tag:blogger.com,1999:blog-79881775169986393302010-05-09T10:35:56.436+07:00Here's PURWALODRA information for you !Here is the ultimate resource for detailed purwalodra guides, and tips. Find about purwalodra that will match your need | Education | Life | Writing | PoliticsM. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.comBlogger102125tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-35544203653844510912010-04-10T11:19:00.003+07:002010-04-11T11:48:37.296+07:00Life Limit<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S8FUkw2mzCI/AAAAAAAAAKA/xd1Fr9R3DSM/s1600/batas-kelayakan.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S8FUkw2mzCI/AAAAAAAAAKA/xd1Fr9R3DSM/s200/batas-kelayakan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5458737213915712546" border="0" /></a><span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" ><span style="font-weight: bold;">Ambang Batas Kelayakan</span></span><br /><a href="http://www.purwalodra.com/2010/02/strategic-planning-part-1.html">Oleh. Purwalodra</a><br /><br /><div style="text-align: justify;">Memaknai <a href="http://www.purwalodra.com/2010/02/strategic-planning-part-2.html">Ambang Batas Kelayakan</a> dari pikiran dan hidup saya sekarang, adalah mimpi buruk yang selalu menghantui. Bagaimana tidak, semua keinginan, rencana bahkan mimpi sekalipun hanya bisa berhenti dipintu-pintu harapan yang terkunci oleh batas-batas kelayakan. Dunia ini pun seketika menjadi mustahil hanya karena saya mendiskriminasikan segala sesuatu, ini layak untukku dan yang lainnya tidak.<span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">Ambang batas kelayakan ini menjadi kerikil-kerikil tajam yang menghalangiku disetiap jengkal langkah. Sehingga <a href="http://www.purwalodra.com/2010/02/arts-in-education-part-1.html">batas pikiranpun</a> menyempit. Ketika pikiran menjadi sempit, otomatis dunia yang menjadi arena petualangan hidup ini pun menjadi semakin sempit. Tantangan-tantangan menjadi sangat mengerikan, kesempatan-kesempatan hanyalah pepesan konsong, tidak lagi menyemangati. Kehidupan menjadi ajang egosentris dengan batasan yang semangkin menghimpit. Akhir tragedi ini hanyalah penghakiman-penghakiman atas lingkungan eksternal, situasi-kondisi dan diri sendiri.</span><br /><br /><span class="fullpost">Teman-teman yang peduli terhadap penyakit mental ini menyarankan agar saya segera melakukan pembersihan, dengan melakukan rukiyah. Ada juga yang menyarankan agar saya mengikuti seminar-seminar <a href="http://www.purwalodra.com/2010/02/arts-in-education-part-2.html">tentang pengembangan diri,</a> agar bisa melakukan self suggestion. Bahkan banyak lagi yang menasehatkan saya untuk melakukan Taubatan Nasuha, Dzikir sebanyak yang saya mampu, dan shalat-shalat sunat lainnya.</span><br /><br /><span class="fullpost">Sekarang <a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/samson-game.html">saran dan nasehat</a> teman-teman yang berharga itu, sudah menjadi rutinitas keseharian, dan nyaris menjadi candu yang tidak bisa saya tinggalkan. Kalau saja saya meninggalkan secara sengaja maupun tidak, kegelisahan dan cemas langsung merusak ketenangan dan kedamian yang kumiliki.</span><br /><br /><span class="fullpost">Tidak jarang saya <a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/johari-window.html">menyikapi kondisi</a> yang berkembang di negri ini dengan perasaan pilu, menyayat bathin bahkan hidup seakan sebuah perjalanan dari halte ke halte, dan kembali ke halte semula. Sangat menjenuhkan. Keindahan, cinta dan kedamaian adalah mimpiku saat ini. Akankah semua ini menjadi rencana yang berada dalam jangkauan kemampuanku sendiri. Atau akan tetap menjadi mimpi-mimpi. </span><br /><br /><span class="fullpost">Dalam kehidupanku sekarang telah terprogram bahwa uang itu buruk, <a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/achievement-motivation.html">mengurusi diri sendiri</a> itu buruk, benda materiil itu tidak spiritual dan lain-lain. Maka apapun yang saya lakukan, jika saya menginginkan uang sementara dalam pikiranku yang lain berfokus pada uang itu buruk atau egois, saya akan tetap mendorong agar uang menjauhi saya.</span><br /><br /><span class="fullpost">Program tersebut diperparah oleh kondisi di negri ini pula bahwa dimana banyak pegawai publik yang baru golongan rendah bahkan baru beberapa tahun bekerja sudah bisa menimbun banyak uang. Alangkah naifnya saya !!!, pikirku, yang sudah bertahun-tahun bahkan hampir selesai menjalani masa bhakti, bukannya uang atau harta lainnya yang terkumpul, malah hutang yang semakin bertambah di warung-warung tetangga dan teman-teman sekantor. Saya mengakui bahwa sayalah yang paling bersalah dalam hidup ini. Saya mungkin kurang <a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/achievement-motivation_04.html">banyak bersyukur</a> dari apa yang saya miliki saat ini, atau ambang batas kelayakan yang tertanam dalam benak saya memang terprogram seperti ini. </span><br /><br /><span class="fullpost">Selesai shalat subuh, dihari minggu ini, saya kembali bersimpuh dihadapan Illahi Robbi, setelah bermunajat saya bisa sedikit menyadari bahwa semua ini (termasuk hidup saya sekarang), tergantung pada keyakinan saya sendiri, khususya keyakinan saya tentang apa yang menurut saya patut alias<a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/achievement-motivation-part-3.html"> pantas saya terima</a> dalam hidup ini. Pesan saya terhadap diri saya sendiri, yakini dan perluas ambang batas kelayakanmu, jika kamu ingin berubah !!!.</span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 10 April 2010.</span><br /></span></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-3554420365384451091?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-7959762255350260142010-02-19T18:07:00.003+07:002010-03-12T18:19:29.086+07:00Strategic Planning Part 2<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S5ohEIGuDzI/AAAAAAAAAIY/B0MU6zlmvfc/s1600-h/strategic-planning-2.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 148px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S5ohEIGuDzI/AAAAAAAAAIY/B0MU6zlmvfc/s200/strategic-planning-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5447703054036897586" border="0" /></a><span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" ><span style="font-weight: bold;">Perencanaan Strategis Bagian 2</span></span><br />(Tiga Unsur Kunci Perencanaan Strategis Bisnis)<br /><a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/berbisnis-kepada-orang-tua_15.html">Oleh. Wiradarma</a><br /><br /><span style="font-weight: bold;">Proses Perencanaan Strategis</span><br /><br /><div style="text-align: justify;">Proses <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/bisnis-identik-dengan-keuntungan_15.html">perencanaan strategis</a> harus sederhana, hanya tiga pertanyaan untuk fokus pada, sehingga Anda akan membuat mereka tetap di bagian atas pikiran Anda. Tentu saja ada beberapa komponen dari ketiga pertanyaan yang akan menjadi <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/percaya-pada-apa-yang-tidak-diketahui.html">kebiasaan sebagai proses</a> diskusi bergerak sepanjang.<span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">Apa yang Anda akan <a href="http://www.asianpurwalodrabrain.com/2010/01/information-systems-management.html">menjual di masa depan dan bagaimana? </a>Setiap anggota tim perencanaan strategis Anda akan menawarkan ide-ide yang berbeda berdasarkan apa yang bekerja untuk mereka sekarang, apa yang mereka telah <a href="http://www.asianpurwalodrabrain.com/2009/12/business-change.html">dipertimbangkan untuk masa depan</a> dan sudut pandang mereka (seperti internet mereka cerdas atau kurangnya sama). </span><br /><br /><span class="fullpost">Siapa <a href="http://www.asianpurwalodrabrain.com/2010/01/start-small-business.html">target pelanggan Anda</a> dan mengapa? Setiap <a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/johari-window.html">pemilik bisnis yang sukses</a> berfokus pada pangsa pasar mereka di dalam pasar tradisional mereka. Dengan perspektif yang berbeda Anda akan dapat memperluas daerah pemasaran tradisional yang berfokus pada peningkatan DAN bagianmu setiap pelanggan. Anggota tim perencanaan strategis Anda akan <a href="http://www.asianpurwalodrabrain.com/2010/01/innovation-business.html">membuka pikiran Anda</a> untuk taktik yang mereka gunakan untuk menjual lebih banyak produk dari satu jenis atau lain untuk pelanggan inti yang sudah ada.</span><br /><br /><span class="fullpost">Bagaimana Anda dapat membedakan perusahaan <a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/samson-game.html">Anda vs pesaing Anda</a>? Hal ini sering berarti menghentikan garis tidak lagi menguntungkan bahwa Anda masih membawa karena Anda selalu membawa mereka. Ini mungkin berarti lebih <a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/achievement-motivation.html">sedikit yang berfokus </a>pada produk dan layanan di mana kemampuan khusus Anda unggul. Dan itu berarti paling pasti akan memperkenalkan produk dan layanan baru yang direkomendasikan oleh tim perencanaan strategis Anda berdasarkan pengalaman dan perspektif.</span><br /><br /><span class="fullpost">Setelah Anda dan tim Anda memiliki ketiga pertanyaan di garis terdepan - kualifikasi menjadi otomatis. Apa yang penting? Apa sekarang? Apa sebenarnya <a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/achievement-motivation_04.html">yang Anda inginkan</a>? Dan apa yang mungkin untuk mencapai di persimpangan tujuan Anda dan sumber daya Anda?</span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost"><a href="http://www.purwalodra.com/2009/05/kemampuan-bertahan-sekolah-mahal.html">Sebuah Komitmen</a> Untuk Aksi</span><br /><br /><span class="fullpost">Dengan terus-menerus masukan dari rekan perencanaan strategis Grup yang Anda akan dapat lebih mudah <a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/achievement-motivation-part-3.html">menargetkan peluang strategis</a> di sekitar Anda. Kesempatan yang akan terus menjadi tidak terlihat oleh Anda tanpa mereka dianggap baik masukan. Keseluruh tindakan tersebut, di dalam dan dari diri mereka sendiri akan membantu anda memilih kemampuan yang penting bagi pertumbuhan masa depan Anda dan <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/kaizen-manufacturing.html">meningkatkan kapasitas Anda</a> untuk membuat sebagian besar dari mereka.</span><br /><br /><span class="fullpost">Ketika Anda dan anggota lain dari kelompok sebaya perencanaan strategis rencana letakkan di atas kertas dan menjaga mereka di depan satu sama lain Anda akan mengembangkan sebuah lingkungan untuk terus-menerus meninjau dan <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/business-decision.html">mengubah pernyataan misi</a> berkembang.</span><br /><br /><span class="fullpost">Terus <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/02/marketing-analysis.html">mengartikulasikan tujuan</a> Anda untuk masa depan karena mereka terus-menerus disempurnakan oleh kelompok sebaya perencanaan strategis akan menjaga langkah-langkah berikutnya yang penting selalu dalam pandangan. Mengambil tindakan diri sendiri atau mendelegasikan kepada individu atau<a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/02/lean-manufacturing-process.html"> tim dalam organisasi</a> Anda yang memiliki kekuasaan, otoritas, dan akuntabilitas untuk menyelesaikan semua yang sekarang berdiri di antara tempat kejadian hari dan di mana Anda ingin mereka berada di masa depan.</span><br /><br /><span class="fullpost">Jika anda serius tertarik dalam organisasi Anda masa depan Anda akan menemukan bahwa benar-benar tidak ada cara yang lebih baik untuk menciptakan dan mengelola p<a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/03/making-decisions.html">roses perencanaan strategis</a>.</span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 19 Pebruari 2010</span><br /></span></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-795976225535026014?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-71625556401502442782010-02-17T17:47:00.003+07:002010-03-12T18:03:32.593+07:00Strategic Planning Part 1<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S5ocx0Mdj_I/AAAAAAAAAIQ/C-U9t_1A_3g/s1600-h/strategic-planning-1.gif"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 221px; height: 194px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S5ocx0Mdj_I/AAAAAAAAAIQ/C-U9t_1A_3g/s200/strategic-planning-1.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5447698341408116722" border="0" /></a><span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" >Perencanaan Strategis Bagian 1</span><br />(Tiga Unsur Kunci Perencanaan Strategis Bisnis)<br /><a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.purwalodra.com/2010/01/achievement-motivation-part-3.html">Oleh. Wiradarma</a><br /><br /><div style="text-align: justify;">Perencanaan <a href="http://www.asianpurwalodrabrain.com/2010/01/organizational-management.html">strategis untuk bisnis </a>adalah sebuah konsep, pola pikir dan proses. Hal ini merupakan <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/belajar-hidup_15.html">langkah untuk melihat</a>, arah mana, usaha kita akan kita tujukan. Ketika perusahaan sudah mengarah ke titik tujuan, maka pertanyaannya adalah apa yang<a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/achievement-motivation.html"> penting bagi usaha kita</a> dalam rangka mencapai tujuan ?. Apakah kita mampu mengartikulasikan elemen penting dari masa yang akan datang tersebut ?. Oleh karena itu, melakukan Perencanaan Strategis akan membuat kita tetap fokus pada <a href="http://www.purwalodra.com/2009/05/kemampuan-bertahan-sekolah-mahal.html">pilihan kita sekarang</a> untuk melihat lebih jelas dalam perseptif yang luas, sehingga kita dapat secara kolektif membuat pilihan yang <a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/achievement-motivation_04.html">menguntungkan perusahaan</a> dan seluruh stakeholders yang terlibat.<span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">Artikel singkat ini akan menjelaskan tiga elemen kunci dari<a href="http://www.asianpurwalodrabrain.com/2010/01/starting-small-business.html"> rencana strategis bisnis </a>yang kita lakukan. Telah pengalaman saya bahwa ketika ketiga unsur ini digabungkan menjadi jelas sederhana melakukannya sendiri <a href="http://www.purwalodra.com/2009/06/ada-perusahaan-di-sekolah-kita.html">proses perusahaan</a> Anda akan mencapai tujuannya. Ini bukan roket ilmu pengetahuan, kecuali jika Anda sedang membangun roket, dan akan bekerja untuk perusahaan-perusahaan sebagai beberapa orang sebagai salah satu dan sebanyak mungkin orang yang Anda miliki di papan perusahaan Anda.</span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">Tim Perencanaan Strategis Anda</span><br /><br /><span class="fullpost">Perencanaan strategis workbook, buku, dan bagaimana buku-buku semua membahas pentingnya tim perencanaan strategis - dengan implikasi bahwa perusahaan harus cukup besar ada di setiap<a href="http://www.purwalodra.com/2009/06/menyelaraskan-kehendak-sekolah-dengan.html"> tingkatan pemimpin</a> yang dapat menjadi bagian dari tim perencanaan strategis. Sayangnya yang menghilangkan sekitar 75% dari semua perusahaan yang ada.</span><br /><br /><span class="fullpost">Jika itu termasuk Anda jangan takut karena saya akan menunjukkan kepada Anda bagaimana Anda dapat <a href="http://www.purwalodra.com/2009/07/visi-organisasi-adalah-visi-pemimpinnya.html">menjangkau orang-orang terbaik</a> yang mungkin, individu-individu dengan berbagai masukan perspektif yang akan membantu Anda membuat strategi yang seimbang. Selain <a href="http://www.asianpurwalodrabrain.com/2010/01/innovation-business.html">orang-orang sukses</a> ini akan membantu Anda mengembangkan dan mempertahankan strategi ini bisa diterapkan dalam jangka panjang. Dan karena mereka tidak akan memungut biaya untuk masukan mereka Anda akan mampu <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2009/12/general-system.html">membeli sebuah tim</a> perencanaan strategis yang aktif selamanya.</span><br /><br /><span class="fullpost">Saya sarankan Anda terhubung dengan anggota dari <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/marketing-consulting.html">asosiasi perdagangan industri</a>, pemilik bisnis yang hasilnya telah dibuktikan dari waktu ke waktu dan yang pendapat Anda percaya. Kekuasaan yang terkenal dari dinamika kelompok menunjukkan bahwa Anda membatasi ukuran <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/kaizen-manufacturing.html">kelompok perencanaan strategis</a> untuk 6-8 orang termasuk Anda.</span><br /><br /><span class="fullpost">Anda masing-masing juga harus terletak di luar masing-masing daerah pemasaran tradisional. Jika sebagian dari Anda telah mendekati pensiun dengan <a href="http://www.purwalodra.com/2009/12/inequality-education.html">pengalaman yang luas,</a> yang lain di tengah-tengah karir mereka tumbuh perusahaan mereka dan beberapa yang pengganti bisnis yang <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/course-education.html">sukses dalam industri</a> Anda, Anda akan memiliki rentang penting keanekaragaman. Mereka yang telah sekitar sementara dapat melihat hal-hal yang tidak terlihat datang kepada mereka yang baru mulai keluar dan sebaliknya.</span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 17 Pebruari 2010</span><br /><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-7162555640150244278?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-34334044705108585772010-02-11T17:24:00.002+07:002010-03-12T17:42:19.275+07:00Arts In Education Part 2<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S5oXlm3J1ZI/AAAAAAAAAII/HgkNEDDY5fo/s1600-h/Arts-In-Education-2.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 159px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S5oXlm3J1ZI/AAAAAAAAAII/HgkNEDDY5fo/s200/Arts-In-Education-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5447692634112513426" border="0" /></a><span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" >Aspek Seni Dalam Kegiatan Belajar Mengajar di Sekolah – Bagian 2</span><br /><a href="http://www.purwalodra.com/2009/07/visi-organisasi-adalah-visi-pemimpinnya.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">Oleh. M. Eko Purwanto</span></a><br /><br /><span style="font-weight: bold;">Jenis-jenis Belajar Yang Pernah Diteliti</span><br /><br /><div style="text-align: justify;">Sejak awal, para pakar pendidikan senantiasa <a href="http://www.purwalodra.com/2009/12/inequality-education.html"></a><a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/berbisnis-kepada-orang-tua_15.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">ingin memuaskan </span></a><span style="color: rgb(51, 102, 255);">rasa ingin tahunya</span> dengan melakukan berbagai penelitiannya, beberapa penelitian yang telah berhasil disimpulkan antara lain :<span class="fullpost"><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">1. Jenis Belajar Stimulus-Respon.</span><br /><br /><span class="fullpost"><a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/belajar-hidup_15.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">Jenis belajar </span></a>ini dijelaskan oleh seorang Psikolog bernama Ivan Pavlov. Jenis belajar ini berkaitan dengan hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lain yang dikehendaki, sehingga menghasilkan perilaku yang dikehendaki pula. <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/bisnis-identik-dengan-keuntungan_15.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">Perilaku yang dikehendaki</span></a> ini adalah BELAJAR. </span><br /><br /><span class="fullpost">Misalnya ketika seorang Guru menunjukkan wilayah Indonesia dalam peta Dunia yang diperlihatkan kepada <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/02/education-leadership.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">anak didiknya di depan kelas</span></a>, dan mengatakan bahwa ”wilayah ini adalah Indonesia”. Guru itu mengulangi beberapa kali tentang dimana wilayah Indonesia dalam Peta Dunia tersebut. Setelah beberapa waktu berselang, sang Guru menanyakan kembali kepada murid-muridnya, ”Dimana wilayah Indonesia ?”. Lalu Sang Muridpun akan segera mengenali dimana wilayah Indonesia di dalam Peta Dunia tersebut. Dengan demikian, para Murid telah BELAJAR untuk mengenali peta Indonesia. Dalam jenis belajar ini murid mempelajari sesuatu yang telah terjadi dan para murid bereaksi dengan cara tertentu. Ini menjelaskan p<a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/percaya-pada-apa-yang-tidak-diketahui.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">erilaku refleksif dari seorang individu</span></a>. </span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">2. Jenis Belajar Trial and Error. </span><br /><br /><span class="fullpost">Penemuan demi penemuan di berbagai bidang pengetahuan adalah <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/pertengkaran_4135.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">hasil dari Trial and Error </span></a>(uji coba dan kesalahan). Trial and error ini dapat efektif jika dibarengi dengan wawasan, dan akan <a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/samson-game.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">menghasilkan pengetahuan</span></a> yang terus-menerus bertambah. Edision mencoba sekitar 10.000 kali ketika ia sedang bekerja pada saat-saat, sebelum ia bisa <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/special-education-teacher-training.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">belajar untuk membuat lampu</span></a> pijarnya menyala. </span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">3. Jenis Belajar dengan Berbagai Tahapan </span><br /><br /><span class="fullpost">Sesuatu dapat dipelajari dalam suatu tahapan yang <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/02/business-teacher-education.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">saling berhubungan</span></a> dan terus-menerus. Misalnya, belajar mengendarai sepeda motor, proses belajarnya bisa dibagi menjadi beberapa langkah. Langkah-langkah ini perlu<a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/johari-window.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);"> dipelajari dalam sebuah tahapan</span></a> yang menghubungkan satu dengan yang lain. </span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">4. Jenis Belajar Memahami Konsep.</span><br /><br /><span class="fullpost">Ada kebutuhan individu untuk <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/technology-teacher-education.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">merumuskan konsep-konsep</span></a> dengan terlebih dahulu mencari tahu apa yang umum diantara dua atau lebih tentang sesuatu hal. Misalnya kita melihat tomat, tembakau, cabe merah dan kentang termasuk tanaman apa ? apakah memiliki jenis yang sama ?. Setiap individu akan <a href="http://www.asianpurwalodrabrain.com/2009/12/business-change.html">kesulitan mempelajari </a>jenis tanaman diatas tanpa terlebih dahulu mempelajari fitur-fitur umum dari keluarga tanaman tersebut. </span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">5. Jenis Belajar Observasional. </span><br /><br /><span class="fullpost">Ini adalah hasil dari proses mengamati perilaku orang lain dan menilai konsekuensi dari perilaku tersebut. Ketika seorang Guru memuji salah satu muridnya, maka murid lainnya biasanya ingin berusaha mendapat perhatian dan ingin mendapatkan pujian dari Gurunya tersebut. Kemudian murid-murid lainnya pun berusaha untuk <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/business-decision.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">mengamati perilaku</span></a> dan faktor apa saja yang dimiliki oleh murid yang mendapat pujian dari Gurunya itu. </span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">6. Jenis Belajar Instrumen Bawah Sadar </span><br /><br /><span class="fullpost">Pengalaman masa lalu memainkan <a href="http://www.asianpurwalodrabrain.com/2009/12/internet-based-business.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">peran sangat penting</span></a>. Perilaku yang terus-menerus diulang, akan memiliki konsekuensi yang menguntungkan. Jika seorang manajer ingin untuk mempengaruhi perilaku disiplin karyawannya, maka yang dia butuhkan adalah memacu semangatnya untuk bekerja keras untuk <a href="http://www.asianpurwalodrabrain.com/2009/12/internet-business-opportunity.html">kepentingan perusahaan.</a> Jika Sang Menejer tersebut bekerja keras hanya untuk kepentingan dirinya-sendiri, justru akan berakibat fatal. <a href="http://www.asianpurwalodrabrain.com/2010/01/organizational-management.html">Karyawannya</a> justru akan mencibir dan tidak memiliki pengaruh secara bawah sadar. Ingat, pepatah lama ”Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”</span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 11 Pebruari 2010</span><br /><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-3433404470510858577?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-23123177999307281712010-02-10T17:06:00.000+07:002010-03-12T17:24:14.012+07:00Arts In Education Part 1<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S5oT0zjS47I/AAAAAAAAAIA/JPP9B7BZRB0/s1600-h/Arts-In-Education.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 217px; height: 173px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S5oT0zjS47I/AAAAAAAAAIA/JPP9B7BZRB0/s200/Arts-In-Education.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5447688497170408370" border="0" /></a><span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" >Aspek Seni Dalam Kegiatan Belajar Mengajar di Sekolah – Bagian 1</span><br /><a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/samson-game.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">Oleh. M. Eko Purwanto</span></a><br /><br /><span style="font-weight: bold;">Pendahuluan</span><br /><br /><div style="text-align: justify;">Dalam pemahaman saya, belajar adalah suatu <a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/johari-window.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">urutan peristiwa mental</span></a> yang menyebabkan perubahan dalam proses belajar itu sendiri. Belajar <a href="http://www.asianpurwalodrabrain.com/2010/01/innovation-business.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">menempati posisi penting</span></a> dalam kehidupan semua individu di dunia ini. Belajar tidak hanya terbatas pada usia tertentu, tetapi merupakan proses seumur hidup (the long life education). Belajar adalah sebuah pengayaan dari pengalaman manusia. Tanpa belajar<a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/achievement-motivation.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);"> segala usaha setiap individu</span></a> menjadi sia-sia. Dikatakan juga, bahwa Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku manusia, yang terjadi sebagai akibat dari pengalaman yang diperkuat melalui pelatihan dan pembelajaran itu sendiri.<span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">Sering kita mendengar, bahwa seseorang yang telah menamatkan pendidikan sampai ke jenjang pendidikan tertinggi, namun ketika <a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/achievement-motivation_04.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">mereka ingin memanfaatkan</span></a> pengetahuannya, justru mereka kehilangan semua pengetahuannya yang pernah mereka pelajari sejak dalam proses belajar di Perguruan Tinggi. Pertanyaannya adalah apa yang menyebabkan semua ini terjadi ?</span><br /><span class="fullpost"> </span><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost"><a href="http://www.purwalodra.com/2010/01/achievement-motivation-part-3.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">Kebutuhan Belajar</span></a> Pada Individu</span><br /><br /><span class="fullpost">Apabila seorang murid telah menuntaskan <a href="http://www.purwalodra.com/2009/05/kemampuan-bertahan-sekolah-mahal.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">proses kegiatan belajar mengajar</span></a> di kelas selama satu semester dan sudah membaca seluruh buku-buku yang disarankan, namun ketika mengikuti ujian, masih saja terbelenggu oleh perasaan cemas dan tidak menentramkan. Apa yang sebenarnya terjadi ?. Mungkin saja si murid tersebut melupakan bahwa ia sudah belajar banyak <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/02/education-management.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">tentang mata pelajaran</span></a> yang dipelajarinya selama satu semester.</span><br /><br /><span class="fullpost">Sebagai contoh lagi, jika seorang Guru yang telah <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/02/courses-education.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">menyelesaikan studinya</span></a> di Es-Satu dan siap untuk mengajar di kelas, namun ternyata masih banyak Guru yang masih mengidap penyakit ‘Demam panggung’ alias ‘masuk angin’ dadagan. Hal inipun mungkin si mantan mahasiswa tersebut melupakan apa yang <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/02/thinking-software.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">sudah pernah dipelajarinya</span></a> selama di Perguruan Tinggi, tentang bagaimana cara mengajar dan mempraktekkannya di depan kelas.</span><br /><br /><span class="fullpost">Ada lagi, seorang ibu rumah tangga ketika melihat sebuah program di televisi yang menayangkan bagaimana membuat makanan lezat. Namun ketika si ibu rumah tangga tersebut berada di dapur, kemudian ia lupa bahan apa dan <a href="http://www.asianpurwalodrabrain.com/2010/01/information-systems-management.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">bagaimana proses yang benar</span></a> untuk membuat makanan lezat tersebut. Mungkin dia juga telah melupakan apa yang telah dilihatnya di televisi. </span><br /><br /><span class="fullpost">Selanjutnya, seorang manajer yang memutuskan untuk <a href="http://www.purwalodra.com/2009/06/menyelaraskan-kehendak-sekolah-dengan.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">membahas berbagai issue</span></a> dalam pertemuan mingguan di perusahaannya, tapi ketika rapat tersebut berlangsung sang menejer tersebut menyadari bahwa ia lupa untuk membahas beberapa issue yang sudah direncanakannya sejak seminggu sebelumnya.</span><br /><span class="fullpost"> </span><br /><span class="fullpost">Kita bisa saja berasumsi bahwa, apabila murid, guru, ibu rumah tangga dan manajer tersebut, mampu mempertahankan apa yang telah dilihat, didengar, difikirkan dan dialaminya tersebut, sudah pasti akan <a href="http://www.purwalodra.com/2009/06/ada-perusahaan-di-sekolah-kita.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">selalu sukses dalam setiap usahanya</span></a>. Namun, mengapa semua individu tersebut tidak mampu mempertahankan ingatannya terhadap apa yang telah dilihat, didengar, difikirkan, dan dialaminya tersebut ?. Oleh karena itulah, kita sekarang bisa memahaminya bahwa belajar merupakan <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/03/making-decisions.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">kebutuhan setiap individu</span></a>, baik secara pribadi maupun secara profesional. Tanpa belajar manusia tidak akan mampu mempertahankan ingatannya terhadap apa yang pernah dilihat, didengar, dipikirkan dan bahkan pernah dialaminya. </span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 10 Pebruari 2010</span><br /><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-2312317799930728171?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-83185174678585138022010-01-08T21:01:00.003+07:002010-01-17T21:34:02.063+07:00Samson Game<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S1Me3CByFdI/AAAAAAAAAGY/2y5bmKYTc-s/s1600-h/samson-delilah.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 218px; height: 175px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S1Me3CByFdI/AAAAAAAAAGY/2y5bmKYTc-s/s200/samson-delilah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427715906697565650" border="0" /></a><span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 102, 102);font-size:180%;" >Samson, Singa dan Delilah</span><br /><a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/belajar-hidup_15.html">Oleh M. Eko Purwanto</a><br /><br /><div style="text-align: justify;">Mengakhiri Pelatihan Karyawan dihari ketiga ini, saya dan teman-teman Peserta pelatihan dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok akan <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/berbisnis-kepada-orang-tua_15.html">memainkan salah satu peran </a>yang telah ditentukan oleh instruktur. Masing-masing kelompok akan memerankan Gaya Samson, Gaya Singa dan Gaya Delilah. Aturan permainan yang disepakati adalah sebagai berikut : Pertama, pada saat yang sama (isyarat dari instruktur) masing-masing kelompok akan mempertunjukkan <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/bisnis-identik-dengan-keuntungan_15.html">salah satu gaya sesuai pilihan</a> kelompoknya, bisa Gaya Samson, bisa Singa atau Delilah.<span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">Peraturan kedua, <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/pertengkaran_4135.html">Gaya Samson akan dikalahkan oleh Gaya Delilah</a>, Gaya Delilah dikalahkan oleh Gaya Singa, dan terakhir Gaya Singa akan kalah dengan <a style="font-style: italic;" href="http://60feaqxdqcben7aif9s45bok0e.hop.clickbank.net/?tid=88G7BMVN"><span style="font-weight: bold;">Gaya Samson</span></a>. Peraturan terakhir, adalah masing-masing kelompok wajib memperagakan Gaya para tokoh tersebut secara fisik. Misalnya, peragaan Gaya Samson adalah mempertunjukkan otot lengannya yang kekar … “ruso-ruso”, gitu kata mbah marijan. Gaya Delilah diperagakan seperti gaya wanita yang sedang merayu pelanggan, eh … !, suaminya gitu lhoo ?. Sedangkan Gaya Singa diperagakannya seperti singa hendak menerkam mangsanya, suaranya begini .... ‘Om-om’, eh maksud saya, ‘Auuuuummm’. </span><br /><br /><span class="fullpost">Setelah peserta terbagi menjadi dua kelompok, saya berada di salah satu kelompok yang kebetulan ada peserta wanitanya tiga orang. Sementara kelompok lain tidak ada Peserta wanita. Dan celakanya, saya lagi-lagi terpilih menjadi koordinator kelompok yang berhak memutuskan ‘gaya’ apa yang akan dipertunjukkan kepada lawan, pada saat instruktur memberi aba-aba. </span><br /><br /><span class="fullpost">Ketika anggota kelompok dimana saya berada di dalamnya, menunjuk saya sebagai pimpinan, maka teori tentang bagaimana <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/percaya-pada-apa-yang-tidak-diketahui.html">membangun kelompok yang efektif</a> pun saya lakukan : Pertama-tama, saya menetapkan sasaran kelompok dan alhamdulillah disepakati oleh semua anggota. Kedua, menilai kekuatan dan kelemahan kelompok, nah.. untuk hal ini saya harus meyakinkan bahwa kelompok kitalah yang paling kuat, “oleh karena itu mari kita kompak-kompak aja gituuu.. “ bujuk saya. Ketiga, saya mulai membangun saling percaya satu sama lain dan mencoba menciptakan peluang untuk menang. <a href="http://www.soulspirit34.com/2010/01/yoga-meditation.html">Sugesti yang bisa saya lakukan</a> antara lain, bahwa kelompok kita tidak ada sedikitpun kelemahannya. “Semoga sugestiku diterima,” bibirku komat-kamit memanjatkan do’a.</span><br /><br /><span class="fullpost">“Siaaap-siaaaaap” teriak instruktur membuyarkan diskusi kedua kelompok yang siaga bertarung. “Mulllaaaaaiii !!!.” Pada saat yang sama, kelompok saya memperagakan Gaya Delilah, sementara kelompok lawan memperagakan Gaya Singa. “Hancur hatiku !!!”. Kelompok yang saya pimpin kalah, satu kosong. Namun, kelompok saya masih semangat untuk memainkan babak kedua, dan siap mempertunjukkan peran selanjtnya.</span><br /><br /><span class="fullpost">“Siap-siaaap” teriak instruktur menghentikan kegembiraan kelompok lawan. “Mulai !!!”. Pada saat yang sama, kelompok saya tetap memperagakan Gaya Delillah, sementara kelompok lawan memperagakan Gaya Singa. “Gagal maning, gagal maning !!!,” celetuk anggota kelompok saya yang kecewa berat, atas kekalahan yang kedua kalinya ini. Dengan kekalahan yang kedua ini, kelompok saya tidak mungkin lagi memenangkan permainan ini. Semangat kelompok langsung melorot tajam. Kemudian instrutur menghentikan permainan yang hanya dua babak ini, lantas mempersiapkan kedua kelompok untuk kembali menempati tempat duduknya masing-masing.</span><br /><br /><span class="fullpost">Hingar-bingar dan gelak tawapun, belum bisa dikendalikan dari kelompok lawan. Tiba-tiba saya yang merasakan kekecewaan teman-teman kelompok saya, menginterupsi instruktur yang sedang mendamaikan kedua kelompok ini, “Maaf instruktur, permainan ini adalah akhir pelatihan yang meninggalkan luka kelompok kami !!!”. Ternyata, interupsi saya ini menambah hangar-bingar dan gelak tawa yang semakin tidak terkendali.</span><br /><br /><span class="fullpost">Untuk memadamkan kekecewaan salah satu kelompok, maka instruktur tidak hanya <a href="http://www.soulspirit34.com/2010/01/quartz-crystals.html">memberi rewards</a> kepada salah satu pemenang saja, namun kelompok saya yang seluruh mukanya sudah dilipat-tujuhpun mendapat rewards dari instruktur yakni masing-masing peserta mendapatkan sebungkus Coklat Kit-Kat. Lumayan !. Mudah-mudahan teman-teman kelompok saya b<a href="http://www.wartakeluarga34.com/2009/12/recumbent-bike.html">isa tidur malam dengan tenang</a> …. Gitu aja dipikirin !!!</span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 30 Desember 2009.</span><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><br /><a style="font-weight: bold;" href="http://60feaqxdqcben7aif9s45bok0e.hop.clickbank.net/?tid=88G7BMVN" target="_top">Click Here ! atau ...<br /></a><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-8318517467858513802?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com1tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-52821736009268500042010-01-07T20:32:00.003+07:002010-01-17T20:57:59.594+07:00Johari Window<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S1MWBfXQCrI/AAAAAAAAAGQ/ewYVsLDuXa0/s1600-h/johari-window.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 211px; height: 193px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S1MWBfXQCrI/AAAAAAAAAGQ/ewYVsLDuXa0/s200/johari-window.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427706190766279346" border="0" /></a><span style="color: rgb(255, 102, 102); font-weight: bold;font-size:180%;" >Mengintip Kepribadian Kita Melalui Jendela-nya JOHARI (Johari Window)</span><br /><a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/strategic-plan.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">Oleh. M. Eko Purwanto</span></a><br /><br /><div style="text-align: justify;">Diakhir hari pertama Pelatihan, seluruh Peserta mendapat PR dari instruktur. PR yang harus dikerjakan dirumah tersebut adalah memberikan nilai pada kotak yang berisi pernyataan tentang hubungan pribadi kita dengan teman sejawat. <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/college-degrees.html">Nilai yang kita berikan</a> mulai dari angka 1 sampai dengan 5. Tujuan dari PR ini adalah untuk mengetahui sejauh mana hubungan pribadi kita terhadap teman sekerja kita di kantor, sekaligus mengetahui character kita terhadap pertemanan tersebut.<span class="fullpost"> </span><span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">Hubungan pribadi dalam bentuk komunikasi antar pribadi merupakan <a href="http://www.soulspirit34.com/2010/01/quartz-crystals.html">aspek yang sangat penting</a> dalam teori komunikasi, oleh sebab itu perlu diadakan studi tentang cara yang terbaik untuk memanfaatkannya. Salah satu cara untuk bisa mengintip sekaligus menganalisa konsep diri yang berkaitan dengan <a href="http://www.soulspirit34.com/2010/01/yoga-meditation.html">komunikasi antar pribadi</a> ini antara lain melalui Johari Window (Jendela Johari).</span><br /><span class="fullpost"> </span><br /><span class="fullpost">Konsep diri merupakan <a href="http://www.wartakeluarga34.com/2009/12/recumbent-bike.html">Faktor yang sangat penting</a> dan menentukan dalam komunikasi antar pribadi. Kunci keberhasilan hidup adalah konsep diri positip. Konsep diri memainkan peran yang sangat besar dalam menentukan <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/belajar-hidup_15.html">keberhasilan hidup seseorang</a>, karena konsep diri dapat dianalogikan sebagai suatu operating system yang menjalankan suatu komputer. Terlepas dari sebaik apapun perangkat keras komputer dan program yang di-install, apabila sistem operasinya tidak baik dan banyak kesalahan maka komputer tidak dapat bekerja dengan maksimal. Hal yang sama berlaku bagi manusia.</span><br /><br /><span class="fullpost">Konsep diri adalah sistem operasi yang menjalankan komputer mental, yang mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang. Konsep diri ini setelah terinstall akan <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/berbisnis-kepada-orang-tua_15.html">masuk di pikiran bawah sadar</a> dan mempunyai bobot pengaruh sebesar 88% terhadap level kesadaran seseorang dalam suatu saat. Semakin baik konsep diri maka akan semakin mudah seseorang untuk berhasil. Demikian pula sebaliknya.</span><br /><br /><span class="fullpost">Kita dapat melihat <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/bisnis-identik-dengan-keuntungan_15.html">konsep diri seseorang</a> dari sikap mereka. Konsep diri yang jelek akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri, tidak berani mencoba hal-hal baru, tidak berani mencoba hal yang menantang, takut gagal, takut sukses, merasa diri bodoh, rendah diri, merasa diri tidak berharga, merasa tidak layak untuk sukses, pesimis, dan masih banyak perilaku inferior lainnya. Sebaliknya orang yang konsep dirinya baik akan selalu optimis, berani mencoba hal-hal baru, berani sukses, berani gagal, percaya diri, antusias, <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/pertengkaran_4135.html">merasa diri berharga</a>, berani menetapkan tujuan hidup, bersikap dan berpikir positip, dan dapat menjadi seorang pemimpin yang handal.</span><br /><br /><span class="fullpost">Joseph Luft dan Harrington Ingham, mengembangkan konsep Johari Window sebagai perwujudan bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain yang digambarkan sebagai sebuah jendela. ‘Jendela’ tersebut terdiri dari matrik 4 sel, masing-masing sel menunjukkan daerah self (diri) baik yang terbuka maupun yang disembunyikan. Keempat sel tersebut adalah daerah publik, <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/percaya-pada-apa-yang-tidak-diketahui.html">daerah buta, daerah tersembunyi,</a> dan daerah yang tidak disadari. </span><br /><span class="fullpost"> </span><br /><span class="fullpost">Open area adalah informasi tentang diri kita yang diketahui oleh orang lain seperti nama, jabatan, pangkat, status perkawinan, lulusan mana, dan lain-lain. Ketika memulai sebuah hubungan, kita akan menginformasikan sesuatu yang ringan tentang diri kita. Makin lama maka informasi tentang diri kita akan terus bertambah secara vertical sehingga mengurangi hidden area. Makin besar open area, makin produktif dan menguntungkan hubungan interpersonal kita.</span><br /><br /><span class="fullpost">Hidden area berisi informasi yang kita tahu tentang diri kita tapi tertutup bagi orang lain. Informasi ini meliputi perhatian kita mengenai atasan, pekerjaan, keuangan, keluarga, kesehatan, dan lain-lain. Dengan tidak berbagi mengenai hidden area, biasanya akan menjadi penghambat dalam berhubungan. Hal ini akan membuat <a href="http://www.purwalodra.com/2009/07/visi-organisasi-adalah-visi-pemimpinnya.html">orang lain miskomunikasi tentang kita</a>, yang kalau dalam hubungan kerja akan mengurangi tingkat kepercayaan orang</span><br /><br /><span class="fullpost">Blind area yang menentukan bahwa orang lain sadar akan sesuatu tapi kita tidak. Misalnya bagaimana cara mengurangi grogi, bagaimana caranya menghadapi salah seorang temannya, Sehingga dengan mendapatkan masukan dari orang lain, blind area akan berkurang. Makin kita memahami kekuatan dan kelemahan diri kita yang diketahui orang lain, maka akan bagus dalam bekerja tim.</span><br /><br /><span class="fullpost">Unknown area adalah informasi yang orang lain dan juga kita tidak mengetahuinya. Sampai kita mendapatkan pengalaman tentang sesuatu hal atau orang lain melihat sesuatu akan diri kita, bagaimana kita bertingkah laku atau berperasaan. Misalnya ketika pertama kali seneng sama orang lain selain anggota keluarga kita. Kita tidak pernah bisa mengatakan perasaan “cinta”. Jendela ini akan mengecil sehubungan kita tumbuh dewasa, mulai mengembangkan diri atau belajar dari pengalaman.</span><br /><br /><span class="fullpost">Hasil studi, yang dilakukan dengan tidak sengaja dalam kegiatan pelatihan ini, tentang hubungan pribadi kita dengan teman sejawat, menunjukkan bahwa hampir 99 % Peserta, Public Area-nya (open area) mengecil alias menyempit, sementara Hidden Area-nya sangat besar. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar Peserta Pelatihan bersifat tertutup atau kalimat yang lebih halusnya begini, ”karyawan berusaha menutup diri untuk tidak diketahui oleh orang lain.” </span><br /><br /><span class="fullpost">Dari teorinya, yang dimaksud dengan daerah publik adalah daerah yang memuat hal-hal yang diketahui oleh dirinya dan orang lain. Daerah buta adalah daerah yang memuat hal-hal yang diketahui oleh orang lain tetapi tidak diketahui oleh dirinya. Dalam <a href="http://bcb7bokpm7jmy6765aql5kgmak.hop.clickbank.net/?tid=88G7BMVN"><span style="font-weight: bold; font-style: italic;">berhubungan interpersonal</span></a>, biasanya orang seperti ini lebih memahami orang lain tetapi tidak mampu memahami tentang diri, sehingga orang ini seringkali menyinggung perasaan orang lain dengan tidak sengaja. Sementara daerah tersembunyi adalah daerah yang memuat hal-hal yang diketahui oleh diri sendiri tetapi tidak diketahui oleh orang lain. Dalam daerah ini, orang menyembunyikan/ menutup dirinya. <a href="http://www.purwalodra.com/2009/06/menyelaraskan-kehendak-sekolah-dengan.html">Informasi tentang dirinya</a> disimpan rapat-rapat.</span><br /><br /><span class="fullpost">Dari jendela Johari ini mungkin bisa kita petik hikmahnya, namun pertanyaan yang kemudian lahir dari hasil studi yang tidak disengaja tersebut, saya bertanya, ”ada apa denganmu Kawan ?”.</span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 29 Desember 2009</span><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><br /><a style="font-weight: bold;" href="http://bcb7bokpm7jmy6765aql5kgmak.hop.clickbank.net/?tid=88G7BMVN" target="_top">Click Here ! atau ...<br /></a><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-5282173600926850004?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-81532250934469405422010-01-05T20:02:00.004+07:002010-01-17T20:59:20.897+07:00Achievement Motivation Part 3<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S1MOgfpyfGI/AAAAAAAAAGI/zCV-6IO7fb4/s1600-h/achievement-motivation-3.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 229px; height: 167px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S1MOgfpyfGI/AAAAAAAAAGI/zCV-6IO7fb4/s200/achievement-motivation-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427697927326956642" border="0" /></a><span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" >Siapapun Bisa Berprestasi, Mau ? – Bagian 3</span><br /><a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/percaya-pada-apa-yang-tidak-diketahui.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">Oleh. M. Eko Purwanto</span></a><br /><br /><div style="text-align: justify;">Mudah-mudahan dibagian ketiga ini <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/pertengkaran_4135.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">saya bisa menyelesaikan</span></a> pembahasan teori motivasi ini dengan kesimpulan yang mencerahkan. Ada catatan yang saya anggap penting, ketika saya baru saja memutus tulisan di bagian kedua untuk bisa menyambungnya di bagian ketiga ini. <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/bisnis-identik-dengan-keuntungan_15.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">Catatan yang ada dibenak</span></a> saya adalah menambahkan teori motivasinya Mc Clelland dengan Kebutuhan untuk mendapatkan Pencerahan (Need for Enlightment).<span class="fullpost"><span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">Kebutuhan <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/berbisnis-kepada-orang-tua_15.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">untuk mendapatkan pencerahan</span></a> ini menurut saya merupakan esensi dari ketiga kebutuhan sebelumnya, yaitu : Need for Achievement, Need for Power dan Neef for Affiliation. Ketika seseorang merasa tercerahkan maka produktivitas manusia dalam berusaha untuk memenuhi tujuan organisasi maupun pribadi, tidak lagi bisa diukur secara materiil. Seperti halnya, ketika seorang karyawan sudah mencapai <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/belajar-hidup_15.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">kebutuhan aktualisasi diri </span></a>(kebutuhan kelima menurut Maslow).</span><br /><br /><span class="fullpost">Kebutuhan untuk senantiasa mendapatkan pencerahan ini menjadi penting karena apapun yang dilakukan oleh <a href="http://www.purwalodra.com/2009/12/inequality-education.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">setiap individu yang memiliki Value</span></a> (nilai) tertinggi adalah kesadarannya (conciousness), yang tumbuh dari proses pencerahannya tersebut.</span><br /><br /><span class="fullpost">Kesadaran yang kita miliki sekarang akan menentukan kondisi/situasi bahkan nasib kita dan organisasi kita, sekarang dan masa depan. Karena dengan melipatgandakan kesadaran kita maka hidup menjadi lebih bermakna, indah, damai dan menyenangkan, yang pada akhirnya mampu <a href="http://www.purwalodra.com/2009/07/visi-organisasi-adalah-visi-pemimpinnya.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">meningkatkan produktivitas serta kinerja</span></a>. </span><br /><br /><span class="fullpost">Menurut rumus Einstein yang terkenal, yaitu : E = m.c2. Kesadaran /<a href="http://www.soulspirit34.com/2010/01/yoga-meditation.html"><span style="font-style: italic; color: rgb(51, 102, 255);">consciuousness (c) </span></a>yang dikuadratkan (dilipatgandakan) dikalikan dengan berat tubuh fisik kita, akan menghasilkan ENERGI yang luar biasa. Kalo saja <a href="http://www.wartakeluarga34.com/2009/12/recumbent-bike.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">kecepatan</span></a> cahaya (Newton - c2) adalah 300.000 km per detik, maka kecepatan kesadaran kita (manusia) bisa sepuluh kali lipat dari kecepatan cahaya menurut Newton, perdetik. Luar bisa … !!!. Dan kalo rumus Einsten tersebut dikemas menjadi Bom Atom, bisa mengancurkan 2 kota di jepang, Nagasaki dan Heroshima, maka bayangkan berapa <a href="http://www.soulspirit34.com/2010/01/quartz-crystals.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">kekuatan Energi produktif</span></a> yang di dalamnya terdapat kecepatan kesadaran manusia ?. So, enlightment is very important for us.</span><br /><br /><span class="fullpost">Seorang karyawan yang memiliki kesadaran tinggi, tentu juga memiliki <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/college-degrees.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">motivasi berprestasi </span></a>yang tinggi, karena seseorang yang memiliki kesadaran tinggi selain memiliki energi yang luar biasa tinggi, produktif serta pantang berfikir negatif, mereka juga memiliki sifat yang arif, bijak, selalu<a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/strategic-plan.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);"> menghargai orang lain</span></a> dan mensyukuri apapun yang ia miliki. </span><br /><br /><span class="fullpost">Sebagai penguat dari pandangan saya tentang ’Need for Enlightment’ ini, berikut saya kemukakan hasil penelitian tentang gaya manajerial dari 16.000 manajer di Amerika Serikat yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, menengah dan rendah, yang tercermin dalam beberapa sifat sebagai berikut : </span><br /></span><ol><li><span class="fullpost"><span class="fullpost">Manajer dengan motivasi berprestasi yang rendah memiliki karakter pesimis dan tidak percaya dengan kemampuan bawahannya. Sedangkan manajer dengan motivasi berprestasi tinggi sangat optimis dan memandang bawahan baik dan menyenangkan. </span></span></li><li><span class="fullpost"><span class="fullpost">Motivasi manajer dapat diproyeksikan pada bawahannya. Bagi manajer yang bermotivasi prestasi tinggi selalu memperhatikan aspek-aspek pekerjaan yang harus diselesaikan dan mendiskusikan tugas pekerjaan yang harus dicapai bawahannya, sehingga mereka akan menerima. </span></span></li><li><span class="fullpost"><span class="fullpost">Manajer yang bermotivasi berprestasi tinggi cenderung menggunakan metode partisipasi terhadap bawahannya, sedangkan manajer dengan motivasi berprestasi sedang dan rendah selalu menghindar dalam interaksi dan komunikasi terbuka. </span></span></li><li><span class="fullpost"><span class="fullpost">Manajer yang prestasinya tinggi lebih perhatian pada manusia, manajer yang prestasinya sedang lebih memperhatikan tugas/produksi, sedangkan manajer yang prestasinya rendah hanya memperhatikan kepentingan pribadi dan tidak menghiraukan bawahannya. </span></span></li></ol><span class="fullpost"><span class="fullpost">Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi berprestasi dengan tingkat kinerja. Artinya, para karyawan yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan cenderung memiliki tingkat kinerja yang tinggi. Sebaliknya, mereka yang motivasi berprestasinya rendah kemungkinan akan memperoleh kinerja yang rendah.</span><br /></span><ol><li><span class="fullpost"><span class="fullpost">Motivasi mempunyai peran penting dalam organisasi, karena mengikat langsung individu/orang-orang yang menjadi anggota organisasi tersebut. Motivasi juga merupakan modal untuk meningkatkan dan mengembangkan organisasi secara </span></span></li><li><span class="fullpost"><span class="fullpost">Motivasi berprestasi karyawan yang tinggi di suatu organisasi akan memberikan dampak positif, baik bagi diri individu maupun pihak organisasi. </span></span></li><li><span class="fullpost"><span class="fullpost">Karyawan dengan ciri-ciri motivasi berprestasi yang tinggi, akan memiliki keinginan bekerja yang tinggi pula. Karyawan yang lebih mementingkan kepuasan untuk mencapai target organisasi, dibandingkan imbalan atas kinerja tersebut, adalah mereka yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi. Hal ini bukan berarti mereka tidak mengharapkan imbalan, melainkan mereka menyukai tantangan. </span></span></li><li><span class="fullpost"><span class="fullpost">Motivasi berprestasi merupakan suatu dorongan dengan ciri-ciri seseorang melakukan pekerjaan dengan baik dan kinerja yang tinggi. Kebutuhan akan berprestasi tinggi merupakan suatu dorongan yang timbul pada diri seseorang untuk berupaya mencapai target yang telah ditetapkan </span></span></li><li><span class="fullpost"><span class="fullpost">Karyawan lebih menyukai untuk terlibat dalam perilaku berprestasi. Sebaliknya jika karyawan telah dihukum karena mengalami kegagalan, maka perasaan takut terhadap kegagalan akan berkembang dan menimbulkan dorongan untuk menghindarkan diri dari kegagalan, sehingga akan melahirkan karyawan yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah. </span></span></li><li><span class="fullpost"><span class="fullpost">Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi berprestasi dengan tingkat kinerja. Artinya, para anggota organisasi yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan cenderung memiliki tingkat kinerja yang tinggi. Sebaliknya, mereka yang motivasi berprestasinya rendah kemungkinan akan memperoleh kinerja yang rendah.</span></span></li></ol><span class="fullpost"><span class="fullpost">Dari ketiga bagian tulisan tentang motivasi ini, tentu akan semakin bingung khan ?. Oleh karena itu, sesuaikan diri kita dengan <a href="http://9e138okjb0gmw137wjplx1vkof.hop.clickbank.net/?tid=88G7BMVN"><span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 102, 255);">pengetahuan yang kita miliki,</span></a> sesuaikan diri kita dengan kemampuan yang ada pada kita, dan terakhir sesuaikan diri kita dengan kesadaran kita, saat ini !.</span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 30 Desember 2009.</span><br /></span></span></div><span class="fullpost"><br /></span><br /><a style="font-weight: bold;" href="http://9e138okjb0gmw137wjplx1vkof.hop.clickbank.net/?tid=88G7BMVN" target="_top">Click Here ! or ...<br /></a><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-8153225093446940542?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-21140850584135569312010-01-04T16:47:00.004+07:002010-01-17T20:02:15.546+07:00Achievement Motivation Part 2<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S1Lhn6pY8iI/AAAAAAAAAGA/xAmZM1_JIAM/s1600-h/achievement-motivation-2.gif"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 197px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S1Lhn6pY8iI/AAAAAAAAAGA/xAmZM1_JIAM/s200/achievement-motivation-2.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427648576808874530" border="0" /></a><span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 102, 102);font-size:180%;" >Siapapun Bisa Berprestasi, Mau ? – Bagian 2</span><br /><a href="http://www.purwalodra.com/2009/07/visi-organisasi-adalah-visi-pemimpinnya.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">Oleh. M. Eko Purwanto</span></a><br /><br /><div style="text-align: justify;">Pada bagian kedua dari judul tulisan yang sama ini, saya akan melanjutkan beberapa temuan tentang teori <a href="http://www.purwalodra.com/2009/12/inequality-education.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">motivasi pada setiap individu</span></a>. Selain motivasi yang di kemukakan oleh Mc Clelland, ada beberapa teori motivasi lain yang bisa dijadikan untuk memperoleh gambaran yang lebih luas tentang motivasi berprestasi. Sedikitnya terdapat 5 (lima) teori motivasi yang paling popular dan berpengaruh besar dalam praktek pengembangan sumber daya manusia dalam suatu organisasi.<span class="fullpost"><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">a. Teori Efek Hawthorn.</span><br /><br /><span class="fullpost">Penelitian ini dilakukan oleh Elton Mayo pada perusahaan General Electric kawasan Hawthorn di Chicago. Penelitian ini <a href="http://www.purwalodra.com/2009/06/ada-perusahaan-di-sekolah-kita.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">memilki dampak pada motivasi</span></a> kelompok kerja dan sikap karyawan dalam bekerja. Kontribusi dari hasil penelitian tersebut bagi perkembangan teori motivasi adalah : </span><br /><ol><li><span class="fullpost">Kebutuhan dihargai sebagai manusia ternyata lebih penting dalam meningkatkan motivasi dan produktivitas kerja karyawan dibandingkan dengan kondisi fiisik lingkungan kerja. </span></li><li><span class="fullpost">Sikap karyawan dipengaruhi oleh kondisi yang terjadi, baik di dalam maupun di luar lingkungan tempat kerja. </span></li><li><span class="fullpost">Kelompok informal di<a href="http://www.purwalodra.com/2009/05/kemampuan-bertahan-sekolah-mahal.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);"> lingkungan kerja berperan penting dalam membentuk kebiasaan</span></a> dan sikap para karyawan. </span></li><li><span class="fullpost">Kerjasama kelompok tidak terjadi begitu saja, tetapi harus direncanakan dan dikembangkan. </span></li></ol><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">b. Teori Kebutuhan Abraham Maslow.</span><br /><br /><span class="fullpost">Menurut Abraham Maslow pada dasarnya karyawan bekerja untuk <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/belajar-hidup_15.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">memenuhi kebutuhan </span></a>sebagai berikut : </span><br /><span class="fullpost">1. Kebutuhan fisiologis. </span><br /><span class="fullpost">2. Kebutuhan rasa aman. </span><br /><span class="fullpost">3. Kebutuhan social. </span><br /><span class="fullpost">4. Kebutuhan harga diri. </span><br /><span class="fullpost">5. Kebutuhan aktualisasi diri. </span><br /><br /><span class="fullpost">Kebutuhan-kebutuhan tersebut bersifat hierarkis, yaitu suatu kebutuhan akan timbul apabila <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/berbisnis-kepada-orang-tua_15.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">kebutuhan dasar sebelumnya telah dipenuhi</span></a>. Setelah kebutuhan fisiologis seperti pakaian, makanan dan perumahan terpenuhi, maka kebutuhan tersebut akan digantikan dengan kebutuhan rasa aman dan seterusnya. Sehingga tingkat <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/bisnis-identik-dengan-keuntungan_15.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">kebutuhan seseorang akan berbeda-beda</span></a> dalam bekerja. Seseorang yang kebutuhan hanya sekedar makan, maka pekerjaan apapun akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.</span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">c. Teori X dan Y.</span><br /><br /><span class="fullpost">Mc Gregor mengemukakan dua model yang menjelaskan motivasi karyawan yang bekerja yaitu teori X dan teori Y. </span><br /><br /><span class="fullpost">Teori X menganggap bahwa : </span><br /><span class="fullpost">1. Karyawan tidak suka bekerja dan <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/pertengkaran_4135.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">cenderung untuk menghindari kerja</span></a>. </span><br /><span class="fullpost">2. Karyawan harus diawasi dengan ketat dan diancam agar mau bekerja dengan baik. </span><br /><span class="fullpost">3. Prosedur dan disiplin yang keras lebih diutamakan dalam bekerja. </span><br /><span class="fullpost">4. Uang bukan satu-satunya faktor yang memotivasi kerja. </span><br /><span class="fullpost">5. Karyawan tidak perlu diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri. </span><br /><br /><span class="fullpost">Teori Y menganggap bahwa : </span><br /><ol><li><span class="fullpost">Karyawan senang bekerja, sehingga pengawasan dan hukuman tidak diperlukan oleh karyawan. </span></li><li><span class="fullpost">Karyawan akan memiliki komitmen terhadap pekerjaan dan organisasi jika merasa memuaskan. </span></li><li><span class="fullpost">Manusia cenderung ingin belajar. </span></li><li><span class="fullpost">Kreatifitas dan Imajinasi <a href="http://www.wartakeluarga34.com/2009/12/recumbent-bike.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">digunakan untuk memecahkan masala</span></a>h. </span></li></ol><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">d. Teori Hygine dan Motivator.</span><br /><br /><span class="fullpost">Menurut Herzberg, faktor yang menimbulkan kepuasan kerja karyawan berbeda dengan faktor yang menimbulkan ketidak-puasan kerja karyawan. Dalam hubungan ini, Herzberg menemukan dua faktor yang membuat seseorang berperilaku, yakni <a href="http://www.soulspirit34.com/2010/01/yoga-meditation.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">Faktor Hygine </span></a>dan Faktor Motivator. </span><br /><br /><span class="fullpost">Faktor Hygine meliputi : </span><br /><span class="fullpost">1. Kebijakan perusahaan dan sistem administrasinya. </span><br /><span class="fullpost">2. Sistem pengawasan. </span><br /><span class="fullpost">3. Gaya kepemimpinan. </span><br /><span class="fullpost">4. Kondisi lingkungan kerja. </span><br /><span class="fullpost">5. Hubungan antar pribadi. </span><br /><span class="fullpost">6. Gaji / upah. </span><br /><span class="fullpost">7. Status. </span><br /><span class="fullpost">8. Kesehatan dan keselamatan kerja. </span><br /><br /><span class="fullpost">Faktor Motivator meliputi : </span><br /><span class="fullpost">1. Pengakuan. </span><br /><span class="fullpost">2. Penghargaan atas prestasi. </span><br /><span class="fullpost">3. Tanggungjawab yang lebih besar. </span><br /><span class="fullpost">4. Pengembangan karir. </span><br /><span class="fullpost">5. Pengembangan diri. </span><br /><span class="fullpost">6. Minat terhadap pekerjaan. </span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">e. Teori Motivasi Berprestasi </span><br /><br /><span class="fullpost">Organisasi yang baik akan <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/college-degrees.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);"></span></a><a>memberikan dampak positi</a>f, baik bagi individu maupun organisasi. Sikap positif yang ditunjukkan karyawan terhadap organisasi, merupakan cerminan motivasi berprestasi pada diri karyawan. Pengelola organisasi, dalam konteks ini harus memberikan jalan terbaik, dengan jalan lebih memperhatikan para karyawan agar mereka dapat bekerja secara efektif. Motivasi berprestasi menjadi komponen yang sangat berperan dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Karyawan memiliki motivasi berprestasi yang tinggi akan mempunyai semangat, keinginan dan energi yang besar dalam diri individu untuk bekerja seoptimal mungkin. Motivasi berprestasi karyawan yang tinggi akan membawa dampak positif bagi organisasi dan meningkatkan daya saing para karyawan. David McClelland menjelaskan tentang keinginan seseorang untuk mencapai kinerja yang tinggi. </span><br /><br /><span class="fullpost">Hasil penelitian tentang motivasi berprestasi menunjukkan <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/strategic-plan.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">pentingnya menetapkan target</span></a> atau standar keberhasilan. Karyawan dengan ciri-ciri motivasi berprestasi yang tinggi akan memiliki keinginan bekerja yang tinggi. Karyawan lebih mementingkan kepuasan pada saat target telah tercapai dibandingkan imbalan atas kinerja tersebut. Hal ini bukan berarti mereka tidak mengharapkan imbalan, melainkan mereka menyukai tantangan.</span><br /><br /><span class="fullpost">Ada tiga macam kebutuhan yang dimiliki oleh setiap individu yaitu: </span><br /><ol><li><span class="fullpost">Kebutuhan berprestasi (Achievement motivation) yang meliputi tanggung jawab pribadi, kebutuhan untuk mencapai prestasi, umpan balik dan mengambil risiko sedang. </span></li><li><span class="fullpost">Kebutuhan berkuasa (Power motivation) yang meliputi persaingan, mempengaruhi orang lain. </span></li><li><span class="fullpost">Kebutuhan berafiliasi (Affiliation motivation) yang meliputi persahabatan, kerjasama dan perasaan diterima. </span></li></ol><span class="fullpost">Dalam lingkungan pekerjaan, ketiga macam kebutuhan tersebut saling berhubungan, karena setiap karyawan memiliki semua kebutuhan tersebut dengan kadar yang berbeda-beda. Dengan demikian, melalui Pelatihan seseorang bisa dilatih untuk meningkatkan salah satu dari tiga faktor kebutuhan tersebut. Misalnya untuk <a href="http://d4de3rvlgcbdr7abzv3huhqr2g.hop.clickbank.net/?tid=88G7BMVN"><span style="font-weight: bold; font-style: italic;">meningkatkan kebutuhan berprestasi kerja</span></a>, maka karyawan dapat dipertajam tingkat kebutuhan berprestasi dengan menurunkan kebutuhan yang lain. (BERSAMBUNG).</span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 30 Desmber 2009.</span><br /><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><br /><a style="font-weight: bold;" href="http://d4de3rvlgcbdr7abzv3huhqr2g.hop.clickbank.net/?tid=88G7BMVN" target="_top">Click Here ! or ...<br /></a><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-2114085058413556931?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-43510500535497395202010-01-03T16:28:00.004+07:002010-01-17T20:01:52.767+07:00Achievement Motivation Part 1<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S1Lb8olRfHI/AAAAAAAAAF4/-xItgb6IyOE/s1600-h/achievement-motivation.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 215px; height: 149px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S1Lb8olRfHI/AAAAAAAAAF4/-xItgb6IyOE/s200/achievement-motivation.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427642335667256434" border="0" /></a><span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 102, 102);font-size:180%;" >Siapapun Bisa Berprestasi, Mau ? - Bagian 1</span><br /><a href="http://www.purwalodra.com/2009/06/menyelaraskan-kehendak-sekolah-dengan.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">Oleh. M. Eko Purwanto</span></a><br /><br /><div style="text-align: justify;">Dihari kedua pelatihan, saya dan seluruh Peserta mencoba <a href="http://www.purwalodra.com/2009/05/kemampuan-bertahan-sekolah-mahal.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">memahami Achievement</span></a> Motivation atau motivasi berprestasi. Motivasi berasal dari bahasa latin yaitu movere yang berarti bergerak atau menggerakkan. Motivasi diartikan juga sebagai suatu kekuatan sumber daya yang menggerakkan dan mengendalikan perilaku manusia. Motivasi sebagai upaya yang dapat memberikan dorongan kepada seseorang untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki, sedangkan<a href="http://www.purwalodra.com/2009/12/inequality-education.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);"> motif sebagai daya gerak seseorang </span></a>untuk berbuat.<span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">Ketika perilaku seseorang cenderung berorientasi pada tujuan dan didorong oleh keinginan untuk mencapai tujuan tertentu. Maka <a href="http://www.purwalodra.com/2009/07/visi-organisasi-adalah-visi-pemimpinnya.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">motivasi merupakan pendorong</span></a> yang menyebabkan seseorang rela untuk menggerakkan kemampuan tenaga dan waktunya untuk menjalankan semua kegiatan yang telah menjadi tugas dan tanggung jawabnya agar kewajibannya terpenuhi serta sasaran dan tujuan yang ingin dicapai organisasi, bisa terwujud. </span><br /><br /><span class="fullpost">Manusia <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/belajar-hidup_15.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">memiliki banyak motivasi dasar </span></a>yang berperan penting dalam dunia kerja antara lain, motivasi yang diberikan perusahaan/organisasi berupa kompensasi finansial. Sedangkan imbalan yang bersifat non finansial lebih kepada situasi lingkungan kerja yang nyaman, fasilitas-fasilitas yang mendukung proses kerja, dan kepemimpinan yang menghargai s<a href="http://www.soulspirit34.com/2010/01/yoga-meditation.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">ekecil apapun kreativitas</span></a> anggotanya. </span><br /><br /><span class="fullpost">Di dalam suatu organisasi, motivasi berperan penting, karena mengikat langsung pada diri individu/orang-orang di dalam organisasi tersebut. Motivasi yang dimiliki merupakan modal untuk meningkatkan dan mengembangkan organisasi secara optimal. Motivasi menempati posisi terpenting yang harus dimiliki seseorang. Sebab motivasi merupakan <a href="http://www.soulspirit34.com/2010/01/quartz-crystals.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">kemampuan usaha yang dilakukan</span></a> seseorang untuk meraih tujuan organisasi, diringi dengan kemampuan individu untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya. </span><br /><br /><span class="fullpost">Menurut McClelland, manusia memiliki banyak motivasi dasar yang <a href="http://www.wartakeluarga34.com/2009/12/recumbent-bike.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">berperan penting dalam dunia kerja</span></a> yaitu motivasi berprestasi (n–Ach), motivasi berkuasa (n–Pow), dan motivasi berafiliasi (n–Aff). Dari ketiga motivasi dasar tersebut, motivasi berprestasi memiliki peranan yang sangat besar dalam dunia kerja karena usaha yang terus-menerus untuk meraih prestasi, secara empiris terbukti memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap lahirnya bentuk-bentuk <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/college-degrees.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">perilaku wiraswasta serta pertumbuhan organisasi</span></a> dalam jangka panjang. </span><br /><br /><span class="fullpost">Apabila kita menelaah lebih jauh kedalam tentang motivasi dalam suatu organisasi, maka keberadaan perannya ada 2 macam, yaitu peran positif dan peran negatif. Motivasi positif, adalah motivasi yang menimbulkan harapan dan mempunyai sifat menguntungkan/menggembirakan bagi individu/karyawan, misalnya : gaji, fasilitas, karier, jaminan hari tua, jaminan kesehatan dan lain-lain. Sedangkan motivasi negatif, adalah motivasi yang menimbulkan rasa takut dalam berbagai bentuk, misalnya: ancaman, tekanan, kelelahan kerja, kejenuhan dan lain-lain. </span><br /><br /><span class="fullpost">Dalam konteks pekerjaan, motivasi merupakan salah satu faktor penting dalam mendorong seorang karyawan untuk bekerja. Motivasi adalah <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/strategic-plan.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">kesediaan individu untuk memberikan</span></a> kontribusi setinggi mungkin untuk mencapai tujuan organisasi. Ada tiga elemen kunci dalam motivasi yaitu usaha setiap individu, tujuan organisasi dan kebutuhan. Usaha merupakan ukuran intensitas. Bila seseorang termotivasi maka ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuan, namun belum tentu usaha yang tinggi akan <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/belajar-hidup_15.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">menghasilkan kinerja yang tinggi</span></a> pula. Oleh karena itu, diperlukan intensitas dan kualitas dari usaha tersebut serta difokuskan kepada tujuan organisasi. Kebutuhan adalah kondisi internal yang menimbulkan dorongan, dimana kebutuhan yang tidak terpuaskan akan menimbulkan tegangan yang merangsang dorongan dari dalam diri individu. Dorongan ini menimbulkan perilaku pencarian untuk menemukan tujuan-tujuan tertentu yang bukan merupakan tujuan organisasi. Apabila ternyata terjadi pemenuhan kebutuhan, maka akan terjadi pengurangan tegangan. </span><br /><br /><span class="fullpost">Pada dasarnya, karyawan yang termotivasi berada dalam kondisi tegang dan berupaya mengurangi ketegangan dengan mengeluarkan suatu usaha (upaya). Proses motivasi yang menunjukkan adanya kebutuhan yang tidak terpuaskan akan meningkatkan tegangan dan memberikan dorongan pada seseorang untuk melakukan sesuatu, yang digambarkan sebagai berikut : ketika kebutuhan <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/pertengkaran_4135.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">seseorang tidak terpuaskan</span></a>, maka seseorang akan melakukan pencarian untuk mengurangi tegangan tersebut, sampai bisa terpuaskan. Pada umumnya kinerja yang tinggi dihubungkan dengan motivasi yang tinggi. </span><br /><br /><span class="fullpost">Sebaliknya, motivasi yang rendah dihubungkan dengan kinerja yang rendah. Kinerja seseorang kadang-kadang tidak berhubungan dengan kompetensi yang dimiliki, karena terdapat faktor internal dan faktor lingkungan kerja yang mempengaruhi kinerja. <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/bisnis-identik-dengan-keuntungan_15.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">Kinerja yang tinggi adalah fungsi atau interaksi</span></a> antara motivasi, kompetensi dan peluang sumber daya pendukung, sehingga kinerja dapat dirumuskan sebagai berikut: <a href="http://ceeb2iyfq3ghpvfkghf-ar6xfy.hop.clickbank.net/?tid=88G7BMVN"><span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 102, 255);">Kinerja = f (Motivasi x Kompetensi x Kesempatan)</span></a>. BERSAMBUNG.</span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 30 Desember 2009.</span><br /></span></div><br /><a style="font-weight: bold;" href="http://ceeb2iyfq3ghpvfkghf-ar6xfy.hop.clickbank.net/?tid=88G7BMVN" target="_top">Click Here ! or ...<br /></a><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-4351050053549739520?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-76190365097273615012009-12-31T13:18:00.003+07:002010-01-17T16:27:16.551+07:00Cultivate Future<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S0LbfcVPHtI/AAAAAAAAAEw/Fi8VAPF3oYs/s1600-h/masa-depan.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S0LbfcVPHtI/AAAAAAAAAEw/Fi8VAPF3oYs/s200/masa-depan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423138234535190226" border="0" /></a><span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" >Refleksi Akhir Tahun 2009 : “Membudidayakan Masa Depan”</span><br /><a href="http://www.purwalodra.com/2009/10/dinamika-lembaga-pendidikan-swasta-di_7357.html">Oleh. Purwalodra</a><br /><br /><div style="text-align: justify;">Mungkin kelihatan agak janggal mengartikan kalimat sebagaimana judul diatas, namun makna yang tersirat dalam kalimat tersebut tidaklah sesulit kita memahami padanan kata-katanya. Padanan kata yang lazim pada kata ‘budidaya’ pada umumnya diiringi oleh kata ‘tumbuhan’, ‘hewan’ ato lainnya, tentu yang berkaitan dengan ekonomi.<span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">Budidaya masa depan disini maknanya tidak menyimpang jauh dari apa yang sering didefinisikan oleh para ahli ekonomi maupun pertanian. Cuma konteksnya saja yang bebeda. Dibidang ekonomi, kata ‘budidaya’ dimaknai sebagai usaha untuk melipatgandakan komoditas yang bisa dijual (marketable) sehingga akan terjadi kelipatan keuntungan secara finansial. Dibidang pertanian, kata ‘budidaya’ bermakna sebagai usaha untuk meipatgandakan hasil-hasil pertanian dari suatu tanaman, sehingga akan terjadi kelipatan keuntungan secara financial juga. Nah, kalo kata ‘budidaya’ kemudian diikuti dengan kata ‘masa depan’ saya memaknainya sebagai usaha untuk melipatgandakan (baca : meningkatkan) kesadaran kita, sehingga diharapkan akan terjadi kelipatan kesempatan pada hari ini dan dikemudian hari.</span><br /><br /><span class="fullpost">Selain kita mengetahui batasan kata ‘budidaya’, lahan ato tempat untuk membudidayakan, baik di bidang ekonomi maupun pertanian, sudah kita pahami bersama. Sebagai contoh saja, budidaya secara ekonomi salah satunya bertempat di Bursa Effek, dan budidaya pertanian ada di kebun ato sawah. Kemudian kita bertanya, kalo budidaya ‘masa depan’ ada dimana donk ?. Buat sebagian besar orang yang menggunakan secara dominan otak kirinya, kemungkinan besar tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Karena mereka harus berfikir rasional, analitis dan fisikal. Buat saya yang selalu bermain-main dengan otak kanan, mudah saja kok jawabannya. ‘Gitu aja kok repot,” kata Almarhum Gus Dur semasa hidupnya, yang pada hari ini jenazahnya di semayamkan di Jombang, Jawa Timur. </span><br /><br /><span class="fullpost">Tempat membudidayakan masa depan dengan satu-satunya benih ‘kesadaran’ cuma ada di dalam jiwa/kalbu. Kesadaran kita sekarang akan menentukan kondisi/situasi bahkan nasib kita sekarang dan masa depan. Karena dengan melipatgandakan kesadaran kita maka hidup menjadi lebih bermakna, indah, damai dan menyenangkan. Menurut rumus Einstein yang terkenal, yaitu : E = m.c2. Kesadaran (consciuousness – c2) yang dikuadratkan (dilipatgandakan) dikalikan dengan berat tubuh fisik kita maka akan menghasilkan ENERGI yang luar biasa. Kalo saja kecepatan cahaya (Newton - c2) adalah 300.000 km per detik, maka kecepatan kesadaran kita (manusia) bisa sepuluh kali lipat dari kecepatan cahaya menurut Newton, perdetik. Luar bisa … !!!. Dan kalo rumus Einsten tersebut dikemas menjadi Bom Atom, bisa mengancurkan 2 kota di jepang, Nagasaki dan Heroshima, maka bayangkan berapa kekuatan Energi yang di dalamnya terdapat kecepatan kesadaran manusia ?. Maka kemudian, akan terbukti benar bahwa bumi kelak akan hancur oleh kekuatan manusia itu sendiri. For example : The Day After Tommorow and 1912 flim. So, consciousness is cultivated in the soul, would actually have great power, which can not be defeated by anyone and anything.</span><br /><span class="fullpost"> </span><br /><span class="fullpost">Bagaimana kita bisa membudidayakan masa depan melalui kesadaran yang kita lipatgandakan tersebut ?. Mungkin saja setiap orang memiliki banyak cara untuk bisa membudidayakan masa depannya melalui kesadaran ini, salah satunya adalah menghargai dan mensyukuri masa sekarang. Syukuri dan hargai apa yang ada dan apa yang kita miliki. Jangan berharap burung yang sedang terbang, sementara punai (anak burung) ditangan kita lepaskan. </span><br /><br /><span class="fullpost">Pergantian tahun masehi malam ini, mungkin bisa kita gunakan untuk mengevaluasi apakah kesadaran tahun 2009 kemaren benar-benar maksimal kita lakukan ? Mungkin hanya anda dan Tuhan andalah yang tahu.</span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 31 Desember 2009.</span><br /><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-7619036509727361501?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-2073539321153758822009-12-29T16:04:00.002+07:002010-01-17T16:28:28.649+07:00Brain<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S1LWe4AXaYI/AAAAAAAAAFw/4I8UdIGG4m8/s1600-h/brain.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 199px; height: 189px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S1LWe4AXaYI/AAAAAAAAAFw/4I8UdIGG4m8/s200/brain.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427636326853208450" border="0" /></a><span style="color: rgb(255, 102, 102); font-weight: bold;font-size:180%;" >Apakah Otak Kita Sudah Berfungsi Dengan Baik ?</span><br /><a href="http://www.purwalodra.com/2009/06/ada-perusahaan-di-sekolah-kita.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">Oleh M. Eko Purwanto</span></a><br /><br /><div style="text-align: justify;">Judul tulisan ini mungkin membuat kita penasaran, apakah selama ini kita tidak memfungsikan otak kita dengan benar ?. Atau mungkin saja selama ini kita tidak menggunakan otak dalam <a href="http://www.purwalodra.com/2009/05/kemampuan-bertahan-sekolah-mahal.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">berfikir atau berperilaku ?</span></a>. Heh, yang bener aja !. Sebagian besar orang sudah tahu bahwa posisi otak kita berada di kepala, namun ada juga lho ! yang mengatakan bahwa otak kita itu ternyata ada di dengkul, bahkan ada yang mengatakan ada di perut. Kok bisa !!!<span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">Boleh jadi asumsi bahwa otak itu ada diperut, terjadi ketika seseorang stress, biasanya perutnya mulessss ... Dan ada juga yang dengkulnya lemesss ketika ditimpa persoalan berat. Tetapi, okelah kalo begitu ! kita sepakat bahwa otak ada di batok kepala kepala kita, <a href="http://www.purwalodra.com/2009/06/menyelaraskan-kehendak-sekolah-dengan.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">mungkin perlu juga kita mengetahui </span></a>bagaimana otak kita berfungsi dengan baik, terlepas dimana posisi/letak otak kita sekarang.</span><br /><br /><span class="fullpost">Saya melihat bahwa yang namanya “OTAK” atau organ tubuh manusia yang sudah kita sepakati berada dalam tengkorak kepala ini, selain <a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.purwalodra.com/2009/07/visi-organisasi-adalah-visi-pemimpinnya.html">mengalami perkembangan</a> pada masa kanak-kanak, juga akhirnya akan mengalami penurunan daya ingat pada masa/usia tua. Berbagai macam pertanyaan yang berkecamuk di dalam perut, eh !, di kepala kita, antara lain :</span><br /><br /><span class="fullpost">1) Bagaimana sesungguhnya cara kerjanya si “OTAK” sejak dari awal perkembangan pada diri seorang bayi hingga masa penurunan kemampuan kerjanya dalam diri manusia ketika memasuki masa usia tua?</span><br /><span class="fullpost">2) Apakah semua proses kerja “OTAK”<a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/belajar-hidup_15.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);"> berlaku pada semua manusia</span></a>?</span><br /><span class="fullpost">3) Dalam keadaan yang bagaimanakah yang dapat menimbulkan dan mempercepat penurunan daya ingat dari organ “OTAK” ?</span><br /><span class="fullpost">4) Apakah hal ini terjadi pada semua manusia pada usia yang sama ?</span><br /><br /><span class="fullpost">Coba marilah kita bersama-sama <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/percaya-pada-apa-yang-tidak-diketahui.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">memahami dan menyelami bagian kecil dari ciptaan Allah Swt</span></a>. yang cukup berperan penting dalam kehidupan seorang manusia ini.</span><br /><span class="fullpost"> </span><br /><span class="fullpost">Organ tubuh yang bernama “OTAK”, adalah sesuatu yang tidak dapat ditandingi oleh komputer manapun di dunia dengan <a href="http://www.soulspirit34.com/2010/01/yoga-meditation.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">tingkat kemampuan memori dan kecepatan yang canggih</span></a> sekalipun. Ya, memang ada komputer atau sejenis alat hitung yang bekerjanya lebih cepat dari beberapa otak manusia pada zaman tertentu. Akan tetapi si “OTAK” inilah yang menuangkan ide-idenya kedalam bentuk <a href="http://www.wartakeluarga34.com/2009/12/recumbent-bike.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">alat-alat elektronika </span></a>yang oleh manusia diberi nama Komputer sampai dengan alat tersebut dapat melakukan kerja berhitung atau yang lain melampaui beberapa otak manusia pada zaman tertentu dan tempat tertentu. </span><br /><br /><span class="fullpost">Jadi, bentuk si “OTAK” <a href="http://www.soulspirit34.com/2010/01/quartz-crystals.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">memiliki ukuran kecil saja</span></a>, namun ia adalah bagian yang dapat membentuk watak/tabiat dan perilaku serta menjadi salah satu faktor dari seorang manusia. Perlu diingat juga bahwa setiap manusia dikaruniakan organ otak yang berkembang secara unik, sekalipun pada otak bayi yang lahir kembar identik. Kesamaan genetika mereka <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/strategic-plan.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">termodifikasi dengan variasi</span></a> dalam otak dan sistim saraf masing-masing. Sejak dari embrio janin sampai dengan bayi yang baru lahir, pada masa itu terjadi proses multiplikasi, migrasi dan kolonisasi sel-sel dalam membentuk susunan otak dan sistem saraf pusat. Yang menarik dalam proses tersebut adalah adanya suatu molekul yang membimbing sel agar membentuk organ yang tepat. </span><br /><br /><span class="fullpost">Dalam proses pembentukan organ otak, terjadi pergerakan/perpindahan sel-sel didalamnya. Sementara sistem sentral saraf melakukan perjalanan panjang, secara berkelompok dalam tujuannya, untuk memastikan tidak ada otak yang sama antara satu otak dengan otak yang lainnya. Dan unsur pembentuk sistem saraf dalam organ otak adalah NEURON (Sel Saraf) yang dihasilkan oleh otak itu sendiri. Sebagai contoh, dalam minggu ketiga masa kehamilan, organ otak dapat menghasilkan 250.000 Neuron setiap menit. Sebab dengan adanya Neuron inilah yang memungkinkan manusia melakukan aktifitasnya seperti berfikir, berbicara, s.d. melakukan tindakan berolah raga, misalnya. </span><br /><br /><span class="fullpost">Cara kerja Neuron sendiri sudah terorganisir sedemikian rupa dengan fungsi yang berbeda-beda. Ada 3 bagian khusus dari Neuron yang mengatur cara kerjanya: </span><br /><span class="fullpost">a) Tindakan yang berhubungan dengan dunia luar (seperti: melihat pemandangan, mendengarkan musik, merasakan panasnya sinar matahari, menyentuh buku atau mengecap makanan); </span><br /><span class="fullpost">b) Hal-hal yang berkaitan dengan otot, gerakan, dsb; </span><br /><span class="fullpost">c) Yang berkaitan dengan kemampuan seperti: berfikir, mengingat, membayangkan dan kemampuan lainnya. Prof. Susan Greenfild, pakar Neuron dari Oxford mengatakan bahwa satu Neuron dapat mengirimkan transmisi kimia 500 kali dalam satu detik. Sementara tiap transmisi itu memiliki fungsi yang berbeda. </span><br /><br /><span class="fullpost">Yang penting adalah perlu adanya <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/college-degrees.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">informasi Auto-dialing yang teratur</span></a>/tetap guna membentuk sistem saraf di atas. Sebab jika terjadi gangguan seperti: ketagihan obat bius, terinveksi virus dan malnutrisi, dapat merusak proses pembentukan. Pada saat manusia dilahirkan (bayi), ia memiliki sekitar satu milyar sel otak, dan akan berkembang secara luar biasa menjadi triliyunan jaringan baru. Sedang pada usia 2 tahun, otak kanak-kanak memiliki sinapsis atau simpul saraf dua kali lebih banyak dibandingkan dengan yang dimiliki otak manusia dewasa. Begitu juga dengan energi yang dimilikinya adalah dua kali lebih besar. </span><br /><br /><span class="fullpost">Dari mulai di dalam rahim, pengalaman-pengalaman yang dialami oleh janin akan mempengaruhi pembentukan jaringan yang dibuat. Proses pertumbuhan yang baik ini mengalami perhentian pada saat manusia berumur 10 tahun. Dan beberapa tahun kemudian, organ otak mulai mengalami penyesuaian karena adanya sinapsis atau simpul saraf yang rusak. Dari proses penyesuaian ini menyebabkan tingkat kekenyalan otak yang menurun, namun tingkat kekuatannya mengalami peningkatan. Itulah sebabnya pada usia kurang lebih 18 tahun keatas - umumnya - kepribadian seseorang mulai terbentuk (dari hasil kerja dan pengaruh kompleks antara Gen dan pengalaman pribadi). </span><br /><br /><span class="fullpost">Sejalan dengan bertambahnya usia seseorang, maka organ otak akan mengalami penyusutan dan hal ini akan menjadi semakin tampak pada manusia di usia manula. Sebagai contoh, pada usia manusia mencapai 70 tahun, volume otak akan mengalami penurunan 10 % untuk setiap 10 tahun. Jadi jika manusia memasuki usia 80 tahun, maka volume otaknya sudah mengalami penurunan 20 %. </span><br /><br /><span class="fullpost">Proses penyusutan volume otak bukanlah sesuatu hal yang <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/pertengkaran_4135.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">perlu dikhawatirkan, </span></a>sebab proses ini bukan berarti manusia akan mengalami penurunan tingkat kemampuan atau menjadi bodoh. Yang menentukan optimal atau tidaknya fungsi otak ialah hubungan antar jaringan otak atau interkoneksi antar Neuron itu sendiri yang penting. </span><br /><br /><span class="fullpost">Dengan keberadaan otak kita sekarang, kita pantas bersyukur atas segala proses terbentuknya organ otak dalam diri manusia. Otak yang dikaruniakan oleh sang Pencipta memiliki kekuatan melampaui komputer tercanggih manapun. Oleh karena itu, <a href="http://52478hveqajmn91fhg08sq6za1.hop.clickbank.net/?tid=88G7BMVN"><span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 102, 255);">otak harus digunakan sebaik mungkin</span></a> agar bermanfaat untuk orang banyak. Gimana caranya ? Berfikirlah positip !.</span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 29 Desember 2009.</span><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><br /><a style="font-weight: bold;" href="http://52478hveqajmn91fhg08sq6za1.hop.clickbank.net/?tid=88G7BMVN" target="_top">Click Here ! or ...<br /></a><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-207353932115375882?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-27805407007711685562009-12-29T15:44:00.004+07:002010-01-17T16:26:04.921+07:00Creativity<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S1LR4S5YFqI/AAAAAAAAAFo/bFi8ozS2iNQ/s1600-h/krativitas.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 173px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S1LR4S5YFqI/AAAAAAAAAFo/bFi8ozS2iNQ/s200/krativitas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427631266010240674" border="0" /></a><span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 102, 102);font-size:180%;" >Membangun Kreativitas</span><br /><a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.purwalodra.com/2009/05/kemampuan-bertahan-sekolah-mahal.html">Oleh. M. Eko Purwanto</a><br /><br /><div style="text-align: justify;">Menurut para ahli, seseorang yang kreatif selalu melihat segala sesuatu dengan cara berbeda dan baru, dan biasanya tidak dilihat oleh orang lain. Orang yang kreatif, pada umumnya mengetahui permasalahan dengan sangat baik dan disiplin, biasanya dapat melakukan sesuatu yang menyimpang dari cara-cara tradisional. <a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.purwalodra.com/2009/06/ada-perusahaan-di-sekolah-kita.html">Proses kreativitas melibatkan adanya ide-ide baru</a>, berguna, dan tidak terduga tetapi dapat diimplementasikan.<span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">Orang-orang kreatif adalah orang-orang yang berpihak kepada perubahan, Karena <a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.purwalodra.com/2009/06/menyelaraskan-kehendak-sekolah-dengan.html">pengertian kreativitas</a> itu sendiri adalah :</span><br /><ol><li><span class="fullpost">Kemamampuan seseorang untuk melihat dengan sudut pandang/perspektif baru.</span></li><li><span class="fullpost">Kemampuan seseorang untuk menemukan hubungan baru.</span></li><li><span class="fullpost">Kemampuan seseorang untuk membentuk kombinasi dari suatu/beberapa obyek, konsep, atau fenomena.</span></li></ol><span class="fullpost"> </span><span class="fullpost"><a href="http://www.soulspirit34.com/2010/01/yoga-meditation.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">Orang-orang kreatif</span></a> selalu berhadapan dengan orang-orang yang tidak senang terhadap perubahan, oleh karena itu orang-orang yang kreatif biasanya distempel sebagai orang-orang agresif, obsesif dan lain-lain, yang mungkin sewaktu-waktu bisa menimbulkan anarkis, secara fikiran, mental maupun fisik. Perusahaan-perusahaan yang memiliki orang-orang kreatif tidak akan menguntungkan secara finansial dalam jangka pendek. Hanya perusahaan visoner-lah yang mampu menampung orang-orang kreatif ini bisa bekerja di dalamnya.</span><br /><br /><span class="fullpost">Indikator suatu perusahaan yang memelihara orang-orang kreatif, antara lain : Karyawan bekerja dengan nyaman dan menyenangkan tanpa tekanan, tidak ada karyawan yang bekerja secara ABS (asal bapak senang), hubungan kerja yang harmonis tanpa office politic yang mengarah kepada friksi antar kelompok kerja, dan lain-lain. Jika perusahaan menginginkan adanya <a href="http://www.soulspirit34.com/2010/01/quartz-crystals.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">peningkatan kualitas kinerja</span></a>, baik secara individu maupun secara organisasi, maka mau tidak mau atau suka tidak suka, harus melalui tahap ini, yaitu : membangun kreativitas mereka.</span><br /><br /><span class="fullpost">Menurut para pakar HRD, Secara umum tahapan kreativitas dapat dibagi dalam empat tahap: Exploring, Inventing, Choosing dan Implementing.</span><br /><br /><span class="fullpost">Exploring. Pada tahap ini pekerja atau karyawan, mulai mampu mengidentifikasi hal-hal apa saja yang<a href="http://www.wartakeluarga34.com/2009/12/recumbent-bike.html"> i</a><a><span style="color: rgb(51, 102, 255);">ngin dilakukan dalam kondisi yang ada saat in</span></a><a href="http://www.wartakeluarga34.com/2009/12/recumbent-bike.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">i</span></a>. Sekali mereka mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut maka proses kreativitas sudah dimulai. Hal penting yang harus diperhatikan pada saat ini adalah menciptakan iklim yang menunjang proses berpikir kreatif. Kalau tidak, maka orang-orang seperti ini biasa menjadi kritikus kelas kakap.</span><br /><br /><span class="fullpost">Inventing. Pada tahap ini, karyawan yang sudah menemukan identitas dirinya, akan melihat atau mereview dan <a href="http://www.wartakeluarga34.com/2009/12/bike-racks.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">mencari berbagai alat</span></a>, teknik dan metode atau bahasa sederhananya ‘cara’ yang telah dimiliki, yang mungkin dapat membantu dalam menghilangkan cara berpikir dan bertidak, yang traditional. Pada tahap ini karyawan sudah mulai menjadi penganut aliran perubahan. the life is change, change in progress.</span><br /><br /><span class="fullpost">Choosing. Pada tahap ini, karyawan selain sudah <a href="http://www.edumanagementtrailer.com/2010/01/strategic-plan.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">mengidentifikasi dirinya dan memilih ide-ide</span></a> yang paling mungkin untuk dilaksanakan, mereka juga mampu mengubah lingkungannya. Bahayanya, kalau lingkungan kerjanya tidak mendukung aliran yang dianutnya, ia bakal memiliki profesi provokator ulung. </span><br /><br /><span class="fullpost">Implementing. Tahap akhir karyawan atau pekerja dapat disebut kreatif adalah bagaimana membuat ide-idenya ini segera <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/belajar-hidup_15.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">dapat diimplementasikan</span></a>. Jika ide-ide ini tidak tersalurkan dengan baik, maka mereka akan menjadi kutu loncat (kenalnya waktu dikampung), alias pindah kerja dari perusahaan yang satu ke perusahaan yang lain.</span><br /><br /><span class="fullpost">Pakar-pakar HRD itu juga menegaskan, keempat tahapan ini pasti dilalui oleh seorang kreator, atau <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/berbisnis-kepada-orang-tua_15.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">orang-orang yang disebut kreatif</span></a> (Orang-orang kreatif yang baca tulisan ini pasti manggut-manggut), Iye, iye, bener juga tuh ? </span><br /><br /><span class="fullpost">Saya lanjutkan lagi, ya ?. Menurut Charles Prather, dalam bukunya Blueprint for Innovation, gaya atau model <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/bisnis-identik-dengan-keuntungan_15.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">kreativitas seseorang bersifat menetap</span></a>. Prather membagi dua gaya kreativitas:</span><br /><br /><span class="fullpost">Adaptive Problem Solving. Orang-orang yang memiliki gaya ini dalam bekerja, cenderung menggunakan kreativitas untuk menyempurnakan system dimana mereka bekerja. Hal-hal yang terlihat pada orang yang memiliki gaya ini adalah bahwa mereka akan berusaha sekuat pikiran dan tindakannya untuk membuat system menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih murah dan efisien. Apa yang mereka lakukan akan dapat dilihat hasilnya secara cepat. </span><br /><br /><span class="fullpost">Innovative Problem Solving. Orang-orang yang memiliki gaya ini dalam bekerja cenderung untuk me<a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/percaya-pada-apa-yang-tidak-diketahui.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">nantang dan mengubah sistem yang sudah ada. Mereka dapat disebut sebagai </span></a>"agent of change" karena lebih memfokuskan pada penemuan sistem baru daripada menyempurnakan yang sudah ada. Dalam suatu perusahaan mereka dapat dilihat pada bagian-bagian yang melakukan riset, penciptaan produk baru, mengantisipasi kebutuhan pelanggan tanpa diminta, dan orang-orang yang menjaga kelangsungan hidup perusahaan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, niat untuk <a href="http://66293nsmb4dp149as8q427kdqw.hop.clickbank.net/?tid=88G7BMVN"><span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 102, 255);">membangun kreativitas</span></a> di tempat kerja lahir dari seorang pemimpin yang visoner, bukan pemimpin yang hanya memiliki kepentingan sesaat.</span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 29 Desember 2009.</span><br /></span></div><br /><a style="font-weight: bold;" href="http://66293nsmb4dp149as8q427kdqw.hop.clickbank.net/?tid=88G7BMVN" target="_top">Click Here ! or ...<br /></a><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-2780540700771168556?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-41471859317206693222009-12-28T23:45:00.004+07:002010-01-13T00:01:24.185+07:00Inequalities Education<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S0ypn1M6KxI/AAAAAAAAAFI/6VInO50RJE8/s1600-h/inequalities-education.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 214px; height: 137px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S0ypn1M6KxI/AAAAAAAAAFI/6VInO50RJE8/s200/inequalities-education.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425898152835820306" border="0" /></a><span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 102, 102);font-size:180%;" >Mengukur Kualitas Pelayanan, Bagian 2</span><br /><a href="http://www.purwalodra.com/2009/12/inequality-education.html">Oleh. M. Eko Purwanto</a><br /><br /><div style="text-align: justify;">Pada bagian pertama tulisan saya dengan judul yang sama, saya mengatakan bahwa untuk mengenali siapa Stakeholders kita, terlebih dahulu kita <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/pegembangan-imajinasi-dan-masa-krisis.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">mengumpulkan informasi</span></a> tentang Stakeholders kita, mulai dari latar belakang dari daerah mana ia berasal, posisi/jabatan, dan apa yang mereka butuhkan dari kita. Selanjutnya, ketika informasi itu sudah kita miliki, maka kita harus mengidentifikasi harapan dan <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/pandangan-kritis-strategi-memasarkan.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">faktor-faktor yang penting bagi Stakeholders</span></a> terhadap pelayanan kita. Setelah itu, kita juga perlu mengetahui seberapa besar dukungan dan daya tawar Stakeholder terhadap keberlangsungan hidup organisasi kita.<br /><span class="fullpost"><br /><span class="fullpost">Bagian kedua tulisan ini, saya akan mempertanyakan bagaimana kita <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/sertifikasi-guru_17.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">mengukur kualitas pelayanan</span></a>, kepada Stakeholders. Pertanyaan ini akan memperoleh jawaban ketika kita memahami konsep kepuasan Stakeholders. Yang penting, dalam melakukan proses pelayanan adalah memenuhi <a href="http://www.purwalodra.com/2009/05/kemampuan-bertahan-sekolah-mahal.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">harapan-harapan Stakeholder</span></a>, itu saja. Kalau saja Stakeholder merasa puas maka kegiatan usaha kita, apapun bentuknya, akan mampu meningkatkan daya jual produk. </span><br /><br /><span class="fullpost">Stakeholders, termasuk konsumen, supplier, karyawan dan lain-lain, harus menjadi perhatian kita untuk dipuaskan, kalau tidak maka ukuran kualitas pelayanan kita bernilai rendah. Sementara itu, kepuasan Stakeholders bisa terjadi apabila PEMENUHAN HARAPAN Stakeholders sama dengan dan/atau lebih besar dari HARAPAN Stakeholders. Jika terjadi sebaliknya, dimana PEMENUHAN HARAPAN lebih kecil dari HARAPAN Stakeholders maka ketidakpuasan pun muncul, dan organisasi kita <a href="http://www.purwalodra.com/2009/06/ada-perusahaan-di-sekolah-kita.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">mengalami krisis kepercayaan</span></a>.</span><br /><br /><span class="fullpost">Lalu, mengapa Stakeholders memiliki harapan terhadap kita dan organisasi ?. Stakeholders memiliki harapan karena <a href="http://www.purwalodra.com/2009/06/menyelaraskan-kehendak-sekolah-dengan.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">janji yang diberikan oleh organisasi</span></a>, unit kerja kita atau kita sendiri; Karena informasi dari pihak lain mengenai organisasi, unit kerja kita dan kita sendiri; dan, Karena pengalaman/kebiasaan sebelumnya. Ketika Stakeholders memiliki harapan terhadap kita dan organisasi kita, maka wajib hukumnya kita dan organisasi untuk memenuhinya, kalau tidak, maka bersiaplah untuk mengalami krisis ketidakpercayaan.</span><br /><br /><span class="fullpost">Dalam rangka memenuhi harapan Stakeholders ini kita bisa melakukannya melalui beberapa cara, antara lain : <a href="http://www.purwalodra.com/2009/07/psb-sistem-online.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">meningkatkan kualitas pelayanan</span></a> kita, bukti fisik yang kita tunjukkan kepada Stakeholders, dan mempertimbangkan biaya yang harus dibebankan kepada Stakeholders. Tentunya, dalam memenuhi harapan Stakeholders ini selain kita harus mengenal Stakeholders, kita juga harus mengetahui apa yang menjadi harapan-harapannya terhadap kita dan organisasi kita.</span><br /><br /><span class="fullpost">Pada umumnya, harapan Stakeholders kepada kita dan organisasi, antara lain : </span><br /><span class="fullpost">1. Adanya penampilan fasilitas / bentuk fisik yang menarik dan memiliki citra positif di masyarakat (tangible).</span><br /><span class="fullpost">2. Adanya kemampuan menyampaikan jasa dengan tepat (reliability).</span><br /><span class="fullpost">3. Adanya keinginan untuk membantu atau memenuhi kebutuhan konsumen (responsiveness).</span><br /><span class="fullpost">4. Adanya jaminan (assurance) atas : Pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki (compentence); Etika, sopan santun dan ramah (courtesy); Dapat dipercaya (credibility); Bebas dari bahaya atau keraguan (security).</span><br /><span class="fullpost">5. Adanya <a href="http://www.soulspirit34.com/2009/11/alternative-healing.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">perhatian yang dalam (empathy)</span></a>, yaitu : kita dan organisasi kita mudah dihubungi (access); kita dan organisasi kita mau mendengarkan keluhan Stakeholders (communication); dan memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan (understanding the customer).</span><br /><br /><span class="fullpost">Dengan demikian, ketika kita mengenal siapa Stakeholders kita dan memahami harapan-harapannya, maka dengan mudah kita bisa <a href="http://www.lifecargotrailer.com/2009/12/first-health.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">mempertimbangkan apa saja yang bisa kita penuhi</span></a> harapan-harapannya itu dengan baik. Banyak strategi yang bisa kita gunakan untuk memenuhi harapan-harapan Stakeholders kita. Prinsip yang perlu kita bangun sederhana saja, ”pentingkan orang lain, jika kita ingin diangap penting !.”</span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 28 Desember 2009.</span><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><br /><a style="font-weight: bold;" href="http://23711unhdcfi049jrfld2lubmr.hop.clickbank.net/?tid=88G7BMVN" target="_top">Click Here ! or ...<br /></a><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-4147185931720669322?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-36114826967378549842009-12-28T23:27:00.003+07:002010-01-12T23:45:29.247+07:00Inequality Education<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S0ylH24tczI/AAAAAAAAAFA/0-nLqdJ5ItI/s1600-h/inequality-education.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 195px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S0ylH24tczI/AAAAAAAAAFA/0-nLqdJ5ItI/s200/inequality-education.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425893205485646642" border="0" /></a><span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 102, 102);font-size:180%;" >Mengukur Kualitas Pelayanan, Bagian 1</span><br /><a href="http://www.purwalodra.com/2009/12/education.html">Oleh. M. Eko Purwanto</a><br /><br /><div style="text-align: justify;">Sesi lain, dalam suatu Pelatihan Karyawan, Instruktur <a href="http://www.purwalodra.com/2009/10/menjadi-guru-yang-konstruktif-bagian-1.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">menyampaikan pokok bahasan</span></a> yang berjudul, ”Layanan Berkualitas Di Tempat Kerja.” Tujuan materi ini, adalah memahami konsep tentang Stakeholders; Siapa Stakeholders kita; Mengenali harapan dari Stakeholders kita; dan Bagaimana menyampaikan layanan pada Stakeholders. Konsekwensi untuk <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/pegembangan-imajinasi-dan-masa-krisis.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">memahami materi ini saja sudah cukup berat</span></a> buat saya, apalagi menjalankannya. Alhamdulillah, berkat niat dan motivasi untuk senantiasa bisa bermanfaat buat orang lain, maka saya bisa memahaminya dengan pengetahuan, kebiasaan dan kemampuan yang ada pada diri saya.<br /><span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">Pemahaman saya tentang Stakeholders selama ini selalu dikacaukan oleh pemahaman awal saya yang negatif bahwa <span style="color: rgb(51, 102, 255);">Stakeholders adalah orang-orang/lembaga/institusi </span>yang berkepantingan terhadap diri saya. Pemahaman inilah yang pada akhirnya menjadikan diri saya menjadi seorang yang egois, yang hanya mementingkan diri sendiri, tanpa perlu mementingkan orang lain. Ketika Instruktur menyampaikan bahasan-bahasannya secara dalam, baru saya mengerti bahwa Stakeholder itu adalah pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dan pengaruh terhadap organisasi, bukannya terhadap diri saya sendiri. Atau dengan kalimat lain, Stakeholders adalah seorang atau kelompok orang yang punya pengaruh yang nyata terhadap <a href="http://www.purwalodra.com/2009/07/psb-sistem-online.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">proses pembuatan Keputusan</span></a> atau terhadap Implementasinya.</span><br /><br /><span class="fullpost">Dalam suatu lembaga/institusi/perusahaan, Stakeholders biasanya terdiri dari Stakeholder Internal dan Stakeholders Ekasternal. <a href="http://www.purwalodra.com/2009/06/menyelaraskan-kehendak-sekolah-dengan.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">Stakeholder internal</span></a> adalah orang-orang atau unit-unit kerja di dalam institusi tersebut, yang berpengaruh terhadap keberhasilan dan kelangsungan hidup institusi tersebut. Sementara itu Stakeholder eksternal adalah orang-orang, lembaga atau pihak-pihak lainnya di luar struktur institusi kita, dan berpengaruh terhadap keberhasilan serta juga menentukan <a href="http://www.purwalodra.com/2009/06/ada-perusahaan-di-sekolah-kita.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">kelangsungan hidup institusi</span></a> kita. Pertanyaan selanjutnya, mengapa Stakeholders menjadi penting ?. </span><br /><br /><span class="fullpost">Instruktur menguraikan bahwa Stakeholders :</span><br /><span class="fullpost">1. Dapat menentukan hidup-matinya organisasi/individu.</span><br /><span class="fullpost">2. Bisa mendukung keberhasilan organisasi/individu.</span><br /><span class="fullpost">3. Bisa menghambat jalannya organisasi/individu.</span><br /><span class="fullpost"> </span><br /><span class="fullpost">Ketika kita menganggap <a href="http://www.purwalodra.com/2009/05/kemampuan-bertahan-sekolah-mahal.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">Stakeholder adalah sangat-sangat penting</span></a> dalam hubungannya dengan kita dan organisasi kita, maka kita dihadapkan kepada bagaimana mengelola/memenejemeni hubungan dengan Stakeholders kita. Sebelum kita mengelola Stakeholders, tentunya kita harus mengetahui terlebih dulu apa dan siapa Stakeholders kita tersebut. Dan dalam proses pengelolaan ini, kita membutuhkan komunikasi yang efektif dan persuasif. Nah, untuk memahami komunikasi yang efktif dan persuasif ini, ada pelatihan tersendiri yang tidak terangkai dengan Pelatihan yang saya ikuti. </span><br /><br /><span class="fullpost">Untuk mengenali siapa Stakeholders kita, terlebih dahulu kita <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/sertifikasi-guru_17.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">mengumpulkan informasi tentang Stakeholders</span></a> kita, mulai dari latar belakang dari daerah mana ia berasal, posisi/jabatan, dan apa yang mereka butuhkan dari kita. Selanjutnya, ketika informasi itu sudah kita miliki, maka kita harus mengidentifikasi harapan dan faktor –faktor yang penting bagi Stakeholders terhadap pelayanan kita. Setelah itu, kita juga perlu mengetahui seberapa besar dukungan dan daya tawar Stakeholder terhadap<a href="http://www.soulspirit34.com/2009/12/consciousness-higher.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);"> keberlangsungan hidup organisasi</span></a> kita.</span><br /><br /><span class="fullpost">Dengan mengenali Stakeholders, maka kita <a href="http://www.lifecargotrailer.com/2009/12/health-fitness.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">mampu mengukur kualitas </span></a>pelayanan yang kita berikan kepada Stakeholfers. Dengan kemampuan kita mengukur pelayanan inilah, maka kelangsungan kidup kita dan organisasi yang kita kelola Insya Allah akan baik, dan memiliki kualitas yang diharapkan oleh pengguna.</span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 28 Desember 2009.</span><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><br /><a style="font-weight: bold;" href="http://3d5cekvcp1ekn7f8b2-o2edfcg.hop.clickbank.net/?tid=88G7BMVN" target="_top">Click Here ! or ...<br /></a><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-3611482696737854984?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-26507916384705832782009-12-28T23:10:00.000+07:002010-01-12T23:27:31.878+07:00Education The<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S0ygQkqXEFI/AAAAAAAAAE4/WO0GnPRR86E/s1600-h/Education-The.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 140px; height: 183px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/S0ygQkqXEFI/AAAAAAAAAE4/WO0GnPRR86E/s200/Education-The.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425887857654304850" border="0" /></a><span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 102, 102);font-size:180%;" >Sugnature Game</span><br /><a href="http://www.purwalodra.com/2009/12/membudidayakan-masa-depan.html">Oleh. M. Eko Purwanto</a><br /><br /><div style="text-align: justify;">Sebelum Pelatihan Karyawan dimulai, instruktur membukanya dengan melakukan permainan tandatangan (Signature Game). Permainan ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana kita saling mengenal dan <a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.purwalodra.com/2009/04/pegembangan-imajinasi-dan-masa-krisis.html">memahami perilaku bahkan karakter</a> teman-teman sekerja kita, yang selama ini bersama-sama bekerja di sebuah institusi/lembaga/perusahaan. Pertanyaannya adalah, apakah kita saling mengenal satu sama lain, dari teman-teman kerja kita tersebut ?<br /><span class="fullpost"><br /><span class="fullpost">Dalam ’Signature Game’ ini, kita menerima satu lembar ketas dari instruktur, yang berisi petunjuk permainan dan tabel yang bertuliskan pernyataan tentang perilaku/ kebiasaan/ karakter seseorang (mulai dari positif sampai yang bersifat negatif. Dalam waktu 2 (dua) menit, kita berusaha untuk mendapatkan tandatangan sebanyak-banyaknya dari seluruh peserta pelatihan. Namun ketika kita akan meminta tandatangan kepada teman-teman kita, terlebih dahulu kita harus mencocokan <a href="http://www.soulspirit34.com/2009/12/awakening-spiritual.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">perilaku/kebiasaan/karakter</span></a> orang yang kita mintai tandatangannya tersebut, kalau tidak, maka pernyataan yang ada dalam tabel tersebut tidak sesuai dengan nama dan tandatangannya. Boleh jadi teman kita tersebut tidak mau menandatangani pernyataan yang bertuliskan, ”Kaos kakinya bolong”, ”Suka tidur di jam kerja” dan lainnya yang bersifat negatif. Wal hasil, teman-teman yang kita mintai tandatangan perlu hati-hati membaca pernyataan yang sesuai dengan perilaku/kebiasaan/ <a href="http://www.lifecargotrailer.com/2010/01/hypnotherapy.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">kareakter dirinya,</span></a> baru dia mau tandatangan.</span><br /><br /><span class="fullpost">Jumlah pernyataan yang terdapat dalam tabel tersebut hanya 20 pernyataan, namun waktu yang diberikan hanya 2 menit. Bagi teman-teman yang biasa menggunakan otak kirinya, yang <a href="http://www.soulspirit34.com/2009/11/alternative-healing.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">berfikir urut, sistematis, rasional dan logis</span></a>, akan mengalami kesulitan untuk mencocokan/ menyesuaikan pernyataan yang ada dalam tabel dengan perilaku/kebiasaan/karakter teman-temannya yang dimintainya tandatangan tersebut. Dia harus memilah, memilih dan baru mencari tandatangan. Wal hasil,<span style="color: rgb(51, 102, 255);"> </span><a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/pandangan-kritis-strategi-memasarkan.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">waktu yang hanya dua meni</span>t</a> cuma menghasilkan maksimal 10 tandatangan. </span><br /><br /><span class="fullpost">Dalam permainan ini, saya biasa bermain-main dengan otak kanan saya, meskipun otak kiri rutin saya gunakan. Untuk hal-hal yang bersifat permainan (bahkan kehidupan ini juga suatu permainan akbar), saya selalu menggunakan otak kanan untuk berfikir, dan menggunakan otak kiri untuk bertindak. <a href="http://www.purwalodra.com/2009/04/sertifikasi-guru_17.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">Dengan metode tersebut</span></a>, harapan saya seluruh kolom pernyataan akan terisi tandatangan. </span><br /><br /><span class="fullpost">Caranya ?. Mudah saja, lipat kolom bagian <a href="http://www.purwalodra.com/2009/05/kemampuan-bertahan-sekolah-mahal.html"><span style="color: rgb(51, 102, 255);">pernyataan yang berisi hal-hal positif</span></a> dan negatif dari perilaku/kebiasaan/karakter teman-teman kita, yang akan dimintai tandatangan, kemudian sodorkan ke mereka hanya kolom nama dan tandatangan saja. Wal hasil, seluruh kolom tandatangan semuanya terisi tandatangan dari teman-teman saya, tanpa boleh melihat dulu kolom pernyataan yang harus ia tandatangani. Kemudian, dan pada akhir session permainan ini, sayapun berhak atas sebungkus coklat dari instruktur.</span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 28 Desember 2009.</span><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><br /><a style="font-weight: bold;" href="http://a8960tnid9mkrwf967qlih6ymb.hop.clickbank.net/?tid=88G7BMVN" target="_top">Click Here! or ...<br /></a><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-2650791638470583278?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-26842449524264686632009-10-28T10:35:00.001+07:002009-10-28T10:37:01.427+07:00DINAMIKA LEMBAGA PENDIDIKAN SWASTA DI INDONESIA – Bagian 3Oleh. Purwalodra / Dr. M. Eko Purwanto, SE, MM<br />(Wiradarma Education Consultant)<br /><br /><span style="font-weight: bold;">Strategi Mengatasi Fluktuasi Permintaan Jasa Pendidikan</span><br /><br /><div style="text-align: justify;">Seperti tahun-tahun sebelumnya, dibulan Nopember dan Desember, lembaga-lembaga pendidikan sudah melakukan ’marketing war’ (perang pemasaran), provokatornya justru datang dari lembaga-lembaga pendidikan swasta yang berbayar mahal. Mungkin saja mereka memiliki dana besar untuk melakukan itu, atau mungkin karena lembaga-lembaga pendidikan berbayar mahal tersebut sudah semakin banyak, sehingga terjadi kelebihan penawaran. Namun, bagi lembaga pendidikan yang memiliki dana publikasi pas-pasan jangan berkecil hati, karena banyak sedikitnya peserta didik yang diperoleh bukan dari publikasi besar-besaran, dengan biaya yang juga besar. Tetapi justru dari komitment yang tinggi dari sivitas akademikanya (asset manusianya secara internal).<span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">Saya merasa prihatin melihat banyaknya penyedia jasa pendidikan, ketika permintaan peserta didik menurun dan mengalami kondisi decline berkelanjutan, justru mereka melakukan promosi besar-besaran. Mereka semestinya melakukan instrospeksi ke dalam, secara internal. Mereka semestinya bertanya kepada dirinya sendiri, seberapa banyak dan berkualitaskah, yang bisa mereka berikan kepada asset manusia-nya secara internal ?; Seberapa tinggi komitment asset manusia-nya sebagai penyedia jasa pendidikan ?; Seberapa besar tanggung-jawab penyedia jasa pendidikan terhadap jaminan kualitas yang diberikan kepada dirinya sendiri dan konsumennya ?. </span><br /><br /><span class="fullpost">Fluktuasi permintaan yang sering mengakibatkan kelebihan penawaran jasa pendidikan, tidak akan terjadi apabila penyedia jasa pendidikan memahami kondisi internalnya dengan baik. Mereka bisa mengatasinya dengan melakukan beberapa kegiatan, antara lain : Meningkatkan profesionalitas SDM secara internal melalui pelatihan dan pendidikan yang lebih tinggi; Meningkatkan publikasi informasi tentang citra positip lembaga pendidikannya dari mulut ke mulut; Meningkatkan pelayanan dan merumuskan produk jasa baru kepada konsumen yang sudah bergabung dilembaganya; Menaikkan harga ketika permintaan naik, menurunkan harga ketika permintaan menurun; dan lain-lain yang lebih memfokuskan diri kepada hal-hal yang bersifat internal.</span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">Faktor Yang Mempengaruhi Persaingan Penyedia Jasa Pendidikan</span><br /><br /><span class="fullpost">Dalam teori ekonomi dinyatakan bahwa persaingan terjadi apabila produsen produk sejenis, lebih banyak dari kebutuhan yang bisa dikonsumsi oleh konsumennya. Oleh karena itu, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan jasa pendidikan, antara lain : Perubahan regulasi pemerintah. Beberapa contoh di antaranya adalah : standar-standar pendidikan yang ditetapkan sebagai wujud kualitas yang dimiliki oleh penyedia jasa pendidikan tersebut; Tumbuhnya berbagai asosiasi profesional seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), dan lain-lain; Perkembangan teknologi komputer; Tumbuhnya waralaba di bidang pendidikan; Tumbuhnya lembaga pembiayaan pendidikan dan lembaga penyewaan sarana &amp; prasarana pendidikan; dan Globalisasi.</span><br /><br /><span class="fullpost">Selanjutnya, berkembangnya penyedia jasa pendidikan menjadi industri pendidikan dipicu oleh Perkembangan wawasan masyarakat terhadap globalisasi dan perkembangan teknologi; Pergantian status universitas negeri menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN); Tumbuhnya waralaba pendidikan asing; Tumbuhnya berbagai sekolah yang mengidentitaskan dirinhya sebagai unggulan; Kerjasama pendidikan asing dengan pendidikan dalam negeri; Tumbuhnya berbagai kursus dan program luar sekolah; dan Tumbuhnya penyedia jasa pendaftaran pendidikan ke luar negeri.</span><br /><br /><span class="fullpost">Dengan berkembangnya penyedia jasa pendidikan menjadi industri pendidikan, maka dapat dipastikan bahwa tujuan pendidikan pun akan berubah, dari mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi mencermati pangsa pasar yang terus berubah. Dengan demikian, prinsip pengelolaannyapun akan persis sama dengan perusahaan-perusahaan industri lainnya, yakni : product (produk), price (harga), promotion (promosi) dan place (tempat). Desain organisasinya pun berubah dari sivitas akademika menjadi ’7s frame work’ yang satu sama lain saling berhubungan, yaitu : strategy (strategi), system (system), structure (struktur), styles (gaya), staff (staf), skills (keterampilan) dan shared values (nilai-nilai).</span><br /><br /><span class="fullpost">Kondisi inilah yang kemudian menjebak penyedia jasa pendidikan swasta untuk melakukan kegiatan-kegiatan pragmatis yang bersifat jangka pendek. Sebagai contoh, melakukan promosi besar-besaran tanpa melakukan perbaikan dan penguatan secara internal. Efektif dan efisien menjad ‘keyword’ untuk beraktifitas. Tujuan lembaga hanya berorientasi ‘surplus’ dan mengurangi ‘defisit’. Dan pada akhirnya kalimat, “orang miskin dilarang sekolah,” menjadi kenyataan. </span><br /><br /><span class="fullpost">Kesimpulannya adalah, bahwa kita perlu mengembalikan visi pendidikan kita kepada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Perkembangan apapun diluar di dunia pendidikan, semestinya tidak merubah orientasi pendidikan kita, sebagai ‘pagar’ sekaligus ‘tanah yang subur’ bagi berkembangnya budaya bangsa. Pengelolaan jasa pendidikan tidak bisa disamakan dengan pengelolaan perusahaan-perusahaan jasa lainnya, karena pendidikan bukan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, tetapi pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Lihat kembali sejarah bangsa ini, ketika pendidikan menjadi suatu gerakan yang sungguh-sungguh di masyarakat, maka Allah Swt menghadiahi kita kemerdekaan. Namun, ketika wajib belajar 9 tahun menjadi gerakan kepura-puraan dari pemerintah, maka satu rezim runtuh. Siapapun yang berani mendzalimi pendidikan, lihat apa yang terjadi !!!. </span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 24 Oktober 2009. </span><br /><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-2684244952426468663?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-89224470863796323702009-10-28T10:32:00.001+07:002009-10-28T10:35:20.125+07:00DINAMIKA LEMBAGA PENDIDIKAN SWASTA DI INDONESIA – Bagian 2Oleh. Purwalodra / Dr. M. Eko Purwanto, SE, MM<br />(Wiradarma Education Consultant)<br /><br /><span style="font-weight: bold;">Kharakteristik Produk Jasa Pendidikan</span><br /><br /><div style="text-align: justify;">Dalam pengelolaan jasa pelayanan pendidikan, kita mengenal beberapa kharakteristik yang melekat dalam produk jasa pendidikan tersebut, antara lain : Perishability (tidak bisa disimpan), Intangibility (tidak berwujud), Inseparability (tidak terpisahkan), dan Variability (tidak ada standar).<span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">Berbeda dengan produk fisik, suatu jasa pelayanan pendidikan tidak bisa disimpan. Ia diproduksi dan dikonsumsi secara bersamaan. Dampaknya terjadi pada sistem pemasaran terutama pada sisi permintaan. Jika permintaan stabil akan memudahkan penyedia jasa pendidikan untuk melakukan persiapan, baik dari sarana-prasarana maupun peralatan teknologi pendidikan lainnya. Tetapi jika permintaan fluktuatif, lebih sulit bagi penyedia jasa pendidikan untuk melakukan strategi pemasaran.</span><br /><br /><span class="fullpost">Jasa pendidikan tidak bisa dilihat dan dirasakan oleh konsumen sebelum konsumen membeli atau mendapatkan penyedia jasa pendidikan secara langsung. Konsumen juga tidak bisa memprediksikan apa hasil yang akan diperoleh dengan mengkonsumsi jasa pendidikan tersebut, kecuali setelah membelinya. Seorang pasien tidak akan tahu apakah nasihat dokter itu berhasil atau tidak, kecuali setelah ia melakukan konsultasi dan mengikuti apa yang dinasehatkan. Kemudian, kita juga mengenal beberapa karakter dari intangibility ini, antara lain : Suatu jasa pendidikan baru bisa dirasakan ketika jasa tersebut disampaikan kepada konsumen; Suatu jasa kadang sulit untuk dijelaskan kepada konsumen; Penilaian akan kualitas sulit ditentukan oleh konsumen; dan Harga pun sulit untuk ditentukan.</span><br /><br /><span class="fullpost">Karena tidak berwujud, konsumen biasanya melihat tanda-tanda dari sesuatu yang bisa dilihat atau dirasakan untuk bisa menilai kualitas suatu jasa pendidikan. Mereka akan melihat kualitas dari para Gurunya, Tata usaha &amp; karyawannya (modal manusianya), Sarana-prasaranya, Peralatan Pendidikannya, Simbol-simbol yang digunakannya, dan juga harga yang bisa mereka bayar.</span><br /><br /><span class="fullpost">Produk jasa pendidikan hanya bisa dikonsumsi oleh konsumen, pada saat proses produksi berlangsung. Sementara produk barang dan jasa lain, selain pendidikan, yang terlihat secara fisik biasanya diproduksi di pabrik atau di tempat-tempat tertentu, kemudian didistribusikan oleh distributor ke toko dan baru bisa dikonsumsi oleh konsumen. Pada bidang jasa pendidikan, faktor penyedia jasa pendidikan (orang) langsung berperan dalam proses produksi jasa tersebut. </span><br /><br /><span class="fullpost">Karena konsumen juga menjadi salah satu faktor yang sangat penting dalam proses penyediaan jasa pendidikan, maka interaksi yang baik antara penyedia jasa pendidikan (yayasan atau sekolah) dan konsumen (peserta didik dan orang tua murid), menjadi sangat strategis. Karena itu, terkadang kualitas sebuah jasa pendidikan tidak hanya ditentukan oleh faktor kualitas dari penyedia jasa pendidikan itu sendiri, tetapi juga oleh kesungguhan dan komitmen dari konsumen (orang tua murid).</span><br /><br /><span class="fullpost">Oleh karena itu, pengelolaan jasa pendidikan, berkaitan dengan Karakteristik Inserability (ketidakterpisahan) ini, konsumen (peserta didik dan orang tua murid) harus berpartisipasi dalam proses produksi jasa pendidikan tersebut; Jasa pendidikan yang diberikan kepada para peserta didiknya terikat (menyatu) dengan penyedia jasa pendidikan itu sendiri; dan jumlah (kuantitatif maupun kualitatif) jasa pendidikan yang diberikan tergantung dari kemampuan/kualitass penyedia jasa. Dengan demikian, kesuksesan proses belajar-mengajar tidak hanya ditentukan oleh kualitas tenaga pengajar dan fasilitas yang baik, tetapi juga oleh kesungguhan dan komitmen dari murid untuk belajar, dan orang tua murid atau pemerintah untuk membiayainya.</span><br /><br /><span class="fullpost">Pengelolaan jasa pendidikan, biasanya sulit dibuat standar kualitasnya, karena masing-masing mempunyai standar proses sendiri-sendiri tergantung kualitas dari proses internal penyedia jasa pendidikan itu sendiri. Walaupun demikian, sedapat mungkin sebuah lembaga pendidikan seyogyanya membuat standar layanan agar kualitas jasanya bisa lebih dikontrol, yang kemudian bisa dijadikan sebagai komoditas pemasaran (jika ingin dipasarkan). Perkembangan standar pendidikan sekarang ini, baik standar nasional maupun standar internasional, telah melahirkan persaingan yang tidak sehat diantara penyedia jasa pendidikan. Hampir semua penyedia jasa pendidikan memfokuskan diri kepada standar-standar tersebut hanya untuk meningkatkan permintaan konsumen, bukan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikannya. Mereka berharap dengan standar-standar pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah tersebut, maka lembaga pendidikannya bisa diperjual-belikan dengan mudah dan harga mengikuti gaya hidup, bukan harga standar operasional sekolah. </span><br /><br /><span class="fullpost">Sesuai uraian diatas, bahwa pada hakekatnya produk jasa pendidikan tidak bisa dipasarkan, tetapi hanya bisa dipublikasikan. Kekuatan permintaan jasa pendidikan tidak bisa serta-merta dipicu oleh tingkat promosi dan pemasaran yang tinggi. Oleh karena itu dalam rangka ’memanajemeni’ jasa pendidikan, modal manusia (SDM) sangat penting dari pada modal finansial. Modal manusia bisa meningkatkan modal finansial, tetapi modal finansial belum tentu bisa meningkatkan modal manusia (SDM). Oleh karena itu, sesuai dengan karakteristiknya, pemasaran jasa pendidikan tidak bisa disampaikan dalam kondisi dan situasi yang sama. </span><br /><br /><span class="fullpost">Kualitas yang tidak sama dari pengelolaan jasa pendidikan ini akan menambah potensi resiko pada konsumen, dengan demikian lembaga pendidikan yang berbayar tinggi (mahal) memiliki tanggung jawab besar kepada konsumennya, dengan memberikan jaminan kualitas, baik secara fisik maupun jasa tambahan lainnya dari jasa pendidikan yang disediakan. </span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan Swasta</span><br /><br /><span class="fullpost">Seperti yang saya kemukakan diatas, bahwa hakekatnya produk jasa pendidikan tidak bisa dipasarkan tetapi hanya bisa dipublikasikan dan kekuatan permintaan jasa pendidikan tidak bisa serta-merta dipicu oleh tingkat promosi dan pemasaran yang tinggi. Disini saya akan menegaskan bahwa promosi pemasaran jasa pendidikan tidak bisa dialokasikan waktunya. Publikasi kegiatan sekolah sebagai upaya memasarkan jasa pendidikan, dimulai dari awal masuk sekolah sampai murid-murid itu selesai mengkonsumsi jasa pendidikan di sekolah tersebut. </span><br /><br /><span class="fullpost">Tugas pemasaran jasa pendidikan tidak bisa diserahkan kepada sesorang atau tim, tetapi diserahkan kepada seluruh sivitas akademika-nya (termasuk orang tua murid) dan organisasi yang memayunginya. Ketika lembaga pendidikan sudah menyerahkan tugas pemasaran kepada tim atau segelintir orang saja (sebut saja Ivent Organizer), maka justru permintaannya menurun. Nilai-nilai strategis dalam mempublikasikan komoditas jasa pendidikan, selain berkenaan dengan komitmen konsumen (peserta didik dan orang tua murid) itu sendiri, juga bagaimana komitmen penyedia jasa pendidikan itu untuk bisa mentransformasikan hal-hal yang tidak terwujud dalam jasa pendidikan, bisa ditunjukkan dalam berbagai bentuk dan wujud yang menunjukkan kualitas jasa pendidikan itu sendiri. </span><br /><br /><span class="fullpost">Informasi dalam publikasi jasa pendidikan dan upaya mentransformasikan hal-hal yang tidak berwujud menjadi bentuk yang bisa memperkuat persepsi kualitas jasa pendidikan yang ditawarkan, biasanya lembaga-lembaga pendidikan yang berbayar mahal merumuskan visualisasi yang jelas kepada komsumennya, yaitu penggambaran bagaimana suatu jasa pendidikan diberikan kepada peserta didiknya dan pelayanan kepada orang tua muridnya. Misalnya dengan penggambaran tentang kesenangan, ketenangan dan kenikmatan dalam proses belajar-mengajar, konsultasi gratis kepada orang tua murid, dan ekskul yang menunjang minat dan bakat peserta didiknya.</span><br /><br /><span class="fullpost">Informasi dalam publikasi jasa pendidikan, selain visualisasi juga asosiasi, dimana lembaga pendidikan tersebut mengaitkan jasa pendidikan yang ditawarkan dengan profil seseorang, objek, ataupun tempat, yang bisa membagun persepsi kualitas konsumennya. Pada umumnya informasi yang disampaikan kepada konsumen adalah memperlihatkan gedung, fasilitas, dan berbagai hal yang mendukung jasa yang disampaikan, namun hal ini perlu ditunjang dengan dokumentasi kegiatan jasa pendidikan yang dilaksanakan. Lembaga tersebut perlu menginformasikan berbagai penghargaan dan catatan kepuasan pelanggan, sehingga bisa menumbuhkan kepercayaan pembeli (konsumennya) – Bersambung.</span><br /><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-8922447086379632370?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-87892546538031764942009-10-28T10:26:00.002+07:002009-10-28T10:32:12.988+07:00DINAMIKA LEMBAGA PENDIDIKAN SWASTA DI INDONESIA – Bagian 1Oleh. Purwalodra (Dr. M. Eko Purwanto, SE, MM)<br />(Wiradarma Education Consultant)<br /><br /><span style="font-weight: bold;">Pendahuluan </span><br /><br /><div style="text-align: justify;">Pelayanan adalah bagian utama kehidupan kita sebagai manusia. Manusia yang sukses adalah manusia yang mampu melayani siapapun dan apapun. Dalam bidang pendidikan, pelayanan yang dilakukan adalah penyediaan fasilitas untuk berkembangnya pengetahuan masyarakat. Kegiatan pelayanan bisa mencakup kegiatan ekonomi yang output produknya langsung bisa dikonsumsi oleh masyarakat, maupun dalam bentuk nilai tambah dari suatu produk tertentu.<span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">Pelayanan yang tidak tercakup dalam kegiatan ekonomi alias komersial atau tidak semata-mata mencari keuntungan finansial dalam proses usahanya, adalah melayani mayarakat atau pelayanan jasa pendidikan. Termasuk di dalamnya melayani ide-ide, orang lain dan sebagainya. Di bidang Pendidikan, pelayanan adalah kegiatan utama dalam mengelola usahanya. Philip Kotler mendefinisikan Pelayanan Jasa adalah sebagai tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan kepada pihak lain (masyarakat) yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksi jasa bisa berkaitan dengan produksi secara fisik ataupun tidak (Kotler, Marketing Management). Bahkan salah seorang pemimpin besar dunia, Mahatma Gandhi, menganjurkan kepada masayarakatnya untuk menghilangkan buta huruf dan memperluas ilmu pengetahuan. Dia menganggap bahwa buta huruf adalah dosa dan sangat menganjurkan kepada para pengikutnya untuk melakukan kegiatan jasa pelayanan ini, melalui transformasi sosial. </span><br /><br /><span class="fullpost">Selanjutnya, kita mengenal bahwa konteks pendidikan di Indonesia, terdiri dari 3 tingkatan pendidikan, yaitu Pendidikan Dasar, pendidikan menengah, dan Pendidikan Tinggi. Dan pendidikan tinggi inilah yang semestinya memiliki tanggung-jawab besar untuk bisa mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Sementara, pendidikan di tingkat dasar dan menengah, lebih difokuskan kepada pembentukan character peserta didiknya. </span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">Peran Swasta Dalam Bidang Pendidikan </span><br /><br /><span class="fullpost">Pengelolaan pelayanan di Bidang Pendidikan adalah melayani masyarakat bukan berjualan materi-materi atau bahan pelajaran sekolah, karena hakekat pelayanan di bidang pendidikan bukan untuk mencari keuntungan secara finansial. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah selalu mengupayakan bahwa pendidikan dapat dinikmati oleh seluruh rakyat di negaranya, tanpa kecuali.</span><br /><br /><span class="fullpost">Dengan berbagai alasan pemerintah untuk menangani masalah pendidikan ini, mulai dari keterbatasan pemerintah menyediakan sarana-prasarana pendidikan, sampai dengan kelangkaan Guru, maka masyarakat yang terpanggil untuk memajukan bangsanya memberikan kontribusi kepada pemerintah dalam penyediaan jasa pelayanan pendidikan. Sebagai contoh, pada awal pergerakan bangsa Indonesia dalam merintis adanya kemerdekaan dari tangan kolonialis dan imperalis, banyak pesantren-pesantren tumbuh sebagai manifestasi peran swasta dalam rangka ikut-serta melayani pendidikan di masyarakat.</span><br /><br /><span class="fullpost">Pondok-pondok Pesantren inilah, yang akhirnya banyak melahirkan para pemimpin bangsa Indonesia dan kemudian mampu memerdekakan bangsanya dari belenggu kolonialis. Dan sampai sekarang, ketika dunia pendidikan membuahkan berkah teknologi dan metodologi pendidikan yang terus-menerus berkembang, maka peran pesantren-pesantren tersebut diimbagi oleh masyarakat swasta lainnya yang ikut serta melayani masyarakat dalam bidang pendidikan.</span><br /><span class="fullpost"> </span><br /><span class="fullpost">Sekolah-sekolah umum di Indonesia pada awalnya didirikan oleh organisasi-organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadyah, Nahdatul Ulama (NU), Persis, Persatuan Ummat Islam (PUI), Al Irsyad, Taman Siswa dan lain-lain. Semua sekolah yang didirikan oleh organisasi-organisasi kemasyarakatan tersebut bertujuan untuk membantu peran pesantren-pesantren dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsanya sekaligus merintis kemerdekaan Indonesia. Dengan sarana-prasarana yang sangat sederhana, cara dan metodologi yang sangat fleksibel, serta gratis alias tidak berbayar, maka sekolah-sekolah umum tersebut bisa eksis sampai saat ini. Perkembangan berikutnya dan ditambah tuntutan untuk memenuhi sarana-prasarana sekolah, maka kebijakan-kebijakan pembiayaan sekolah pun mulai diberlakukan seiring dengan berkembangnya sekolah-sekolah tersebut, tanpa harus melupakan masyarakat miskin dan lemah secara ekonomi. </span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">Pengertian Jasa Pendidikan</span><br /><br /><span class="fullpost">Kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh Pengelola Jasa Pendidikan mensyaratkan adanya profesionalitas, tanpa menghilangkan tujuan pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu, Pemerintah melalui Menteri, Departemen dan dinas-dinas terkait lainnya sudah saatnya memiliki visi dan misi yang benar-benar jelas terhadap upaya Pemerintah untuk mencerdaskan rakyatnya. Karena pendidikan masyarakat suatu negara adalah barometer kualitas kehidupan dan kemajuan negara tersebut. </span><br /><br /><span class="fullpost">Sebagai sebuah usaha jasa pelayanan, keberhasilan suatu program pendidikan ditentukan oleh kesanggupannya dalam memenuhi kepuasan pengguna (customer satisfaction). Indikator kepuasan itu, demikian dinyatakan ahli manajemen mutu seperti Deming dan Juran, ditetapkan oleh kesanggupan layanan pendidikan dalam memenuhi harapan, keinginan, dan kebutuhan pengguna (peserta didik dan pemangku kepentingan). Itu berarti, kurikulum pendidikan yang baik adalah kurikulum yang berorientasi akhir pada kebutuhan dan kepuasan pengguna.</span><br /><br /><span class="fullpost">Kotler menyebut tiga hal yang bisa dilakukan untuk mengontrol kualitas pelayanan di Bidang Pendidikan, yaitu : Melakukan seleksi pegawai (Guru &amp; Karyawan non kependidikan) yang baik dan meningkatkan keterampilan mereka melalui berbagai pelatihan; Melakukan standarisasi proses pelayanan pada seluruh organisasi. Ini bisa dilakukan dengan menentukan “cetak biru layanan“ (service blue print) berisi seluruh alur proses penyediaan jasa pendidikan mulai dari awal hingga akhir, untuk memudahkan pengecekan kualitas setiap proses yang dijalankan; Memonitor kepuasan pelanggan melalui survey, feedback form, dan tanggapan serta keluhan pelanggan, sehingga kualitas pelayanan pendidikan yang kurang baik bisa dideteksi dan bisa segera diperbaiki. (Bersambung)</span><br /><br />Bekasi, 24 Oktober 2009.<br /><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-8789254653803176494?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-76681818194749004322009-10-12T21:57:00.000+07:002009-10-12T21:58:52.271+07:00MEREVOLUSI PENDIDIKAN DI INDONESIA – Bagian 2Oleh. M. Eko Purwanto<br />(Pemerhati Pendidikan tinggal di Bekasi)<br /><br /><div style="text-align: justify;">“Education is for improving the lives of others and for leaving your community and world better than you found it”, Martin Wright Edelman.<br /><br /><span style="font-weight: bold;">Masukan Dalam Rangka Mengatasi Masalah</span><br /><br />Paling tidak solusi itu lahir dari Sekolah-sekolah Perguruan, Fakultas Keguruan atau Jurusan Keguruan. Mahasiswa Keguruan seharusnya menjalani pelatihan secara rutin dan intensif, sebelum menyelesaikan pendidikannya. Selama proses perkuliahan, mahasiswa calon Guru ini dituntut secara teoritis maupun praktis agar mampu memperbarui dan meningkatkan keterampilannya berkomunikasi dengan baik kepada audiens/public, serta terus-menerus mengasah kemampuan mentalnya sebagai seorang pendidik, ini dilakukan sejak masih semester pertama.<span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">Pemerintah dan masyarakat, perlu terus-menerus mendorong secara berkala untuk melakukan lokakarya-lokakarya dan kursus-kursus yang bertujuan mengevaluasi dan memperbaiki sistem pendidikan yang diterapkan sekarang. Kita masih harus banyak melakukan perbaikan dalam metodologi pengajaran yang dapat meningkatkan dan mempertajam ketrampilan para Guru itu sendiri. Sayangnya tujuan dan niat yang tertanam pada Guru-guru kita saat ini dalam mengikuti lokakarya, kursus, dan seminar-seminar, hanya untuk mendapatkan kredit poin dalam rangka sertifikasi.</span><br /><br /><span class="fullpost">Persoalan pelik yang sejak awal menjadi polemik, adalah Konten dan kurikulum dalam sistem pendidikan kita. Konten dan kurikulum masih perlu evaluasi dan monitoring untuk lebih dapat diterapkan oleh para Guru di sekolah. Konten dan kurikulum kita belum bisa secara mudah dimaknai oleh para Guru. Sehingga perlu diupayakan restrukturisasi dan kebijakan ditingkat kabupaten/kotamadya.</span><br /><br /><span class="fullpost">Dengan perampingan birokrasi dan kebijakan pendidikan hanya sampai di tingkat Kabupaten/Kotamadya saja, memungkinkan penyelesaian masalah-masalah pendidikan akan mudah dan cepat tertangani secara efektif. Masyarakat kita perlu dididik kembali untuk menghargai birokrasi, tidak dengan biaya (cost), sehingga kuncuran dana-dana pendidikan tidak banyak terserap pada lubang-lubang yang tidak semestinya. Menghilangkan pungutan sekecil apapun, selain operasional kegiatan belajar-mengajar (KBM), sangat dibenarkan. Karena pungutan sekecil apapun yang tidak bertujuan untuk proses kegiatan belajar mengajar, tidak akan pernah efektif dalam menjalin komunikasi pendidikan di dalam masyarakat. </span><br /><br /><span class="fullpost">Selanjutnya, pemerintah dalam beberapa tahun terakhir ini secara terus-menerus mengkampanyekan pendidikan kejuruan. Namun, nampaknya masyarakat belum sepenuhnya menyadari akan pentingnya pendidikan kejuruan ini. Masyarakat pengelola pendidikan pun belum bersemangat mendirikan sekolah-sekolah kejuruan, mungkin disebabkan karena biaya, sehingga sekolah kejuruan masih belum banyak diminati masyarakat. Hal ini akan memberi dampak kesenjangan yang lebih besar antara dunia industri dan akademisi. </span><br /><br /><span class="fullpost">Masyarakat industri juga dituntut untuk lebih menyadari pentingnya pendidikan kejuruan. Masyarakat industi tidak bisa fokus untuk dirinya sendiri, mereka harus ikut serta mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri saat ini, sehingga kesenjangan antara dunia pendidikan dan industri bisa lebih teratasi. Keuntungan dari dunia industri tidak serta-merta dijadikan investasi usaha, mereka harus memberikan support kepada sekolah-sekolah kejuruan untuk lebih memperkuat aspek usahanya.</span><br /><br /><span class="fullpost">Dalam hal ini, Pemimpin perusahaan memiliki peran penting dalam pendanaan sistem pendidikan kejuruan ini. Mereka banyak menghasilkan uang untuk diri mereka sendiri, tanpa membayar gaji karyawannya secara wajar, mereka tidak membayar dividen kepada pemegang saham mereka, yakni masyarakat pengguna produk-produk industrinya, kondisi ini terlihat pada Cost Social Responsibility (CSR) di masing-masing perusahaan. Masyarakat kita justru di ’iming-imingi’ dengan hadiah-hadiah milyaran rupiah dan barang-barang mewah lainnya, dengan harapan hasil penjualannya terus meningkat. Kemudian, apa yang mereka berikan kepada pendidikan dan masyarakat kita ? Ini adalah fakta, bahwa perusahaan-perusahaan kita, baik besar atau kecil, belum sepenuh hati untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia. Jika masayarakat industri kita sudah terpanggil untuk benar-benar memajukan konsumennya (masyarakat), maka hal ini akan sangat membantu terselenggaranya sistem pendidikan, yang dapat menyetarakan sistem pendidikan kita dengan standar global. Oleh karena itu, sangat penting kita melakukan reformasi dalam dunia pendidikan dari waktu ke waktu, sebagai alat untuk melakukan perubahan besar dengan cepat.</span><br /><br /><span class="fullpost">Selanjutnya, berkenaan dengan kualifikasi profesional seperti teknik, manajemen, kedokteran, komputer dan sebagainya, para Mahasiswa harus benar-benar terlibat dalam proses pendidikan dan proyek-proyek praktis pekerjaan. Kita perlu memperbaiki, pelaksanaan praktek kerja lapangan yang benar-benar nyata, yang mampu membekali ketermpilan dan mental siap bekerja, dari tahun pertama sampai tahun terakhir. Kegiatan tersebut akan membangun percaya diri mahasiswa sehingga mereka dapat memahami kebutuhan masyarakat industri. </span><br /><br /><span class="fullpost">Terakhir, pendidikan umum negeri yang bebas biaya untuk wajib belajar 9 tahun, agar bisa dilaksanakan merata sampai di seluruh Kabupaten/kota di Indonesia. Dan dalam rangka membantu mahasiswa yang tidak mampu, pemerintah sebaiknya selain menyediakan beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi, juga menyediakan anggaran pinjaman pendidikan tanpa bunga bagi mahasiswa yang kurang mampu. </span><br /><br /><span class="fullpost">Dengan demikian kita bisa memaknai pendidikan sesuai dengan pernyataan William Butler Yeats, bahwa “Pendidikan bukan mengisi ember, tapi menyalakan api". Pendidikan harus mampu menyalakan pikiran para siswanya dan harus memindahkan siswa dari zona nyaman ke zona yang efektif. Para siswa di zona nyaman tidak akan bisa mencapai sesuatu yang diharapkan oleh dunia pendidikan, sebanyak siswa dalam zona efektif. </span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">Kesimpulan</span><br /><br /><span class="fullpost">Ada kebutuhan yang kuat untuk merampingkan birokrasi sistem pendidikan sekarang. Masalah-masalah dalam sistem pendidikan kita perlu ditangani segera, melalui komunikasi pendidikan antara Komite Sekolah, Dewan Pendidikan dan Diknas setempat. Pendidikan seharusnya fokus kepada moral/etika, sosial, kejuruan dan aspek akademis. Sebuah bangsa yang kuat hanya dapat dibangun bila ada pendidikan karakter yang kuat. Seperti yang ditegaskan oleh Abraham Lincoln, "Karakter itu seperti pohon dan reputasi seperti bayangannya. Bayangan adalah apa yang kita pikirkan itu; pohon adalah hal yang nyata ". </span><br /><br /><span class="fullpost">Oleh karena itu, esensi dari setiap pendidikan adalah karakter yang kuat. Pendekatan perubahan yang revolusioner dalam sistem pendidikan sekarang adalah tuntutan waktu. Kita harus secepatnya membangun sebuah bangsa di mana anak-anak kita memiliki visi untuk berpikir di luar batas-batas geografis mereka. Harus ada ruang lingkup bagi para siswa untuk mengembangkan intelektualitas, memperkuat pikiran dan membuat mereka untuk berdiri di atas kaki sendiri. Sudah teraplikasikah kebutuhan ini dalam kelas-kelas di sekolah kita melalui penerapan KTSP ? </span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 12 Oktober 2009.</span><br /><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-7668181819474900432?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-72474879875168459502009-10-12T21:52:00.001+07:002009-10-12T21:57:17.386+07:00MEREVOLUSI PENDIDIKAN DI INDONESIA – Bagian 1<a href="http://www.wartakeluarga34.com/">Oleh. M. Eko Purwanto</a><br />(Pemerhati Pendidikan tinggal di Bekasi)<br /><br /><div style="text-align: justify;">Tulisan ini saya niatkan untuk meyakinkan kembali bahwa kita masih membutuhkan suatu perubahan besar dalam aspek pendidikan. Kemauan politik pemerintah untuk memperhatikan dunia pendidikan saat ini, perlu kita dukung bersama-sama dengan kemampuan kita masing-masing agar sistem pendidikan kita memiliki ‘ruh’ untuk memperkuat budaya bangsa yang besar ini. Tulisan ini juga saya tujukan sebagai masukan kepada Mendiknas yang baru, Kabinet SBY, yang akan merumuskan kebijakan-kebijakan cemerlangnya, demi kemajuan pendidikan kita lima tahun ke depan.<span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">“Education is for improving the lives of others and for leaving your community and world better than you found it”, Martin Wright Edelman.</span><br /><br /><span class="fullpost"><span style="font-weight: bold;">Pendidikan dan Masyarakat</span></span><br /><br /><span class="fullpost">Di dunia Pendidikan tersedia banyak informasi tentang imajinasi, pengetahuan, ide, nilai-nilai, etika, penalaran dan itu semua membuat manusia menjadi lengkap dan memiliki nilai tambah atas kesempurnaannya sebagai pemimpin di muka bumi ini. Pendidikan membawa perbaikan, menambah kecerdasan, dan membuat orang terbebas dari rasa takut, kuatir dan gelisah, serta merdeka dan percaya diri. Hanya manusia sajalah yang bisa memiliki kemampuan belajar seperti ini, dan tidak dimiliki oleh hewan manapun. </span><br /><br /><span class="fullpost">Pendidikan tidak berarti hanya membaca dan menulis, tetapi juga berpikir, belajar, penalaran, pengalaman praktis dan seterusnya. Pendidikan adalah proses belajar dari buaian hingga liang kubur. Pendidikan telah membawa banyak perubahan di dunia fisik dan mental manusia dan mengubah seluruh peradaban sejak zaman purba sampai sekarang. Mengutip pernyataan Ariel dan Will Durant, bahwa "Pendidikan adalah transmisi peradaban manusia". </span><br /><br /><span class="fullpost">Ariel dan Will Durant juga mengemukakan bahwa pertumbuhan masyarakat tergantung pada jenis sistem pendidikan yang diadopsi. Pendidikan membuat dampak yang luar biasa di masyarakat. Kualitas masyarakat tergantung pada kualitas sistem pendidikan yang diterapkan. Banyak Pakar Pendidikan, baik di dalam maupun di manca Negara lainnya mengemukakan, "kelembagaan pendidikan yang baik akan sangat berpengaruh dalam menjalani kehidupan yang lebih baik". Pendidikan yang benar membuat orang-orang mampu membangun karakter, nilai, etika, dan mampu mempersiapkan masyarakat dan negara secara keseluruhan untuk bisa mengejar ketertinggalannya. Pendidikan yang benar adalah warisan atau hadiah, yang kita sampaikan kepada generasi kita berikutnya. George Peabody mengatakan, "Pendidikan adalah utang kita sekarang untuk generasi masa depan". </span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">Dampak Pendidikan bagi Masyarakat</span><br /><br /><span class="fullpost">Tidak ada suatu bangsa manapun yang bisa berkembang tanpa pendidikan yang tepat. Dan Indonesia adalah salah satu Negara Plural dengan berbagai tradisi dan budaya, yang sejak jauh sebelum merdeka dari tangan penjajah, sudah menggiatkan diri untuk menjadi Negara yang terdidik, baik dididik oleh pengalaman maupun budayanya yang terus-menerus berkembang. Mari kita telaah kembali sejarah para pendiri negara ini dalam rangka mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Para perintis kemerdekaan itu adalah manusia-manusia terdidik yang memiliki semangat satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa, yakni Indonesia. </span><br /><br /><span class="fullpost">Indonesia sebagai negara berkembang yang tradisi masyarakatnya sangat beragam, memiliki sumber daya manusia yang sangat besar, dan memiliki kebutuhan tenaga teknis yang sangat tinggi. Walaupun dampak pendidikan di masyarakat sangat besar, namun masih banyak daerah abu-abu, yang perlu ditangani secara serius. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, Indonesia telah mengembangkan demokrasi politik, budaya, ekonomi dan sosial, tetapi kita masih perlu memfokuskan diri pada arah yang benar, yang mampu menyatukan kepentingan semua pihak dalam kondisi tradisi yang berbeda-beda. </span><br /><br /><span class="fullpost">"Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat kita gunakan untuk mengubah dunia", kata Nelson Mandela. Hal ini sangat jelas bahwa tidak ada senjata yang lebih unggul selain pendidikan. Berkah dari suatu pendidikan adalah pengembangan teknologi, yang telah membawa perubahan signifikan dalam masyarakat. Jika teknologi ini digunakan dalam arah yang benar dan ditujukan untuk memperkuat sistem pendidikan kita, maka kita dapat mengharapkan keajaiban di dalam masyarakat kita secara keseluruhan. Meminjam istilah Mario teguh, “lihat apa yang terjadi …. !!!.”</span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">Pendidikan dan Pengalaman Hidup Manusia</span><br /><br /><span class="fullpost">Pete Seeger, mengatakan, "Pendidikan adalah ketika kita mampu membaca pengalaman kecil yang kita mengerti sebab dan akibatnya. Pengalaman adalah apa yang kita peroleh di setiap perjalan hidup kita". Sebagian besar kita membuat banyak kesalahan yang mengakibatkan perjalanan kehidupan kita menjadi pahit dan memilukan, tentu saja, akibat dari pengalaman yang kita temui tidak sesuai dengan harapan dan keinginan kita. </span><br /><br /><span class="fullpost">Apabila seorang individu benar-benar berpendidikan, baik secara mental (spiritual) maupun fisik, sudah tentu dia memahami hal-hal kecil dalam perjalanan hidupnya karena ia bisa membaca peristiwa-peristiwa kecil yang melintas dalam hidupnya dan mengetahui sebab dari peristiwa tersebut terjadi. Perilaku seorang yang terdidik selain menggunakan penalaran induktif, ia juga menggunakan intuisinya di dalam mengambil keputusan-keputusannya. Intuisi menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari, yang mengabarkan akibat-akibat dari proses berfikir dan perbuatannya setiap saat. </span><br /><br /><span class="fullpost">Kita cenderung membuat banyak kesalahan dalam hidup kita, dimana seolah-olah orang lain tidak berpendidikan. Dan kita cenderung untuk membuat lebih banyak kesalahan ketika kita mampu memastikan bahwa orang lain tersebut benar-benar tidak berpendidikan. Karena sebenarnya kita tidak pernah tahu seseorang berpendidikan atau tidak, yang kita tahu hanya topeng diluar, bahasa yang digunakan sebagai kendaraan berfikir dan cara-cara kita menjaga penampilan.</span><br /><br /><span class="fullpost">Seorang individu yang berpendidikan percaya bahwa dalam proses pendidikan terdapat metode error yang menjadi bagian dari kesempurnaan manusia untuk lebih mengetahui kebenaran. Justru, kebanyakan orang yang tidak berpendidikan percaya pada pengamatan dan pengetahuan praktis yang tidak mentolerir adanya kesalahan sekecil apapun. Pendidikan membawa kita menyusuri kompleksitas dalam kehidupan manusia, sehingga membuat hidup lebih mudah, sederhana dan nyaman. Berkenaan dengan kondisi ini John Dewey mengatakan, "Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup, tapi pendidikan adalah hidup itu sendiri". </span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">Masalah Pendidikan Sekarang</span><br /><br /><span class="fullpost">Indonesia merupakan negara dengan populasi cukup besar di dunia dan sayangnya secara kualitas masih perlu diperjuangkan. Ini mungkin, karena selain populasi penduduk yang besar, jenis administrasi pemerintahan dan sistem politik yang kita miliki. Masih banyak kita temui tekanan-tekanan secara birokratis yang memaksakan diri untuk kita terima sebagai sesuatu yang wajar. Hal ini tentu saja tidak bisa mendorong imajinasi, kreativitas dan orisinalitas pada masyarakat kita. Penekanan apapun, yang dilakukan dimasyarakat maupun ditempat-tempat lainnya pada aspek-aspek kehidupan praktis, tidak ada yang bisa efektif untuk memacu produktivitas. Kondisi ini telah melanda sebagian besar masyarakat kita bahkan dalam aspek teoritis dan konsep-konsep, sehingga tuntutan kebutuhan yang serba pragmatis, praktis dan instant melanda sebagian besar lembaga-lembaga pendidikan kita. Kita tidak bisa mengelak jika sebagian besar masyarakat pengelola pendidikan kita masih menggunakan sistem untung-rugi dalam konteks financial. Hal ini tidak bisa kita salahkan seratus persen, karena pemerintah sendiri belum bisa menjamin 100% lembaga pendidikan tersebut bisa bertahan hidup. </span><br /><br /><span class="fullpost">Dalam kondisi sistem administrasi pemerintahan masih seperti ini, dengan berbagai tekanan birokrasi yang kuat, serta sikap apatisme masyarakat yang semakin tinggi, maka jangan berharap dana-dana bantuan operasional sekolah dan dana-dana lainnya bisa lancar turun ke bawah. Kondisi seperti ini diperparah dengan perilaku masyarakat pengelola pendidikan yang menerima begitu saja ketentuan-ketentuan yang jelas-jelas menyimpang dari petunjuk teknis pelaksanaannya. </span><br /><br /><span class="fullpost">Sementara itu, anak-anak kita di sekolah dijejali dengan banyak buku dan mereka merasa sangat stres. Meskipun pemilikan buku bagi setiap siswa sekarang ini, tidak diwajibkan, namun pemaksaan secara halus dan sembunyi-sembunyi masih dilakukan. Kita menyaksikan dengan mata kepala kita sendiri, milyaran dana buku gratis setiap kabupaten dan kotamadya masih belum efektif dimanfaatkan. </span><br /><br /><span class="fullpost">Pada kenyataannya, untuk memahami pendidikan tidaklah sesulit apa yang kita bayangkan sekarang. Pendidikan sudah semestinya diisi dengan hiburan dan menyenangkan sehingga siswa dapat menemukan kegembiraan belajar. Saya tidak habis mengerti, mengapa anak-anak kita disekolah kehilangan kegembiraannya ?. Anak-anak merasa ngeri untuk pergi ke sekolah karena terlalu banyak belajar. Bahkan di rumah anak-anak melibatkan diri mereka sendiri, begitu banyak waktu, untuk menyelesaikan pekerjaan rumah dari sekolah. Saya jadi terus-menerus bertanya, apa yang menjadi tujuan pendidikan kita sebenarnya ?</span><br /><br /><span class="fullpost">Kondisi di atas, justru tidak memahamkan anak-anak didik kita kepada makna belajar. Mereka justru akan memahaminya sebagai kewajiban, bukannya hak untuk dituntut. Ketika anak-anak kita menghabiskan banyak waktunya dirumah, hanya untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah, maka justru kondisi seperti ini tidak akan memahamkan hubungan antara orangtua dan anak di rumah, ditambah lagi kedua orangtuanya sibuk bekerja di luar rumah. Sementara kondisi di banyak lembaga pendidikan kita, Infrastruktur yang tidak memadai dan staf pengajar yang tidak memahami kompetensinya sebagai seorang pendidik, merupakan kutukan lain di dunia pendidikan kita. Sayangnya lagi, baik ditingkat pendidikan dasar sampai tingkat menengah masih banyak kita temui lembaga pendidikan yang terus-menerus berjuang untuk bertahan hidup, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. </span><br /><br /><span class="fullpost">Selanjutnya, dalam penerapan KTSP, Guru hanya fokus kepada tingkat satuan pelajaran saja. Setiap Guru belum mampu mengidentifikasi kemampuan dan kelemahan setiap anak didiknya, dan mendiskusikannya di tingkat sekolah. Masih banyak kita temui disetiap kelas bahwa pandangan dan pendapat dari siswa tidak lagi dihormati dan dihargai layaknya sebagai teman. Siswa selalu dikenakan apa pun yang ada di buku yang mengakibatkan kurangnya imajinasi dan kreatifitas. Kondisi ini ditegaskan oleh RW Emerson yang mengatakan, "Rahasia dalam pendidikan terletak pada menghargai siswa". Hanya ketika siswa yang dihormati dan dihargai sajalah, yang akan terus-menerus mencoba untuk berpikir imajinatif, kreatif, inovatif dan mampu keluar dari belenggu fikirannya sendiri. Siswa harus disediakan waktu untuk lebih banyak memiliki kebebasan berpikir. </span><br /><br /><span class="fullpost">Sangat disayangkan pula, bahwa Guru-gurupun belum dibayar mahal, mungkin bagi mereka yang sudah tersertifikasi saja, yang mungkin baru bisa menikmati penghasilan cukup. Selama ini para guru sudah cukup lelah mengejar karier mereka sendiri untuk mendapatkan sertifikasi dari pemerintah, dengan berbagai bentuk jalan pintas. Selain itu, masih banyak Guru-guru kita, memanfaatkan waktu sisanya untuk menambah nafkah keluarganya dengan bekerja selain menjadi Guru. (Bersambung)</span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 12 Oktober 2009</span><br /><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-7247487987516845950?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-20199314747111456622009-10-12T21:48:00.002+07:002009-10-12T21:52:11.194+07:00MENJADI GURU YANG KONSTRUKTIF – Bagian 2<a href="http://www.wartakeluarga34.com/">Oleh. M. Eko Purwanto</a><br />(Staf Bidang Pendidikan YW Al Muhajirien Jakapermai - Bekasi)<br /><br />"Essensi tugas Guru tidaklah mengajar, tetapi untuk menemukan cara-cara &amp; situasi belajar bagi para murid-muridnya, karena hakekat pendidikan bukan mengisi ember melainkan menyalakan api."<br /><br /><span style="font-weight: bold;">Interaksi Energetik Guru dan Murid</span><br /><br /><div style="text-align: justify;">Guru yang konstruktif harus selalu inovatif untuk mengadopsi metode-metode baru untuk memotivasi belajar anak-anak didiknya. Ia harus menempatkan anak-anak didiknya sebagai pusat pembelajaran, artinya sejauhmana materi disampaikan bukan tergantung Guru dan kurikulumnya tetapi tergantung kepada murid-muridnya. Kreatifitas murid dibangun melalui diskusi kelompok, seminar, diskusi panel, kunjungan lapangan, permainan peran, dan lain-lain. Menurut Albert Einstein, "Ini adalah seni tertinggi guru untuk membangkitkan kegembiraan yang ekspresif, kreatifitas, dan pengetahuan. Sehingga sekolah akan menjadi platform yang tepat untuk memenuhi tujuan pendidikan, jika hubungan antara siswa dan guru dipelihara dengan baik. Guru adalah teman, filsuf dan panduan dari siswa. Seorang guru adalah motivator terbaik, seorang pecinta dan pengisi kekuatan. Murid-murid terinspirasi oleh kapten mereka, yaitu Guru.”<span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">Seorang Guru hanya sebagai fasilitator, motivator dan inspirator dari proses kegiatan belajar mengajar di kelas, sehingga semua kualitas dari dalam diri anak-anak didiknya, akan terbuka. Semua kreativitas terletak di dalam diri anak-anak didik, karena anak-anak didik kita memiliki jiwa di mana terletak sumber dari segala potensi-potensinya. Karena ketidaktahuannyalah maka kita sebagai seorang guru adalah pemandu spiritual untuk membantu memberikan pengetahuan kepada jiwa anak-anak didik kita. Keterlibatan jiwa seorang murid dalam suatu kegiatan belajar mengajar, akan memberikan motivasi kuat kepada mereka. Anak-anak didik kita akan merasa dirinya berharga untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.</span><br /><br /><span class="fullpost">Manusia tidak pernah luput dari berbuat salah, tapi perbuatan yang baik sekecil apapun harus dipuji. Setiap anak didik memiliki beberapa sifat-sifat baik dalam dirinya. Peran guru adalah untuk tidak mengkritik dia karena kenakalannya, tetapi untuk memuji salah satu kualitas yang baik dalam dirinya, sekaligus memberikan inspirasi. Sistem memuji salah satu kualitas pada diri anak didik akan menumbuhkan percaya diri, ia mulai merasa dirinya layak dan berharga, karena tidak semua anak didik memiliki kemampuan akademik yang sama. Mereka memiliki tujuan alam, dan kecenderungan yang dibawanya sejak lahir. Seorang Guru harus mampu mengidentifikasi hobi dan kemampuan alaminya sehingga ia dapat mengetahui siapa dirinya dan memotivasi dirinya untuk bisa maju dalam wilayah bakat dan hobinya itu.</span><br /><span class="fullpost"> </span><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">Ada Senyum di Dalam Kelas</span><br /><br /><span class="fullpost">Senyum memainkan peran yang sangat penting, tidak hanya dalam batas-batas sekolah, tetapi juga bahkan di dalam masyarakat pada umumnya. Senyum adalah ekspresi cinta. Senyum adalah kekuatan dan kekuasaan seseorang. Sekolah juga harus menjadikan senyum sebagai bagian dari kegiatan belajar mengajar. Seorang guru menyentuh hati anak-anak didiknya melalui daya tarik ‘senyum’. Senyum menciptakan percaya diri anak-anak didik kita. Perkembangan kemajuan anak-anak didik terhadap mata pelajarannya, terjadi ketika mereka mulai menyukai dan mencintai Gurunya. Bagaimana murid mau mencitai pelajarannya jika ia tidak mencintai Gurunya. Senyuman seorang Guru, menciptakan getaran yang kuat pada diri anak-anak didiknya. Anak-anak didik kita tidak merasa takut untuk mengungkapkan persoalan apa yang terjadi dalam dirinya. Mereka tidak segan-segan lagi mengajukan pertanyaan, dan kebebasan berpikir di dalam kelas secara otomatis terjadi, ketika senyum hadir di dalam kelas.</span><br /><br /><span class="fullpost">Kita sebagai Guru, dituntut untuk menjadi seorang teman untuk anak-anak didik kita. Persahabatan dapat membantu kita untuk lebih memahami seorang anak. Seorang anak didik akan mengungkapkan kesulitan/masalah hanya kepada Guru yang sudah menjadi temanya. Tetapi, jika kita sebagai Guru hanya memerankan seseorang pemberi tugas atau bahkan pemimpin sirkus untuk anak-anak didik kita, kita akan merusak kegitan belajar mengajar mereka. Anak-anak didik kita mulai membenci kita dan menyembunyikan segala sesuatu yang ada pada dirinya kepada kita. Anak-anak didik kita akan mengembangkan rasa takut kepada kita. Itu sebabnya, banyak orang tua dan Guru berada dalam masalah besar, ketika semua persoalan pribadi anak-anak kita tidak mengemuka. Anak-anak didik kita kehilangan kebebasan untuk berterus-terang menceritakan masalahnya. Sebenarnya ini bukan kesalahan anak-anak didik kita, tapi kesalahan kita sebagai orang tua dan Guru di sekolah, yang tidak memiliki seni 'bagaimana untuk menjadi teman dari anak-anak didik kita.'</span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">Contoh Teladan</span><br /><br /><span class="fullpost">Seorang Guru dapat memotivasi anak-anak didiknya untuk lebih banyak membaca buku, jika anak-anak didiknya menemukan Gurunya banyak membaca buku. Tetapi, bagaimana mungkin seorang Guru yang jarang sekali membaca mampu memotivasi anak-anak didiknya untuk lebih banyak membaca buku ? Ini tidak mungkin terjadi. </span><br /><br /><span class="fullpost">Buku adalah sumber energi dan motivasi. Seorang Guru harus menjadi pembaca intensif buku-buku perpustakaan, majalah dan mengumpulkan pengetahuan untuk mengilhami anak-anak dengan menceritakan hal-hal baru. Guru dapat membuat perpustakaan kecil sendiri di dalam kelasnya, dan menjadikan dirinya sebagai inspirator bagi murid-muridnya. Karena, menurut Sokrates kelas adalah tanah pertempuran antara guru dengan muridnya, dan senjatanya adalah pertanyaan. </span><br /><br /><span class="fullpost">Kita sebagai Guru adalah motivasi bagi anak-anak didik kita, melalui kebiasaan kita membaca buku, budaya fisik dan mental ini bisa memberi contoh kepada anak-anak didik kita. Karena murid-murid selalu mengikuti perilaku Guru mereka. Jadi seorang Guru dapat melakukan banyak hal melalui kekuatan motivasi. Seorang guru harus menyadari bahwa kekuatan motivasi dan menggunakannya dengan baik dimanapun dan kapanpun, akan melahirkan sikap optimisme bagi anak-anak didik kita. </span><br /><br /><span class="fullpost">Setiap anak-anak didik kita berbeda dan unik. Bersama anak-anak didik, kita bisa belajar melakukan spesialisasi dan mengidentifikasi hobi, bakat dan kecenderungan-kecenderungan lainnya. Anak-anak yang melakukan kenakalan di dalam kelas, memiliki kemungkinan tertinggi dan multi-dimensi kepribadiannya, karena itu, mereka menjadi nakal. Mereka membutuhkan lebih banyak tugas pekerjaan yang harus diselesaikan. Tugas-tugas sekolah yang lebih banyak ini merupakan ladang bagi anak-anak didik yang kita anggap nakal ini untuk menunjukkan kepribadian dan eksistensinya. </span><br /><br /><span class="fullpost">Kita bisa memiilih anak-anak didik kita yang paling nakal di kelas kita, lalu berikan kepada mereka tanggungjawab dan pekerjaan-pekerjaan non akademis yang harus diselesaikan, kita akan melihat bagaimana cepat mereka menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Dalam waktu sepersekian menit mereka bisa melakukan pekerjaannya dengan baik. Anak-anak yang nakal adalah masa depan sumber daya manusia kita. Para guru dan orangtua harus lebih memahami kebenaran ini sebagai fakta untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan dan kemampuan dalam diri mereka, sehingga "setiap anak akan menjadi istimewa".</span><br /><br /><span class="fullpost">Anak-anak didik kita terlahir dengan potensi yang tak terbatas, maka tugas kita sebagai Guru adalah membantu mengembangkan mereka dan membuat mereka layak di setiap bidang yang diminatinya. Setiap anak didik kita mempunyai potensi yang luar biasa besar di dalam dirinya, maka pekerjaan guru adalah menginspirasi anak agar kreativitasnya terbuka. Hanya kita yang yang dapat membimbing mereka untuk mencapai tingkat tertinggi dari kreatifitasnya. Mengenali kepribadian unik anak-anak didik kita dan mendorongnya agar senantiasa tumbuh, adalah tugas kita sebagi seorang Guru.</span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">Penutup</span><br /><br /><span class="fullpost">Peran guru dalam skenario perubahan sosial di masyarakat kita menjadi sangat menantang, karena masyarakat kita saat ini lebih menghargai hal-hal yang bersifat material dan nilai-nilai spiritual menjadi terbelakang. Tidak ada yang luar biasa tentang hal ini, namun situasi seperti ini tidak akan hidup selamanya. Ada cukup banyak indikasi bahwa pendidikan kita akan bangkit kembali, mewarnai nilai-nilai abadi budaya yang selama berabad-abad tumbuh-berkembang di dalam dinamika kehidupan bangsa yang besar. Kita berada pada proses transisi, dimana nilai-nilai budaya masih terpelihara dan dirawat dengan baik. Oleh karena itu, peran Guru menjadi sangat signifikan. </span><br /><br /><span class="fullpost">Terakhir, sebagai bahan renungan kita, mengapa film Laskar Pelangi menyita banyak penonton untuk berduyun-duyun menyaksikannya, energi dan nilai-nilai spiritual apa yang tersimpan di dalam film tersebut ?. Kita semua yang pernah menontonnya pasti tahu jawabannya.</span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 9 Oktober 2009.</span><br /><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-2019931474711145662?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-86981796143455736872009-10-12T21:43:00.001+07:002009-10-12T21:48:07.557+07:00MENJADI GURU YANG KONSTRUKTIF – Bagian 1<a href="http://www.wartakeluarga34.com/">Oleh. M. Eko Purwanto</a><br />(Staf Bidang Pendidikan YW Al Muhajirien Jakapermai - Bekasi)<br /><br /><div style="text-align: justify;">"Essensi tugas Guru tidaklah mengajar, tetapi untuk menemukan cara-cara &amp; situasi belajar bagi para murid-muridnya, karena hakekat pendidikan bukan mengisi ember melainkan menyalakan api."<span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost"><span style="font-weight: bold;">Pendahuluan</span></span><br /><br /><span class="fullpost">Dalam tulisan ini saya akan memfokuskan pada karakteristik, kepribadian &amp; spiritualitas Guru, agar mampu memainkan peran sebagai fasilitator bagi anak-anak didiknya. Saya berharap dalam tulisan ini, saya bisa memberikan cara pandang baru untuk melakukan perubahan dalam proses belajar mengajar di sekolah dan di masyarakat.</span><br /><br /><span class="fullpost">Mencintai profesi mengajar, merupakan salah satu dari ratusan bahkan ribuan pilihan pekerjaan, yang saat ini sedang mendapatkan perhatian serius dari Pemerintahan SBY. Secara spiritual, mereka-mereka yang senang mendidik, melatih dan menjadikan orang lain sukses adalah manusia yang mencintai hidupnya sendiri. Manusia seperti ini bukan saja hebat, tetapi sangat hebat?.</span><br /><br /><span class="fullpost">Membangun suatu generasi tidaklah semudah dibandingkan dengan mendirikan bangunan yang dilakukan oleh seorang insinyur, atau seorang dokter untuk mengobati pasiennya. Membangun suatu generasi berarti membentuk kharakter masyarakat masa depan dan alam semesta ini, sekarang. Dan menciptakan generasi yang lebih baik adalah satu-satunya solusi dari setiap jenis masalah yang dihadapi masyarakat kita hari ini. </span><br /><br /><span class="fullpost">Masyarakat kita sekarang membutuhkan pikiran lembut untuk bekerja dengan damai, yang menyenangkan hati semua orang, dan mampu melindungi serta melayani orang lain. Mungkin hal masih dianggap mimpi, sekarang, karena kita selalu menyaksikan kekerasan dimana-mana. Mulai dari kekerasan fisik sampai ke kekerasan psikologis. Tidak heran jika kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri, seorang pencopet mati di tangan massa, atau seorang karyawan langsung di PHK lantaran salah melakukan prosedur kerja. Oleh karena itu masyarakat sangat membutuhkan seorang Guru yang konstruktif, guru yang mampu membangun character murid-muridnya, dan Guru yang mampu menyalakan api dari setiap jiwa anak-anak didiknya, agar bisa menjadi generasi yang beradab dan cinta sesamanya.</span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">Guru Konstruktif</span><br /><br /><span class="fullpost">Guru yang konstruktif, adalah Guru yang memiliki tujuan untuk mampu melakukan perubahan dari dalam diri murid-muridnya, bukannya dari luar. Guru adalah sumber kreatifitas bagi murid-muridnya dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Dengan pemahaman ini, mungkin kita mampu, sedikit demi sedikit melakukan perubahan yang lebih besar. Kebangkitan dunia pendidikan, mulai dari sekolah sampai ke tingkat kenegaraan bisa dipersiapkan mulai dari sekarang.</span><br /><span class="fullpost"> </span><br /><span class="fullpost">Untuk bisa menjadi Guru yang konstruktif, dibutuhkan pemahaman spiritualitas yang cukup. Seorang Guru yang memiliki spiritualitas, bukan hanya mereka yang taat memeluk agama tertentu saja, namun mereka yang memahami bahwa tujuan beragama adalah menemukan siapa dirinya, dan peran apa yang harus dimainkannya di alam semesta ini, karena ia memahami bahwa kehidupannya kelak akan berakhir dimana.</span><br /><span class="fullpost"> </span><br /><span class="fullpost">Seorang Guru yang memiliki spiritualitas cukup, ibarat api yang mampu menjadi sumber cahaya dan mampu membakar semangat para murid-muridnya. Guru adalah provokator dalam diri setiap anak-anak didiknya. Oleh karena itu, seorang Guru harus senantiasa mensucikan dirinya dari pikiran dan perbuatan menyimpang dari norma serta nilai-nilai agama yang dianutnya. Sehingga energi murni yang positip selalu terpancar dari dirinya kepada murid-muridnya. Karena pikiran negatif seorang Guru, mudah sekali beresonansi dan mampu mempengaruhi anak didiknya dalam menyerap pelajaran dan mempengaruhi kondisi belajar di dalam kelas. Karena interaksi pertama yang dirasakan oleh murid-muridnya adalah energi potensial Gurunya ketika masuk dalam ruang kelasnya. Bahkan sebelum seorang Guru itu memasuki ruang kelas, isi pikiran Guru sudah berada di ruang kelas. Karena pikiran manusia adalah getaran energi yang mampu beresonansi dengan pikiran-pikiran lainnya. </span><br /><br /><span class="fullpost">Saat ini para guru di sekolah, benar-benar masih sangat tinggi kemelekatannya dengan persoalan ekonomi keluarganya. Pikiran para Guru masih bising dan disibukan untuk memecahkan masalah ekonomi dan karir mereka sendiri. Mereka belum bisa keluar dari kemelekatan tersebut. Oleh karena itu, Guru yang konstruktif, adalah ketika seorang Guru mampu mengenal dirinya sebagai jiwa dari seluruh alam semesta dan sebagai bagian entitas rohani yang besar. Ia akan menyadari bahwa peran seorang Guru bukanlah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi untuk memenuhi kebutuhan mental anak-anak didiknya. </span><br /><br /><span class="fullpost">Sebagai api yang mampu membakar spirit murid-muridnya, seorang Guru akan mampu menciptakan perubahan dan transformasi dalam masyarakat. Dengan demikian seorang Gurupun, terlebih dahulu, harus mampu mentransformasikan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia bermimpi untuk mentransformasikan suatu generasi, sementara dirinya sendiri belum dapat tertransformasikan ?. Itu sebabnya seorang Guru harus senantiasa memiliki semangat untuk memotivasi murid-muridnya. Dia harus menjadi seorang pembimbing yang sekaligus mengarahkan api di dalam diri murid-muridnya ke arah yang konstruktif. Karena itulah, seorang Guru yang kurang memiliki moralitas yang baik, akan memiliki dampak yang tidak baik pula pada murid-muridnya. Karena menurut William Butler Yeats, “Pendidikan bukan mengisi ember, tapi menyalakan api".</span><br /><br /><span style="font-weight: bold;" class="fullpost">Kekuatan Resonansi Pikiran</span><br /><br /><span class="fullpost">Seorang Guru adalah sumber getaran energi bagi murid-muridnya, sehingga para muridnya akan menjadi lebih energik. Mata bathin seorang Guru yang terlatih dengan baik, akan mampu menyentuh semua jiwa-jiwa muridnya di dalam kelas. Dampaknya adalah suasana dan kondisi kelas yang tertib dan muird-muird akan mudah menyerap materi-materi pelajaran yang disampaikan, berapapun jumlah murid didalam kelas tersebut. Melalui Guru yang konstruktif, kita tidak lagi mengenal rasio antara murid dan Guru, yang ada adalah tingkat energi positip Guru baik secara fisik dan mental di dalam kelas. </span><br /><br /><span class="fullpost">Ketika saya menjadi murid SMTP sekian puluh tahun lalu, saya merasakan pelajaran yang dianggap sulit pada saat itu, menjadi mudah dan sangat sederhana ketika ditangani oleh seorang Guru yang getaran energinya mampu masuk ke dalam jiwa-jiwa muridnya. Lain halnya dengan Guru yang menganggap murid-muridnya seperti ember yang harus diisi, ia bahkan menganggap murid-muridnya seperti kertas kosong yang bisa diisi tulisan semau Gurunya. Guru seperti ini tidak akan bisa menyalakan api di dalam jiwa anak didiknya, tapi justru akan mematikannya.</span><br /><span class="fullpost"> </span><br /><span class="fullpost">Guru yang konstruktif, adalah Guru yang memiliki spiritual cukup. Banyak Guru yang memiliki pengetahuan agama tinggi, namun spiritualitasnya sangat rendah. Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas terlalu jauh tentang spiritualitas namun penerapan dari orang-orang yang memiliki spiritualitas cukup, sebagai sarana untuk menggambarkan peran Guru terhadap anak-anak didiknya. </span><br /><br /><span class="fullpost">Dalam konteks spiritualitas, ketika seorang Guru berbicara sesuatu, maka seluruh murid-muridnya terperangkap dalam getaran jiwa Gurunya yang menyebar di dalam kelas. Dan ketika seorang guru menjadi menyenangkan, spiritual, dinamis, maka selain materi pelajaran mudah terserap oleh para murid, semua persoalan di dalam kelas juga dapat diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat, Karena pusat utama energi jiwa yang kuat di dalam kelas ada di dalam diri seorang Guru. Jika pikiran seorang Guru damai, tidak bising dengan pikiran-pikiran lainnya, maka murid-muridnya akan nyaman dan menyenangkan dalam menerima materi pelajaran. Perubahan dalam jiwa guru adalah dasar dari semua kreativitas murid dan mampu mendinamisir sistem pembelajaran di dalam kelas.</span><br /><br /><span class="fullpost">Memahami anak-anak didiknya dalam upaya mengetahui bagaimana menyalakan api dalam diri setiap muridnya, hanya bisa dilkukan, ketika seorang Guru mampu memahami dirinya sendiri. Jika seorang Guru sibuk dengan begitu banyak kesalahpahaman dalam dirinya, dalam keluarganya, dan dalam memilih profesinya maka bagaimana mungkin ia bisa menyebarkan pemahaman ke dalam hati dan pikiran anak-anak didiknya ?. Seorang guru harus memahami kebutuhan dan masalah-masalah siswa. Hal ini bukan hanya tugas Guru BK (Bimbingan &amp; Konseling) saja, tetapi semua Guru di sekolah. Dia harus mampu menyelami jiwa setiap muridnya, memahami kepribadian yang terbentuk dari keluarganya, dan kecenderungan-kecenderungan lainnya yang terlihat dari perilaku anak-anak didiknya. Dengan demikian, seorang Guru akan dapat memotivasi murid-muridnya dengan baik.</span><br /><br /><span class="fullpost">Guru adalah contoh dan teladan di depan murid-muridnya. Jika seorang Guru sendiri memiliki watak pemarah, tidak memiliki kesabaran, maka energi pemarah dan tidak sabaran tersebut meresonansi anak-anak didiknya dan membentuk character anak-anak didiknya, menjadi minimal sama atau bahkan lebih, sebagai calon-calon seorang pemarah dan tidak sabaran. Dalam bahasa fisika kuantum, panjang gelombang energi anak didik di dalam kelas, berbanding lurus dengan panjang gelombang energi Gurunya. Dan getaran akan beresonansi dengan besaran yang sama.</span><br /><br /><span class="fullpost">Kita tidak akan mampu menenangkan situasi kelas dan menanamkan kecintaan murid terhadap mata pelajaran tertentu, jika pikiran kita sebagai Guru masih bising dengan pikiran-pikiran lainnya, apalagi kita tidak mencintai profesi dan mata pelajaran yang kita ajarkan kepada murid-murid kita. Lebih parah lagi, jika kita menjadi seorang Guru hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan ekonomi saja alias mencari nafkah. Akibatnya, murid-murid akan berdagang dengan Gurunya disekolah, bukan untuk belajar. (Bersambung).</span><br /><br /><span class="fullpost">Bekasi, 9 Oktober 2009</span><br /><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-8698179614345573687?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-4849390033464935832009-09-25T18:03:00.002+07:002009-09-25T18:08:30.136+07:00Time Is Now<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/SrykfDFD5QI/AAAAAAAAADE/s1CgGloVJYY/s1600-h/soul-spirit-4.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 164px; height: 119px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/SrykfDFD5QI/AAAAAAAAADE/s1CgGloVJYY/s400/soul-spirit-4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5385360107737703682" border="0" /></a><span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" ><span style="font-weight: bold;">The Time Is Now!</span></span><br />Rusty Stewart, Ph.D., ACHt.<br /><br /><div style="text-align: justify;">Now is the plan, plain and simple. No time to waste. Now is a theme that runs deep into most of our lives. If we took this attitude and approached each day as if there was no time to waste, our lives would probably be very different. And since the macro mirrors the micro, our relationships, our communities, our government, and our world would be very different. I am not suggesting here that we become obsessive compulsive, workaholics, eliminate our still time or taking care of ourselves, or not be present. What I am saying is it's time to stop the excuses, stop the languaging we use on ourselves, like, I will do this when this or that happens.<span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">The present moment is all we have. There are no other guarantees! What is important to you? If you are not engaging yourself in what is important to you then stop and reassess the way you live your life. Prioritize what is important, or what you need to do to participate in what is important to you. I can feel the resistance already. If you are resisting then take a look at what you are resisting. Observe your rationalizations, and decide if you'd rather be right in justification or happy.</span><br /><br /><span class="fullpost">Insanity is doing the same thing over and over again expecting each time a different result. Are you playing the DVD Groundhog Day in your own mind? Let me tell you this from my own experience and that of my patients, there will always be something! It's the nature of the ego and our defenses. The stuff doesn't just clear itself out and leave a block of space for us to live our passions. We have to clear the space ourselves. Nobody will do it for us. There is no magic formula. However, there is "The Secret." </span><br /><br /><span class="fullpost">There is "The Way Of Mastery" (www.shantichristo.com). There is "Empowerment: The Art Of Creating Your Life As You Want It" by David Gershon &amp; Gail Straub and "The Attractor Factor" by Joe Vitale. Which do you want first, the good news or the bad news? Okay here's the good news. All of these resources can radically change your life and start you on the road to happiness and abundance in all areas of your life. Now for the bad news. These things do not work by themselves. It requires commitment and doing things in our lives qualitatively different! What is important to you? What are you prioritizing right now as we speak? This is not to feel guilty or shameful, but to just observe and get clear on what is. People that are successful in all areas of their lives do things differently than the general population.</span><br /><br /><span class="fullpost">They don't do more of "it", they experience thinking, feeling, and taking action qualitatively differently than most of us. That's why I'm listening to them and applying these principles in my life. The time is now! Take responsibility for your own life. Model that to others. If you do it will inspire them to change. It also is what motivates the world to change. So whatever you are unhappy about, think about what makes you happy and start moving towards it. Remember, all you have is now. You may be surprised how special and sacred the now is when you experience it.</span><br /><br /><span class="fullpost">So, what ever your passion is in life, whatever it is you want to change, now is the time! You may be surprised how much wasted time can be cut out of your life and freed up to move toward the things you love. Remember, this is not about doing more and more, and making list after list, and getting more tasks done. This is about taking committed action and tapping into your greatness. This is about being the Gods and Goddesses that we all are. This is about allowing our light to shine brightly. This is about letting go of old beliefs and ways of doing things and experiencing something totally different. The ironic part about all of this is that when you start being in your greatness and follow your heart, you might just get a lot more done with a fraction of the effort. You may also start to have happy attacks and engage in fun, laughter, and passion. Peace can also be a symptom of the happiness bug. It's time to make a difference in yourself. So, I ask you one more time, what is really important to you and what time is it? THE TIME IS NOW!</span><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-484939003346493583?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0tag:blogger.com,1999:blog-7988177516998639330.post-61233645907326360622009-09-25T17:59:00.001+07:002009-09-25T18:02:24.753+07:00Mirror<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/SryjJtgtDvI/AAAAAAAAAC8/83567p_dw6M/s1600-h/soul-spirit-3.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 108px; height: 149px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PL00ZwyFP4c/SryjJtgtDvI/AAAAAAAAAC8/83567p_dw6M/s400/soul-spirit-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5385358641659186930" border="0" /></a><span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 102, 102);font-size:180%;" >Mirror Mirror On The Wall, Who Deserves My Goodwill Most Of All? </span><br />Rusty Stewart, Ph.D., ACHt.<br /><br /><div style="text-align: justify;">Whoever is looking in the mirror deserves goodwill most of all. Why, because our outer world can be no different than our inner world. If you do not see yourself in the mirror then you are probably a vampire since they don't see their reflection. All kidding aside, you must plant your own seeds of goodwill inside yourself first. Then nurture, water, and organically fertilize your own internal goodwill in order to reap the harvest of extending authentic goodwill. So what does this look like?<span class="fullpost"><br /><br /><span class="fullpost">Creating our individual purpose, vision, and mission statements are a great place to start. This provides us with an organic template that supports us in staying true to ourselves. Along our path we will encounter many challenges and many thoughts and emotions that can potentially sabotage our focus. Extending goodwill is impossible when we sabotage what is important to us. I have found in my own journey of empowerment that it is essential that I heal and accept the unconscious shadow parts of myself that steer me away for my true purpose, vision, and mission. Accepting is the beginning of the surrendering process that releases me from my own bondage. Here are some methods for healing unconscious sabotaging beliefs: PSYCH-K, EFT, The Sedona Method, Ho'o Pono Pono, and much of the work of James Arthur Ray from The Secret. Find what resonates with you. James Ray and PSYCH-K have done wonders for me at releasing my deep seated fears and limiting beliefs.</span><br /><br /><span class="fullpost">James Ray says that we have to go three for three. "Going ‘3 for 3' is what happens when your thoughts, your feelings, and your actions are all firing simultaneously and in alignment" (James Ray, Harmonic Wealth, 2008). When we engage in these three for three processes we are coalescing our energy to support what we say is important in our lives. When we integrate this with the unconscious release of limiting beliefs, we have a manifestation machine at our Divine fingertips. In essence, we are promoting goodwill within ourselves. The critical areas to address with our internal goodwill are: thoughts and emotions, relationships, sexuality, physical, work and career, financial and material, social and recreational, community and social and environmental responsibility, spirituality, and time and committed action. We consciously develop our vision from these 10 areas. We find our purpose through our own internal meditative processes. Our purpose drives us, inspires us, and motivates us. Our purpose is why we are here. Our mission is the vehicle that manifests our vision. Goodwill is finding harmony in each of these 10 areas and being true to ourselves first and foremost!</span><br /><br /><span class="fullpost">When we are living our purpose and mission and manifesting our vision then the extension of goodwill to others is natural and infinite. We are indeed connected to our source, our Goddess selves. This is why the extension of goodwill is endless. Love is all there is. In Loving ourselves and living our passionate purpose, we remember that we are Love and unlimited. Everything else becomes easy and effortless. Life was never meant to be hard.</span><br /><br /><span class="fullpost">There are many different ways to find your internal goodwill. I have shared with you what works for me. I reiterate, you must find what resonates with you! So the next time you look in the mirror, know that you deserve goodwill first and foremost. Then get ready to dance your way through life with grace and gratitude. Letting go of fear means saying yes to Love. Love yourself, remember that you are God, and know that your purpose, vision, and mission are your Divine plan. Just stay unattached for sometimes our Divine energy has something even better in store for us. I don't know about you, but I Love surprises! Now that's goodwill I'm willing to share with everyone!</span><br /></span></div><span class="fullpost"><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7988177516998639330-6123364590732636062?l=www.purwalodra.com' alt='' /></div>M. Eko Purwantohttp://www.blogger.com/profile/01274011037000625273antakusuma.purwanto@gmail.com0