Here is the ultimate resource for detailed purwalodra guides, and tips. Find about purwalodra that will match your need | Education | Life | Writing | Politics

Click

28 October 2009

DINAMIKA LEMBAGA PENDIDIKAN SWASTA DI INDONESIA – Bagian 3

Oleh. Purwalodra / Dr. M. Eko Purwanto, SE, MM
(Wiradarma Education Consultant)

Strategi Mengatasi Fluktuasi Permintaan Jasa Pendidikan

Seperti tahun-tahun sebelumnya, dibulan Nopember dan Desember, lembaga-lembaga pendidikan sudah melakukan ’marketing war’ (perang pemasaran), provokatornya justru datang dari lembaga-lembaga pendidikan swasta yang berbayar mahal. Mungkin saja mereka memiliki dana besar untuk melakukan itu, atau mungkin karena lembaga-lembaga pendidikan berbayar mahal tersebut sudah semakin banyak, sehingga terjadi kelebihan penawaran. Namun, bagi lembaga pendidikan yang memiliki dana publikasi pas-pasan jangan berkecil hati, karena banyak sedikitnya peserta didik yang diperoleh bukan dari publikasi besar-besaran, dengan biaya yang juga besar. Tetapi justru dari komitment yang tinggi dari sivitas akademikanya (asset manusianya secara internal).

Saya merasa prihatin melihat banyaknya penyedia jasa pendidikan, ketika permintaan peserta didik menurun dan mengalami kondisi decline berkelanjutan, justru mereka melakukan promosi besar-besaran. Mereka semestinya melakukan instrospeksi ke dalam, secara internal. Mereka semestinya bertanya kepada dirinya sendiri, seberapa banyak dan berkualitaskah, yang bisa mereka berikan kepada asset manusia-nya secara internal ?; Seberapa tinggi komitment asset manusia-nya sebagai penyedia jasa pendidikan ?; Seberapa besar tanggung-jawab penyedia jasa pendidikan terhadap jaminan kualitas yang diberikan kepada dirinya sendiri dan konsumennya ?.

Fluktuasi permintaan yang sering mengakibatkan kelebihan penawaran jasa pendidikan, tidak akan terjadi apabila penyedia jasa pendidikan memahami kondisi internalnya dengan baik. Mereka bisa mengatasinya dengan melakukan beberapa kegiatan, antara lain : Meningkatkan profesionalitas SDM secara internal melalui pelatihan dan pendidikan yang lebih tinggi; Meningkatkan publikasi informasi tentang citra positip lembaga pendidikannya dari mulut ke mulut; Meningkatkan pelayanan dan merumuskan produk jasa baru kepada konsumen yang sudah bergabung dilembaganya; Menaikkan harga ketika permintaan naik, menurunkan harga ketika permintaan menurun; dan lain-lain yang lebih memfokuskan diri kepada hal-hal yang bersifat internal.

Faktor Yang Mempengaruhi Persaingan Penyedia Jasa Pendidikan

Dalam teori ekonomi dinyatakan bahwa persaingan terjadi apabila produsen produk sejenis, lebih banyak dari kebutuhan yang bisa dikonsumsi oleh konsumennya. Oleh karena itu, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan jasa pendidikan, antara lain : Perubahan regulasi pemerintah. Beberapa contoh di antaranya adalah : standar-standar pendidikan yang ditetapkan sebagai wujud kualitas yang dimiliki oleh penyedia jasa pendidikan tersebut; Tumbuhnya berbagai asosiasi profesional seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), dan lain-lain; Perkembangan teknologi komputer; Tumbuhnya waralaba di bidang pendidikan; Tumbuhnya lembaga pembiayaan pendidikan dan lembaga penyewaan sarana & prasarana pendidikan; dan Globalisasi.

Selanjutnya, berkembangnya penyedia jasa pendidikan menjadi industri pendidikan dipicu oleh Perkembangan wawasan masyarakat terhadap globalisasi dan perkembangan teknologi; Pergantian status universitas negeri menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN); Tumbuhnya waralaba pendidikan asing; Tumbuhnya berbagai sekolah yang mengidentitaskan dirinhya sebagai unggulan; Kerjasama pendidikan asing dengan pendidikan dalam negeri; Tumbuhnya berbagai kursus dan program luar sekolah; dan Tumbuhnya penyedia jasa pendaftaran pendidikan ke luar negeri.

Dengan berkembangnya penyedia jasa pendidikan menjadi industri pendidikan, maka dapat dipastikan bahwa tujuan pendidikan pun akan berubah, dari mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi mencermati pangsa pasar yang terus berubah. Dengan demikian, prinsip pengelolaannyapun akan persis sama dengan perusahaan-perusahaan industri lainnya, yakni : product (produk), price (harga), promotion (promosi) dan place (tempat). Desain organisasinya pun berubah dari sivitas akademika menjadi ’7s frame work’ yang satu sama lain saling berhubungan, yaitu : strategy (strategi), system (system), structure (struktur), styles (gaya), staff (staf), skills (keterampilan) dan shared values (nilai-nilai).

Kondisi inilah yang kemudian menjebak penyedia jasa pendidikan swasta untuk melakukan kegiatan-kegiatan pragmatis yang bersifat jangka pendek. Sebagai contoh, melakukan promosi besar-besaran tanpa melakukan perbaikan dan penguatan secara internal. Efektif dan efisien menjad ‘keyword’ untuk beraktifitas. Tujuan lembaga hanya berorientasi ‘surplus’ dan mengurangi ‘defisit’. Dan pada akhirnya kalimat, “orang miskin dilarang sekolah,” menjadi kenyataan.

Kesimpulannya adalah, bahwa kita perlu mengembalikan visi pendidikan kita kepada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Perkembangan apapun diluar di dunia pendidikan, semestinya tidak merubah orientasi pendidikan kita, sebagai ‘pagar’ sekaligus ‘tanah yang subur’ bagi berkembangnya budaya bangsa. Pengelolaan jasa pendidikan tidak bisa disamakan dengan pengelolaan perusahaan-perusahaan jasa lainnya, karena pendidikan bukan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, tetapi pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Lihat kembali sejarah bangsa ini, ketika pendidikan menjadi suatu gerakan yang sungguh-sungguh di masyarakat, maka Allah Swt menghadiahi kita kemerdekaan. Namun, ketika wajib belajar 9 tahun menjadi gerakan kepura-puraan dari pemerintah, maka satu rezim runtuh. Siapapun yang berani mendzalimi pendidikan, lihat apa yang terjadi !!!.

Bekasi, 24 Oktober 2009.


Baca selengkapnya……

DINAMIKA LEMBAGA PENDIDIKAN SWASTA DI INDONESIA – Bagian 2

Oleh. Purwalodra / Dr. M. Eko Purwanto, SE, MM
(Wiradarma Education Consultant)

Kharakteristik Produk Jasa Pendidikan

Dalam pengelolaan jasa pelayanan pendidikan, kita mengenal beberapa kharakteristik yang melekat dalam produk jasa pendidikan tersebut, antara lain : Perishability (tidak bisa disimpan), Intangibility (tidak berwujud), Inseparability (tidak terpisahkan), dan Variability (tidak ada standar).

Berbeda dengan produk fisik, suatu jasa pelayanan pendidikan tidak bisa disimpan. Ia diproduksi dan dikonsumsi secara bersamaan. Dampaknya terjadi pada sistem pemasaran terutama pada sisi permintaan. Jika permintaan stabil akan memudahkan penyedia jasa pendidikan untuk melakukan persiapan, baik dari sarana-prasarana maupun peralatan teknologi pendidikan lainnya. Tetapi jika permintaan fluktuatif, lebih sulit bagi penyedia jasa pendidikan untuk melakukan strategi pemasaran.

Jasa pendidikan tidak bisa dilihat dan dirasakan oleh konsumen sebelum konsumen membeli atau mendapatkan penyedia jasa pendidikan secara langsung. Konsumen juga tidak bisa memprediksikan apa hasil yang akan diperoleh dengan mengkonsumsi jasa pendidikan tersebut, kecuali setelah membelinya. Seorang pasien tidak akan tahu apakah nasihat dokter itu berhasil atau tidak, kecuali setelah ia melakukan konsultasi dan mengikuti apa yang dinasehatkan. Kemudian, kita juga mengenal beberapa karakter dari intangibility ini, antara lain : Suatu jasa pendidikan baru bisa dirasakan ketika jasa tersebut disampaikan kepada konsumen; Suatu jasa kadang sulit untuk dijelaskan kepada konsumen; Penilaian akan kualitas sulit ditentukan oleh konsumen; dan Harga pun sulit untuk ditentukan.

Karena tidak berwujud, konsumen biasanya melihat tanda-tanda dari sesuatu yang bisa dilihat atau dirasakan untuk bisa menilai kualitas suatu jasa pendidikan. Mereka akan melihat kualitas dari para Gurunya, Tata usaha & karyawannya (modal manusianya), Sarana-prasaranya, Peralatan Pendidikannya, Simbol-simbol yang digunakannya, dan juga harga yang bisa mereka bayar.

Produk jasa pendidikan hanya bisa dikonsumsi oleh konsumen, pada saat proses produksi berlangsung. Sementara produk barang dan jasa lain, selain pendidikan, yang terlihat secara fisik biasanya diproduksi di pabrik atau di tempat-tempat tertentu, kemudian didistribusikan oleh distributor ke toko dan baru bisa dikonsumsi oleh konsumen. Pada bidang jasa pendidikan, faktor penyedia jasa pendidikan (orang) langsung berperan dalam proses produksi jasa tersebut.

Karena konsumen juga menjadi salah satu faktor yang sangat penting dalam proses penyediaan jasa pendidikan, maka interaksi yang baik antara penyedia jasa pendidikan (yayasan atau sekolah) dan konsumen (peserta didik dan orang tua murid), menjadi sangat strategis. Karena itu, terkadang kualitas sebuah jasa pendidikan tidak hanya ditentukan oleh faktor kualitas dari penyedia jasa pendidikan itu sendiri, tetapi juga oleh kesungguhan dan komitmen dari konsumen (orang tua murid).

Oleh karena itu, pengelolaan jasa pendidikan, berkaitan dengan Karakteristik Inserability (ketidakterpisahan) ini, konsumen (peserta didik dan orang tua murid) harus berpartisipasi dalam proses produksi jasa pendidikan tersebut; Jasa pendidikan yang diberikan kepada para peserta didiknya terikat (menyatu) dengan penyedia jasa pendidikan itu sendiri; dan jumlah (kuantitatif maupun kualitatif) jasa pendidikan yang diberikan tergantung dari kemampuan/kualitass penyedia jasa. Dengan demikian, kesuksesan proses belajar-mengajar tidak hanya ditentukan oleh kualitas tenaga pengajar dan fasilitas yang baik, tetapi juga oleh kesungguhan dan komitmen dari murid untuk belajar, dan orang tua murid atau pemerintah untuk membiayainya.

Pengelolaan jasa pendidikan, biasanya sulit dibuat standar kualitasnya, karena masing-masing mempunyai standar proses sendiri-sendiri tergantung kualitas dari proses internal penyedia jasa pendidikan itu sendiri. Walaupun demikian, sedapat mungkin sebuah lembaga pendidikan seyogyanya membuat standar layanan agar kualitas jasanya bisa lebih dikontrol, yang kemudian bisa dijadikan sebagai komoditas pemasaran (jika ingin dipasarkan). Perkembangan standar pendidikan sekarang ini, baik standar nasional maupun standar internasional, telah melahirkan persaingan yang tidak sehat diantara penyedia jasa pendidikan. Hampir semua penyedia jasa pendidikan memfokuskan diri kepada standar-standar tersebut hanya untuk meningkatkan permintaan konsumen, bukan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikannya. Mereka berharap dengan standar-standar pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah tersebut, maka lembaga pendidikannya bisa diperjual-belikan dengan mudah dan harga mengikuti gaya hidup, bukan harga standar operasional sekolah.

Sesuai uraian diatas, bahwa pada hakekatnya produk jasa pendidikan tidak bisa dipasarkan, tetapi hanya bisa dipublikasikan. Kekuatan permintaan jasa pendidikan tidak bisa serta-merta dipicu oleh tingkat promosi dan pemasaran yang tinggi. Oleh karena itu dalam rangka ’memanajemeni’ jasa pendidikan, modal manusia (SDM) sangat penting dari pada modal finansial. Modal manusia bisa meningkatkan modal finansial, tetapi modal finansial belum tentu bisa meningkatkan modal manusia (SDM). Oleh karena itu, sesuai dengan karakteristiknya, pemasaran jasa pendidikan tidak bisa disampaikan dalam kondisi dan situasi yang sama.

Kualitas yang tidak sama dari pengelolaan jasa pendidikan ini akan menambah potensi resiko pada konsumen, dengan demikian lembaga pendidikan yang berbayar tinggi (mahal) memiliki tanggung jawab besar kepada konsumennya, dengan memberikan jaminan kualitas, baik secara fisik maupun jasa tambahan lainnya dari jasa pendidikan yang disediakan.

Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan Swasta

Seperti yang saya kemukakan diatas, bahwa hakekatnya produk jasa pendidikan tidak bisa dipasarkan tetapi hanya bisa dipublikasikan dan kekuatan permintaan jasa pendidikan tidak bisa serta-merta dipicu oleh tingkat promosi dan pemasaran yang tinggi. Disini saya akan menegaskan bahwa promosi pemasaran jasa pendidikan tidak bisa dialokasikan waktunya. Publikasi kegiatan sekolah sebagai upaya memasarkan jasa pendidikan, dimulai dari awal masuk sekolah sampai murid-murid itu selesai mengkonsumsi jasa pendidikan di sekolah tersebut.

Tugas pemasaran jasa pendidikan tidak bisa diserahkan kepada sesorang atau tim, tetapi diserahkan kepada seluruh sivitas akademika-nya (termasuk orang tua murid) dan organisasi yang memayunginya. Ketika lembaga pendidikan sudah menyerahkan tugas pemasaran kepada tim atau segelintir orang saja (sebut saja Ivent Organizer), maka justru permintaannya menurun. Nilai-nilai strategis dalam mempublikasikan komoditas jasa pendidikan, selain berkenaan dengan komitmen konsumen (peserta didik dan orang tua murid) itu sendiri, juga bagaimana komitmen penyedia jasa pendidikan itu untuk bisa mentransformasikan hal-hal yang tidak terwujud dalam jasa pendidikan, bisa ditunjukkan dalam berbagai bentuk dan wujud yang menunjukkan kualitas jasa pendidikan itu sendiri.

Informasi dalam publikasi jasa pendidikan dan upaya mentransformasikan hal-hal yang tidak berwujud menjadi bentuk yang bisa memperkuat persepsi kualitas jasa pendidikan yang ditawarkan, biasanya lembaga-lembaga pendidikan yang berbayar mahal merumuskan visualisasi yang jelas kepada komsumennya, yaitu penggambaran bagaimana suatu jasa pendidikan diberikan kepada peserta didiknya dan pelayanan kepada orang tua muridnya. Misalnya dengan penggambaran tentang kesenangan, ketenangan dan kenikmatan dalam proses belajar-mengajar, konsultasi gratis kepada orang tua murid, dan ekskul yang menunjang minat dan bakat peserta didiknya.

Informasi dalam publikasi jasa pendidikan, selain visualisasi juga asosiasi, dimana lembaga pendidikan tersebut mengaitkan jasa pendidikan yang ditawarkan dengan profil seseorang, objek, ataupun tempat, yang bisa membagun persepsi kualitas konsumennya. Pada umumnya informasi yang disampaikan kepada konsumen adalah memperlihatkan gedung, fasilitas, dan berbagai hal yang mendukung jasa yang disampaikan, namun hal ini perlu ditunjang dengan dokumentasi kegiatan jasa pendidikan yang dilaksanakan. Lembaga tersebut perlu menginformasikan berbagai penghargaan dan catatan kepuasan pelanggan, sehingga bisa menumbuhkan kepercayaan pembeli (konsumennya) – Bersambung.


Baca selengkapnya……

DINAMIKA LEMBAGA PENDIDIKAN SWASTA DI INDONESIA – Bagian 1

Oleh. Purwalodra (Dr. M. Eko Purwanto, SE, MM)
(Wiradarma Education Consultant)

Pendahuluan

Pelayanan adalah bagian utama kehidupan kita sebagai manusia. Manusia yang sukses adalah manusia yang mampu melayani siapapun dan apapun. Dalam bidang pendidikan, pelayanan yang dilakukan adalah penyediaan fasilitas untuk berkembangnya pengetahuan masyarakat. Kegiatan pelayanan bisa mencakup kegiatan ekonomi yang output produknya langsung bisa dikonsumsi oleh masyarakat, maupun dalam bentuk nilai tambah dari suatu produk tertentu.

Pelayanan yang tidak tercakup dalam kegiatan ekonomi alias komersial atau tidak semata-mata mencari keuntungan finansial dalam proses usahanya, adalah melayani mayarakat atau pelayanan jasa pendidikan. Termasuk di dalamnya melayani ide-ide, orang lain dan sebagainya. Di bidang Pendidikan, pelayanan adalah kegiatan utama dalam mengelola usahanya. Philip Kotler mendefinisikan Pelayanan Jasa adalah sebagai tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan kepada pihak lain (masyarakat) yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksi jasa bisa berkaitan dengan produksi secara fisik ataupun tidak (Kotler, Marketing Management). Bahkan salah seorang pemimpin besar dunia, Mahatma Gandhi, menganjurkan kepada masayarakatnya untuk menghilangkan buta huruf dan memperluas ilmu pengetahuan. Dia menganggap bahwa buta huruf adalah dosa dan sangat menganjurkan kepada para pengikutnya untuk melakukan kegiatan jasa pelayanan ini, melalui transformasi sosial.

Selanjutnya, kita mengenal bahwa konteks pendidikan di Indonesia, terdiri dari 3 tingkatan pendidikan, yaitu Pendidikan Dasar, pendidikan menengah, dan Pendidikan Tinggi. Dan pendidikan tinggi inilah yang semestinya memiliki tanggung-jawab besar untuk bisa mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Sementara, pendidikan di tingkat dasar dan menengah, lebih difokuskan kepada pembentukan character peserta didiknya.

Peran Swasta Dalam Bidang Pendidikan

Pengelolaan pelayanan di Bidang Pendidikan adalah melayani masyarakat bukan berjualan materi-materi atau bahan pelajaran sekolah, karena hakekat pelayanan di bidang pendidikan bukan untuk mencari keuntungan secara finansial. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah selalu mengupayakan bahwa pendidikan dapat dinikmati oleh seluruh rakyat di negaranya, tanpa kecuali.

Dengan berbagai alasan pemerintah untuk menangani masalah pendidikan ini, mulai dari keterbatasan pemerintah menyediakan sarana-prasarana pendidikan, sampai dengan kelangkaan Guru, maka masyarakat yang terpanggil untuk memajukan bangsanya memberikan kontribusi kepada pemerintah dalam penyediaan jasa pelayanan pendidikan. Sebagai contoh, pada awal pergerakan bangsa Indonesia dalam merintis adanya kemerdekaan dari tangan kolonialis dan imperalis, banyak pesantren-pesantren tumbuh sebagai manifestasi peran swasta dalam rangka ikut-serta melayani pendidikan di masyarakat.

Pondok-pondok Pesantren inilah, yang akhirnya banyak melahirkan para pemimpin bangsa Indonesia dan kemudian mampu memerdekakan bangsanya dari belenggu kolonialis. Dan sampai sekarang, ketika dunia pendidikan membuahkan berkah teknologi dan metodologi pendidikan yang terus-menerus berkembang, maka peran pesantren-pesantren tersebut diimbagi oleh masyarakat swasta lainnya yang ikut serta melayani masyarakat dalam bidang pendidikan.

Sekolah-sekolah umum di Indonesia pada awalnya didirikan oleh organisasi-organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadyah, Nahdatul Ulama (NU), Persis, Persatuan Ummat Islam (PUI), Al Irsyad, Taman Siswa dan lain-lain. Semua sekolah yang didirikan oleh organisasi-organisasi kemasyarakatan tersebut bertujuan untuk membantu peran pesantren-pesantren dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsanya sekaligus merintis kemerdekaan Indonesia. Dengan sarana-prasarana yang sangat sederhana, cara dan metodologi yang sangat fleksibel, serta gratis alias tidak berbayar, maka sekolah-sekolah umum tersebut bisa eksis sampai saat ini. Perkembangan berikutnya dan ditambah tuntutan untuk memenuhi sarana-prasarana sekolah, maka kebijakan-kebijakan pembiayaan sekolah pun mulai diberlakukan seiring dengan berkembangnya sekolah-sekolah tersebut, tanpa harus melupakan masyarakat miskin dan lemah secara ekonomi.

Pengertian Jasa Pendidikan

Kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh Pengelola Jasa Pendidikan mensyaratkan adanya profesionalitas, tanpa menghilangkan tujuan pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu, Pemerintah melalui Menteri, Departemen dan dinas-dinas terkait lainnya sudah saatnya memiliki visi dan misi yang benar-benar jelas terhadap upaya Pemerintah untuk mencerdaskan rakyatnya. Karena pendidikan masyarakat suatu negara adalah barometer kualitas kehidupan dan kemajuan negara tersebut.

Sebagai sebuah usaha jasa pelayanan, keberhasilan suatu program pendidikan ditentukan oleh kesanggupannya dalam memenuhi kepuasan pengguna (customer satisfaction). Indikator kepuasan itu, demikian dinyatakan ahli manajemen mutu seperti Deming dan Juran, ditetapkan oleh kesanggupan layanan pendidikan dalam memenuhi harapan, keinginan, dan kebutuhan pengguna (peserta didik dan pemangku kepentingan). Itu berarti, kurikulum pendidikan yang baik adalah kurikulum yang berorientasi akhir pada kebutuhan dan kepuasan pengguna.

Kotler menyebut tiga hal yang bisa dilakukan untuk mengontrol kualitas pelayanan di Bidang Pendidikan, yaitu : Melakukan seleksi pegawai (Guru & Karyawan non kependidikan) yang baik dan meningkatkan keterampilan mereka melalui berbagai pelatihan; Melakukan standarisasi proses pelayanan pada seluruh organisasi. Ini bisa dilakukan dengan menentukan “cetak biru layanan“ (service blue print) berisi seluruh alur proses penyediaan jasa pendidikan mulai dari awal hingga akhir, untuk memudahkan pengecekan kualitas setiap proses yang dijalankan; Memonitor kepuasan pelanggan melalui survey, feedback form, dan tanggapan serta keluhan pelanggan, sehingga kualitas pelayanan pendidikan yang kurang baik bisa dideteksi dan bisa segera diperbaiki. (Bersambung)

Bekasi, 24 Oktober 2009.


Baca selengkapnya……

12 October 2009

MEREVOLUSI PENDIDIKAN DI INDONESIA – Bagian 2

Oleh. M. Eko Purwanto
(Pemerhati Pendidikan tinggal di Bekasi)

“Education is for improving the lives of others and for leaving your community and world better than you found it”, Martin Wright Edelman.

Masukan Dalam Rangka Mengatasi Masalah

Paling tidak solusi itu lahir dari Sekolah-sekolah Perguruan, Fakultas Keguruan atau Jurusan Keguruan. Mahasiswa Keguruan seharusnya menjalani pelatihan secara rutin dan intensif, sebelum menyelesaikan pendidikannya. Selama proses perkuliahan, mahasiswa calon Guru ini dituntut secara teoritis maupun praktis agar mampu memperbarui dan meningkatkan keterampilannya berkomunikasi dengan baik kepada audiens/public, serta terus-menerus mengasah kemampuan mentalnya sebagai seorang pendidik, ini dilakukan sejak masih semester pertama.

Pemerintah dan masyarakat, perlu terus-menerus mendorong secara berkala untuk melakukan lokakarya-lokakarya dan kursus-kursus yang bertujuan mengevaluasi dan memperbaiki sistem pendidikan yang diterapkan sekarang. Kita masih harus banyak melakukan perbaikan dalam metodologi pengajaran yang dapat meningkatkan dan mempertajam ketrampilan para Guru itu sendiri. Sayangnya tujuan dan niat yang tertanam pada Guru-guru kita saat ini dalam mengikuti lokakarya, kursus, dan seminar-seminar, hanya untuk mendapatkan kredit poin dalam rangka sertifikasi.

Persoalan pelik yang sejak awal menjadi polemik, adalah Konten dan kurikulum dalam sistem pendidikan kita. Konten dan kurikulum masih perlu evaluasi dan monitoring untuk lebih dapat diterapkan oleh para Guru di sekolah. Konten dan kurikulum kita belum bisa secara mudah dimaknai oleh para Guru. Sehingga perlu diupayakan restrukturisasi dan kebijakan ditingkat kabupaten/kotamadya.

Dengan perampingan birokrasi dan kebijakan pendidikan hanya sampai di tingkat Kabupaten/Kotamadya saja, memungkinkan penyelesaian masalah-masalah pendidikan akan mudah dan cepat tertangani secara efektif. Masyarakat kita perlu dididik kembali untuk menghargai birokrasi, tidak dengan biaya (cost), sehingga kuncuran dana-dana pendidikan tidak banyak terserap pada lubang-lubang yang tidak semestinya. Menghilangkan pungutan sekecil apapun, selain operasional kegiatan belajar-mengajar (KBM), sangat dibenarkan. Karena pungutan sekecil apapun yang tidak bertujuan untuk proses kegiatan belajar mengajar, tidak akan pernah efektif dalam menjalin komunikasi pendidikan di dalam masyarakat.

Selanjutnya, pemerintah dalam beberapa tahun terakhir ini secara terus-menerus mengkampanyekan pendidikan kejuruan. Namun, nampaknya masyarakat belum sepenuhnya menyadari akan pentingnya pendidikan kejuruan ini. Masyarakat pengelola pendidikan pun belum bersemangat mendirikan sekolah-sekolah kejuruan, mungkin disebabkan karena biaya, sehingga sekolah kejuruan masih belum banyak diminati masyarakat. Hal ini akan memberi dampak kesenjangan yang lebih besar antara dunia industri dan akademisi.

Masyarakat industri juga dituntut untuk lebih menyadari pentingnya pendidikan kejuruan. Masyarakat industi tidak bisa fokus untuk dirinya sendiri, mereka harus ikut serta mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri saat ini, sehingga kesenjangan antara dunia pendidikan dan industri bisa lebih teratasi. Keuntungan dari dunia industri tidak serta-merta dijadikan investasi usaha, mereka harus memberikan support kepada sekolah-sekolah kejuruan untuk lebih memperkuat aspek usahanya.

Dalam hal ini, Pemimpin perusahaan memiliki peran penting dalam pendanaan sistem pendidikan kejuruan ini. Mereka banyak menghasilkan uang untuk diri mereka sendiri, tanpa membayar gaji karyawannya secara wajar, mereka tidak membayar dividen kepada pemegang saham mereka, yakni masyarakat pengguna produk-produk industrinya, kondisi ini terlihat pada Cost Social Responsibility (CSR) di masing-masing perusahaan. Masyarakat kita justru di ’iming-imingi’ dengan hadiah-hadiah milyaran rupiah dan barang-barang mewah lainnya, dengan harapan hasil penjualannya terus meningkat. Kemudian, apa yang mereka berikan kepada pendidikan dan masyarakat kita ? Ini adalah fakta, bahwa perusahaan-perusahaan kita, baik besar atau kecil, belum sepenuh hati untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia. Jika masayarakat industri kita sudah terpanggil untuk benar-benar memajukan konsumennya (masyarakat), maka hal ini akan sangat membantu terselenggaranya sistem pendidikan, yang dapat menyetarakan sistem pendidikan kita dengan standar global. Oleh karena itu, sangat penting kita melakukan reformasi dalam dunia pendidikan dari waktu ke waktu, sebagai alat untuk melakukan perubahan besar dengan cepat.

Selanjutnya, berkenaan dengan kualifikasi profesional seperti teknik, manajemen, kedokteran, komputer dan sebagainya, para Mahasiswa harus benar-benar terlibat dalam proses pendidikan dan proyek-proyek praktis pekerjaan. Kita perlu memperbaiki, pelaksanaan praktek kerja lapangan yang benar-benar nyata, yang mampu membekali ketermpilan dan mental siap bekerja, dari tahun pertama sampai tahun terakhir. Kegiatan tersebut akan membangun percaya diri mahasiswa sehingga mereka dapat memahami kebutuhan masyarakat industri.

Terakhir, pendidikan umum negeri yang bebas biaya untuk wajib belajar 9 tahun, agar bisa dilaksanakan merata sampai di seluruh Kabupaten/kota di Indonesia. Dan dalam rangka membantu mahasiswa yang tidak mampu, pemerintah sebaiknya selain menyediakan beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi, juga menyediakan anggaran pinjaman pendidikan tanpa bunga bagi mahasiswa yang kurang mampu.

Dengan demikian kita bisa memaknai pendidikan sesuai dengan pernyataan William Butler Yeats, bahwa “Pendidikan bukan mengisi ember, tapi menyalakan api". Pendidikan harus mampu menyalakan pikiran para siswanya dan harus memindahkan siswa dari zona nyaman ke zona yang efektif. Para siswa di zona nyaman tidak akan bisa mencapai sesuatu yang diharapkan oleh dunia pendidikan, sebanyak siswa dalam zona efektif.

Kesimpulan

Ada kebutuhan yang kuat untuk merampingkan birokrasi sistem pendidikan sekarang. Masalah-masalah dalam sistem pendidikan kita perlu ditangani segera, melalui komunikasi pendidikan antara Komite Sekolah, Dewan Pendidikan dan Diknas setempat. Pendidikan seharusnya fokus kepada moral/etika, sosial, kejuruan dan aspek akademis. Sebuah bangsa yang kuat hanya dapat dibangun bila ada pendidikan karakter yang kuat. Seperti yang ditegaskan oleh Abraham Lincoln, "Karakter itu seperti pohon dan reputasi seperti bayangannya. Bayangan adalah apa yang kita pikirkan itu; pohon adalah hal yang nyata ".

Oleh karena itu, esensi dari setiap pendidikan adalah karakter yang kuat. Pendekatan perubahan yang revolusioner dalam sistem pendidikan sekarang adalah tuntutan waktu. Kita harus secepatnya membangun sebuah bangsa di mana anak-anak kita memiliki visi untuk berpikir di luar batas-batas geografis mereka. Harus ada ruang lingkup bagi para siswa untuk mengembangkan intelektualitas, memperkuat pikiran dan membuat mereka untuk berdiri di atas kaki sendiri. Sudah teraplikasikah kebutuhan ini dalam kelas-kelas di sekolah kita melalui penerapan KTSP ?

Bekasi, 12 Oktober 2009.


Baca selengkapnya……

MEREVOLUSI PENDIDIKAN DI INDONESIA – Bagian 1

Oleh. M. Eko Purwanto
(Pemerhati Pendidikan tinggal di Bekasi)

Tulisan ini saya niatkan untuk meyakinkan kembali bahwa kita masih membutuhkan suatu perubahan besar dalam aspek pendidikan. Kemauan politik pemerintah untuk memperhatikan dunia pendidikan saat ini, perlu kita dukung bersama-sama dengan kemampuan kita masing-masing agar sistem pendidikan kita memiliki ‘ruh’ untuk memperkuat budaya bangsa yang besar ini. Tulisan ini juga saya tujukan sebagai masukan kepada Mendiknas yang baru, Kabinet SBY, yang akan merumuskan kebijakan-kebijakan cemerlangnya, demi kemajuan pendidikan kita lima tahun ke depan.

“Education is for improving the lives of others and for leaving your community and world better than you found it”, Martin Wright Edelman.

Pendidikan dan Masyarakat

Di dunia Pendidikan tersedia banyak informasi tentang imajinasi, pengetahuan, ide, nilai-nilai, etika, penalaran dan itu semua membuat manusia menjadi lengkap dan memiliki nilai tambah atas kesempurnaannya sebagai pemimpin di muka bumi ini. Pendidikan membawa perbaikan, menambah kecerdasan, dan membuat orang terbebas dari rasa takut, kuatir dan gelisah, serta merdeka dan percaya diri. Hanya manusia sajalah yang bisa memiliki kemampuan belajar seperti ini, dan tidak dimiliki oleh hewan manapun.

Pendidikan tidak berarti hanya membaca dan menulis, tetapi juga berpikir, belajar, penalaran, pengalaman praktis dan seterusnya. Pendidikan adalah proses belajar dari buaian hingga liang kubur. Pendidikan telah membawa banyak perubahan di dunia fisik dan mental manusia dan mengubah seluruh peradaban sejak zaman purba sampai sekarang. Mengutip pernyataan Ariel dan Will Durant, bahwa "Pendidikan adalah transmisi peradaban manusia".

Ariel dan Will Durant juga mengemukakan bahwa pertumbuhan masyarakat tergantung pada jenis sistem pendidikan yang diadopsi. Pendidikan membuat dampak yang luar biasa di masyarakat. Kualitas masyarakat tergantung pada kualitas sistem pendidikan yang diterapkan. Banyak Pakar Pendidikan, baik di dalam maupun di manca Negara lainnya mengemukakan, "kelembagaan pendidikan yang baik akan sangat berpengaruh dalam menjalani kehidupan yang lebih baik". Pendidikan yang benar membuat orang-orang mampu membangun karakter, nilai, etika, dan mampu mempersiapkan masyarakat dan negara secara keseluruhan untuk bisa mengejar ketertinggalannya. Pendidikan yang benar adalah warisan atau hadiah, yang kita sampaikan kepada generasi kita berikutnya. George Peabody mengatakan, "Pendidikan adalah utang kita sekarang untuk generasi masa depan".

Dampak Pendidikan bagi Masyarakat

Tidak ada suatu bangsa manapun yang bisa berkembang tanpa pendidikan yang tepat. Dan Indonesia adalah salah satu Negara Plural dengan berbagai tradisi dan budaya, yang sejak jauh sebelum merdeka dari tangan penjajah, sudah menggiatkan diri untuk menjadi Negara yang terdidik, baik dididik oleh pengalaman maupun budayanya yang terus-menerus berkembang. Mari kita telaah kembali sejarah para pendiri negara ini dalam rangka mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Para perintis kemerdekaan itu adalah manusia-manusia terdidik yang memiliki semangat satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa, yakni Indonesia.

Indonesia sebagai negara berkembang yang tradisi masyarakatnya sangat beragam, memiliki sumber daya manusia yang sangat besar, dan memiliki kebutuhan tenaga teknis yang sangat tinggi. Walaupun dampak pendidikan di masyarakat sangat besar, namun masih banyak daerah abu-abu, yang perlu ditangani secara serius. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, Indonesia telah mengembangkan demokrasi politik, budaya, ekonomi dan sosial, tetapi kita masih perlu memfokuskan diri pada arah yang benar, yang mampu menyatukan kepentingan semua pihak dalam kondisi tradisi yang berbeda-beda.

"Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat kita gunakan untuk mengubah dunia", kata Nelson Mandela. Hal ini sangat jelas bahwa tidak ada senjata yang lebih unggul selain pendidikan. Berkah dari suatu pendidikan adalah pengembangan teknologi, yang telah membawa perubahan signifikan dalam masyarakat. Jika teknologi ini digunakan dalam arah yang benar dan ditujukan untuk memperkuat sistem pendidikan kita, maka kita dapat mengharapkan keajaiban di dalam masyarakat kita secara keseluruhan. Meminjam istilah Mario teguh, “lihat apa yang terjadi …. !!!.”

Pendidikan dan Pengalaman Hidup Manusia

Pete Seeger, mengatakan, "Pendidikan adalah ketika kita mampu membaca pengalaman kecil yang kita mengerti sebab dan akibatnya. Pengalaman adalah apa yang kita peroleh di setiap perjalan hidup kita". Sebagian besar kita membuat banyak kesalahan yang mengakibatkan perjalanan kehidupan kita menjadi pahit dan memilukan, tentu saja, akibat dari pengalaman yang kita temui tidak sesuai dengan harapan dan keinginan kita.

Apabila seorang individu benar-benar berpendidikan, baik secara mental (spiritual) maupun fisik, sudah tentu dia memahami hal-hal kecil dalam perjalanan hidupnya karena ia bisa membaca peristiwa-peristiwa kecil yang melintas dalam hidupnya dan mengetahui sebab dari peristiwa tersebut terjadi. Perilaku seorang yang terdidik selain menggunakan penalaran induktif, ia juga menggunakan intuisinya di dalam mengambil keputusan-keputusannya. Intuisi menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari, yang mengabarkan akibat-akibat dari proses berfikir dan perbuatannya setiap saat.

Kita cenderung membuat banyak kesalahan dalam hidup kita, dimana seolah-olah orang lain tidak berpendidikan. Dan kita cenderung untuk membuat lebih banyak kesalahan ketika kita mampu memastikan bahwa orang lain tersebut benar-benar tidak berpendidikan. Karena sebenarnya kita tidak pernah tahu seseorang berpendidikan atau tidak, yang kita tahu hanya topeng diluar, bahasa yang digunakan sebagai kendaraan berfikir dan cara-cara kita menjaga penampilan.

Seorang individu yang berpendidikan percaya bahwa dalam proses pendidikan terdapat metode error yang menjadi bagian dari kesempurnaan manusia untuk lebih mengetahui kebenaran. Justru, kebanyakan orang yang tidak berpendidikan percaya pada pengamatan dan pengetahuan praktis yang tidak mentolerir adanya kesalahan sekecil apapun. Pendidikan membawa kita menyusuri kompleksitas dalam kehidupan manusia, sehingga membuat hidup lebih mudah, sederhana dan nyaman. Berkenaan dengan kondisi ini John Dewey mengatakan, "Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup, tapi pendidikan adalah hidup itu sendiri".

Masalah Pendidikan Sekarang

Indonesia merupakan negara dengan populasi cukup besar di dunia dan sayangnya secara kualitas masih perlu diperjuangkan. Ini mungkin, karena selain populasi penduduk yang besar, jenis administrasi pemerintahan dan sistem politik yang kita miliki. Masih banyak kita temui tekanan-tekanan secara birokratis yang memaksakan diri untuk kita terima sebagai sesuatu yang wajar. Hal ini tentu saja tidak bisa mendorong imajinasi, kreativitas dan orisinalitas pada masyarakat kita. Penekanan apapun, yang dilakukan dimasyarakat maupun ditempat-tempat lainnya pada aspek-aspek kehidupan praktis, tidak ada yang bisa efektif untuk memacu produktivitas. Kondisi ini telah melanda sebagian besar masyarakat kita bahkan dalam aspek teoritis dan konsep-konsep, sehingga tuntutan kebutuhan yang serba pragmatis, praktis dan instant melanda sebagian besar lembaga-lembaga pendidikan kita. Kita tidak bisa mengelak jika sebagian besar masyarakat pengelola pendidikan kita masih menggunakan sistem untung-rugi dalam konteks financial. Hal ini tidak bisa kita salahkan seratus persen, karena pemerintah sendiri belum bisa menjamin 100% lembaga pendidikan tersebut bisa bertahan hidup.

Dalam kondisi sistem administrasi pemerintahan masih seperti ini, dengan berbagai tekanan birokrasi yang kuat, serta sikap apatisme masyarakat yang semakin tinggi, maka jangan berharap dana-dana bantuan operasional sekolah dan dana-dana lainnya bisa lancar turun ke bawah. Kondisi seperti ini diperparah dengan perilaku masyarakat pengelola pendidikan yang menerima begitu saja ketentuan-ketentuan yang jelas-jelas menyimpang dari petunjuk teknis pelaksanaannya.

Sementara itu, anak-anak kita di sekolah dijejali dengan banyak buku dan mereka merasa sangat stres. Meskipun pemilikan buku bagi setiap siswa sekarang ini, tidak diwajibkan, namun pemaksaan secara halus dan sembunyi-sembunyi masih dilakukan. Kita menyaksikan dengan mata kepala kita sendiri, milyaran dana buku gratis setiap kabupaten dan kotamadya masih belum efektif dimanfaatkan.

Pada kenyataannya, untuk memahami pendidikan tidaklah sesulit apa yang kita bayangkan sekarang. Pendidikan sudah semestinya diisi dengan hiburan dan menyenangkan sehingga siswa dapat menemukan kegembiraan belajar. Saya tidak habis mengerti, mengapa anak-anak kita disekolah kehilangan kegembiraannya ?. Anak-anak merasa ngeri untuk pergi ke sekolah karena terlalu banyak belajar. Bahkan di rumah anak-anak melibatkan diri mereka sendiri, begitu banyak waktu, untuk menyelesaikan pekerjaan rumah dari sekolah. Saya jadi terus-menerus bertanya, apa yang menjadi tujuan pendidikan kita sebenarnya ?

Kondisi di atas, justru tidak memahamkan anak-anak didik kita kepada makna belajar. Mereka justru akan memahaminya sebagai kewajiban, bukannya hak untuk dituntut. Ketika anak-anak kita menghabiskan banyak waktunya dirumah, hanya untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah, maka justru kondisi seperti ini tidak akan memahamkan hubungan antara orangtua dan anak di rumah, ditambah lagi kedua orangtuanya sibuk bekerja di luar rumah. Sementara kondisi di banyak lembaga pendidikan kita, Infrastruktur yang tidak memadai dan staf pengajar yang tidak memahami kompetensinya sebagai seorang pendidik, merupakan kutukan lain di dunia pendidikan kita. Sayangnya lagi, baik ditingkat pendidikan dasar sampai tingkat menengah masih banyak kita temui lembaga pendidikan yang terus-menerus berjuang untuk bertahan hidup, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Selanjutnya, dalam penerapan KTSP, Guru hanya fokus kepada tingkat satuan pelajaran saja. Setiap Guru belum mampu mengidentifikasi kemampuan dan kelemahan setiap anak didiknya, dan mendiskusikannya di tingkat sekolah. Masih banyak kita temui disetiap kelas bahwa pandangan dan pendapat dari siswa tidak lagi dihormati dan dihargai layaknya sebagai teman. Siswa selalu dikenakan apa pun yang ada di buku yang mengakibatkan kurangnya imajinasi dan kreatifitas. Kondisi ini ditegaskan oleh RW Emerson yang mengatakan, "Rahasia dalam pendidikan terletak pada menghargai siswa". Hanya ketika siswa yang dihormati dan dihargai sajalah, yang akan terus-menerus mencoba untuk berpikir imajinatif, kreatif, inovatif dan mampu keluar dari belenggu fikirannya sendiri. Siswa harus disediakan waktu untuk lebih banyak memiliki kebebasan berpikir.

Sangat disayangkan pula, bahwa Guru-gurupun belum dibayar mahal, mungkin bagi mereka yang sudah tersertifikasi saja, yang mungkin baru bisa menikmati penghasilan cukup. Selama ini para guru sudah cukup lelah mengejar karier mereka sendiri untuk mendapatkan sertifikasi dari pemerintah, dengan berbagai bentuk jalan pintas. Selain itu, masih banyak Guru-guru kita, memanfaatkan waktu sisanya untuk menambah nafkah keluarganya dengan bekerja selain menjadi Guru. (Bersambung)

Bekasi, 12 Oktober 2009


Baca selengkapnya……

MENJADI GURU YANG KONSTRUKTIF – Bagian 2

Oleh. M. Eko Purwanto
(Staf Bidang Pendidikan YW Al Muhajirien Jakapermai - Bekasi)

"Essensi tugas Guru tidaklah mengajar, tetapi untuk menemukan cara-cara & situasi belajar bagi para murid-muridnya, karena hakekat pendidikan bukan mengisi ember melainkan menyalakan api."

Interaksi Energetik Guru dan Murid

Guru yang konstruktif harus selalu inovatif untuk mengadopsi metode-metode baru untuk memotivasi belajar anak-anak didiknya. Ia harus menempatkan anak-anak didiknya sebagai pusat pembelajaran, artinya sejauhmana materi disampaikan bukan tergantung Guru dan kurikulumnya tetapi tergantung kepada murid-muridnya. Kreatifitas murid dibangun melalui diskusi kelompok, seminar, diskusi panel, kunjungan lapangan, permainan peran, dan lain-lain. Menurut Albert Einstein, "Ini adalah seni tertinggi guru untuk membangkitkan kegembiraan yang ekspresif, kreatifitas, dan pengetahuan. Sehingga sekolah akan menjadi platform yang tepat untuk memenuhi tujuan pendidikan, jika hubungan antara siswa dan guru dipelihara dengan baik. Guru adalah teman, filsuf dan panduan dari siswa. Seorang guru adalah motivator terbaik, seorang pecinta dan pengisi kekuatan. Murid-murid terinspirasi oleh kapten mereka, yaitu Guru.”

Seorang Guru hanya sebagai fasilitator, motivator dan inspirator dari proses kegiatan belajar mengajar di kelas, sehingga semua kualitas dari dalam diri anak-anak didiknya, akan terbuka. Semua kreativitas terletak di dalam diri anak-anak didik, karena anak-anak didik kita memiliki jiwa di mana terletak sumber dari segala potensi-potensinya. Karena ketidaktahuannyalah maka kita sebagai seorang guru adalah pemandu spiritual untuk membantu memberikan pengetahuan kepada jiwa anak-anak didik kita. Keterlibatan jiwa seorang murid dalam suatu kegiatan belajar mengajar, akan memberikan motivasi kuat kepada mereka. Anak-anak didik kita akan merasa dirinya berharga untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Manusia tidak pernah luput dari berbuat salah, tapi perbuatan yang baik sekecil apapun harus dipuji. Setiap anak didik memiliki beberapa sifat-sifat baik dalam dirinya. Peran guru adalah untuk tidak mengkritik dia karena kenakalannya, tetapi untuk memuji salah satu kualitas yang baik dalam dirinya, sekaligus memberikan inspirasi. Sistem memuji salah satu kualitas pada diri anak didik akan menumbuhkan percaya diri, ia mulai merasa dirinya layak dan berharga, karena tidak semua anak didik memiliki kemampuan akademik yang sama. Mereka memiliki tujuan alam, dan kecenderungan yang dibawanya sejak lahir. Seorang Guru harus mampu mengidentifikasi hobi dan kemampuan alaminya sehingga ia dapat mengetahui siapa dirinya dan memotivasi dirinya untuk bisa maju dalam wilayah bakat dan hobinya itu.

Ada Senyum di Dalam Kelas

Senyum memainkan peran yang sangat penting, tidak hanya dalam batas-batas sekolah, tetapi juga bahkan di dalam masyarakat pada umumnya. Senyum adalah ekspresi cinta. Senyum adalah kekuatan dan kekuasaan seseorang. Sekolah juga harus menjadikan senyum sebagai bagian dari kegiatan belajar mengajar. Seorang guru menyentuh hati anak-anak didiknya melalui daya tarik ‘senyum’. Senyum menciptakan percaya diri anak-anak didik kita. Perkembangan kemajuan anak-anak didik terhadap mata pelajarannya, terjadi ketika mereka mulai menyukai dan mencintai Gurunya. Bagaimana murid mau mencitai pelajarannya jika ia tidak mencintai Gurunya. Senyuman seorang Guru, menciptakan getaran yang kuat pada diri anak-anak didiknya. Anak-anak didik kita tidak merasa takut untuk mengungkapkan persoalan apa yang terjadi dalam dirinya. Mereka tidak segan-segan lagi mengajukan pertanyaan, dan kebebasan berpikir di dalam kelas secara otomatis terjadi, ketika senyum hadir di dalam kelas.

Kita sebagai Guru, dituntut untuk menjadi seorang teman untuk anak-anak didik kita. Persahabatan dapat membantu kita untuk lebih memahami seorang anak. Seorang anak didik akan mengungkapkan kesulitan/masalah hanya kepada Guru yang sudah menjadi temanya. Tetapi, jika kita sebagai Guru hanya memerankan seseorang pemberi tugas atau bahkan pemimpin sirkus untuk anak-anak didik kita, kita akan merusak kegitan belajar mengajar mereka. Anak-anak didik kita mulai membenci kita dan menyembunyikan segala sesuatu yang ada pada dirinya kepada kita. Anak-anak didik kita akan mengembangkan rasa takut kepada kita. Itu sebabnya, banyak orang tua dan Guru berada dalam masalah besar, ketika semua persoalan pribadi anak-anak kita tidak mengemuka. Anak-anak didik kita kehilangan kebebasan untuk berterus-terang menceritakan masalahnya. Sebenarnya ini bukan kesalahan anak-anak didik kita, tapi kesalahan kita sebagai orang tua dan Guru di sekolah, yang tidak memiliki seni 'bagaimana untuk menjadi teman dari anak-anak didik kita.'

Contoh Teladan

Seorang Guru dapat memotivasi anak-anak didiknya untuk lebih banyak membaca buku, jika anak-anak didiknya menemukan Gurunya banyak membaca buku. Tetapi, bagaimana mungkin seorang Guru yang jarang sekali membaca mampu memotivasi anak-anak didiknya untuk lebih banyak membaca buku ? Ini tidak mungkin terjadi.

Buku adalah sumber energi dan motivasi. Seorang Guru harus menjadi pembaca intensif buku-buku perpustakaan, majalah dan mengumpulkan pengetahuan untuk mengilhami anak-anak dengan menceritakan hal-hal baru. Guru dapat membuat perpustakaan kecil sendiri di dalam kelasnya, dan menjadikan dirinya sebagai inspirator bagi murid-muridnya. Karena, menurut Sokrates kelas adalah tanah pertempuran antara guru dengan muridnya, dan senjatanya adalah pertanyaan.

Kita sebagai Guru adalah motivasi bagi anak-anak didik kita, melalui kebiasaan kita membaca buku, budaya fisik dan mental ini bisa memberi contoh kepada anak-anak didik kita. Karena murid-murid selalu mengikuti perilaku Guru mereka. Jadi seorang Guru dapat melakukan banyak hal melalui kekuatan motivasi. Seorang guru harus menyadari bahwa kekuatan motivasi dan menggunakannya dengan baik dimanapun dan kapanpun, akan melahirkan sikap optimisme bagi anak-anak didik kita.

Setiap anak-anak didik kita berbeda dan unik. Bersama anak-anak didik, kita bisa belajar melakukan spesialisasi dan mengidentifikasi hobi, bakat dan kecenderungan-kecenderungan lainnya. Anak-anak yang melakukan kenakalan di dalam kelas, memiliki kemungkinan tertinggi dan multi-dimensi kepribadiannya, karena itu, mereka menjadi nakal. Mereka membutuhkan lebih banyak tugas pekerjaan yang harus diselesaikan. Tugas-tugas sekolah yang lebih banyak ini merupakan ladang bagi anak-anak didik yang kita anggap nakal ini untuk menunjukkan kepribadian dan eksistensinya.

Kita bisa memiilih anak-anak didik kita yang paling nakal di kelas kita, lalu berikan kepada mereka tanggungjawab dan pekerjaan-pekerjaan non akademis yang harus diselesaikan, kita akan melihat bagaimana cepat mereka menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Dalam waktu sepersekian menit mereka bisa melakukan pekerjaannya dengan baik. Anak-anak yang nakal adalah masa depan sumber daya manusia kita. Para guru dan orangtua harus lebih memahami kebenaran ini sebagai fakta untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan dan kemampuan dalam diri mereka, sehingga "setiap anak akan menjadi istimewa".

Anak-anak didik kita terlahir dengan potensi yang tak terbatas, maka tugas kita sebagai Guru adalah membantu mengembangkan mereka dan membuat mereka layak di setiap bidang yang diminatinya. Setiap anak didik kita mempunyai potensi yang luar biasa besar di dalam dirinya, maka pekerjaan guru adalah menginspirasi anak agar kreativitasnya terbuka. Hanya kita yang yang dapat membimbing mereka untuk mencapai tingkat tertinggi dari kreatifitasnya. Mengenali kepribadian unik anak-anak didik kita dan mendorongnya agar senantiasa tumbuh, adalah tugas kita sebagi seorang Guru.

Penutup

Peran guru dalam skenario perubahan sosial di masyarakat kita menjadi sangat menantang, karena masyarakat kita saat ini lebih menghargai hal-hal yang bersifat material dan nilai-nilai spiritual menjadi terbelakang. Tidak ada yang luar biasa tentang hal ini, namun situasi seperti ini tidak akan hidup selamanya. Ada cukup banyak indikasi bahwa pendidikan kita akan bangkit kembali, mewarnai nilai-nilai abadi budaya yang selama berabad-abad tumbuh-berkembang di dalam dinamika kehidupan bangsa yang besar. Kita berada pada proses transisi, dimana nilai-nilai budaya masih terpelihara dan dirawat dengan baik. Oleh karena itu, peran Guru menjadi sangat signifikan.

Terakhir, sebagai bahan renungan kita, mengapa film Laskar Pelangi menyita banyak penonton untuk berduyun-duyun menyaksikannya, energi dan nilai-nilai spiritual apa yang tersimpan di dalam film tersebut ?. Kita semua yang pernah menontonnya pasti tahu jawabannya.

Bekasi, 9 Oktober 2009.


Baca selengkapnya……

MENJADI GURU YANG KONSTRUKTIF – Bagian 1

Oleh. M. Eko Purwanto
(Staf Bidang Pendidikan YW Al Muhajirien Jakapermai - Bekasi)

"Essensi tugas Guru tidaklah mengajar, tetapi untuk menemukan cara-cara & situasi belajar bagi para murid-muridnya, karena hakekat pendidikan bukan mengisi ember melainkan menyalakan api."

Pendahuluan

Dalam tulisan ini saya akan memfokuskan pada karakteristik, kepribadian & spiritualitas Guru, agar mampu memainkan peran sebagai fasilitator bagi anak-anak didiknya. Saya berharap dalam tulisan ini, saya bisa memberikan cara pandang baru untuk melakukan perubahan dalam proses belajar mengajar di sekolah dan di masyarakat.

Mencintai profesi mengajar, merupakan salah satu dari ratusan bahkan ribuan pilihan pekerjaan, yang saat ini sedang mendapatkan perhatian serius dari Pemerintahan SBY. Secara spiritual, mereka-mereka yang senang mendidik, melatih dan menjadikan orang lain sukses adalah manusia yang mencintai hidupnya sendiri. Manusia seperti ini bukan saja hebat, tetapi sangat hebat?.

Membangun suatu generasi tidaklah semudah dibandingkan dengan mendirikan bangunan yang dilakukan oleh seorang insinyur, atau seorang dokter untuk mengobati pasiennya. Membangun suatu generasi berarti membentuk kharakter masyarakat masa depan dan alam semesta ini, sekarang. Dan menciptakan generasi yang lebih baik adalah satu-satunya solusi dari setiap jenis masalah yang dihadapi masyarakat kita hari ini.

Masyarakat kita sekarang membutuhkan pikiran lembut untuk bekerja dengan damai, yang menyenangkan hati semua orang, dan mampu melindungi serta melayani orang lain. Mungkin hal masih dianggap mimpi, sekarang, karena kita selalu menyaksikan kekerasan dimana-mana. Mulai dari kekerasan fisik sampai ke kekerasan psikologis. Tidak heran jika kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri, seorang pencopet mati di tangan massa, atau seorang karyawan langsung di PHK lantaran salah melakukan prosedur kerja. Oleh karena itu masyarakat sangat membutuhkan seorang Guru yang konstruktif, guru yang mampu membangun character murid-muridnya, dan Guru yang mampu menyalakan api dari setiap jiwa anak-anak didiknya, agar bisa menjadi generasi yang beradab dan cinta sesamanya.

Guru Konstruktif

Guru yang konstruktif, adalah Guru yang memiliki tujuan untuk mampu melakukan perubahan dari dalam diri murid-muridnya, bukannya dari luar. Guru adalah sumber kreatifitas bagi murid-muridnya dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Dengan pemahaman ini, mungkin kita mampu, sedikit demi sedikit melakukan perubahan yang lebih besar. Kebangkitan dunia pendidikan, mulai dari sekolah sampai ke tingkat kenegaraan bisa dipersiapkan mulai dari sekarang.

Untuk bisa menjadi Guru yang konstruktif, dibutuhkan pemahaman spiritualitas yang cukup. Seorang Guru yang memiliki spiritualitas, bukan hanya mereka yang taat memeluk agama tertentu saja, namun mereka yang memahami bahwa tujuan beragama adalah menemukan siapa dirinya, dan peran apa yang harus dimainkannya di alam semesta ini, karena ia memahami bahwa kehidupannya kelak akan berakhir dimana.

Seorang Guru yang memiliki spiritualitas cukup, ibarat api yang mampu menjadi sumber cahaya dan mampu membakar semangat para murid-muridnya. Guru adalah provokator dalam diri setiap anak-anak didiknya. Oleh karena itu, seorang Guru harus senantiasa mensucikan dirinya dari pikiran dan perbuatan menyimpang dari norma serta nilai-nilai agama yang dianutnya. Sehingga energi murni yang positip selalu terpancar dari dirinya kepada murid-muridnya. Karena pikiran negatif seorang Guru, mudah sekali beresonansi dan mampu mempengaruhi anak didiknya dalam menyerap pelajaran dan mempengaruhi kondisi belajar di dalam kelas. Karena interaksi pertama yang dirasakan oleh murid-muridnya adalah energi potensial Gurunya ketika masuk dalam ruang kelasnya. Bahkan sebelum seorang Guru itu memasuki ruang kelas, isi pikiran Guru sudah berada di ruang kelas. Karena pikiran manusia adalah getaran energi yang mampu beresonansi dengan pikiran-pikiran lainnya.

Saat ini para guru di sekolah, benar-benar masih sangat tinggi kemelekatannya dengan persoalan ekonomi keluarganya. Pikiran para Guru masih bising dan disibukan untuk memecahkan masalah ekonomi dan karir mereka sendiri. Mereka belum bisa keluar dari kemelekatan tersebut. Oleh karena itu, Guru yang konstruktif, adalah ketika seorang Guru mampu mengenal dirinya sebagai jiwa dari seluruh alam semesta dan sebagai bagian entitas rohani yang besar. Ia akan menyadari bahwa peran seorang Guru bukanlah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi untuk memenuhi kebutuhan mental anak-anak didiknya.

Sebagai api yang mampu membakar spirit murid-muridnya, seorang Guru akan mampu menciptakan perubahan dan transformasi dalam masyarakat. Dengan demikian seorang Gurupun, terlebih dahulu, harus mampu mentransformasikan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia bermimpi untuk mentransformasikan suatu generasi, sementara dirinya sendiri belum dapat tertransformasikan ?. Itu sebabnya seorang Guru harus senantiasa memiliki semangat untuk memotivasi murid-muridnya. Dia harus menjadi seorang pembimbing yang sekaligus mengarahkan api di dalam diri murid-muridnya ke arah yang konstruktif. Karena itulah, seorang Guru yang kurang memiliki moralitas yang baik, akan memiliki dampak yang tidak baik pula pada murid-muridnya. Karena menurut William Butler Yeats, “Pendidikan bukan mengisi ember, tapi menyalakan api".

Kekuatan Resonansi Pikiran

Seorang Guru adalah sumber getaran energi bagi murid-muridnya, sehingga para muridnya akan menjadi lebih energik. Mata bathin seorang Guru yang terlatih dengan baik, akan mampu menyentuh semua jiwa-jiwa muridnya di dalam kelas. Dampaknya adalah suasana dan kondisi kelas yang tertib dan muird-muird akan mudah menyerap materi-materi pelajaran yang disampaikan, berapapun jumlah murid didalam kelas tersebut. Melalui Guru yang konstruktif, kita tidak lagi mengenal rasio antara murid dan Guru, yang ada adalah tingkat energi positip Guru baik secara fisik dan mental di dalam kelas.

Ketika saya menjadi murid SMTP sekian puluh tahun lalu, saya merasakan pelajaran yang dianggap sulit pada saat itu, menjadi mudah dan sangat sederhana ketika ditangani oleh seorang Guru yang getaran energinya mampu masuk ke dalam jiwa-jiwa muridnya. Lain halnya dengan Guru yang menganggap murid-muridnya seperti ember yang harus diisi, ia bahkan menganggap murid-muridnya seperti kertas kosong yang bisa diisi tulisan semau Gurunya. Guru seperti ini tidak akan bisa menyalakan api di dalam jiwa anak didiknya, tapi justru akan mematikannya.

Guru yang konstruktif, adalah Guru yang memiliki spiritual cukup. Banyak Guru yang memiliki pengetahuan agama tinggi, namun spiritualitasnya sangat rendah. Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas terlalu jauh tentang spiritualitas namun penerapan dari orang-orang yang memiliki spiritualitas cukup, sebagai sarana untuk menggambarkan peran Guru terhadap anak-anak didiknya.

Dalam konteks spiritualitas, ketika seorang Guru berbicara sesuatu, maka seluruh murid-muridnya terperangkap dalam getaran jiwa Gurunya yang menyebar di dalam kelas. Dan ketika seorang guru menjadi menyenangkan, spiritual, dinamis, maka selain materi pelajaran mudah terserap oleh para murid, semua persoalan di dalam kelas juga dapat diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat, Karena pusat utama energi jiwa yang kuat di dalam kelas ada di dalam diri seorang Guru. Jika pikiran seorang Guru damai, tidak bising dengan pikiran-pikiran lainnya, maka murid-muridnya akan nyaman dan menyenangkan dalam menerima materi pelajaran. Perubahan dalam jiwa guru adalah dasar dari semua kreativitas murid dan mampu mendinamisir sistem pembelajaran di dalam kelas.

Memahami anak-anak didiknya dalam upaya mengetahui bagaimana menyalakan api dalam diri setiap muridnya, hanya bisa dilkukan, ketika seorang Guru mampu memahami dirinya sendiri. Jika seorang Guru sibuk dengan begitu banyak kesalahpahaman dalam dirinya, dalam keluarganya, dan dalam memilih profesinya maka bagaimana mungkin ia bisa menyebarkan pemahaman ke dalam hati dan pikiran anak-anak didiknya ?. Seorang guru harus memahami kebutuhan dan masalah-masalah siswa. Hal ini bukan hanya tugas Guru BK (Bimbingan & Konseling) saja, tetapi semua Guru di sekolah. Dia harus mampu menyelami jiwa setiap muridnya, memahami kepribadian yang terbentuk dari keluarganya, dan kecenderungan-kecenderungan lainnya yang terlihat dari perilaku anak-anak didiknya. Dengan demikian, seorang Guru akan dapat memotivasi murid-muridnya dengan baik.

Guru adalah contoh dan teladan di depan murid-muridnya. Jika seorang Guru sendiri memiliki watak pemarah, tidak memiliki kesabaran, maka energi pemarah dan tidak sabaran tersebut meresonansi anak-anak didiknya dan membentuk character anak-anak didiknya, menjadi minimal sama atau bahkan lebih, sebagai calon-calon seorang pemarah dan tidak sabaran. Dalam bahasa fisika kuantum, panjang gelombang energi anak didik di dalam kelas, berbanding lurus dengan panjang gelombang energi Gurunya. Dan getaran akan beresonansi dengan besaran yang sama.

Kita tidak akan mampu menenangkan situasi kelas dan menanamkan kecintaan murid terhadap mata pelajaran tertentu, jika pikiran kita sebagai Guru masih bising dengan pikiran-pikiran lainnya, apalagi kita tidak mencintai profesi dan mata pelajaran yang kita ajarkan kepada murid-murid kita. Lebih parah lagi, jika kita menjadi seorang Guru hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan ekonomi saja alias mencari nafkah. Akibatnya, murid-murid akan berdagang dengan Gurunya disekolah, bukan untuk belajar. (Bersambung).

Bekasi, 9 Oktober 2009


Baca selengkapnya……

Viviti