Here is the ultimate resource for detailed purwalodra guides, and tips. Find about purwalodra that will match your need | Education | Life | Writing | Politics

Click

10 February 2010

Arts In Education Part 1

Aspek Seni Dalam Kegiatan Belajar Mengajar di Sekolah – Bagian 1
Oleh. M. Eko Purwanto

Pendahuluan

Dalam pemahaman saya, belajar adalah suatu urutan peristiwa mental yang menyebabkan perubahan dalam proses belajar itu sendiri. Belajar menempati posisi penting dalam kehidupan semua individu di dunia ini. Belajar tidak hanya terbatas pada usia tertentu, tetapi merupakan proses seumur hidup (the long life education). Belajar adalah sebuah pengayaan dari pengalaman manusia. Tanpa belajar segala usaha setiap individu menjadi sia-sia. Dikatakan juga, bahwa Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku manusia, yang terjadi sebagai akibat dari pengalaman yang diperkuat melalui pelatihan dan pembelajaran itu sendiri.

Sering kita mendengar, bahwa seseorang yang telah menamatkan pendidikan sampai ke jenjang pendidikan tertinggi, namun ketika mereka ingin memanfaatkan pengetahuannya, justru mereka kehilangan semua pengetahuannya yang pernah mereka pelajari sejak dalam proses belajar di Perguruan Tinggi. Pertanyaannya adalah apa yang menyebabkan semua ini terjadi ?

Kebutuhan Belajar Pada Individu

Apabila seorang murid telah menuntaskan proses kegiatan belajar mengajar di kelas selama satu semester dan sudah membaca seluruh buku-buku yang disarankan, namun ketika mengikuti ujian, masih saja terbelenggu oleh perasaan cemas dan tidak menentramkan. Apa yang sebenarnya terjadi ?. Mungkin saja si murid tersebut melupakan bahwa ia sudah belajar banyak tentang mata pelajaran yang dipelajarinya selama satu semester.

Sebagai contoh lagi, jika seorang Guru yang telah menyelesaikan studinya di Es-Satu dan siap untuk mengajar di kelas, namun ternyata masih banyak Guru yang masih mengidap penyakit ‘Demam panggung’ alias ‘masuk angin’ dadagan. Hal inipun mungkin si mantan mahasiswa tersebut melupakan apa yang sudah pernah dipelajarinya selama di Perguruan Tinggi, tentang bagaimana cara mengajar dan mempraktekkannya di depan kelas.

Ada lagi, seorang ibu rumah tangga ketika melihat sebuah program di televisi yang menayangkan bagaimana membuat makanan lezat. Namun ketika si ibu rumah tangga tersebut berada di dapur, kemudian ia lupa bahan apa dan bagaimana proses yang benar untuk membuat makanan lezat tersebut. Mungkin dia juga telah melupakan apa yang telah dilihatnya di televisi.

Selanjutnya, seorang manajer yang memutuskan untuk membahas berbagai issue dalam pertemuan mingguan di perusahaannya, tapi ketika rapat tersebut berlangsung sang menejer tersebut menyadari bahwa ia lupa untuk membahas beberapa issue yang sudah direncanakannya sejak seminggu sebelumnya.

Kita bisa saja berasumsi bahwa, apabila murid, guru, ibu rumah tangga dan manajer tersebut, mampu mempertahankan apa yang telah dilihat, didengar, difikirkan dan dialaminya tersebut, sudah pasti akan selalu sukses dalam setiap usahanya. Namun, mengapa semua individu tersebut tidak mampu mempertahankan ingatannya terhadap apa yang telah dilihat, didengar, difikirkan, dan dialaminya tersebut ?. Oleh karena itulah, kita sekarang bisa memahaminya bahwa belajar merupakan kebutuhan setiap individu, baik secara pribadi maupun secara profesional. Tanpa belajar manusia tidak akan mampu mempertahankan ingatannya terhadap apa yang pernah dilihat, didengar, dipikirkan dan bahkan pernah dialaminya.

Bekasi, 10 Pebruari 2010


0 komentar:

Viviti