Here is the ultimate resource for detailed purwalodra guides, and tips. Find about purwalodra that will match your need | Education | Life | Writing | Politics

Click

30 July 2009

SEBUAH WEB, ADALAH SATU KEPRIBADIAN


Oleh. Purwalodra

Ketika kita membuat situs/web untuk menampung buah pikiran melalui tulisan, maka situs itu berubah menjadi suatu kepribadian seseorang. Buah pikiran yang lahir dari dalam lubuk jiwanya, adalah cerminan kharakter orang tersebut. Kita bisa menebak kepribadian seseorang melalui tulisan-tulisannya.

Steven Covey pun mengulas bahwa kepribadian atau kharakter seseorang tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari kebiasannya sehari-hari. Kebiasaan ini lahir dari tindakan seseorang yang konsisten dan terus-menerus. Sementara menurut ilmu perilaku (behavior science) tindakan atau perilaku manusia lahir dari apa yang dipikirkannya. Makanya ada pepatah bilang, jika pikiran seseorang tidak bermusuhan, maka fisiknya tidak akan pernah menyerang.

Dalam dunia tulis-menulis, tak terhitung banyaknya teori menulis terpapar di dunia maya ini, namun tak terhitung pula jumlahnya, orang yang belum bisa memulai menulis. Banyak alasan yang menyelimuti kondisi ini, salah satunya motivasi yang ada dalam fikiran seseorang.

Awalnya kita melakukan kegiatan menulis karena iming-iming adanya imbalan yang bersifat materi. Tetapi ketika uang tidak kunjung datang, sementara aktifitas menulis harus tetap hidup, maka motivasi menulispun ikut lenyap dari aktifitas keseharian kita.

Banyak pakar menyarankan agar aktivitas menulis dijadikan hobi alias kesenangan, sehingga meski imbalan financial tak kunjung datang, maka kegiatan menulis terus berjalan. Namun lagi-lagi, bahwa hobipun lahir bukan karena paksaan, ia lahir karena kesenangan, yang mungkin kemudian diikuti oleh sang bakat/minat. Jadi menjadikan menulis sebagai hobi, bukan persoalan mudah.

Perkembangan dunia website dengan berbagai ragam bentuk, isi dan desain, telah banyak memotivasi jutaan orang untuk bisa secepat mungkin menjadi penulis kelas mahir. Mulai dari anak-anak yang memiliki tubuh fisik kecil, sampai dengan anak-anak yang berbadan tinggi besar. Memangnya nggak ada orang dewasa yang bisa menulis ?. Menurut para pakar lagi, orang yang hebat menulis itu sebenarnya bukan orang dewasa. Orang dewasa nggak bisa nulis karena sudah dikuasai oleh otak kirinya yang setia memberi advis-advis untuk selalu menghalanginya menulis. Sementara anak-anak masih dikuasi otak kanannya yang selalu bilang, ‘emang gue pikirin, nulis aja lagi !!!’.

Bukti bahwa saya masih anak-anak bisa dilihat di www.purwalodra.com. Situs ini saya buat untuk sekedar menumpakkan uneg-uneg yang nyangkut di kepala, tumpah begitu saja tanpa diganggu otak kiri saya.

Nggak puas dengan www.purwalodra.com, saya buat lagi www.asianpurwalodrabrain.com. Situs yang satu ini adalah buah dari pendidikan saya di sekolah formal, yakni tentang pengetahuan sumber daya manusia. Meski saya buat dalam bahasa bule’, tapi tulisan-tulisannya memang dari orang bule’ yang saya anggap pakar gitu lhooo !. Pokoknya saya pengen banget menambah pengetahuan tentang Human resources dari orang bule’ langsung.

Tentu bisa ditebak khan ?. Saya nggak bisa berhenti disitus kedua, maklum pikiran saya adalah pikiran anak-anak, nggak pernah capek lagiii !!!. Buah dari ‘ngoprek-oprek’ situs orang dan hasil baca buku-buku terjemahan tentang ‘jiwa’ dan spiritual, maka sayapun buat web www.soulspirit34.com. Dari situs ini pengen saya sih belajar tentang kejiwaan dan spiritualitas juga dari orang bule’.

Ternyata sampe ke situs ke-3, bukannya jenuh malah muncul lagi gagasan untuk bikin situs selanjutnya yaitu www.edumanagementtrailer.com. Situs ini lahir karena pekerjaan saya sehari-hari memang di bidang PENDIDIKAN. Sejak lulus kuliah sampai sekarang saya bekerja sebagai pendidik, makanya kok rasanya kurang lengkap ya kalo nggak buat situs pendidikan, gitu kata pikiran saya. Dari situs inilah saya juga mulai belajar dari orang bule’, langsung enak !!!.

Baru beberapa minggu lahir si jabang bayi www.edumanagementtrailer.com disusul adiknya di www.lifecargotrailer.com. Situs ini ngajarin saya untuk bisa memiliki gaya hidup yang gimana gitu ?. karena situs ini selain menampilkan kiat-kiat tentang kesehatan dan gaya hidup, juga mengajari saya tentang peran Soul Spirit dalam kehidupan. Gaya, gitu lhooo !!!

Kalo sekarang ditanya berapa web yang saya buat sejak awal tahun ini saja ? Saya kok jadi bingung jawabnya. Karena selain situs-situs informatif yang menjadi hobi saya, berebut lahir, juga puluhan situs-situs jualan juga menyusul lahir disela-sela kelahiran situs informasi tersebut.

Terus terang, saya pengennya terus tetap bisa begini, lahir, lahir, dan lahir. Kelahiran satu web atau situs bagi saya, adalah kelahiran kepribadian atau kharakter baru dalam hidup saya. Kuncinya sederhana aja, tetaplah berfikir seperti anak-anak, gitu khan nggak repot ya !!!

Bekasi, 30 Juli 2009.
















Baca selengkapnya……

14 July 2009

VISI ORGANISASI ADALAH VISI PEMIMPINNYA

Oleh. Purwalodra

Sekolah yang memiliki Visi pada hakekatnya adalah Visi Pimpinan itu sendiri. Karena hubungan visi suatu organisasi berbanding lurus dengan visi pemimpinnya. Tidak ada satu norganisasipun yang visinya tidak sama dengan visi pemimpinnya, minimal para pendiri institusi tersebut. Setiap pemimpin bekerja untuk mencapai visi organisasinya. Sangat tidak masuk akal kalau pemimpinnya memiliki visi yang berbeda dengan organisasi yang dipimpinnya itu.

Seandainya, ada seorang pemimpin organisasi menyatakan bahwa visinya tersebut adalah visi organisasi, maka pemimpin tersebut secara persuasive mengajak para anggota organisasi yang dipimpinnya untuk bersama-sama membantunya mencapai visi yang ia ungkapkan tersebut. Visi merupakan ciri khas peran kepemimpinan dan upaya untuk pembentukan visi sekolah sangat bergantung pada pemimpin sekolah yang bersangkutan. Dalam hal ini pemimpin sekolah dituntut untuk dapat mengidentifikasi, mengklarifikasi dan mengkomunikasikan nilai-nilai utama yang terkandung dalam visi sekolah kepada seluruh warga sekolah, agar dapat diyakini bersama dan diwujudkan dalam segala aktivitas keseharian di sekolah sehingga pada gilirannya dapat membentuk sebuah budaya sekolah.

Herannya, kalau iseng-iseng kita bertanya kepada warga suatu sekolah, apa sih visi sekolah bapak/ibu ?. Mereka malah kebingungan menjawab. Bahkan masih banyak sekolah yang justru tidak memiliki visi, atau bahkan visinya terlalu mendunia, seperti ‘Ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa’. Kalau sudah begini, boleh jadi mengindikasikan adanya kesulitan tersendiri dari sekolah (pemimpin dan warga sekolah sekolah yang bersangkutan) untuk merumuskan visi yang paling tepat bagi sekolahnya, baik kesulitan yang terkait tentang pengertian dasar dari visi itu sendiri maupun kesulitan dalam mengidentifikasi dan merefleksi nilai-nilai utama yang hendak dikembangkan di sekolah.

Dalam perspektif manajemen, visi sekolah memiliki arti penting terutama berkaitan dengan keberlanjutan (sustainability) organisasi sekolah itu sendiri, Tanpa visi, organisasi dan orang-orang di dalamnya tidak mempunyai arahan yang jelas, tidak mempunyai cara yang tepat dalam melangkah ke masa depan dan tidak memiliki komitmen (Foreman, 1998).

Saat ini tidak sedikit sekolah yang berjalan secara stagnan dan bahkan terpaksa harus gulung tikar, hal ini sangat mungkin dikarenakan tidak memiliki visi yang jelas alias asal-asalan atau setidaknya tidak berusaha fokus dan konsisten terhadap visi yang dicita-citakannya.

Visi bukanlah sekedar slogan berupa kata-kata tanpa makna bahkan bukan sekedar sebuah gambaran kongkrit yang diberikan oleh pimpinan sekolah, melainkan sebuah rumusan yang dapat memberikan klarifikasi dan artikulasi seperangkat nilai (Hopkins, 1996). Menurut Block (1987), visi adalah masa depan yang dipilih, sebuah keadaan yang diinginkan dan merupakan sebuah ekspresi optimisme dalam organisasi. Bennis and Nanus (1985) mengartikan visi sebagai pandangan masa depan yang realistis, kredibel, dan menarik, yang didalamnya tergambarkan cara-cara yang lebih baik dari cara yang sudah ada sebelumnya.

Memperhatikan pendapat para ahli di atas, tampak bahwa untuk menetapkan visi sekolah kiranya tidak bisa dilakukan secara sembarangan, tetapi terlebih dahulu diperlukan pengkajian yang mendalam. Perumusan visi yang tepat harus dapat memberikan inspirasi dan memotivasi bagi seluruh warga sekolah dan masyarakat untuk bekerja dengan penuh semangat dan antusias. Menurut Bloom dan Butler (1989) visi sangat identik dengan perbaikan sekolah.

Kendati demikian, dalam pembentukan visi sekolah tidak bisa dilakukan secara “top-down” yang bersifat memaksa warga sekolah untuk menerima gagasan dari pemimpinnya (kepala sekolah) yang hanya membuat orang atau anggota membencinya dan merasa enggan untuk berpartisipasi di dalamnya. Foreman (1998) mengingatkan bahwa visi tidak bisa dipaksakan dan dimandatkan dari atas. Pembuatan visi adalah tentang keterlibatan kepentingan dan aspirasi pihak lain.

Untuk lebih jelasnya terkait dengan upaya pembentukan visi ini, Beare et.al. (1993) menawarkan beberapa pedoman dalam pembentukan visi, yaitu:
  1. Visi seorang pemimpin sekolah mencakup gambaran tentang masa depan sekolah yang diinginkan.
  2. Visi akan membentuk pandangan pemimpin sekolah tentang apa yang menyebabkan keutamaan atau keunggulan sekolah.
  3. Visi seorang pemimpin sekolah juga mencakup gambaran masa depan sekolah yang diinginkan di mata sekolah lain dan masyarakat secara umum.
  4. Visi seorang pemimpin juga mencakup gambaran proses perubahan yang diinginkan berdasarkan masa depan terbaik yang hendak dicapai.
  5. Masing-masing aspek visi pendidikan dalam sekolah merefleksikan asumsi-asumsi, nilai-nilai, dan keyakinan-keyakinan yang berbeda-beda tentang (a) watak dan sifat manusia; (b) tujuan pendidikan dalam sekolah; (c) peran pemerintah, keluarga, masyarakat terhadap pendidikan dalam sekolah; (d) pendekatan-pendekatan dalam pengajaran dan pembelajaran; dan (e) pendekatan-pendekatan terhadap manajemen perubahan.
Dengan demikian, akan terbentuk visi pendidikan dalam sekolah yang kompetitif dan merefleksikan banyak hal yang mencakup perbedaan-perbedaan asumsi, nilai dan keyakinan.

Bekasi, 7 Juli 2009.



Baca selengkapnya……

SAYA DAN OUTSOURCHING

Oleh. Purwalodra

Lepas sudah impian saya untuk mengabdi di Yayasan yang mengelola sekolah-sekolah yang bernafaskan keagamaan. Karena sudah beberapa hari ini, saya tidak lagi bekerja pada yayasan tersebut, dan beralih ke satu perusahaan yang teman-teman bilang ‘outsourching’. Meskipun pekerjaan saya terbilang kasar alias bukan kantoran, sebenarnya ada rasa bangga ketika bekerja di yayasan yang bernafaskan keagamaan itu. Selain saya bisa bebas beribadah, status saya sebagai manusia bisa sedikit mendapat penghargaan. Namun, mungkin Tuhan berkehendak lain, sehingga hari ini, tanpa uang pesangon sepeserpun, dan meski sudah lima tahun lebih saya bekerja, saya sudah berada dalam situasi kerja yang penuh sumpah serapah dan caci maki para supervisor kebersihan.

Hanya tinggal menghitung hari saja, kapan saya mulai beranjak pergi meninggalkan pekerjaan ini atau tinggal menunggu secara resmi saja perusahaan outsourching ini memecat saya dengan tidak hormat. Harapan satu-satunya yang tersisa sekarang, adalah semoga istri dan anak-anak saya tidak merasa kecewa dengan apa yang telah terjadi pada bapaknya. Saya selalu berdoa agar anak-anak dan istri tabah menghadapi ujian keluarga yang tidak ringan ini.

Saya tidak tahu persisnya, kenapa yayasan menyewa perusahaan outsourching untuk mempekerjakan saya dan enam belas teman-teman saya, yang cuma bekerja sebagai buruh kebersihan gedung sekolah. Padahal kata Pengurus yayasan, biaya yang dikeluarkan lebih besar daripada ketika saya masih berada dibawah pengelolaan yayasan. Saya tidak pernah tahu logikanya.

Lima tahun lalu, ketika saya dan teman-teman melamar bekerja di yayasan ini, tujuannya adalah ibadah. Ikhlash, apapun yang diberikan yayasan kepada saya dan teman-teman. Tetapi sekarang, selain jam kerja meningkat menjadi 12 jam sehari tanpa lembur, saya dan teman-teman mendapat potongan honor ketika tidak masuk bekerja, meskipun dengan alasan sakit sekalipun. Saya tidak lagi mampu berfikir dan berbuat banyak, selain menerima apa adanya keputusan pengurus yayasan. Kata pengurus yayasan lagi, tindakan untuk mengoutsouchingkan tenaga buruh seperti saya ini biasa dilakukan oleh yayasan-yayasan lain yang muridnya terus menurun, sehingga pendapatan yayasan menjadi sedikit. Tapi mengapa juga yayasan berani membayar mahal untuk perusahaan outsourching itu ? sementara, katanya, penghasilan yayasan semakin mengecil.

Kata teman-teman saya yang bekerja melalui outsourching di pabrik, selain mereka bekerja seperti robot, mereka harus membayar 1,5 sampai 2 juta yang dibayar angsur setiap bulan, dari gajinya yang sebatas UMR kabupaten. Sementara mereka bekerja di pabrik itu hanya 6 bulan saja, selanjutnya dimulai dari awal kembali. Membayar uang pendaftaran dan mengangsur uang gaji sebulan untuk perusahaan outsourching, Nah, kalo umur sudah mentok maka perusahaan outsourching tidak bakal menerimanya kembali, kecuali ada uang tambahan untuk biaya kelancaran seleksi administrasi di perusahaan, katanya.

Ternyata, saya masih bisa bersyukur dibanding teman-teman saya yang bekerja di pabrik melalui perusahaan outsourching. Meski, di sekolah ini masih ada karyawan kebersihan yang dikelola oleh yayasan, saya dan keenambelas teman saya termasuk karyawan kontrak, yang diperpanjang setiap tahunnya. Dalam hati saya selalu berkata, apakah mereka tidak merasakan bahwa kelak teman-teman saya yang masih bekerja sebagai karyawan kebersihan di yayasan ini bakal bernasib sama dengan saya ?

Bekasi, 9 Juli 2009.


Baca selengkapnya……

‘PSB’ SISTEM ONLINE

Oleh Purwalodra

Perhelatan Ujian Nasional dan pemerimaan siswa baru berakhir sudah, setelah beberapa minggu libur dan menunggu detik-detik PSB Online di internet, yang pada hari terakhir PSB Online, nama anak pertama saya terpatri pada pilihan ke-3 di SMA negeri di Kotyamadya yang saya tinggali. Meskipun selama empat hari PSB Online berlangsung, perasaan cemas menyelimuti seluruh isi rumah, dan akhirnya kami sekeluarga, termasuk anak saya, merasa puas diurutan buncit.

Penerimaan Siswa Baru (PSB) system Online, yang pertama digelar di kota saya ini, cukup memberi suasana baru dan perilaku baru bagi masyarakatnya. Meskipun dihari pertama PSB Online dilaksanakan, ribuan orang tua murid hanya tumpah dibeberapa SMA negeri favorit saja. Dan pada hari kedua sampai dengan keempat, hanya beberapa ratus orang tua murid saja yang mendaftar, itupun tanpa strategi sekolah negeri mana yang kebanjiran Nilai UN tertinggi di sekolah negeri masing-masing. Mereka mungkin berfikir, pokoknya daftar, gitu aja kok repot.

Mungkin kalo ada yang menyurvey, di kota saya atau dikota-kota lainnya, pada saat PSB Onlione berlangsung, ada peningkatan pengguna internet yang cukup signifikan. Bahkan tetangga saya yang belum mengenal apa itu internet pun bergegas ke warnet untuk mengetahui posisi nama anaknya yang terdaftar di tiga pilihan sekolah negeri yang dibidiknya. Ada perasaan bangga, juga kecewa ketika di hari terakhir nama putra/putrinya masih terdaftar atau hilang dari daftar nama-nama siswa yang diterima di sekolah negeri tersebut.

Penyesalan orang tua murid yang tidak diterima disekolah negeri, terjadi karena pilihan sekolahnya banyak diisi oleh calon peserta didik yang memiliki nilai UN tinggi. Sebenarnya masih banyak calon siswa yang memiliki UN lumayan, yang bisa masuk ke sekolah negeri, jika diawal pendaftaran orang tua dan anak-anaknya mampu membidik sekolah-sekolah negeri yang sesuai dengan nilai UN yang dimilikinya. Maklum, sistem Online ini baru pertama-kali dilaksanakan di kota saya pada saat masyarakat masih ‘gaptek’ di dunia maya.

Mudah-mudahan ditahun kedua nanti PSB sistem Online ini sudah tersosialisasi ke masyarakat sampai dipelosok daerah, di kotyamadya yang saya diami. Justru yang menjadi prihatin, kata beberapa pejabat sekolah, sosialisasi sistem online, mekanisme pendaftaran dan penggunaan software & hardware baru dilakukan oleh Diknas setempat kepada para user (pengguna) di masing-masing sekolah negeri, baru dilakukan empat hari sebelum pelaksanaan pendaftaran berlangusung. Dan ‘user’ yang dilatih untuk system ini dibatasi hanya empat orang saja, boleh jadi ketidak tertiban pada saat pendaftaran PSB di salah satu sekolah negeri pada saat itu, karena terbatasnya tenaga untuk melayani orang tua murid, yang berebut formulir pendaftaran bahkan sampai ada yang terinjak-injak, persis seperti yang saya lihat di televisi pada saat pembagian BLT berlangsung.

Keterbatasan tenaga yang dilatih untuk melayani sistem Online di masing-masing sekolah, dan sosialisasi kepada masyarakat yang waktunya sangat terbatas, sudah selayaknya pihak Diknas setempat perlu memperhatikan calon siswa yang belum terdaftar di sekolah negeri, sementara yang bersangkutan mengantongi Nilai UN memadai, mereka-mereka ini perlu disalurkan ke sekolah-sekolah negeri yang masih bisa menampung siswa. Saya yakin masih banyak yang belum melakukan daftar ulang.

Alasan orang tua murid untuk tidak melakukan daftar ulang adalah; Pertama, siswa diterima di sekolah negeri yang jauh dari rumah tinggalnya, sementara banyak sekolah-sekolah swasta yang terakreditasi A dekat dengan rumah tinggal calon peserta didik. Kedua, karena calon peserta didik mendaftar di dua rayon berbeda, ketika kedua-duanya diterima dengan system Online, maka salah satu sekolah negeri yang menerimanya terpaksa harus ditinggalkan.

Meskipun PSB sistem online ini terbilang canggih dan bisa mengurangi kecemburuan sosial, paling tidak perlu diimbangi pula dengan kebijakan-kebijakan lainnya dari para pejabat setempat, untuk menempatkan siswa yang tersingkir dalam system online ini pada sekolah-sekolah negeri yang masih bisa menampungnya. Paling tidak, dunia pendidikan memiliki alasan yang luar biasa banyaknya, untuk bisa melegitimasi kebijakan tersebut, yang penting tujuannya khan mencerdaskan kehidupan bangsa. Lagi-lagi saya terbiasa mengatakan, begitu saja kok repot !!!

Bekasi, 13 Juli 2009.



Baca selengkapnya……

BERHEMAT UNTUK KEUNTUNGAN ?

Oleh. Purwalodra

Setiap perusahaan yang berorientasi profit maupun non profit, pasti mengenal apa yang disebut dengan ’efisiensi’. Kata ’efisiensi’ baru muncul ketika suatu perusahaan mengalami penurunan pendapatan atau mengalami penurunan keuntungan. Kata efisiensi belum tentu terdengar dan bergema keras, kalau saja perusahaan atau institusi usaha tersebut mampu memaksimalkan keuntungannya. Jadi kata efisiensi akan lahir ketika perusahaan atau institusi usaha mengalami ketidakmampuan meningkatkan produktivitasnya alias kinerjanya.

Sebagian besar perusahaan jika mengalami penurunan keuntungan, umumnya, langkah pertama yang dilakukan adalah menengencangkan ikat pinggang alias melakukan efisiensi di segala bidang. Langkah efisiensi adalah mengurangi pos-pos pengeluaran yang dianggap tidak penting atau tidak perlu bagi operasional perusahaan. Yang ada dalam pikiran pimpinan perusahaan hanya bagaimana mengurangi pengeluaran apapun bentuknya, kalau perlu biaya untuk karyawan pun dikurangi.

Dalam masa krisis, fikiran pengelola perusahaan, adalah menyeimbangkan penghasilan perusahaan dengan pengeluaran yang dibutuhkan. Fokusnya hanya disitu-situ saja. Pada akhirnya perusahaan menetapkan strategi bertahan sambil mengurangi pengeluaran, termasuk mengurangi sumber daya manusianya. Hanya sebagian kecil saja, pengelola perusahaan memahami bahwa untuk memaksimalkan keuntungan bukan dengan efisiensi alias berhemat. Mario Teguh, semalam bilang, perilaku berhemat adalah cermin seseorang yang tidak mampu memaksimalkan keuntungan atau orang yang selalu menerima apa adanya dari pendapatan yang pas-pasan itu. Ia tidak memiliki kemampuan untuk bisa keluar dari penghasilan yang pas-pasan itu. Semua tindakan yang bermuara kepada efisensi alias penghematan di segala bidang, pada akhirnya bangkrut ...krut ...krut ... krut.

Lalu, bagaimana seorang pengusaha mampu lepas dari kondisi krisi semacam ini, dimana penghasilan perusahaanya semakin menukik tajam ?. jawabannya adalah tetap fokus pada kualitas produk, pada kualitas pelayanan dan fokus pada stakeholders, termasuk para pelanggan dan pemasok. Jika perusahaan hanya bisa fokus pada penghasilannya yang berkurang itu, maka apa yang terjadi ?. Perusahaan akan semakin merosot penghasilannya dan kemudian bangkrut bin pailit gitu lhooo...

Apabila perusahaan diibaratkan manusia, maka manusia dalam kondisi apapun, termasuk hidup dalam krisis keuangan, hubungan maupun kepercayaan, ia harus tetap menjaga stamina ketawaqalannya kepada Yang Maha Memberi Pertolongan, yakni Allah Swt. Manusia diwajibkan untuk tetap ikhtiar, sabar dan senantiasa berfikir positip, dan dilarang keras untuk fokus kepada krisis itu terlalu lama, tetapi harus bisa sesegera mungkin beralih fokus kepada bagaimana keluar dari masalahnya itu.

Begitu pula perusahaan. Perusahaan dalam kondisi apapun harus tetap fokus pada kualitas produk, kualitas pelayanan dan kualitan hubungan, kalau mau selamat dalam masa-masa krisis yang dialami. Banyak contoh perusahaan-perusahaan besar (cuma ada di luar negeri) yang mampu keluar dari masa krisis tanpa istilah efisiensi dan tanpa merumahkan karyawannya. Bagaimana bisa begitu ?. Jawabannya, sekolah aja ke luar negeri biar bisa menyelesaikan krisis seperti itu !. Bercanda ... banyak kok buku-buku terjemahan yang bisa kita serap pengalamannya untuk bisa mengelola perusahaan di masa krisis dan bisa selamat menghadapi masa krisis tersebut tanpa korban jiwa. Semoga makin banyak aja para wirausaha kita yang cerdas, cerdik, pandai, dan memiliki kekuatan mental spiritual dalam mengelola perusahaannya.

Bekasi, 6 Juli 2009.


Baca selengkapnya……

APAPUN PEMBERIAN TUHAN, TERIMALAH DENGAN IKHLAS

Oleh. Purwalodra

Hampir lima bulan ini, Ibu saya menderita sindrome masa lalu yang cukup menyedihkan. Setiap jam, setiap hari, bahkan setiap saat, Ibu hanya bisa menagis dan menangis. Hanya lantaran ditinggal anak bontotnya beberapa saat saja, dia bilang sudah seharian nggak ketemu anak kesangannya itu. Meskipun anak bungsunya, saya sendiri, sedang berada di sampingnya memijat-mijat lengan dan pangkal lehernya yang selalu pegal dan linu-linu.

Penderitaan Ibu saya semakin bertambah parah, ketika ingatan masa lalunya tiba-tiba muncul. Tangisan yang menyayat pilu pun terus berkumandang, dan tak mudah dihentikan. Cucunya pun merasa terheran-heran sendiri melihat perilaku neneknya yang terus-terusan menangis. Mungkin dia pikir seperti dirinya saja, ketika merengek sesuatu yang tak kesampaian pada orang tuanya.

Berhari-hari sampai ketemu minggu, berminggu-minggu sampai ketemu bulan, kondisi fisik Ibu saya semakin melemah, maklum setiap makanan dan minuman apapun tidak bisa langsung masuk dalam perutnya. Hampir setiap tiga minggu, Ibu harus digotong ke rumah sakit, karena kekurangan cairan tubuh alias dehidrasi. Dua sampai tiga hari setelah makan cairan infusan di rumah sakit, Ibu kembali pulih dan bisa jalan. Namun, kurang dari sebulan Ibu kembali harus mondok di rumah sakit, lagi-lagi karena kekurangan cairan tubuh.

Ibu saya, selama dirumah sakit maupun ketika dirumah sendiri, yang terfikir adalah kisah-kisah sedih yang pernah dialami dalam hidupnya saja. Pengalaman keceriaan, kegembiraan dan kebahagiaan seakan ter-delete dari memorinya. Tubuh fisiknya, semakin hari semakin menyusut, mulai dari berat badan 80 kilogram, sekarang mungkin tinggal 40 kilogram. Om, pakde, bude, bulek dan paklik, menyarankan agar saya dan adik-adik selalu menemani Ibu, dan selalu diajak ngomong yang senang-senang saja. Jangan bicara tentang anak bontotnya yang baru di PHK, meski belum punya istri. Jangan bicara tentang Bapak yang levernya sudah stadium mentok itu, dan jangan ngomongin anak bungsunya yang lagi dikejar-kejar debt collector.

Semua saran sudah saya penuhi, semua nasehat sudah tepat saya jalani, namun tetap saja sebelum sebulan anak-anaknya harus membawa Ibu ke rumah sakit. Pernah suatu ketika, tepat jam 2 dinihari, Ibu dengan paksa membuka jarum infusan dari tangan kirinya. Lalu, ia menarik tangan saya untuk cepat-cepat lari dari rumah sakit. Ibu bilang bahwa seluruh isi rumah sakit ini sudah dipenuhi oleh orang-orang PKI, makanya saya diajak kabur oleh Ibu saya, yang fikirannya sedang diselimuti oelh masa-masa mudanya ketika aktif di organisasi pergerakan, empat puluh tahun yang lalu. Untuk menenangkan fikirannya, terpaksa para suster rumah sakit menyuntikkan cairan penenang tepat dibekas jarum infusan yang sudah dicabut Ibu barusan.

Bukan hanya itu, setiap pagi di rumah sakit, Ibu selalu menanyakan keberadaan dirinya ada dimana, mengapa ada di rumah sakit padahal ia tidak merasa pernah sakit, dan kalau sudah berkata demikian buru-buru Ibu melipat semua pakaian dan mengajak saya segera pulang ke rumah.

Tidak jarang ditengah malam, Ibu menanyakan kondisi Bapak, saya cuma bisa bilang
Bahwa Bapak sehat-sehat saja di rumah, bersama cucu-cucunya. Meskipun saya tahu Bapak hanya bisa berbaring ditempat tidur tanpa daya. Tapi saya berusaha agar Ibu tidak fokus ke kondisi Bapak di rumah. Namun naluri dan perasaan Ibu tidak bisa dibohongi, Ibu tidak pernah percaya dengan apa yang saya ucapkan tentang kondisi Bapak di rumah.

Situasi agak mulai berubah, ketika diawal bulan rajab 1430 hijriah ini, seorang kiyai dari Indramayu, mau mondok seminggu di rumah saya. Awal kedatangannya memang atas undangan saya sebulan lalu, untuk berkenan melihat kondisi kedua orang tua saya di Bekasi. Selama satu minggu penuh, setiap pagi Pak Kiyai memberi dua gelas air hujan, yang sudah dipersiapkan sore sebelumnya, lalu kedua orang tua saya meminumnya.

Sejak kedatangan Pak Kiyai itu, perut Bapak yang semula mengeras dan buncit, perlahan-lahan kempes. Demikian juga sikap Ibu yang selalu sedih dan menangis, sekarang memorinya penuh terisi peristiwa-peristiwa yang menyenangkan, menggembirakan dan penuh tawa. Bahkan setiap pagi Ibu minta diantar jalan-jalan keliling kampung dan bertemu tetangga-tetangga, berpelukan, menyapa dengan riangnya, sekan-akan sudah berpisah lama dengan teman-temannya.

Meskipun, setiap ba’da Maghrib saya masih memijat Bapak karena pegal-pegal di punggungnya, namun perubahan yang bisa terlihat, Bapak sudah bisa shalat berjama’ah di masjid terdekat. Dan yang lebih membuat haru saya adalah Bapak sudah menerima dengan ikhlas apa yang sekarang dideritanya.

Bekasi, 10 Juli 2009.


Baca selengkapnya……

Viviti