Here is the ultimate resource for detailed purwalodra guides, and tips. Find about purwalodra that will match your need | Education | Life | Writing | Politics

Click

31 December 2009

Cultivate Future

Refleksi Akhir Tahun 2009 : “Membudidayakan Masa Depan”
Oleh. Purwalodra

Mungkin kelihatan agak janggal mengartikan kalimat sebagaimana judul diatas, namun makna yang tersirat dalam kalimat tersebut tidaklah sesulit kita memahami padanan kata-katanya. Padanan kata yang lazim pada kata ‘budidaya’ pada umumnya diiringi oleh kata ‘tumbuhan’, ‘hewan’ ato lainnya, tentu yang berkaitan dengan ekonomi.

Budidaya masa depan disini maknanya tidak menyimpang jauh dari apa yang sering didefinisikan oleh para ahli ekonomi maupun pertanian. Cuma konteksnya saja yang bebeda. Dibidang ekonomi, kata ‘budidaya’ dimaknai sebagai usaha untuk melipatgandakan komoditas yang bisa dijual (marketable) sehingga akan terjadi kelipatan keuntungan secara finansial. Dibidang pertanian, kata ‘budidaya’ bermakna sebagai usaha untuk meipatgandakan hasil-hasil pertanian dari suatu tanaman, sehingga akan terjadi kelipatan keuntungan secara financial juga. Nah, kalo kata ‘budidaya’ kemudian diikuti dengan kata ‘masa depan’ saya memaknainya sebagai usaha untuk melipatgandakan (baca : meningkatkan) kesadaran kita, sehingga diharapkan akan terjadi kelipatan kesempatan pada hari ini dan dikemudian hari.

Selain kita mengetahui batasan kata ‘budidaya’, lahan ato tempat untuk membudidayakan, baik di bidang ekonomi maupun pertanian, sudah kita pahami bersama. Sebagai contoh saja, budidaya secara ekonomi salah satunya bertempat di Bursa Effek, dan budidaya pertanian ada di kebun ato sawah. Kemudian kita bertanya, kalo budidaya ‘masa depan’ ada dimana donk ?. Buat sebagian besar orang yang menggunakan secara dominan otak kirinya, kemungkinan besar tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Karena mereka harus berfikir rasional, analitis dan fisikal. Buat saya yang selalu bermain-main dengan otak kanan, mudah saja kok jawabannya. ‘Gitu aja kok repot,” kata Almarhum Gus Dur semasa hidupnya, yang pada hari ini jenazahnya di semayamkan di Jombang, Jawa Timur.

Tempat membudidayakan masa depan dengan satu-satunya benih ‘kesadaran’ cuma ada di dalam jiwa/kalbu. Kesadaran kita sekarang akan menentukan kondisi/situasi bahkan nasib kita sekarang dan masa depan. Karena dengan melipatgandakan kesadaran kita maka hidup menjadi lebih bermakna, indah, damai dan menyenangkan. Menurut rumus Einstein yang terkenal, yaitu : E = m.c2. Kesadaran (consciuousness – c2) yang dikuadratkan (dilipatgandakan) dikalikan dengan berat tubuh fisik kita maka akan menghasilkan ENERGI yang luar biasa. Kalo saja kecepatan cahaya (Newton - c2) adalah 300.000 km per detik, maka kecepatan kesadaran kita (manusia) bisa sepuluh kali lipat dari kecepatan cahaya menurut Newton, perdetik. Luar bisa … !!!. Dan kalo rumus Einsten tersebut dikemas menjadi Bom Atom, bisa mengancurkan 2 kota di jepang, Nagasaki dan Heroshima, maka bayangkan berapa kekuatan Energi yang di dalamnya terdapat kecepatan kesadaran manusia ?. Maka kemudian, akan terbukti benar bahwa bumi kelak akan hancur oleh kekuatan manusia itu sendiri. For example : The Day After Tommorow and 1912 flim. So, consciousness is cultivated in the soul, would actually have great power, which can not be defeated by anyone and anything.

Bagaimana kita bisa membudidayakan masa depan melalui kesadaran yang kita lipatgandakan tersebut ?. Mungkin saja setiap orang memiliki banyak cara untuk bisa membudidayakan masa depannya melalui kesadaran ini, salah satunya adalah menghargai dan mensyukuri masa sekarang. Syukuri dan hargai apa yang ada dan apa yang kita miliki. Jangan berharap burung yang sedang terbang, sementara punai (anak burung) ditangan kita lepaskan.

Pergantian tahun masehi malam ini, mungkin bisa kita gunakan untuk mengevaluasi apakah kesadaran tahun 2009 kemaren benar-benar maksimal kita lakukan ? Mungkin hanya anda dan Tuhan andalah yang tahu.

Bekasi, 31 Desember 2009.


Baca selengkapnya……

29 December 2009

Brain

Apakah Otak Kita Sudah Berfungsi Dengan Baik ?
Oleh M. Eko Purwanto

Judul tulisan ini mungkin membuat kita penasaran, apakah selama ini kita tidak memfungsikan otak kita dengan benar ?. Atau mungkin saja selama ini kita tidak menggunakan otak dalam berfikir atau berperilaku ?. Heh, yang bener aja !. Sebagian besar orang sudah tahu bahwa posisi otak kita berada di kepala, namun ada juga lho ! yang mengatakan bahwa otak kita itu ternyata ada di dengkul, bahkan ada yang mengatakan ada di perut. Kok bisa !!!

Boleh jadi asumsi bahwa otak itu ada diperut, terjadi ketika seseorang stress, biasanya perutnya mulessss ... Dan ada juga yang dengkulnya lemesss ketika ditimpa persoalan berat. Tetapi, okelah kalo begitu ! kita sepakat bahwa otak ada di batok kepala kepala kita, mungkin perlu juga kita mengetahui bagaimana otak kita berfungsi dengan baik, terlepas dimana posisi/letak otak kita sekarang.

Saya melihat bahwa yang namanya “OTAK” atau organ tubuh manusia yang sudah kita sepakati berada dalam tengkorak kepala ini, selain mengalami perkembangan pada masa kanak-kanak, juga akhirnya akan mengalami penurunan daya ingat pada masa/usia tua. Berbagai macam pertanyaan yang berkecamuk di dalam perut, eh !, di kepala kita, antara lain :

1) Bagaimana sesungguhnya cara kerjanya si “OTAK” sejak dari awal perkembangan pada diri seorang bayi hingga masa penurunan kemampuan kerjanya dalam diri manusia ketika memasuki masa usia tua?
2) Apakah semua proses kerja “OTAK” berlaku pada semua manusia?
3) Dalam keadaan yang bagaimanakah yang dapat menimbulkan dan mempercepat penurunan daya ingat dari organ “OTAK” ?
4) Apakah hal ini terjadi pada semua manusia pada usia yang sama ?

Coba marilah kita bersama-sama memahami dan menyelami bagian kecil dari ciptaan Allah Swt. yang cukup berperan penting dalam kehidupan seorang manusia ini.

Organ tubuh yang bernama “OTAK”, adalah sesuatu yang tidak dapat ditandingi oleh komputer manapun di dunia dengan tingkat kemampuan memori dan kecepatan yang canggih sekalipun. Ya, memang ada komputer atau sejenis alat hitung yang bekerjanya lebih cepat dari beberapa otak manusia pada zaman tertentu. Akan tetapi si “OTAK” inilah yang menuangkan ide-idenya kedalam bentuk alat-alat elektronika yang oleh manusia diberi nama Komputer sampai dengan alat tersebut dapat melakukan kerja berhitung atau yang lain melampaui beberapa otak manusia pada zaman tertentu dan tempat tertentu.

Jadi, bentuk si “OTAK” memiliki ukuran kecil saja, namun ia adalah bagian yang dapat membentuk watak/tabiat dan perilaku serta menjadi salah satu faktor dari seorang manusia. Perlu diingat juga bahwa setiap manusia dikaruniakan organ otak yang berkembang secara unik, sekalipun pada otak bayi yang lahir kembar identik. Kesamaan genetika mereka termodifikasi dengan variasi dalam otak dan sistim saraf masing-masing. Sejak dari embrio janin sampai dengan bayi yang baru lahir, pada masa itu terjadi proses multiplikasi, migrasi dan kolonisasi sel-sel dalam membentuk susunan otak dan sistem saraf pusat. Yang menarik dalam proses tersebut adalah adanya suatu molekul yang membimbing sel agar membentuk organ yang tepat.

Dalam proses pembentukan organ otak, terjadi pergerakan/perpindahan sel-sel didalamnya. Sementara sistem sentral saraf melakukan perjalanan panjang, secara berkelompok dalam tujuannya, untuk memastikan tidak ada otak yang sama antara satu otak dengan otak yang lainnya. Dan unsur pembentuk sistem saraf dalam organ otak adalah NEURON (Sel Saraf) yang dihasilkan oleh otak itu sendiri. Sebagai contoh, dalam minggu ketiga masa kehamilan, organ otak dapat menghasilkan 250.000 Neuron setiap menit. Sebab dengan adanya Neuron inilah yang memungkinkan manusia melakukan aktifitasnya seperti berfikir, berbicara, s.d. melakukan tindakan berolah raga, misalnya.

Cara kerja Neuron sendiri sudah terorganisir sedemikian rupa dengan fungsi yang berbeda-beda. Ada 3 bagian khusus dari Neuron yang mengatur cara kerjanya:
a) Tindakan yang berhubungan dengan dunia luar (seperti: melihat pemandangan, mendengarkan musik, merasakan panasnya sinar matahari, menyentuh buku atau mengecap makanan);
b) Hal-hal yang berkaitan dengan otot, gerakan, dsb;
c) Yang berkaitan dengan kemampuan seperti: berfikir, mengingat, membayangkan dan kemampuan lainnya. Prof. Susan Greenfild, pakar Neuron dari Oxford mengatakan bahwa satu Neuron dapat mengirimkan transmisi kimia 500 kali dalam satu detik. Sementara tiap transmisi itu memiliki fungsi yang berbeda.

Yang penting adalah perlu adanya informasi Auto-dialing yang teratur/tetap guna membentuk sistem saraf di atas. Sebab jika terjadi gangguan seperti: ketagihan obat bius, terinveksi virus dan malnutrisi, dapat merusak proses pembentukan. Pada saat manusia dilahirkan (bayi), ia memiliki sekitar satu milyar sel otak, dan akan berkembang secara luar biasa menjadi triliyunan jaringan baru. Sedang pada usia 2 tahun, otak kanak-kanak memiliki sinapsis atau simpul saraf dua kali lebih banyak dibandingkan dengan yang dimiliki otak manusia dewasa. Begitu juga dengan energi yang dimilikinya adalah dua kali lebih besar.

Dari mulai di dalam rahim, pengalaman-pengalaman yang dialami oleh janin akan mempengaruhi pembentukan jaringan yang dibuat. Proses pertumbuhan yang baik ini mengalami perhentian pada saat manusia berumur 10 tahun. Dan beberapa tahun kemudian, organ otak mulai mengalami penyesuaian karena adanya sinapsis atau simpul saraf yang rusak. Dari proses penyesuaian ini menyebabkan tingkat kekenyalan otak yang menurun, namun tingkat kekuatannya mengalami peningkatan. Itulah sebabnya pada usia kurang lebih 18 tahun keatas - umumnya - kepribadian seseorang mulai terbentuk (dari hasil kerja dan pengaruh kompleks antara Gen dan pengalaman pribadi).

Sejalan dengan bertambahnya usia seseorang, maka organ otak akan mengalami penyusutan dan hal ini akan menjadi semakin tampak pada manusia di usia manula. Sebagai contoh, pada usia manusia mencapai 70 tahun, volume otak akan mengalami penurunan 10 % untuk setiap 10 tahun. Jadi jika manusia memasuki usia 80 tahun, maka volume otaknya sudah mengalami penurunan 20 %.

Proses penyusutan volume otak bukanlah sesuatu hal yang perlu dikhawatirkan, sebab proses ini bukan berarti manusia akan mengalami penurunan tingkat kemampuan atau menjadi bodoh. Yang menentukan optimal atau tidaknya fungsi otak ialah hubungan antar jaringan otak atau interkoneksi antar Neuron itu sendiri yang penting.

Dengan keberadaan otak kita sekarang, kita pantas bersyukur atas segala proses terbentuknya organ otak dalam diri manusia. Otak yang dikaruniakan oleh sang Pencipta memiliki kekuatan melampaui komputer tercanggih manapun. Oleh karena itu, otak harus digunakan sebaik mungkin agar bermanfaat untuk orang banyak. Gimana caranya ? Berfikirlah positip !.

Bekasi, 29 Desember 2009.


Click Here ! or ...

Baca selengkapnya……

Creativity

Membangun Kreativitas
Oleh. M. Eko Purwanto

Menurut para ahli, seseorang yang kreatif selalu melihat segala sesuatu dengan cara berbeda dan baru, dan biasanya tidak dilihat oleh orang lain. Orang yang kreatif, pada umumnya mengetahui permasalahan dengan sangat baik dan disiplin, biasanya dapat melakukan sesuatu yang menyimpang dari cara-cara tradisional. Proses kreativitas melibatkan adanya ide-ide baru, berguna, dan tidak terduga tetapi dapat diimplementasikan.

Orang-orang kreatif adalah orang-orang yang berpihak kepada perubahan, Karena pengertian kreativitas itu sendiri adalah :
  1. Kemamampuan seseorang untuk melihat dengan sudut pandang/perspektif baru.
  2. Kemampuan seseorang untuk menemukan hubungan baru.
  3. Kemampuan seseorang untuk membentuk kombinasi dari suatu/beberapa obyek, konsep, atau fenomena.
Orang-orang kreatif selalu berhadapan dengan orang-orang yang tidak senang terhadap perubahan, oleh karena itu orang-orang yang kreatif biasanya distempel sebagai orang-orang agresif, obsesif dan lain-lain, yang mungkin sewaktu-waktu bisa menimbulkan anarkis, secara fikiran, mental maupun fisik. Perusahaan-perusahaan yang memiliki orang-orang kreatif tidak akan menguntungkan secara finansial dalam jangka pendek. Hanya perusahaan visoner-lah yang mampu menampung orang-orang kreatif ini bisa bekerja di dalamnya.

Indikator suatu perusahaan yang memelihara orang-orang kreatif, antara lain : Karyawan bekerja dengan nyaman dan menyenangkan tanpa tekanan, tidak ada karyawan yang bekerja secara ABS (asal bapak senang), hubungan kerja yang harmonis tanpa office politic yang mengarah kepada friksi antar kelompok kerja, dan lain-lain. Jika perusahaan menginginkan adanya peningkatan kualitas kinerja, baik secara individu maupun secara organisasi, maka mau tidak mau atau suka tidak suka, harus melalui tahap ini, yaitu : membangun kreativitas mereka.

Menurut para pakar HRD, Secara umum tahapan kreativitas dapat dibagi dalam empat tahap: Exploring, Inventing, Choosing dan Implementing.

Exploring. Pada tahap ini pekerja atau karyawan, mulai mampu mengidentifikasi hal-hal apa saja yang ingin dilakukan dalam kondisi yang ada saat ini. Sekali mereka mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut maka proses kreativitas sudah dimulai. Hal penting yang harus diperhatikan pada saat ini adalah menciptakan iklim yang menunjang proses berpikir kreatif. Kalau tidak, maka orang-orang seperti ini biasa menjadi kritikus kelas kakap.

Inventing. Pada tahap ini, karyawan yang sudah menemukan identitas dirinya, akan melihat atau mereview dan mencari berbagai alat, teknik dan metode atau bahasa sederhananya ‘cara’ yang telah dimiliki, yang mungkin dapat membantu dalam menghilangkan cara berpikir dan bertidak, yang traditional. Pada tahap ini karyawan sudah mulai menjadi penganut aliran perubahan. the life is change, change in progress.

Choosing. Pada tahap ini, karyawan selain sudah mengidentifikasi dirinya dan memilih ide-ide yang paling mungkin untuk dilaksanakan, mereka juga mampu mengubah lingkungannya. Bahayanya, kalau lingkungan kerjanya tidak mendukung aliran yang dianutnya, ia bakal memiliki profesi provokator ulung.

Implementing. Tahap akhir karyawan atau pekerja dapat disebut kreatif adalah bagaimana membuat ide-idenya ini segera dapat diimplementasikan. Jika ide-ide ini tidak tersalurkan dengan baik, maka mereka akan menjadi kutu loncat (kenalnya waktu dikampung), alias pindah kerja dari perusahaan yang satu ke perusahaan yang lain.

Pakar-pakar HRD itu juga menegaskan, keempat tahapan ini pasti dilalui oleh seorang kreator, atau orang-orang yang disebut kreatif (Orang-orang kreatif yang baca tulisan ini pasti manggut-manggut), Iye, iye, bener juga tuh ?

Saya lanjutkan lagi, ya ?. Menurut Charles Prather, dalam bukunya Blueprint for Innovation, gaya atau model kreativitas seseorang bersifat menetap. Prather membagi dua gaya kreativitas:

Adaptive Problem Solving. Orang-orang yang memiliki gaya ini dalam bekerja, cenderung menggunakan kreativitas untuk menyempurnakan system dimana mereka bekerja. Hal-hal yang terlihat pada orang yang memiliki gaya ini adalah bahwa mereka akan berusaha sekuat pikiran dan tindakannya untuk membuat system menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih murah dan efisien. Apa yang mereka lakukan akan dapat dilihat hasilnya secara cepat.

Innovative Problem Solving. Orang-orang yang memiliki gaya ini dalam bekerja cenderung untuk menantang dan mengubah sistem yang sudah ada. Mereka dapat disebut sebagai "agent of change" karena lebih memfokuskan pada penemuan sistem baru daripada menyempurnakan yang sudah ada. Dalam suatu perusahaan mereka dapat dilihat pada bagian-bagian yang melakukan riset, penciptaan produk baru, mengantisipasi kebutuhan pelanggan tanpa diminta, dan orang-orang yang menjaga kelangsungan hidup perusahaan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, niat untuk membangun kreativitas di tempat kerja lahir dari seorang pemimpin yang visoner, bukan pemimpin yang hanya memiliki kepentingan sesaat.

Bekasi, 29 Desember 2009.

Click Here ! or ...

Baca selengkapnya……

28 December 2009

Inequalities Education

Mengukur Kualitas Pelayanan, Bagian 2
Oleh. M. Eko Purwanto

Pada bagian pertama tulisan saya dengan judul yang sama, saya mengatakan bahwa untuk mengenali siapa Stakeholders kita, terlebih dahulu kita mengumpulkan informasi tentang Stakeholders kita, mulai dari latar belakang dari daerah mana ia berasal, posisi/jabatan, dan apa yang mereka butuhkan dari kita. Selanjutnya, ketika informasi itu sudah kita miliki, maka kita harus mengidentifikasi harapan dan faktor-faktor yang penting bagi Stakeholders terhadap pelayanan kita. Setelah itu, kita juga perlu mengetahui seberapa besar dukungan dan daya tawar Stakeholder terhadap keberlangsungan hidup organisasi kita.

Bagian kedua tulisan ini, saya akan mempertanyakan bagaimana kita mengukur kualitas pelayanan, kepada Stakeholders. Pertanyaan ini akan memperoleh jawaban ketika kita memahami konsep kepuasan Stakeholders. Yang penting, dalam melakukan proses pelayanan adalah memenuhi harapan-harapan Stakeholder, itu saja. Kalau saja Stakeholder merasa puas maka kegiatan usaha kita, apapun bentuknya, akan mampu meningkatkan daya jual produk.

Stakeholders, termasuk konsumen, supplier, karyawan dan lain-lain, harus menjadi perhatian kita untuk dipuaskan, kalau tidak maka ukuran kualitas pelayanan kita bernilai rendah. Sementara itu, kepuasan Stakeholders bisa terjadi apabila PEMENUHAN HARAPAN Stakeholders sama dengan dan/atau lebih besar dari HARAPAN Stakeholders. Jika terjadi sebaliknya, dimana PEMENUHAN HARAPAN lebih kecil dari HARAPAN Stakeholders maka ketidakpuasan pun muncul, dan organisasi kita mengalami krisis kepercayaan.

Lalu, mengapa Stakeholders memiliki harapan terhadap kita dan organisasi ?. Stakeholders memiliki harapan karena janji yang diberikan oleh organisasi, unit kerja kita atau kita sendiri; Karena informasi dari pihak lain mengenai organisasi, unit kerja kita dan kita sendiri; dan, Karena pengalaman/kebiasaan sebelumnya. Ketika Stakeholders memiliki harapan terhadap kita dan organisasi kita, maka wajib hukumnya kita dan organisasi untuk memenuhinya, kalau tidak, maka bersiaplah untuk mengalami krisis ketidakpercayaan.

Dalam rangka memenuhi harapan Stakeholders ini kita bisa melakukannya melalui beberapa cara, antara lain : meningkatkan kualitas pelayanan kita, bukti fisik yang kita tunjukkan kepada Stakeholders, dan mempertimbangkan biaya yang harus dibebankan kepada Stakeholders. Tentunya, dalam memenuhi harapan Stakeholders ini selain kita harus mengenal Stakeholders, kita juga harus mengetahui apa yang menjadi harapan-harapannya terhadap kita dan organisasi kita.

Pada umumnya, harapan Stakeholders kepada kita dan organisasi, antara lain :
1. Adanya penampilan fasilitas / bentuk fisik yang menarik dan memiliki citra positif di masyarakat (tangible).
2. Adanya kemampuan menyampaikan jasa dengan tepat (reliability).
3. Adanya keinginan untuk membantu atau memenuhi kebutuhan konsumen (responsiveness).
4. Adanya jaminan (assurance) atas : Pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki (compentence); Etika, sopan santun dan ramah (courtesy); Dapat dipercaya (credibility); Bebas dari bahaya atau keraguan (security).
5. Adanya perhatian yang dalam (empathy), yaitu : kita dan organisasi kita mudah dihubungi (access); kita dan organisasi kita mau mendengarkan keluhan Stakeholders (communication); dan memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan (understanding the customer).

Dengan demikian, ketika kita mengenal siapa Stakeholders kita dan memahami harapan-harapannya, maka dengan mudah kita bisa mempertimbangkan apa saja yang bisa kita penuhi harapan-harapannya itu dengan baik. Banyak strategi yang bisa kita gunakan untuk memenuhi harapan-harapan Stakeholders kita. Prinsip yang perlu kita bangun sederhana saja, ”pentingkan orang lain, jika kita ingin diangap penting !.”

Bekasi, 28 Desember 2009.


Click Here ! or ...

Baca selengkapnya……

Inequality Education

Mengukur Kualitas Pelayanan, Bagian 1
Oleh. M. Eko Purwanto

Sesi lain, dalam suatu Pelatihan Karyawan, Instruktur menyampaikan pokok bahasan yang berjudul, ”Layanan Berkualitas Di Tempat Kerja.” Tujuan materi ini, adalah memahami konsep tentang Stakeholders; Siapa Stakeholders kita; Mengenali harapan dari Stakeholders kita; dan Bagaimana menyampaikan layanan pada Stakeholders. Konsekwensi untuk memahami materi ini saja sudah cukup berat buat saya, apalagi menjalankannya. Alhamdulillah, berkat niat dan motivasi untuk senantiasa bisa bermanfaat buat orang lain, maka saya bisa memahaminya dengan pengetahuan, kebiasaan dan kemampuan yang ada pada diri saya.


Pemahaman saya tentang Stakeholders selama ini selalu dikacaukan oleh pemahaman awal saya yang negatif bahwa Stakeholders adalah orang-orang/lembaga/institusi yang berkepantingan terhadap diri saya. Pemahaman inilah yang pada akhirnya menjadikan diri saya menjadi seorang yang egois, yang hanya mementingkan diri sendiri, tanpa perlu mementingkan orang lain. Ketika Instruktur menyampaikan bahasan-bahasannya secara dalam, baru saya mengerti bahwa Stakeholder itu adalah pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dan pengaruh terhadap organisasi, bukannya terhadap diri saya sendiri. Atau dengan kalimat lain, Stakeholders adalah seorang atau kelompok orang yang punya pengaruh yang nyata terhadap proses pembuatan Keputusan atau terhadap Implementasinya.

Dalam suatu lembaga/institusi/perusahaan, Stakeholders biasanya terdiri dari Stakeholder Internal dan Stakeholders Ekasternal. Stakeholder internal adalah orang-orang atau unit-unit kerja di dalam institusi tersebut, yang berpengaruh terhadap keberhasilan dan kelangsungan hidup institusi tersebut. Sementara itu Stakeholder eksternal adalah orang-orang, lembaga atau pihak-pihak lainnya di luar struktur institusi kita, dan berpengaruh terhadap keberhasilan serta juga menentukan kelangsungan hidup institusi kita. Pertanyaan selanjutnya, mengapa Stakeholders menjadi penting ?.

Instruktur menguraikan bahwa Stakeholders :
1. Dapat menentukan hidup-matinya organisasi/individu.
2. Bisa mendukung keberhasilan organisasi/individu.
3. Bisa menghambat jalannya organisasi/individu.

Ketika kita menganggap Stakeholder adalah sangat-sangat penting dalam hubungannya dengan kita dan organisasi kita, maka kita dihadapkan kepada bagaimana mengelola/memenejemeni hubungan dengan Stakeholders kita. Sebelum kita mengelola Stakeholders, tentunya kita harus mengetahui terlebih dulu apa dan siapa Stakeholders kita tersebut. Dan dalam proses pengelolaan ini, kita membutuhkan komunikasi yang efektif dan persuasif. Nah, untuk memahami komunikasi yang efktif dan persuasif ini, ada pelatihan tersendiri yang tidak terangkai dengan Pelatihan yang saya ikuti.

Untuk mengenali siapa Stakeholders kita, terlebih dahulu kita mengumpulkan informasi tentang Stakeholders kita, mulai dari latar belakang dari daerah mana ia berasal, posisi/jabatan, dan apa yang mereka butuhkan dari kita. Selanjutnya, ketika informasi itu sudah kita miliki, maka kita harus mengidentifikasi harapan dan faktor –faktor yang penting bagi Stakeholders terhadap pelayanan kita. Setelah itu, kita juga perlu mengetahui seberapa besar dukungan dan daya tawar Stakeholder terhadap keberlangsungan hidup organisasi kita.

Dengan mengenali Stakeholders, maka kita mampu mengukur kualitas pelayanan yang kita berikan kepada Stakeholfers. Dengan kemampuan kita mengukur pelayanan inilah, maka kelangsungan kidup kita dan organisasi yang kita kelola Insya Allah akan baik, dan memiliki kualitas yang diharapkan oleh pengguna.

Bekasi, 28 Desember 2009.


Click Here ! or ...

Baca selengkapnya……

Education The

Sugnature Game
Oleh. M. Eko Purwanto

Sebelum Pelatihan Karyawan dimulai, instruktur membukanya dengan melakukan permainan tandatangan (Signature Game). Permainan ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana kita saling mengenal dan memahami perilaku bahkan karakter teman-teman sekerja kita, yang selama ini bersama-sama bekerja di sebuah institusi/lembaga/perusahaan. Pertanyaannya adalah, apakah kita saling mengenal satu sama lain, dari teman-teman kerja kita tersebut ?

Dalam ’Signature Game’ ini, kita menerima satu lembar ketas dari instruktur, yang berisi petunjuk permainan dan tabel yang bertuliskan pernyataan tentang perilaku/ kebiasaan/ karakter seseorang (mulai dari positif sampai yang bersifat negatif. Dalam waktu 2 (dua) menit, kita berusaha untuk mendapatkan tandatangan sebanyak-banyaknya dari seluruh peserta pelatihan. Namun ketika kita akan meminta tandatangan kepada teman-teman kita, terlebih dahulu kita harus mencocokan perilaku/kebiasaan/karakter orang yang kita mintai tandatangannya tersebut, kalau tidak, maka pernyataan yang ada dalam tabel tersebut tidak sesuai dengan nama dan tandatangannya. Boleh jadi teman kita tersebut tidak mau menandatangani pernyataan yang bertuliskan, ”Kaos kakinya bolong”, ”Suka tidur di jam kerja” dan lainnya yang bersifat negatif. Wal hasil, teman-teman yang kita mintai tandatangan perlu hati-hati membaca pernyataan yang sesuai dengan perilaku/kebiasaan/ kareakter dirinya, baru dia mau tandatangan.

Jumlah pernyataan yang terdapat dalam tabel tersebut hanya 20 pernyataan, namun waktu yang diberikan hanya 2 menit. Bagi teman-teman yang biasa menggunakan otak kirinya, yang berfikir urut, sistematis, rasional dan logis, akan mengalami kesulitan untuk mencocokan/ menyesuaikan pernyataan yang ada dalam tabel dengan perilaku/kebiasaan/karakter teman-temannya yang dimintainya tandatangan tersebut. Dia harus memilah, memilih dan baru mencari tandatangan. Wal hasil, waktu yang hanya dua menit cuma menghasilkan maksimal 10 tandatangan.

Dalam permainan ini, saya biasa bermain-main dengan otak kanan saya, meskipun otak kiri rutin saya gunakan. Untuk hal-hal yang bersifat permainan (bahkan kehidupan ini juga suatu permainan akbar), saya selalu menggunakan otak kanan untuk berfikir, dan menggunakan otak kiri untuk bertindak. Dengan metode tersebut, harapan saya seluruh kolom pernyataan akan terisi tandatangan.

Caranya ?. Mudah saja, lipat kolom bagian pernyataan yang berisi hal-hal positif dan negatif dari perilaku/kebiasaan/karakter teman-teman kita, yang akan dimintai tandatangan, kemudian sodorkan ke mereka hanya kolom nama dan tandatangan saja. Wal hasil, seluruh kolom tandatangan semuanya terisi tandatangan dari teman-teman saya, tanpa boleh melihat dulu kolom pernyataan yang harus ia tandatangani. Kemudian, dan pada akhir session permainan ini, sayapun berhak atas sebungkus coklat dari instruktur.

Bekasi, 28 Desember 2009.


Click Here! or ...

Baca selengkapnya……

Viviti