Oleh. Purwalodra
Hampir lima bulan ini, Ibu saya menderita sindrome masa lalu yang cukup menyedihkan. Setiap jam, setiap hari, bahkan setiap saat, Ibu hanya bisa menagis dan menangis. Hanya lantaran ditinggal anak bontotnya beberapa saat saja, dia bilang sudah seharian nggak ketemu anak kesangannya itu. Meskipun anak bungsunya, saya sendiri, sedang berada di sampingnya memijat-mijat lengan dan pangkal lehernya yang selalu pegal dan linu-linu.
Penderitaan Ibu saya semakin bertambah parah, ketika ingatan masa lalunya tiba-tiba muncul. Tangisan yang menyayat pilu pun terus berkumandang, dan tak mudah dihentikan. Cucunya pun merasa terheran-heran sendiri melihat perilaku neneknya yang terus-terusan menangis. Mungkin dia pikir seperti dirinya saja, ketika merengek sesuatu yang tak kesampaian pada orang tuanya.
Berhari-hari sampai ketemu minggu, berminggu-minggu sampai ketemu bulan, kondisi fisik Ibu saya semakin melemah, maklum setiap makanan dan minuman apapun tidak bisa langsung masuk dalam perutnya. Hampir setiap tiga minggu, Ibu harus digotong ke rumah sakit, karena kekurangan cairan tubuh alias dehidrasi. Dua sampai tiga hari setelah makan cairan infusan di rumah sakit, Ibu kembali pulih dan bisa jalan. Namun, kurang dari sebulan Ibu kembali harus mondok di rumah sakit, lagi-lagi karena kekurangan cairan tubuh.
Ibu saya, selama dirumah sakit maupun ketika dirumah sendiri, yang terfikir adalah kisah-kisah sedih yang pernah dialami dalam hidupnya saja. Pengalaman keceriaan, kegembiraan dan kebahagiaan seakan ter-delete dari memorinya. Tubuh fisiknya, semakin hari semakin menyusut, mulai dari berat badan 80 kilogram, sekarang mungkin tinggal 40 kilogram. Om, pakde, bude, bulek dan paklik, menyarankan agar saya dan adik-adik selalu menemani Ibu, dan selalu diajak ngomong yang senang-senang saja. Jangan bicara tentang anak bontotnya yang baru di PHK, meski belum punya istri. Jangan bicara tentang Bapak yang levernya sudah stadium mentok itu, dan jangan ngomongin anak bungsunya yang lagi dikejar-kejar debt collector.
Semua saran sudah saya penuhi, semua nasehat sudah tepat saya jalani, namun tetap saja sebelum sebulan anak-anaknya harus membawa Ibu ke rumah sakit. Pernah suatu ketika, tepat jam 2 dinihari, Ibu dengan paksa membuka jarum infusan dari tangan kirinya. Lalu, ia menarik tangan saya untuk cepat-cepat lari dari rumah sakit. Ibu bilang bahwa seluruh isi rumah sakit ini sudah dipenuhi oleh orang-orang PKI, makanya saya diajak kabur oleh Ibu saya, yang fikirannya sedang diselimuti oelh masa-masa mudanya ketika aktif di organisasi pergerakan, empat puluh tahun yang lalu. Untuk menenangkan fikirannya, terpaksa para suster rumah sakit menyuntikkan cairan penenang tepat dibekas jarum infusan yang sudah dicabut Ibu barusan.
Bukan hanya itu, setiap pagi di rumah sakit, Ibu selalu menanyakan keberadaan dirinya ada dimana, mengapa ada di rumah sakit padahal ia tidak merasa pernah sakit, dan kalau sudah berkata demikian buru-buru Ibu melipat semua pakaian dan mengajak saya segera pulang ke rumah.
Tidak jarang ditengah malam, Ibu menanyakan kondisi Bapak, saya cuma bisa bilang
Bahwa Bapak sehat-sehat saja di rumah, bersama cucu-cucunya. Meskipun saya tahu Bapak hanya bisa berbaring ditempat tidur tanpa daya. Tapi saya berusaha agar Ibu tidak fokus ke kondisi Bapak di rumah. Namun naluri dan perasaan Ibu tidak bisa dibohongi, Ibu tidak pernah percaya dengan apa yang saya ucapkan tentang kondisi Bapak di rumah.
Situasi agak mulai berubah, ketika diawal bulan rajab 1430 hijriah ini, seorang kiyai dari Indramayu, mau mondok seminggu di rumah saya. Awal kedatangannya memang atas undangan saya sebulan lalu, untuk berkenan melihat kondisi kedua orang tua saya di Bekasi. Selama satu minggu penuh, setiap pagi Pak Kiyai memberi dua gelas air hujan, yang sudah dipersiapkan sore sebelumnya, lalu kedua orang tua saya meminumnya.
Sejak kedatangan Pak Kiyai itu, perut Bapak yang semula mengeras dan buncit, perlahan-lahan kempes. Demikian juga sikap Ibu yang selalu sedih dan menangis, sekarang memorinya penuh terisi peristiwa-peristiwa yang menyenangkan, menggembirakan dan penuh tawa. Bahkan setiap pagi Ibu minta diantar jalan-jalan keliling kampung dan bertemu tetangga-tetangga, berpelukan, menyapa dengan riangnya, sekan-akan sudah berpisah lama dengan teman-temannya.
Meskipun, setiap ba’da Maghrib saya masih memijat Bapak karena pegal-pegal di punggungnya, namun perubahan yang bisa terlihat, Bapak sudah bisa shalat berjama’ah di masjid terdekat. Dan yang lebih membuat haru saya adalah Bapak sudah menerima dengan ikhlas apa yang sekarang dideritanya.
Bekasi, 10 Juli 2009.
Penderitaan Ibu saya semakin bertambah parah, ketika ingatan masa lalunya tiba-tiba muncul. Tangisan yang menyayat pilu pun terus berkumandang, dan tak mudah dihentikan. Cucunya pun merasa terheran-heran sendiri melihat perilaku neneknya yang terus-terusan menangis. Mungkin dia pikir seperti dirinya saja, ketika merengek sesuatu yang tak kesampaian pada orang tuanya.
Berhari-hari sampai ketemu minggu, berminggu-minggu sampai ketemu bulan, kondisi fisik Ibu saya semakin melemah, maklum setiap makanan dan minuman apapun tidak bisa langsung masuk dalam perutnya. Hampir setiap tiga minggu, Ibu harus digotong ke rumah sakit, karena kekurangan cairan tubuh alias dehidrasi. Dua sampai tiga hari setelah makan cairan infusan di rumah sakit, Ibu kembali pulih dan bisa jalan. Namun, kurang dari sebulan Ibu kembali harus mondok di rumah sakit, lagi-lagi karena kekurangan cairan tubuh.
Ibu saya, selama dirumah sakit maupun ketika dirumah sendiri, yang terfikir adalah kisah-kisah sedih yang pernah dialami dalam hidupnya saja. Pengalaman keceriaan, kegembiraan dan kebahagiaan seakan ter-delete dari memorinya. Tubuh fisiknya, semakin hari semakin menyusut, mulai dari berat badan 80 kilogram, sekarang mungkin tinggal 40 kilogram. Om, pakde, bude, bulek dan paklik, menyarankan agar saya dan adik-adik selalu menemani Ibu, dan selalu diajak ngomong yang senang-senang saja. Jangan bicara tentang anak bontotnya yang baru di PHK, meski belum punya istri. Jangan bicara tentang Bapak yang levernya sudah stadium mentok itu, dan jangan ngomongin anak bungsunya yang lagi dikejar-kejar debt collector.
Semua saran sudah saya penuhi, semua nasehat sudah tepat saya jalani, namun tetap saja sebelum sebulan anak-anaknya harus membawa Ibu ke rumah sakit. Pernah suatu ketika, tepat jam 2 dinihari, Ibu dengan paksa membuka jarum infusan dari tangan kirinya. Lalu, ia menarik tangan saya untuk cepat-cepat lari dari rumah sakit. Ibu bilang bahwa seluruh isi rumah sakit ini sudah dipenuhi oleh orang-orang PKI, makanya saya diajak kabur oleh Ibu saya, yang fikirannya sedang diselimuti oelh masa-masa mudanya ketika aktif di organisasi pergerakan, empat puluh tahun yang lalu. Untuk menenangkan fikirannya, terpaksa para suster rumah sakit menyuntikkan cairan penenang tepat dibekas jarum infusan yang sudah dicabut Ibu barusan.
Bukan hanya itu, setiap pagi di rumah sakit, Ibu selalu menanyakan keberadaan dirinya ada dimana, mengapa ada di rumah sakit padahal ia tidak merasa pernah sakit, dan kalau sudah berkata demikian buru-buru Ibu melipat semua pakaian dan mengajak saya segera pulang ke rumah.
Tidak jarang ditengah malam, Ibu menanyakan kondisi Bapak, saya cuma bisa bilang
Bahwa Bapak sehat-sehat saja di rumah, bersama cucu-cucunya. Meskipun saya tahu Bapak hanya bisa berbaring ditempat tidur tanpa daya. Tapi saya berusaha agar Ibu tidak fokus ke kondisi Bapak di rumah. Namun naluri dan perasaan Ibu tidak bisa dibohongi, Ibu tidak pernah percaya dengan apa yang saya ucapkan tentang kondisi Bapak di rumah.
Situasi agak mulai berubah, ketika diawal bulan rajab 1430 hijriah ini, seorang kiyai dari Indramayu, mau mondok seminggu di rumah saya. Awal kedatangannya memang atas undangan saya sebulan lalu, untuk berkenan melihat kondisi kedua orang tua saya di Bekasi. Selama satu minggu penuh, setiap pagi Pak Kiyai memberi dua gelas air hujan, yang sudah dipersiapkan sore sebelumnya, lalu kedua orang tua saya meminumnya.
Sejak kedatangan Pak Kiyai itu, perut Bapak yang semula mengeras dan buncit, perlahan-lahan kempes. Demikian juga sikap Ibu yang selalu sedih dan menangis, sekarang memorinya penuh terisi peristiwa-peristiwa yang menyenangkan, menggembirakan dan penuh tawa. Bahkan setiap pagi Ibu minta diantar jalan-jalan keliling kampung dan bertemu tetangga-tetangga, berpelukan, menyapa dengan riangnya, sekan-akan sudah berpisah lama dengan teman-temannya.
Meskipun, setiap ba’da Maghrib saya masih memijat Bapak karena pegal-pegal di punggungnya, namun perubahan yang bisa terlihat, Bapak sudah bisa shalat berjama’ah di masjid terdekat. Dan yang lebih membuat haru saya adalah Bapak sudah menerima dengan ikhlas apa yang sekarang dideritanya.
Bekasi, 10 Juli 2009.








0 komentar:
Post a Comment