Setelah berpuasa sebulan penuh, tibalah hari ini saya merayakan kemenangan melawan diri saya sendiri. Diri saya yang selalu mengumbar nafsu tanpa mengendalikannya; diri saya yang memanjakan fisik tanpa mengontrolnya; diri saya yang selalu melanggar hukum sebab-akibat tanpa memikirkan konsekuensinya. Hari ini semua itu terkalahkan. Saya menganggapnya sebagai kemenangan terhadap diri saya sendiri.
Kemenangan atas diri saya sendiri ini, adalah pintu untuk memasuki suasana dan kondisi fitrah, baik dari sisi fisik maupun mental. Kemenangan ini adalah kemenangan keyakinan atas perasaan kekurangan, keterbatasan, ketakutan dan kekuatiran. Kondisi yang fitrah yang saya miliki adalah bekal saya meyatukan diri kepada yang tidak terbatas dan yang menguasai hdup kita secara fisik dan mental.
Hari ini, kemenangan itu melahirkan kemerdekaan, baik secara fisik maupun mental. Kemenangan yang telah mengukir prasasti di dalam energi murni kehidupan, dan berhasil membentuk sirkuit hidup, yang kelak akan menjadi pelita perjalanan saya sebelas bulan kemudian. Hari ini, hidup saya bukan lagi transaksi perdagangan, tidak ada untung-rugi. Semuanya saling memberi, saling melengkapi dan saling mengisi.
Hidup saya yang fitri ini, melambangkan pergantian kekuasaan yang ada dalam diri saya. Kekuasaan dalam menentukan apa-apa yang harus saya fikirkan dan apa-apa yang mestinya saya lakukan. Semua ini demi akibat-akibat yang saya kehendaki, bukannya akibat-akibat yang tidak saya kehendaki. Oleh karena itu, berkah dari kondisi yang fitri ini antara lain, saya akan menjadi penguasa terhadap fikiran saya, mental saya dan fisik saya.
Fikiran saya yang telah menjembatani antara keterbatasan dan ketidak-terbatasan, insya Allah telah semakin kuat untuk beban berat yang melintas diatasnya, karena latihan saya selama sebulan kemaren. Dengan fikiran yang sudah terlatih untuk hanya yang terbaik saja yang melintas di dalamnya, saya yakin benar bahwa fikiran yang menurut saya tidak baik akan terfilter dengan sendirinya.
Yang penting untuk saya renungkan, pada hari ini, apakah niat ibadah saya kemaren diperuntukan pada Dzat yang saya yakini keberadaannya ? atau hanya merasa malu saja kepada keluarga, teman, mertua atau siapa saja, kalau tidak berpuasa ?.
Purworedjo, 20 September 2009.
Kemenangan atas diri saya sendiri ini, adalah pintu untuk memasuki suasana dan kondisi fitrah, baik dari sisi fisik maupun mental. Kemenangan ini adalah kemenangan keyakinan atas perasaan kekurangan, keterbatasan, ketakutan dan kekuatiran. Kondisi yang fitrah yang saya miliki adalah bekal saya meyatukan diri kepada yang tidak terbatas dan yang menguasai hdup kita secara fisik dan mental.
Hari ini, kemenangan itu melahirkan kemerdekaan, baik secara fisik maupun mental. Kemenangan yang telah mengukir prasasti di dalam energi murni kehidupan, dan berhasil membentuk sirkuit hidup, yang kelak akan menjadi pelita perjalanan saya sebelas bulan kemudian. Hari ini, hidup saya bukan lagi transaksi perdagangan, tidak ada untung-rugi. Semuanya saling memberi, saling melengkapi dan saling mengisi.
Hidup saya yang fitri ini, melambangkan pergantian kekuasaan yang ada dalam diri saya. Kekuasaan dalam menentukan apa-apa yang harus saya fikirkan dan apa-apa yang mestinya saya lakukan. Semua ini demi akibat-akibat yang saya kehendaki, bukannya akibat-akibat yang tidak saya kehendaki. Oleh karena itu, berkah dari kondisi yang fitri ini antara lain, saya akan menjadi penguasa terhadap fikiran saya, mental saya dan fisik saya.
Fikiran saya yang telah menjembatani antara keterbatasan dan ketidak-terbatasan, insya Allah telah semakin kuat untuk beban berat yang melintas diatasnya, karena latihan saya selama sebulan kemaren. Dengan fikiran yang sudah terlatih untuk hanya yang terbaik saja yang melintas di dalamnya, saya yakin benar bahwa fikiran yang menurut saya tidak baik akan terfilter dengan sendirinya.
Yang penting untuk saya renungkan, pada hari ini, apakah niat ibadah saya kemaren diperuntukan pada Dzat yang saya yakini keberadaannya ? atau hanya merasa malu saja kepada keluarga, teman, mertua atau siapa saja, kalau tidak berpuasa ?.
Purworedjo, 20 September 2009.









0 komentar:
Post a Comment