Here is the ultimate resource for detailed purwalodra guides, and tips. Find about purwalodra that will match your need | Education | Life | Writing | Politics

Click

10 April 2010

Life Limit

Ambang Batas Kelayakan
Oleh. Purwalodra

Memaknai Ambang Batas Kelayakan dari pikiran dan hidup saya sekarang, adalah mimpi buruk yang selalu menghantui. Bagaimana tidak, semua keinginan, rencana bahkan mimpi sekalipun hanya bisa berhenti dipintu-pintu harapan yang terkunci oleh batas-batas kelayakan. Dunia ini pun seketika menjadi mustahil hanya karena saya mendiskriminasikan segala sesuatu, ini layak untukku dan yang lainnya tidak.

Ambang batas kelayakan ini menjadi kerikil-kerikil tajam yang menghalangiku disetiap jengkal langkah. Sehingga batas pikiranpun menyempit. Ketika pikiran menjadi sempit, otomatis dunia yang menjadi arena petualangan hidup ini pun menjadi semakin sempit. Tantangan-tantangan menjadi sangat mengerikan, kesempatan-kesempatan hanyalah pepesan konsong, tidak lagi menyemangati. Kehidupan menjadi ajang egosentris dengan batasan yang semangkin menghimpit. Akhir tragedi ini hanyalah penghakiman-penghakiman atas lingkungan eksternal, situasi-kondisi dan diri sendiri.

Teman-teman yang peduli terhadap penyakit mental ini menyarankan agar saya segera melakukan pembersihan, dengan melakukan rukiyah. Ada juga yang menyarankan agar saya mengikuti seminar-seminar tentang pengembangan diri, agar bisa melakukan self suggestion. Bahkan banyak lagi yang menasehatkan saya untuk melakukan Taubatan Nasuha, Dzikir sebanyak yang saya mampu, dan shalat-shalat sunat lainnya.

Sekarang saran dan nasehat teman-teman yang berharga itu, sudah menjadi rutinitas keseharian, dan nyaris menjadi candu yang tidak bisa saya tinggalkan. Kalau saja saya meninggalkan secara sengaja maupun tidak, kegelisahan dan cemas langsung merusak ketenangan dan kedamian yang kumiliki.

Tidak jarang saya menyikapi kondisi yang berkembang di negri ini dengan perasaan pilu, menyayat bathin bahkan hidup seakan sebuah perjalanan dari halte ke halte, dan kembali ke halte semula. Sangat menjenuhkan. Keindahan, cinta dan kedamaian adalah mimpiku saat ini. Akankah semua ini menjadi rencana yang berada dalam jangkauan kemampuanku sendiri. Atau akan tetap menjadi mimpi-mimpi.

Dalam kehidupanku sekarang telah terprogram bahwa uang itu buruk, mengurusi diri sendiri itu buruk, benda materiil itu tidak spiritual dan lain-lain. Maka apapun yang saya lakukan, jika saya menginginkan uang sementara dalam pikiranku yang lain berfokus pada uang itu buruk atau egois, saya akan tetap mendorong agar uang menjauhi saya.

Program tersebut diperparah oleh kondisi di negri ini pula bahwa dimana banyak pegawai publik yang baru golongan rendah bahkan baru beberapa tahun bekerja sudah bisa menimbun banyak uang. Alangkah naifnya saya !!!, pikirku, yang sudah bertahun-tahun bahkan hampir selesai menjalani masa bhakti, bukannya uang atau harta lainnya yang terkumpul, malah hutang yang semakin bertambah di warung-warung tetangga dan teman-teman sekantor. Saya mengakui bahwa sayalah yang paling bersalah dalam hidup ini. Saya mungkin kurang banyak bersyukur dari apa yang saya miliki saat ini, atau ambang batas kelayakan yang tertanam dalam benak saya memang terprogram seperti ini.

Selesai shalat subuh, dihari minggu ini, saya kembali bersimpuh dihadapan Illahi Robbi, setelah bermunajat saya bisa sedikit menyadari bahwa semua ini (termasuk hidup saya sekarang), tergantung pada keyakinan saya sendiri, khususya keyakinan saya tentang apa yang menurut saya patut alias pantas saya terima dalam hidup ini. Pesan saya terhadap diri saya sendiri, yakini dan perluas ambang batas kelayakanmu, jika kamu ingin berubah !!!.

Bekasi, 10 April 2010.

0 komentar:

Viviti