Here is the ultimate resource for detailed purwalodra guides, and tips. Find about purwalodra that will match your need | Education | Life | Writing | Politics

Click

14 July 2009

‘PSB’ SISTEM ONLINE

Oleh Purwalodra

Perhelatan Ujian Nasional dan pemerimaan siswa baru berakhir sudah, setelah beberapa minggu libur dan menunggu detik-detik PSB Online di internet, yang pada hari terakhir PSB Online, nama anak pertama saya terpatri pada pilihan ke-3 di SMA negeri di Kotyamadya yang saya tinggali. Meskipun selama empat hari PSB Online berlangsung, perasaan cemas menyelimuti seluruh isi rumah, dan akhirnya kami sekeluarga, termasuk anak saya, merasa puas diurutan buncit.

Penerimaan Siswa Baru (PSB) system Online, yang pertama digelar di kota saya ini, cukup memberi suasana baru dan perilaku baru bagi masyarakatnya. Meskipun dihari pertama PSB Online dilaksanakan, ribuan orang tua murid hanya tumpah dibeberapa SMA negeri favorit saja. Dan pada hari kedua sampai dengan keempat, hanya beberapa ratus orang tua murid saja yang mendaftar, itupun tanpa strategi sekolah negeri mana yang kebanjiran Nilai UN tertinggi di sekolah negeri masing-masing. Mereka mungkin berfikir, pokoknya daftar, gitu aja kok repot.

Mungkin kalo ada yang menyurvey, di kota saya atau dikota-kota lainnya, pada saat PSB Onlione berlangsung, ada peningkatan pengguna internet yang cukup signifikan. Bahkan tetangga saya yang belum mengenal apa itu internet pun bergegas ke warnet untuk mengetahui posisi nama anaknya yang terdaftar di tiga pilihan sekolah negeri yang dibidiknya. Ada perasaan bangga, juga kecewa ketika di hari terakhir nama putra/putrinya masih terdaftar atau hilang dari daftar nama-nama siswa yang diterima di sekolah negeri tersebut.

Penyesalan orang tua murid yang tidak diterima disekolah negeri, terjadi karena pilihan sekolahnya banyak diisi oleh calon peserta didik yang memiliki nilai UN tinggi. Sebenarnya masih banyak calon siswa yang memiliki UN lumayan, yang bisa masuk ke sekolah negeri, jika diawal pendaftaran orang tua dan anak-anaknya mampu membidik sekolah-sekolah negeri yang sesuai dengan nilai UN yang dimilikinya. Maklum, sistem Online ini baru pertama-kali dilaksanakan di kota saya pada saat masyarakat masih ‘gaptek’ di dunia maya.

Mudah-mudahan ditahun kedua nanti PSB sistem Online ini sudah tersosialisasi ke masyarakat sampai dipelosok daerah, di kotyamadya yang saya diami. Justru yang menjadi prihatin, kata beberapa pejabat sekolah, sosialisasi sistem online, mekanisme pendaftaran dan penggunaan software & hardware baru dilakukan oleh Diknas setempat kepada para user (pengguna) di masing-masing sekolah negeri, baru dilakukan empat hari sebelum pelaksanaan pendaftaran berlangusung. Dan ‘user’ yang dilatih untuk system ini dibatasi hanya empat orang saja, boleh jadi ketidak tertiban pada saat pendaftaran PSB di salah satu sekolah negeri pada saat itu, karena terbatasnya tenaga untuk melayani orang tua murid, yang berebut formulir pendaftaran bahkan sampai ada yang terinjak-injak, persis seperti yang saya lihat di televisi pada saat pembagian BLT berlangsung.

Keterbatasan tenaga yang dilatih untuk melayani sistem Online di masing-masing sekolah, dan sosialisasi kepada masyarakat yang waktunya sangat terbatas, sudah selayaknya pihak Diknas setempat perlu memperhatikan calon siswa yang belum terdaftar di sekolah negeri, sementara yang bersangkutan mengantongi Nilai UN memadai, mereka-mereka ini perlu disalurkan ke sekolah-sekolah negeri yang masih bisa menampung siswa. Saya yakin masih banyak yang belum melakukan daftar ulang.

Alasan orang tua murid untuk tidak melakukan daftar ulang adalah; Pertama, siswa diterima di sekolah negeri yang jauh dari rumah tinggalnya, sementara banyak sekolah-sekolah swasta yang terakreditasi A dekat dengan rumah tinggal calon peserta didik. Kedua, karena calon peserta didik mendaftar di dua rayon berbeda, ketika kedua-duanya diterima dengan system Online, maka salah satu sekolah negeri yang menerimanya terpaksa harus ditinggalkan.

Meskipun PSB sistem online ini terbilang canggih dan bisa mengurangi kecemburuan sosial, paling tidak perlu diimbangi pula dengan kebijakan-kebijakan lainnya dari para pejabat setempat, untuk menempatkan siswa yang tersingkir dalam system online ini pada sekolah-sekolah negeri yang masih bisa menampungnya. Paling tidak, dunia pendidikan memiliki alasan yang luar biasa banyaknya, untuk bisa melegitimasi kebijakan tersebut, yang penting tujuannya khan mencerdaskan kehidupan bangsa. Lagi-lagi saya terbiasa mengatakan, begitu saja kok repot !!!

Bekasi, 13 Juli 2009.



0 komentar:

Viviti