pasti tidak pernah kujalani, mencari ular begini. Mbah Slamet sering bilang, aku dan Budi sudah kebal digigit ular, jadi ular apa saja yang menggigitku, ‘racun’nya tidak akan bereaksi dalam tubuhku. Tetapi aku tetap tidak yakin. Sehingga sampai hari ini aku paling takut dengan yang mana daripada ‘ular !’
“Itu berbahaya !. Kalo aku mati, kau mau tanggungjawab !”
“Kamu khan mati digigit ular ? bukan aku yang menggigitmu ? Ha … ha … ha. Hi … hi … hi …. ?”
“Bener-bener nggak punya otak !” Dari atas tanggul, aku langsung menceburkan tubu-hku tanpa melepas pakaian, ke dalam kali ‘dung-dung’, tepat di tubuh Budi yang sedang menertawaiku.
“Bbbyyuuur !”
“Aduh ! Aduhuuuh. Saakiiiiit !” Budi berteriak kesakitan.
“Syuukuuuuriiiiin. Ha … ha … ha. Hi … hi … hi …. ?” Aku gantian menertawainya.
“Adduuuuh. Pundakku ! Ngiluuuu !”
“Ha … ha … ha. Hi … hi … hi …. ?” Aku terus tertawa kegirangan. Dendamku terbalaskan.
Dengan tetap memasang kuda-kuda diatas air, aku siap menerima serangan balasan dari Budi. Budi menyelam beberapa detik. Aku tetap waspada. Dia pasti akan menyerangku dari dalam air. “Gawat !” Dia berusaha membuka celana pendekku dari dalam air. Aku berusaha melawannya. Terjadi pergumulan sengit antara aku dengan Budi.
“Kenaaaaaaa ?” Budi memenangkan pergumulan itu.
“Heeeiiii, awas ya !. Kembalikan celanaku !” Aku mengejarnya dengan gaya bebas tidak beraturan.
“Ha … ha … ha. Hi … hi … hi …. ?. Nggak bisaaaa ? Kejar aku kalo berani ?” Budi terus berenang dan mendekati anak-anak perempuan yang juga sedang mandi di kali.
“Kembalikan celanaku. Buuud !”
“Nggak bisa ! Kejar aku dulu ?” Budi terus menantangku.
“Heeeiiii … Nggak punya ottaaaak !” Aku terus berteriak sekeras-kerasnya.
“Ha … ha … ha. Hi … hi … hi ….. Kira-kira gimana ya ? Kalo celana ini kulempar ke sana ?” Budi membuatku tidak berdaya.
“Hei ! Budi !. Jangan main-main deeech. Aku serius ! Jangan. Jangan dilempar ke anak-anak itu. Tolong. Tolong dech Bud !. Jangan. Jangan dilempar, kembalikan celanaku Bud !” Aku tak berdaya.
“Iya. Iya dech, tapi janji ya ?”
“Iya. Iya. Aku harus janji. Apa !” Aku pasrah.
“Begini ? Kamu jangan marah ya ?
“Ayoo cepat! aku harus janji apa !” Aku sudah tidak sabar mendapatkan kembali celanaku.
“Kamu jangan marah ya ?”
“Iya. Aku sudah tidak marah kok !”
“Jangan marah ya ?”
“Ayo cepaaaat ! Aku harus janji apa lagi ?”
“Begini ?”
“Begini, apa ?” aku tidak sabar dan penasaran.
“Bagaimana kaloooo, Begginniiiiiiiiiiiiiiii ?” Dengan sangat cepat, Budi melemparkan celanaku ke kerumunan anak-anak perempuan di sudut selatan kali ‘dung-dung’, sambil berenang menjauhiku. Kontan saja anak-anak perempuan itupun histeris.
“Dasar gembluuuung ! nggak punya ottaaaaak ! ” aku berteriak sekenanya dan sejadi-jadinya. Sempurnalah ketidakberdayaanku. Celanaku mendarat, persis dikepala salah satu anak perempuan itu.

— *** —

Sore ini, matahari masih setinggi Merapi. Kelelahanku mencari rumput dan mandi di kali ‘dung-dung’ dengan Budi, masih menyisakan kekesalan. Kelelahanku menyiapkan pras-manan bagi kelinci-kelinciku yang manis, masih kelihatan menyenangkan. Setelah mem-bilas badan dengan sabun dan berpakaian rapi, aku ‘show of force’ berjalan ke luar. “Mungkin ada teman-teman yang masih bisa kuajak bercanda, sambil menunggu magrib.” Pikirku dalam hati.
Lima belas menit berlalu. Belum ada seorang pun yang berani mendekat dan menan-tangku. Pikiranku yang masih dalam genggaman, tiba-tiba lepas dan terbang sampai puncak merapi. Di langit yang biru aku menggambar wajahmu.

“Seingatku !” Tak ada yang menarik pada dirimu. Dari ujung rambut yang jatuh sebahu, sampai ujung kuku jempolmu, biasa-biasa saja. Pakaianmu yang sederhana. Wajah tanpa bedak dan gincu, menambah penampilanmu semakin biasa-biasa saja. Langkah kakimu tak pernah dijaga, apa adanya. Kata-kata yang melesat dari ujung bibir tipismu, juga biasa-biasa saja. “Begitulah adanya dirimu.” Dalam pikiranku yang biasa-biasa saja.
Perem¬puan tanggung, ‘made in’ kampung, Lugu dan banyak diam. Matanya hitam bulat dan kulit tanpa sisik, menambah perbendaharaan tentang dirimu yang biasa-biasa saja itu. Tapi entah kenapa, gambar wajahmu dilangit yang biru. Tidak lagi biasa-biasa saja. Sore itu, kamu lewat di samping rumah mbah kakung dengan terburu-buru. Dan entah bagaimana aku bisa-bisanya menggoda. “Ehem …ehemm ?” Kamu menatap wajahku dengan senyum yang tidak biasanya.

Setelah kamu berlalu. Aku cuma bisa melihat punggungmu. Aku terpahat di rambut hi-tammu. Sebelum ujung jalan itu sempurna menelanmu, langkah kakimu melambat menghentikan ruang dan waktu. Gambar wajahmu yang terlihat biasa-biasa itu ke-mudian menyambar perhatianku. “Ada pelangi !”
Tanpa aba-aba, angin dan burung-burung prenjak serentak menyanyikan laskar cinta. Berbaris dan menari seperti group musik ‘Dewa’. Bergantung di dahan kering. Di ranting pohon mangga. Di lubang-lubang dinding. Di atap rumah tua. Hatiku bergemuruh di pun-cak merapi.
“Ada pelangi. Ada pelangi !”
“Ada pelangi dibelakang rumah ?” Lamunanku tumpah memenuhi persepsiku tentang dirimu yang biasa-biasa saja itu.
“Ada matahari hanyut di parit-parit pematang sawah.”
“Ada Batari dikampungku sekarang ?”
“Ada senyum manis tertinggal disana, didasar jiwa yang belum pernah bisa kumengerti maknanya.”
“Ada damai disini !” Pikirku.
“Ya, ada ANI di sini sekarang.” Fikiranku terbang sendiri di atas merapi.

— *** —

Sore ini, aku duduk menunggu bedug magrib di bibir ‘buk’, jembatan kecil yang membe-lah kali dekat masjid. Dan dari sudut-sudut kesepianku saat ini, perasaan rindu pada orang tua dan adik-adik yang berada di Bekasi sering lahir tanpa sebab. Perasaan inipun sering segera pergi bersamaan dengan kehadiran teman-temanku Dion, Putut, Nanto, Budi dan Dodo. Mereka, teman-temanku, yang mengisi hari-hari ceriaku. Tapi, bukan main sepinya sekarang, ketika semilir angin kebun tebu merambah jalan aspal dan menerjang tubuhku dengan lembut.

Persis didepanku, jalan aspal yang dilewati mobil-mobil pengangkut hasil bumi dari desa Basin dan Nglarang. Sepi tidak ada yang lalu lalang. Sesekali ada orang bersepeda melintas, entah darimana. Sekali-sekali juga ada motor melintas, juga entah dari mana. Pejalan kaki, sore ini jarang melintas. Yang melintas di fikiranku hanya raut wajah te-man-temanku. Tinggal dalam perhentian ruang dan waktu. Pertama-tama yang terlintas dalam benakku adalah Dion.

Sekarang Dion sudah kelas VI SD, satu sekolah dengan Ani. Aku menjadi murid Kelas I SMP yang lokasinya hanya beberapa meter dari sekolah mereka. Sementara Putut dan Nanto, kakak beradik, satu sekolah denganku cuma beda kelas saja. Dan Budi yang se-jak kelas III SD tidak lagi menikmati bangku sekolah, lantaran orangtuanya tidak lagi sanggup membiayai sekolahnya. Kedua orangtua Budi juga sudah tidak lagi bersatu alias cerai. Setiap harinya Budi membantu tetangganya beternak ayam ras.

Dion yang beda satu kelas di bawahku, tidak pernah banyak ngomong. Apa saja yang kuucapkan, meskipun itu bohong, dia dengar saja tanpa protes. Ide, gagasan bahkan perintah apapun dariku tidak pernah tidak didengarkan, dan tidak pernah tidak dilak-sanakan. Perilakunya membuatku suka padanya. Bisa saja aku berniat jahat untuk seke-dar melampiaskan kepuasanku, namun menjadi tidak penting lagi ketika perasaan ke-manusiaanku mendominasi keinginanku, untuk mencari kenikmatan sesaat yang bakal kumiliki.

Biasanya, sore-sore begini, sebelum kesepianku membeku di kali, ia tiba-tiba duduk di-bibir ‘buk’ sebelahku. Tanpa sapa dan kata yang terucap, ia memandangi apa yang aku lihat. Padahal akupun tidak melihat apa-apa dengan mata kepalaku yang tetap melotot ini. Ketika aku menoleh kekiri, ia pun menoleh ke kiri. Ke kanan, ia pun melempar pan-dangannya ke kanan. Ke atas, ia pun tidak menyempatkan rasa penasarannya lama-lama, ia pun mendongak ke atas. Sering aku dikejutkan dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Tiba-tiba ada di samping atau dibelakangku. Tidak pernah kutahu dari mana arah kedatangannya. “Cluk !” dia tiba-tiba di dekatku. Tapi, mengapa sekarang dia tidak tiba-tiba berada di dekatku ? Kesepianku semakin memeluk erat tubuhku.

Langit diufuk barat mulai merona, sinar mentari sudah diujung pohon jambu. Aku masih di bibir ‘buk’ kali di depan masjid. Belum ada Dion disini. “Pasti dia datang dengan tiba-tiba.” Pikirku. Jika toh dia tidak datang juga, pasti sebentar lagi Putut dan Nanto datang ke masjid untuk shalat magrib.

Putut dan Nanto, kakak beradik, usianya cuma beda setahun. Mereka satu sekolahan denganku. Putut adalah kakak Nanto. Meski kakak beradik ini sehari-hari terlihat akrab, tapi yang aku tahu dia sering ribut hanya gara-gara masalah sepele. Kita sering bersama main badminton dilapangan milik Pak Guru Sobari. Putut dan Nanto, pasti rebutan raket untuk bisa main duluan. Salah satu dari mereka yang kalah, pergi meninggalkan lapan-gan badminton. Biasanya yang sering kalah dan pergi meninggalkan lapangan adalah kakaknya, Putut. Kalo sudah begini aku cuma bisa diam termangu dan menghentikan permainan. Sementara, Nanto tetap saja memainkan raket bandmintonnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Sembribit angin magrib sudah membisikkan bahwa mentari diujung barat tidak lagi bersinar. Aku tetap saja mematung, duduk menyilangkan kaki kiri dipunggung kaki kananku. Dibibir ‘buk’. Serangga malam sudah bersiap-siap senandungkan lagu kerin-duan. Namun lampu masjid yang dialiri listrik, sumbangan dari pabrik gula, belum juga menyala. Biasanya Dodo bertugas menyalakan listrik di masjid.

Dodo yang sehari-hari secara sukarela membantu menyapu halaman rumah mbah, mengisi bak mandi dan bak air wudhu, dari air sumur dan pompa tangan jaman belanda. Profesi utama Dodo adalah mencari rumput di pematang sawah dan kebun tebu untuk kambing-kambing milik orangtuannya yang gemuk dan sejahtera. Sama seperti Budi, Dodo juga tidak lagi sekolah setelah tamat SD tahun lalu. Ia sering tidur di Masjid depan rumah yang sudah diwaqafkan mbah untuk masyarakat di kampungku. Bersama Budi dan Dodolah aku mengurus rumah tua dan besar serta masjid masyarakat. Setiap malam Jum’at dan hari Jum’at, tidak ada sisa waktu untuk bermain dengan Putut, Nanto, Dion, Yayuk dan Ani. Waktuku habis dilahab oleh rumah tua dan besar itu. Masjid mesti disiram seluruh lantainya untuk Shalat Jum’at.

Kadang-kadang Budi, tapi lebih sering dodo, menemaniku menyabit rumput di pematang sawah. Rumput bagiku sebagai makanan lezat kelinci-kelinci Australi yang kuminta dari Om Harno, suami adik bapakku nomor enam. Sementara Dodo berpersepsi lain, baginya rumput hanya lantaran orang tuanya memelihara kambing. Itu saja. Yang lebih dia sukai, setelah karung goninya penuh dengan rumput, mandi di kali ‘dung-dung’. Lalu dalam perjalanan pulang ia memancing belut dipinggir-pinggir sawah, sambil teriak-teriak ke-senangan.

Kali ‘dung-dung’ adalah kali yang mengalir dari pabrik gula di depan kampungku. Airnya hangat dan bau belerang. Orang-orang yang sering mandi di kali ini mengatakan bahwa kali ini sangat keramat. Selain airnya bisa menyembuhkan semua penyakit kulit, banyak juga yang kemudian kesurupan gara-gara tidak menjaga kesopanan mandi di kali ‘dung-dung’. Masyarakat menamai kali ini sesuai dengan suara yang mereka dengar dari terowongan besar dimana arah kali itu berasal, dung ! … dung ! …. dung ! … dung !… dung !

Soal rumput merumput, Budi adalah sosok manusia yang tidak memiliki banyak ke-pentingan. Baginya, rumput itu bukan apa-apa, bukan siapa-siapa dan begitulah adanya sejak dahulu. Keikhlasannya membantuku mencari rumput tercermin dari kecepatannya memenuhi karung goni dengan berbagai rumput. Namun yang paling jahat menurutku, kadang-kadang Budi menaruh ular sawah atau ular apa saja di dalam karung goniku itu. Dia senang kalo kemudian, aku berteriak, kaget dan takut luar biasa. Dia tertawa terba-hak-bahak, lalu lari meninggalkanku sendiri ditengah sawah. Jika aku mau balas den-dam, aku mesti mampir di kali ‘dung-dung’. Tapi jika tidak, aku langsung pulang dan prasmanan dengan seluruh kelinci peliharaanku.

Tidak terasa, hari sudah mulai magrib, kelelawar beterbangan menyiapkan perbekalan untuk perburuan nanti malam. Teman-teman belum ada yang datang ke masjid. Semen-tara, fikiranku masih bising dengan masa lalu.

Kepindahan ku dari Bekasi ke pinggiran kota kabupaten di Jawa Tengah ini, untuk melan-jutkan pendidikan formalku, selepas sekolah dasar. Kedua orang tuaku dan adik-adik tinggal di Bekasi. Aku, dikampung ini, tinggal bersama kakek dan nenekku yang biasa kusapa mbah kakung dan mbah putri. Bukan soal kebetulan jika sekarang aku tinggal di rumah kedua mbahku di Klaten. Jauh-jauh hari sebelumnya, aku sudah berniat sekolah di kampong. Setiap musim lebaran, aku bersama keluarga besarku menyempatkan berkumpul di rumah tua dan besar ini.

Anak-anak Mbah kakung dan mbah putri semuanya delapan orang, bapakku berada pada urutan nomor satu. Mereka sudah tidak tinggal lagi bersama orang tuanya. Semua mer-antau. Ada di Jakarta, Bekasi, Bandung dan bahkan di kotanya sendiri, Klaten. Jika musim lebaran datang. Semua anak-anak mbah berkumpul bersama di rumah ini. Ka-dang-kadang tidak semua anaknya bisa mudik bersama-sama.

Meski kedua orangtuaku kurang merestui, tapi niatku sudah mengendalikan segalanya sampai di kampung ini. Sekarang aku sudah hampir enam bulan dirumah mbah kakung dan mbah putri. Aku sudah menjadi murid di salah satu SMP negeri milik pemerintah ke-camatan.
“Belum dipukul bedugnya ?” Suara itu memecah keheningan ruang dan waktu.
“Oh …, iya, ya !” Aku terkejut. Suara itu keluar dari bibir tipis Ani, yang sudah mengena-kan ‘Mukena’. Siap untuk Shalat Magrib di masjid.
Sejak senyumnya terdampar di belakang rumah mbah kakung sore itu, Ani bukan lagi perempuan biasa-biasa saja. Mukanya yang bulat dibatasi kain putih Mukena, seperti bu-lan purnama. Sinarnya menembus tulang-tulang rusukku.
“Ayo, nanti mbah Harjo marah lho !” perintahnya padaku.
“Iya, iya !” jawabku.
“Magrib sudah masuk nih,” sambil mununjuk waktu di jam tangannya.
“Biasanya yang pukul bedug Dodo, bukan aku.”
“Tidak apa-apa, yang penting bunyi ?”
“Iya, iya !” aku bergegas mengambil kayu pemukul bedug. Dan memukul sekeras-kerasnya. Ani menutup telinganya sambil meringis manis. Semakin manis Ani mena-tapku, semakin keras pukulanku.
“Heeeeeeiii … !” teriak mbahku melolong sampai ke ujung kampung.
“Weeeeeiis, ojo suweee-suweee !” teriakan susulan mbahku menambah bising suara bedug. Ani sudah lari terbirit-birit masuk ke dalam masjid, sebelum teriakan pertama mbah Harjo, selesai.
“Soppoooo kaaaeeee !”
“Aku mbaaaah !, ekoooo ?.” Jawabanku keras dan menentramkan kemarahannya. Tidak lama mbah kakung keluar dari pintu samping rumah, lengkap dengan sarung dan peci hitam yang agak kemerah-merahan.
“Sesuk meneh, ojo suwe-suwe yo lee … !” suaranya lirih tidak sekeras tadi.
“Nggih mbah.” Aku bergegas masuk rumah mengambil sarung dan wudhu. Tidak lama, suara adzan mbah kakung keluar dari TOA di atap masjid paling tinggi. Suaranya tidak pernah ada di TV-TV. Suara khas mbah Harjo. Tetangga kampung sudah mengenalinya dengan baik. Suaranya melengking tanpa beban. Terdengar ke seluruh kampung bahkan tiga kampung tetangga, pada saat Magrib, Isya’ dan Subuh. Sementara untuk Adzan Dzuhur dan Ashar lebih sering Dodo yang melantunkannya.

Selesai Adzan, mbah kakung melakukan shalat sunat dua rekaat. Kemudian berdiri di depan pintu masjid yang berdampingan dengan ruang wudhu. Seperti provost, ia men-jaga tempat wudhu agar terjaga ketertiban dan ketenangannya. Sudah menjadi kebi-asaan anak-anak remaja tanggung seperti aku, tempat wudhu adalah tempat yang paling asik untuk bercanda ria. Air yang seharusnya untuk membasuh muka, tangan dan kaki. Dibuang-buang untuk membasahi baju, sarung atau peci orang lain. Dengan tergang-gunya tempat wudhu maka shalatnya pun mulur beberapa menit. Alasan inilah yang menjadikan mbah kakung menjadi ‘provost polisi militer’ Masjid Al Mubarok. Kalau sudah seperti ini, tidak ada lagi canda ria di ruang wudhu. Semua berbaris tertib dibelakang orang yang sedang melakukan wudhu. Tidak berebut kran air yang cuma tiga batang itu. Bahkan berbisik-bisik pun akan menjadi bahaya besar jika mbah kakung mendengar. Mbah kakung sering marah jika ada suara di tempat wudhu.

“Ayo cepat-cepat-cepat-cepat !” Suara keras mbah kakung mempercepat gerakan wudhu para jama’ah. Mereka yang antri mulai keluar keringat dingin. Mereka yang sudah selesai wudhu, langsung masuk ke masjid. Tidak ada yang berani berdiri menunggu Iqomah di depan pintu atau di teras majid. Mereka yang masuk ke Masjid pun tidak berani melihat wajah mbah yang angker dan mengerikan itu.

Selesai menjadi provost di tempat wudhu, mbah kakung menepuk kedua telapak tang-gannya. “Plok !” Pertanda Iqomah sudah boleh dilantunkan. Aku clingak-clinguk kira-kira siapa yang mau berdiri melantunkan Iqomah. Budi belum datang, Dodo tidak ada.
Kemudian, mbah kakung menepuk kedua telapan tanggannya yang kedua, “Plok !” para Jama’ah sudah keluar keringat dingin, tidak ada yang berani berdiri. Persepsi mereka, Iqomah Magrib, Isya dan Subuh hanya milik Budi dan Dodo saja.

“Plok !” Kedua telapak tangan mbah kakung berbunyi sangat keras. Pada saat yang ber-samaan, tiga orang Jama’ah berdiri. Lantas duduk kembali. Berdiri lagi. Dan duduk lagi untuk selamanya. Akhirnya, mbak kakung melantunkan sendiri Iqomah Magrib, dengan suara yang memekakkan telinga.

Selesai mengimami Shalat Magrib, mbah kakung langsung berdiri di depan para Jama’ah. Beliau mengemukakan bahwa siapapun bisa melantunkan Iqomah. Tapi lafadz atau ba-caannya harus benar. Budi dan Dodo memang mampu melafadzkan Iqomah dan Adzan. “Mulai besok semuanya harus bisa. Titik !” Mbah kakung menegaskan kepada para Jama’ah.

Bekasi, 11 Februari 2009


Baca selengkapnya……

DASI PAK KARSO

Oleh. Purwalodra

Pak Karso, belum selesai berpikir, dan tidak bakal pernah selesai. Ia tidak bisa tidur, dan tidak akan pernah bisa tidur. Jam dinding, yang tak pernah lagi dilihatnya, setiap saat berdenting keras. Waktunya menunjuk angka berapa saja. Matanya, yang sudah tidak bersih, meradang, menahan kantuk. Berkali-kali, ia menarik nafas panjang. Begitu ia melihat dasi merah hati, ditangannya. Dia pikir, dasi ini yang telah melahirkan banyak peristiwa, mengerikan. Pikirannya, seenaknya saja, keluar masuk di batok kepalanya, berlari dan sulit untuk kembali. Sering sampai dini hari, Ia tidak berani melepas, menggunakan, apalagi membuang dasi, yang selalu ada digenggamannya. Dulu, istrinya, sangat bangga jika suaminya mau mengenakannya. Namun, sekarang ia tinggal bersama teman-temannya, di sebuah kamar besar. Sesuka hatinya.

Dasi merah hati, yang sekarang berada di tangannya, adalah kado istimewa dari atasannya. Pak Karso menerimanya tiga hari sebelum atasnya mati mengenaskan di kamar mandi.

“Karso ? Jaga dasi ini dari apapun dan siapapun !” Atasannya berpesan.
“Untuk apa dasi ini, pak ?”
“Simpan saja dasi ini baik-baik, ya ?
“Untuk apa dasi ini, pak ?” Pak Karso belum mendapat jawaban dari atasanya.
“Kamu akan tahu setelah dasi ini ada tanganmu !”
“Saya takut pak !”
“Tidak perlu takut, asal kamu hati-hati merawat dan menggunakannya.”
“Benar. Sumpah, Pak ! Saya tidak berani !”
“Tidak ada yang perlu ditakutkan, dari dasi ini Pak Karso ?. Justru, ketika Pak Karso tidak mau menerima dasi ini. Pasti ada apa-apa ?” Atasannya sedikit mengancam.
“Saya tidak tahu harus bagaimana, pak !” Pak Karso tambah bingung.
“Tidak harus bagaimana-bagaimana, terima saja, dasi ini sebagai hadiah dari saya. Terimalah ?” Atasannya memberikan lipatan Koran bekas, kepada Pak Karso.

Dengan sangat hati-hati, Pak Karso menyimpan lipatan Koran, berisi dasi, didalam lemari pakaian. Persis dibawah tumpukan pakaian kerjanya. Selama itu, Pak Karso tidak pernah menyentuhnya. Sampai ajal atasanya terenggut di kamar mandi, pada saat jam kantor bubar.

Setelah upacara penguburan jenazah atasannya. Pak Karso bergegas pulang, dan menengok, apa benar, lipatan kertas Koran berisi dasi dari atasannya di dalam lemari pakaian kerjanya, masih ada. Perlahan-lahan, ia membongkar satu demi satu pakaian kerjanya. Pakaian di dalam lemari, dikeluarkan, satu demi satu. Sudah semua pakaian. Seisi lemari, dijamahi satu per satu. Dia, mengulangi, memilah-milah, menyusunnya kembali. Ia membongkar lagi, lagi, dan lagi. Pak Karso baru sadar ketika seluruh isi lemarinya, berantakan tidak tersusun lagi. Lipatan koran, dari atasannya, tidak ditemukan. Dasi itu hilang di lemari pakaian. Ia panik dan menggigil ketakutan.

“Inaaaa…. ! Inaaaa !” Pak Karso memanggil anaknya pertamanya. Dialah satu-satunya yang setiap hari, berada dirumah. Istrinya, bekerja sebagai guru madratsah negeri dibelakang kantor kecamatan. Istrinya baru sampai rumah, menjelang magrib. Anak keduanya masih di bangku SMK Otomotif.

“Jokoooo … ! kooooo !” Pak Karso memanggil anaknya yang kedua, dan juga tak ada jawaban. Ia sangat kalut dan takut luar biasa.

Mungkin gara-gara dasi itu raib dari lemari pakaiannya, maka atasannya mati mengenaskan. Pikirannya semakin tidak terkendali. Aku telah membunuhnya !. Aku mengkhianati pesannya !. Dasi itu menghilang. Lantas, atasannya mati dikamar mandi. “Aku yang salah ! Ya. Aku pasti salah !” Pak Karso terbelenggu rasa bersalah.


Pak Karso, hanya mondar-mandir di depan rumah. Ia menanyakan keberadaan anak-anak dan istrinya, kepada tetangga depan dan tetangga belakang. Perasaannya makin bingung, gelisah. para tetangganya tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Pikirannya berkali-kali dihujam kekuatiran yang dalam, jangan-jangan keselamatan Istri dan anak-anakku terancam !.

Para tetangga yang dimintai jawaban atas keberadaan anak-anak dan istri Pak Karso pun, menjadi terheran-heran. Sikap dan Perilakunya tidak seperti biasanya. Para tetangganya yang perduli dengan tingkah Pak Karso, kemudian menegur pak Karso agar biasa-biasa saja. Tokh, kemaren-kemaren, jam-jam seperti ini, anak-anak dan istrinya, memang belum ada di rumah.

“Tadi, Ina, pamit sama saya, katanya mau melamar kerja di pabrik sepatu ?” Tetangga kirinya mencoba menentramkan hati Pak Karso, yang sedang diteror cemas dan ketakutan itu.

“Iya. Istrimu dan Joko juga, tadi pagi berangkat sama-sama. Naik Angkot ?” Kata tetangga kanan rumahnya, sambil mengangkat pakaian yang sudah kering di tali jemurannya.
Pak Karso, hanya mondar-mandir saja di depan rumahnya, tanpa sepatah kata. Ia terus saja komat-kamit sendiri. Perasaannya tidak lagi bisa dikendalikan.
“Tiddaaaaaak ! Tidak mungkin terjadi !” Pak karso berteriak sangat keras. “Anak-anak dan istriku tidak bisa menjadi tumbaaal !”
Mendengar teriakan Pak Karso, tetangganya berlarian mengunci pintu rumahnya. “Tidaaaak ! Aku tidak membunuhnyaaaaa ! Anak istriku pasti selamaaaat !” Pak Karso terus berteriak, kesetanan. Tetangganya hanya bisa mengintip dari horden rumah, dengan perasaan bingung. Lebih dari satu jam, Pak Karso, tenggelam dalam pikiran yang sangat mengerikan. Ia tidak mampu menahan kelelahannya. Pak Karso tertidur, di kursi bamboo, depan rumahnya.

— *** —

Sebelum sampai di rumah, Istri Pak Karso sudah dihadang oleh para tetangganya dan menceritakan keanehan pada diri Pak Karso, siang tadi. Mereka bercerita banyak, tentang sikap dan perilaku Pak Karso yang kesurupan. Mendengar penuturan para tetangganya itu, Istri Pak Karso, berkali-kali mengucap Istighfar. Tidak tahan mendengar gosip tetangganya. Ia cepat-cepat meninggalkan para tetangganya itu. Sampai di depan rumahnya. Ia menemukan suaminya tergolek pulas di kursi bambu. Tanpa salam. Ia langsung ke dapur dan memasak air. Menanak nasi. Memasak tumis. Menggoreng ikan asin dan kerupuk kesukaan suaminya. Ia membuat teh manis, panas, dan meletakkannya di meja, persis di depan suaminya yang masih mendengkur.

Sedikitpun, Istri Pak Karso, tidak berniat membangunkan tidur suaminya. Ia melihat garis-garis wajah suaminya yang sangat melelahkan. Rambutnya yang sebagian memutih, sudah tidak serapi tadi pagi. Suara dengkur suaminya, terdengar sampai pintu belakang. Istrinya bertanya dalam hati, ada apa dengansuamiku, sampai selelah ini ?. Ada apa dengan, isi dua lemari pakaian, yang berantakan ? Ia termenung, memandangi suaminya, dengan penuh kasih.

Perlahan-lahan, mata suaminya, mulai membuka. Pak Karso terdiam cukup lama, lunglai, melihat senyum dibibir istrinya. Pak karso menyapanya sangat pelan, “Mama.” Tulang-belulang Pak Karso, menjadi empuk. Tangannya harus kuat menyangga, meski hanya sekedar menggeser tubuhnya, agar tegak di posisi duduknya.


“Aku sangat bersalah, hari ini Ma !” Suara Pak Karso, yang lemah, membuat Istrinya semakin bertanya-tanya.

“Apanya yang salah ?”
“Semua sudah terjadi, dan Aku yang paling berdosa, sekarang !”
“Dosa apa ?” Istrinya semakin bingung.
“Aku tidak bisa menjaga amanah dari atasanku !”
“Bapak, di berhentikan ?”
“Bukan itu !”
“Surat peringatan ?”
“juga, bukan itu !”
“Lalu, Bapak salah apa ?”
“Dasi itu. Dasi atasanku ! Dasi dibungkusan Koran itu !”
“Kenapa dengan dasi atasanmu.”
“Dasi itu telah membunuh, atasanku !”
“Dia bunuh diri !”
“Dasi itu, ada di lemari pakaianku, Ma !” Istri Pak Karso semakin bingung, mendengar kata-kata suaminya. “Benar juga, apa kata tetangga, tadi.” Kata Istrinya dalam hati.
“Apa hubungannya, dasi yang ada dilemari pakaian kita, dengan kematian atasanmu !” Kata Istrinya, kesal.
“Sangat jelas Ma ! Hubungan itu sudah jelas !”
“Apanya yang jelas, Pak !” Istrinya tambah kesal.
“Atasanku tewas di kamar mandi sore kemaren, sementara dasi, dilemari kita, hilang !” Istrinya, kemudian sedikit tersenyum dan berbisik dalam hati, “ternyata suamiku masih waras.”
“Dasi itu, tidak hilang ?”
“Dimana, dasi itu Ma !”
“Dasi merah hati itu, dipake Joko, untuk PKL di perusahaan ?”
“Apaaaaa ! Dasi itu dibawa Joko !” Pak Karso tidak bisa menahan emosi. Wajahnya merah hati. Berdiri, lalu duduk lagi, tak berdaya.
“Memangnya kenapa ?, kalau dasi itu dipake Joko ? Kita khan tidak punya dasi, sebagus yang Mama temukan lemari pakaian, lagipula Joko sangat membutuhkannya. Persyaratan ikut PKL, Pak !”
“Dasi itu, sangat berbahaya Ma !”
“Justru, dengan dasi itu, Joko kelihatan gagah, punya wibawa !” Istrinya tidak mengerti persepsi suaminya.
“Atasanku mati, kemaren sore, Ma !”
“Dasi itu yang membunuhnya ?”
“Ya !”
“Apaaaa !” Istrinya, mulai mengakui bahwa suaminya memang sudah tidak waras lagi. Dan pergi meninggalkan suaminya sendiri.
“Tunggu, Ma. Aku belum selesai bicara !” Kata-kata Pak Karso, tidak lagi didengar Istrinya.

— *** —

Istrinya, yang guru madratsah negeri, tidak mengerti isi batok kepala suaminya. Istrinya, berkali-kali mengucapkan musrik, murtad kepada Pak Karso. Sejak itu Keributan kecil maupun besar, sering muncul. Hanya persoalan yang sangat remeh saja, keributan akan berujung besar.

Pak Karso, Karyawan sebuah yayasan pendidikan. Duapuluh tahun mengabdi, tapi pangkat masih belum mau berlari, disitu-situ saja, alias stagnan. Ia bekerja sebagai administrasi ringan, yang jujurnya minta ampun. Ia disiplin dan patuh, apa perintah atasannya, tidak penah meninggalkan pekerjaan sisa. Semua tuntas … tas … tas…. Tas.

Meskipun sudah berganti-ganti atasan, Pak Karso tidak pernah berubah. Dia seperti itu-itu saja. Entah sudah berapa kali atasannya berganti, ia lupa menghitung, selama itu Pak Karso bekerja di administrasi yang sangat-sangat ringan. Gimana tidak ringan, kalau sehari-hari hanya mementung pelg mobil, pertanda pergantian jam belajar sekolah, dengan martil. Mengedarkan buku presensi guru dan murid, menyediakan minum di ruang guru, dan tidak jarang membelikan nasi bungkus untuk Guru dan kepala sekolah.

Ia tidak habis-habisnya berfikir, kenapa kepala-kepala sekolah itu mati pada saat meletakkan dasi merah hati itu di meja kerjanya. Sementara, mayat-mayat kepala sekolah itu, terbujur mengenaskan di kamar mandi. Kematian-demi kematian, tidak pernah menemukan sebab musababnya. Bahkan, sebelum polisi sempat menuntaskan kasus-kasus ini, secara jelas dan gamblang, sudah ada kepala sekolah baru yang menggantikan. Dan kematian-kematian, yang mengenaskan itupun, kembali berulang. Pak Karso selalu mencuci dan menjemur dasi merah hati, dan meletakkannya di gantungan paku, di belakang meja atasannya, setelah atasannya pulang ke rahmatullah.


“Sudah malam, Pak karso ?. Ayo, tidur ? Tuh, teman-temannya sudah pada tidur semua ?” Kata suster, setengah baya, kepada Pak Karso, yang masih memegangi dasi merah hati atasannya.

“Tidaaaaak, Saya tidak mau tidur !” bentak Pak Karso.
“Coba, dasinya dipake, supaya bisa tidur ya Pak ?” suster itu merayu. “Sini, saya pasang ?” sambung suster, seperti malam-malam sebelumnya.
“Sus, dasi ini yang menyelamatkan saya khan ? Iya khan, sus ?” Pak karso meyakinkan dirinya.
“Tentu saja Pak Karso ? Bapak akan tenang dan nyaman dengan dasi ini ?”
“Iya sus, saya senang memakai dasi ini. Saya bisa bertemu dengan Pak Herman, Pak Setyo, Pak Marhadi, Pak Kusnadi, ya, banyak-banyak lagi, sus ?”
“Iya, itu pasti, pak ? jawab suster itu, sambil memasangkan dasi di leher Pak Karso.
Setiap malam, sebelum Pak Karso tidur, suster rumah sakit jiwa itu selalu, memasangkan dasi merah hati di leher Pak Karso. Dia, sekarang, tidur lelap bersama kawan-kawannya.

Bekasi, 11 Februari 2009.


Baca selengkapnya……

Viviti