Samson, Singa dan Delilah
Oleh M. Eko Purwanto
Mengakhiri Pelatihan Karyawan dihari ketiga ini, saya dan teman-teman Peserta pelatihan dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok akan memainkan salah satu peran yang telah ditentukan oleh instruktur. Masing-masing kelompok akan memerankan Gaya Samson, Gaya Singa dan Gaya Delilah. Aturan permainan yang disepakati adalah sebagai berikut : Pertama, pada saat yang sama (isyarat dari instruktur) masing-masing kelompok akan mempertunjukkan salah satu gaya sesuai pilihan kelompoknya, bisa Gaya Samson, bisa Singa atau Delilah.
Peraturan kedua, Gaya Samson akan dikalahkan oleh Gaya Delilah, Gaya Delilah dikalahkan oleh Gaya Singa, dan terakhir Gaya Singa akan kalah dengan Gaya Samson. Peraturan terakhir, adalah masing-masing kelompok wajib memperagakan Gaya para tokoh tersebut secara fisik. Misalnya, peragaan Gaya Samson adalah mempertunjukkan otot lengannya yang kekar … “ruso-ruso”, gitu kata mbah marijan. Gaya Delilah diperagakan seperti gaya wanita yang sedang merayu pelanggan, eh … !, suaminya gitu lhoo ?. Sedangkan Gaya Singa diperagakannya seperti singa hendak menerkam mangsanya, suaranya begini .... ‘Om-om’, eh maksud saya, ‘Auuuuummm’.
Setelah peserta terbagi menjadi dua kelompok, saya berada di salah satu kelompok yang kebetulan ada peserta wanitanya tiga orang. Sementara kelompok lain tidak ada Peserta wanita. Dan celakanya, saya lagi-lagi terpilih menjadi koordinator kelompok yang berhak memutuskan ‘gaya’ apa yang akan dipertunjukkan kepada lawan, pada saat instruktur memberi aba-aba.
Ketika anggota kelompok dimana saya berada di dalamnya, menunjuk saya sebagai pimpinan, maka teori tentang bagaimana membangun kelompok yang efektif pun saya lakukan : Pertama-tama, saya menetapkan sasaran kelompok dan alhamdulillah disepakati oleh semua anggota. Kedua, menilai kekuatan dan kelemahan kelompok, nah.. untuk hal ini saya harus meyakinkan bahwa kelompok kitalah yang paling kuat, “oleh karena itu mari kita kompak-kompak aja gituuu.. “ bujuk saya. Ketiga, saya mulai membangun saling percaya satu sama lain dan mencoba menciptakan peluang untuk menang. Sugesti yang bisa saya lakukan antara lain, bahwa kelompok kita tidak ada sedikitpun kelemahannya. “Semoga sugestiku diterima,” bibirku komat-kamit memanjatkan do’a.
“Siaaap-siaaaaap” teriak instruktur membuyarkan diskusi kedua kelompok yang siaga bertarung. “Mulllaaaaaiii !!!.” Pada saat yang sama, kelompok saya memperagakan Gaya Delilah, sementara kelompok lawan memperagakan Gaya Singa. “Hancur hatiku !!!”. Kelompok yang saya pimpin kalah, satu kosong. Namun, kelompok saya masih semangat untuk memainkan babak kedua, dan siap mempertunjukkan peran selanjtnya.
“Siap-siaaap” teriak instruktur menghentikan kegembiraan kelompok lawan. “Mulai !!!”. Pada saat yang sama, kelompok saya tetap memperagakan Gaya Delillah, sementara kelompok lawan memperagakan Gaya Singa. “Gagal maning, gagal maning !!!,” celetuk anggota kelompok saya yang kecewa berat, atas kekalahan yang kedua kalinya ini. Dengan kekalahan yang kedua ini, kelompok saya tidak mungkin lagi memenangkan permainan ini. Semangat kelompok langsung melorot tajam. Kemudian instrutur menghentikan permainan yang hanya dua babak ini, lantas mempersiapkan kedua kelompok untuk kembali menempati tempat duduknya masing-masing.
Hingar-bingar dan gelak tawapun, belum bisa dikendalikan dari kelompok lawan. Tiba-tiba saya yang merasakan kekecewaan teman-teman kelompok saya, menginterupsi instruktur yang sedang mendamaikan kedua kelompok ini, “Maaf instruktur, permainan ini adalah akhir pelatihan yang meninggalkan luka kelompok kami !!!”. Ternyata, interupsi saya ini menambah hangar-bingar dan gelak tawa yang semakin tidak terkendali.
Untuk memadamkan kekecewaan salah satu kelompok, maka instruktur tidak hanya memberi rewards kepada salah satu pemenang saja, namun kelompok saya yang seluruh mukanya sudah dilipat-tujuhpun mendapat rewards dari instruktur yakni masing-masing peserta mendapatkan sebungkus Coklat Kit-Kat. Lumayan !. Mudah-mudahan teman-teman kelompok saya bisa tidur malam dengan tenang …. Gitu aja dipikirin !!!
Bekasi, 30 Desember 2009.
Peraturan kedua, Gaya Samson akan dikalahkan oleh Gaya Delilah, Gaya Delilah dikalahkan oleh Gaya Singa, dan terakhir Gaya Singa akan kalah dengan Gaya Samson. Peraturan terakhir, adalah masing-masing kelompok wajib memperagakan Gaya para tokoh tersebut secara fisik. Misalnya, peragaan Gaya Samson adalah mempertunjukkan otot lengannya yang kekar … “ruso-ruso”, gitu kata mbah marijan. Gaya Delilah diperagakan seperti gaya wanita yang sedang merayu pelanggan, eh … !, suaminya gitu lhoo ?. Sedangkan Gaya Singa diperagakannya seperti singa hendak menerkam mangsanya, suaranya begini .... ‘Om-om’, eh maksud saya, ‘Auuuuummm’.
Setelah peserta terbagi menjadi dua kelompok, saya berada di salah satu kelompok yang kebetulan ada peserta wanitanya tiga orang. Sementara kelompok lain tidak ada Peserta wanita. Dan celakanya, saya lagi-lagi terpilih menjadi koordinator kelompok yang berhak memutuskan ‘gaya’ apa yang akan dipertunjukkan kepada lawan, pada saat instruktur memberi aba-aba.
Ketika anggota kelompok dimana saya berada di dalamnya, menunjuk saya sebagai pimpinan, maka teori tentang bagaimana membangun kelompok yang efektif pun saya lakukan : Pertama-tama, saya menetapkan sasaran kelompok dan alhamdulillah disepakati oleh semua anggota. Kedua, menilai kekuatan dan kelemahan kelompok, nah.. untuk hal ini saya harus meyakinkan bahwa kelompok kitalah yang paling kuat, “oleh karena itu mari kita kompak-kompak aja gituuu.. “ bujuk saya. Ketiga, saya mulai membangun saling percaya satu sama lain dan mencoba menciptakan peluang untuk menang. Sugesti yang bisa saya lakukan antara lain, bahwa kelompok kita tidak ada sedikitpun kelemahannya. “Semoga sugestiku diterima,” bibirku komat-kamit memanjatkan do’a.
“Siaaap-siaaaaap” teriak instruktur membuyarkan diskusi kedua kelompok yang siaga bertarung. “Mulllaaaaaiii !!!.” Pada saat yang sama, kelompok saya memperagakan Gaya Delilah, sementara kelompok lawan memperagakan Gaya Singa. “Hancur hatiku !!!”. Kelompok yang saya pimpin kalah, satu kosong. Namun, kelompok saya masih semangat untuk memainkan babak kedua, dan siap mempertunjukkan peran selanjtnya.
“Siap-siaaap” teriak instruktur menghentikan kegembiraan kelompok lawan. “Mulai !!!”. Pada saat yang sama, kelompok saya tetap memperagakan Gaya Delillah, sementara kelompok lawan memperagakan Gaya Singa. “Gagal maning, gagal maning !!!,” celetuk anggota kelompok saya yang kecewa berat, atas kekalahan yang kedua kalinya ini. Dengan kekalahan yang kedua ini, kelompok saya tidak mungkin lagi memenangkan permainan ini. Semangat kelompok langsung melorot tajam. Kemudian instrutur menghentikan permainan yang hanya dua babak ini, lantas mempersiapkan kedua kelompok untuk kembali menempati tempat duduknya masing-masing.
Hingar-bingar dan gelak tawapun, belum bisa dikendalikan dari kelompok lawan. Tiba-tiba saya yang merasakan kekecewaan teman-teman kelompok saya, menginterupsi instruktur yang sedang mendamaikan kedua kelompok ini, “Maaf instruktur, permainan ini adalah akhir pelatihan yang meninggalkan luka kelompok kami !!!”. Ternyata, interupsi saya ini menambah hangar-bingar dan gelak tawa yang semakin tidak terkendali.
Untuk memadamkan kekecewaan salah satu kelompok, maka instruktur tidak hanya memberi rewards kepada salah satu pemenang saja, namun kelompok saya yang seluruh mukanya sudah dilipat-tujuhpun mendapat rewards dari instruktur yakni masing-masing peserta mendapatkan sebungkus Coklat Kit-Kat. Lumayan !. Mudah-mudahan teman-teman kelompok saya bisa tidur malam dengan tenang …. Gitu aja dipikirin !!!
Bekasi, 30 Desember 2009.
Click Here ! atau ...








1 komentar:
Hi
[URL=http://blog.bakililar.az/Botshark/]Buy Tramadol Online[/URL]
Post a Comment