Here is the ultimate resource for detailed purwalodra guides, and tips. Find about purwalodra that will match your need | Education | Life | Writing | Politics

Click

14 July 2009

SAYA DAN OUTSOURCHING

Oleh. Purwalodra

Lepas sudah impian saya untuk mengabdi di Yayasan yang mengelola sekolah-sekolah yang bernafaskan keagamaan. Karena sudah beberapa hari ini, saya tidak lagi bekerja pada yayasan tersebut, dan beralih ke satu perusahaan yang teman-teman bilang ‘outsourching’. Meskipun pekerjaan saya terbilang kasar alias bukan kantoran, sebenarnya ada rasa bangga ketika bekerja di yayasan yang bernafaskan keagamaan itu. Selain saya bisa bebas beribadah, status saya sebagai manusia bisa sedikit mendapat penghargaan. Namun, mungkin Tuhan berkehendak lain, sehingga hari ini, tanpa uang pesangon sepeserpun, dan meski sudah lima tahun lebih saya bekerja, saya sudah berada dalam situasi kerja yang penuh sumpah serapah dan caci maki para supervisor kebersihan.

Hanya tinggal menghitung hari saja, kapan saya mulai beranjak pergi meninggalkan pekerjaan ini atau tinggal menunggu secara resmi saja perusahaan outsourching ini memecat saya dengan tidak hormat. Harapan satu-satunya yang tersisa sekarang, adalah semoga istri dan anak-anak saya tidak merasa kecewa dengan apa yang telah terjadi pada bapaknya. Saya selalu berdoa agar anak-anak dan istri tabah menghadapi ujian keluarga yang tidak ringan ini.

Saya tidak tahu persisnya, kenapa yayasan menyewa perusahaan outsourching untuk mempekerjakan saya dan enam belas teman-teman saya, yang cuma bekerja sebagai buruh kebersihan gedung sekolah. Padahal kata Pengurus yayasan, biaya yang dikeluarkan lebih besar daripada ketika saya masih berada dibawah pengelolaan yayasan. Saya tidak pernah tahu logikanya.

Lima tahun lalu, ketika saya dan teman-teman melamar bekerja di yayasan ini, tujuannya adalah ibadah. Ikhlash, apapun yang diberikan yayasan kepada saya dan teman-teman. Tetapi sekarang, selain jam kerja meningkat menjadi 12 jam sehari tanpa lembur, saya dan teman-teman mendapat potongan honor ketika tidak masuk bekerja, meskipun dengan alasan sakit sekalipun. Saya tidak lagi mampu berfikir dan berbuat banyak, selain menerima apa adanya keputusan pengurus yayasan. Kata pengurus yayasan lagi, tindakan untuk mengoutsouchingkan tenaga buruh seperti saya ini biasa dilakukan oleh yayasan-yayasan lain yang muridnya terus menurun, sehingga pendapatan yayasan menjadi sedikit. Tapi mengapa juga yayasan berani membayar mahal untuk perusahaan outsourching itu ? sementara, katanya, penghasilan yayasan semakin mengecil.

Kata teman-teman saya yang bekerja melalui outsourching di pabrik, selain mereka bekerja seperti robot, mereka harus membayar 1,5 sampai 2 juta yang dibayar angsur setiap bulan, dari gajinya yang sebatas UMR kabupaten. Sementara mereka bekerja di pabrik itu hanya 6 bulan saja, selanjutnya dimulai dari awal kembali. Membayar uang pendaftaran dan mengangsur uang gaji sebulan untuk perusahaan outsourching, Nah, kalo umur sudah mentok maka perusahaan outsourching tidak bakal menerimanya kembali, kecuali ada uang tambahan untuk biaya kelancaran seleksi administrasi di perusahaan, katanya.

Ternyata, saya masih bisa bersyukur dibanding teman-teman saya yang bekerja di pabrik melalui perusahaan outsourching. Meski, di sekolah ini masih ada karyawan kebersihan yang dikelola oleh yayasan, saya dan keenambelas teman saya termasuk karyawan kontrak, yang diperpanjang setiap tahunnya. Dalam hati saya selalu berkata, apakah mereka tidak merasakan bahwa kelak teman-teman saya yang masih bekerja sebagai karyawan kebersihan di yayasan ini bakal bernasib sama dengan saya ?

Bekasi, 9 Juli 2009.


2 komentar:

Anonymous said...

bagus pak eko.. ini memang jeritan hati yang sebenarnya karyawan outsourcing!!
by: mantan karyawan unit..

Anonymous said...

bagus pak eko.. ini memang jeritan hati yang sebenarnya karyawan outsourcing!!
by: mantan karyawan unit..

Viviti