Siapapun Bisa Berprestasi, Mau ? - Bagian 1
Oleh. M. Eko Purwanto
Dihari kedua pelatihan, saya dan seluruh Peserta mencoba memahami Achievement Motivation atau motivasi berprestasi. Motivasi berasal dari bahasa latin yaitu movere yang berarti bergerak atau menggerakkan. Motivasi diartikan juga sebagai suatu kekuatan sumber daya yang menggerakkan dan mengendalikan perilaku manusia. Motivasi sebagai upaya yang dapat memberikan dorongan kepada seseorang untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki, sedangkan motif sebagai daya gerak seseorang untuk berbuat.
Ketika perilaku seseorang cenderung berorientasi pada tujuan dan didorong oleh keinginan untuk mencapai tujuan tertentu. Maka motivasi merupakan pendorong yang menyebabkan seseorang rela untuk menggerakkan kemampuan tenaga dan waktunya untuk menjalankan semua kegiatan yang telah menjadi tugas dan tanggung jawabnya agar kewajibannya terpenuhi serta sasaran dan tujuan yang ingin dicapai organisasi, bisa terwujud.
Manusia memiliki banyak motivasi dasar yang berperan penting dalam dunia kerja antara lain, motivasi yang diberikan perusahaan/organisasi berupa kompensasi finansial. Sedangkan imbalan yang bersifat non finansial lebih kepada situasi lingkungan kerja yang nyaman, fasilitas-fasilitas yang mendukung proses kerja, dan kepemimpinan yang menghargai sekecil apapun kreativitas anggotanya.
Di dalam suatu organisasi, motivasi berperan penting, karena mengikat langsung pada diri individu/orang-orang di dalam organisasi tersebut. Motivasi yang dimiliki merupakan modal untuk meningkatkan dan mengembangkan organisasi secara optimal. Motivasi menempati posisi terpenting yang harus dimiliki seseorang. Sebab motivasi merupakan kemampuan usaha yang dilakukan seseorang untuk meraih tujuan organisasi, diringi dengan kemampuan individu untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya.
Menurut McClelland, manusia memiliki banyak motivasi dasar yang berperan penting dalam dunia kerja yaitu motivasi berprestasi (n–Ach), motivasi berkuasa (n–Pow), dan motivasi berafiliasi (n–Aff). Dari ketiga motivasi dasar tersebut, motivasi berprestasi memiliki peranan yang sangat besar dalam dunia kerja karena usaha yang terus-menerus untuk meraih prestasi, secara empiris terbukti memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap lahirnya bentuk-bentuk perilaku wiraswasta serta pertumbuhan organisasi dalam jangka panjang.
Apabila kita menelaah lebih jauh kedalam tentang motivasi dalam suatu organisasi, maka keberadaan perannya ada 2 macam, yaitu peran positif dan peran negatif. Motivasi positif, adalah motivasi yang menimbulkan harapan dan mempunyai sifat menguntungkan/menggembirakan bagi individu/karyawan, misalnya : gaji, fasilitas, karier, jaminan hari tua, jaminan kesehatan dan lain-lain. Sedangkan motivasi negatif, adalah motivasi yang menimbulkan rasa takut dalam berbagai bentuk, misalnya: ancaman, tekanan, kelelahan kerja, kejenuhan dan lain-lain.
Dalam konteks pekerjaan, motivasi merupakan salah satu faktor penting dalam mendorong seorang karyawan untuk bekerja. Motivasi adalah kesediaan individu untuk memberikan kontribusi setinggi mungkin untuk mencapai tujuan organisasi. Ada tiga elemen kunci dalam motivasi yaitu usaha setiap individu, tujuan organisasi dan kebutuhan. Usaha merupakan ukuran intensitas. Bila seseorang termotivasi maka ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuan, namun belum tentu usaha yang tinggi akan menghasilkan kinerja yang tinggi pula. Oleh karena itu, diperlukan intensitas dan kualitas dari usaha tersebut serta difokuskan kepada tujuan organisasi. Kebutuhan adalah kondisi internal yang menimbulkan dorongan, dimana kebutuhan yang tidak terpuaskan akan menimbulkan tegangan yang merangsang dorongan dari dalam diri individu. Dorongan ini menimbulkan perilaku pencarian untuk menemukan tujuan-tujuan tertentu yang bukan merupakan tujuan organisasi. Apabila ternyata terjadi pemenuhan kebutuhan, maka akan terjadi pengurangan tegangan.
Pada dasarnya, karyawan yang termotivasi berada dalam kondisi tegang dan berupaya mengurangi ketegangan dengan mengeluarkan suatu usaha (upaya). Proses motivasi yang menunjukkan adanya kebutuhan yang tidak terpuaskan akan meningkatkan tegangan dan memberikan dorongan pada seseorang untuk melakukan sesuatu, yang digambarkan sebagai berikut : ketika kebutuhan seseorang tidak terpuaskan, maka seseorang akan melakukan pencarian untuk mengurangi tegangan tersebut, sampai bisa terpuaskan. Pada umumnya kinerja yang tinggi dihubungkan dengan motivasi yang tinggi.
Sebaliknya, motivasi yang rendah dihubungkan dengan kinerja yang rendah. Kinerja seseorang kadang-kadang tidak berhubungan dengan kompetensi yang dimiliki, karena terdapat faktor internal dan faktor lingkungan kerja yang mempengaruhi kinerja. Kinerja yang tinggi adalah fungsi atau interaksi antara motivasi, kompetensi dan peluang sumber daya pendukung, sehingga kinerja dapat dirumuskan sebagai berikut: Kinerja = f (Motivasi x Kompetensi x Kesempatan). BERSAMBUNG.
Bekasi, 30 Desember 2009.
Ketika perilaku seseorang cenderung berorientasi pada tujuan dan didorong oleh keinginan untuk mencapai tujuan tertentu. Maka motivasi merupakan pendorong yang menyebabkan seseorang rela untuk menggerakkan kemampuan tenaga dan waktunya untuk menjalankan semua kegiatan yang telah menjadi tugas dan tanggung jawabnya agar kewajibannya terpenuhi serta sasaran dan tujuan yang ingin dicapai organisasi, bisa terwujud.
Manusia memiliki banyak motivasi dasar yang berperan penting dalam dunia kerja antara lain, motivasi yang diberikan perusahaan/organisasi berupa kompensasi finansial. Sedangkan imbalan yang bersifat non finansial lebih kepada situasi lingkungan kerja yang nyaman, fasilitas-fasilitas yang mendukung proses kerja, dan kepemimpinan yang menghargai sekecil apapun kreativitas anggotanya.
Di dalam suatu organisasi, motivasi berperan penting, karena mengikat langsung pada diri individu/orang-orang di dalam organisasi tersebut. Motivasi yang dimiliki merupakan modal untuk meningkatkan dan mengembangkan organisasi secara optimal. Motivasi menempati posisi terpenting yang harus dimiliki seseorang. Sebab motivasi merupakan kemampuan usaha yang dilakukan seseorang untuk meraih tujuan organisasi, diringi dengan kemampuan individu untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya.
Menurut McClelland, manusia memiliki banyak motivasi dasar yang berperan penting dalam dunia kerja yaitu motivasi berprestasi (n–Ach), motivasi berkuasa (n–Pow), dan motivasi berafiliasi (n–Aff). Dari ketiga motivasi dasar tersebut, motivasi berprestasi memiliki peranan yang sangat besar dalam dunia kerja karena usaha yang terus-menerus untuk meraih prestasi, secara empiris terbukti memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap lahirnya bentuk-bentuk perilaku wiraswasta serta pertumbuhan organisasi dalam jangka panjang.
Apabila kita menelaah lebih jauh kedalam tentang motivasi dalam suatu organisasi, maka keberadaan perannya ada 2 macam, yaitu peran positif dan peran negatif. Motivasi positif, adalah motivasi yang menimbulkan harapan dan mempunyai sifat menguntungkan/menggembirakan bagi individu/karyawan, misalnya : gaji, fasilitas, karier, jaminan hari tua, jaminan kesehatan dan lain-lain. Sedangkan motivasi negatif, adalah motivasi yang menimbulkan rasa takut dalam berbagai bentuk, misalnya: ancaman, tekanan, kelelahan kerja, kejenuhan dan lain-lain.
Dalam konteks pekerjaan, motivasi merupakan salah satu faktor penting dalam mendorong seorang karyawan untuk bekerja. Motivasi adalah kesediaan individu untuk memberikan kontribusi setinggi mungkin untuk mencapai tujuan organisasi. Ada tiga elemen kunci dalam motivasi yaitu usaha setiap individu, tujuan organisasi dan kebutuhan. Usaha merupakan ukuran intensitas. Bila seseorang termotivasi maka ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuan, namun belum tentu usaha yang tinggi akan menghasilkan kinerja yang tinggi pula. Oleh karena itu, diperlukan intensitas dan kualitas dari usaha tersebut serta difokuskan kepada tujuan organisasi. Kebutuhan adalah kondisi internal yang menimbulkan dorongan, dimana kebutuhan yang tidak terpuaskan akan menimbulkan tegangan yang merangsang dorongan dari dalam diri individu. Dorongan ini menimbulkan perilaku pencarian untuk menemukan tujuan-tujuan tertentu yang bukan merupakan tujuan organisasi. Apabila ternyata terjadi pemenuhan kebutuhan, maka akan terjadi pengurangan tegangan.
Pada dasarnya, karyawan yang termotivasi berada dalam kondisi tegang dan berupaya mengurangi ketegangan dengan mengeluarkan suatu usaha (upaya). Proses motivasi yang menunjukkan adanya kebutuhan yang tidak terpuaskan akan meningkatkan tegangan dan memberikan dorongan pada seseorang untuk melakukan sesuatu, yang digambarkan sebagai berikut : ketika kebutuhan seseorang tidak terpuaskan, maka seseorang akan melakukan pencarian untuk mengurangi tegangan tersebut, sampai bisa terpuaskan. Pada umumnya kinerja yang tinggi dihubungkan dengan motivasi yang tinggi.
Sebaliknya, motivasi yang rendah dihubungkan dengan kinerja yang rendah. Kinerja seseorang kadang-kadang tidak berhubungan dengan kompetensi yang dimiliki, karena terdapat faktor internal dan faktor lingkungan kerja yang mempengaruhi kinerja. Kinerja yang tinggi adalah fungsi atau interaksi antara motivasi, kompetensi dan peluang sumber daya pendukung, sehingga kinerja dapat dirumuskan sebagai berikut: Kinerja = f (Motivasi x Kompetensi x Kesempatan). BERSAMBUNG.
Bekasi, 30 Desember 2009.
Click Here ! or ...








0 komentar:
Post a Comment