Sebagian besar kita, pernah kenal, bahkan akrab banget’s dengan yang mana daripada hantu keterbatasan. Gimana ngak kenal, atau gimana nggak akrab, jika si hantu ini sering banget main ke rumah pikiran dan ke rumah hati kita. Tidak jarang, dia menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari, bahkan mampu mengendalikan persepsi dan perpektif kita tentang hidup yang sedang kita jalani ini. Mari kita sama-sama bahas hantu keterbatasan itu, berkaitan dengan upaya untuk menjadi penulis beneran.
Pernah suatu ketika, saya bertanya kepada teman yang baru saja lulus dari S1 Ekonomi, kenapa nggak coba menggiatkan menulis. Dia jawab, waktu saya terbatas, pulang kerja sudah malam, mandi, nonton TV, trus tidur. Kenapa nggak nulis pada hari sabtu atau minggu, aja. Dia jawab lagi, hari sabtu saya ngeles anak-anak tetangga yang kurang mampu berhitung, trus minggunya ada aja acara keluarga. Kasihan dech looo ?. Teman saya ini bener-bener kehabisan waktu. Kehabisan waktu atau nggak mau nambah kegiatan baru, tau ah gelap !
Kalau saja kita mau belajar memahami, meskipun dengan banyak keterbatasan yang kita miliki, bahwa keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki, bukan untuk membatasi kita untuk menginginkan sesuatu. Makanya Allah mengatakan bahwa perbuatan manusia tergantung bukan pada keterbatasannya, tapi pada niatnya. Oleh karena itu, apapun, kapanpun dan dimanapun, usaha manusia tidak pernah bisa dibatasi oleh keterbatasannya. Tokh, kita sering membaca, baik secara tersirat maupun tersurat, bahwa orang yang bodoh bisa kaya raya dan jadi pejabat, sementara orang pintar malah miskin nggak punya kerjaan. Orang yang nggak punya asset bisa sekolah sampai S3, sementara orang yang berlimpah harta, lulus SMA aja pake ujian persamaan. Trus, orang yang nggak lulus S1 lancar banget menulis, tapi seorang dosen yang lulus S3, ngak bisa-bisa memulai kegiatan menulis. Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang membuktikan bahwa keterbatasan di alam semesta ini, tidak berfungsi untuk membatasi hidup kita.
Sepertinya, keterbatasan yang ada pada diri kita, selain bukan untuk membatasi hidup kita, juga bukan untuk dijadikan alasan untuk tidak berniat memiliki, mendapatkan dan menguasai ini-itu. Bagi kita, keterbatasan harus diakui sebagai kenyataan untuk melahirkan kreativitas, melahirkan kesenangan, melahirkan kegembiraan, melahirkan yang lain-lainnya, yang kita inginkan. Karena setiap kelahiran dan kematian ada rasa sakit disitu. Tetapi, jangan dikira rasa sakit itu adalah penderitaan. Orang yang bisa merubah rasa sakit menjadi kenikmatan, adalah orang yang arif dan bijaksana, alias orang yang berjiwa besar. Saya batasi tulisan ini untuk tidak membahas tentang orang arif bijaksana ini, bisa panjang ceritanya. Njlentreh kemana-mana.
Oke saya lanjutkan, kalau saja kita menginginkan menjadi penulis beneran, jadikan keterbatasan pengetahuan dengan terus belajar menulis. Jika pengen jadi usahawan/wati, jadikan keterbatasan modal, untuk terus meningkatkan semangat dalam mencari partner-partner bisnis yang memiliki modal. Kalau pengen punya penghasilan besar, jadikan keterbatasan sebagai dorongan untuk mencari tambahan penghasilan. Sok tahu ya ? EGP aja, gitu lhooo.
Ketika kita sudah sedikit paham tentang makna dan hakekat keterbatasan ini, coba kita hubungkan keterbatasan kita dengan hukum sebab-akibat, yang sudah ada sejak alam semesta ini diciptakan. Hukum sebab-akibat ini menjadi sunatullah, yang tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh semua penghuninya. Persis ustadz !. Misalnya, keterbatasan kita dalam menulis, ikhtiar yang kita lakukan adalah sebabkan tiadanya belenggu menulis, hal ini diupayakan agar kita memiliki akibat untuk terwujudnya kebiasaan menulis. Belenggu kreativitas menulis yang kita pahami sementara ini adalah selalu memikirkan apa yang akan ditulis. Coba mulai dari sekarang menuliskan apa yang ada di pikiran. Perhatikan, apa yang terjadi !
Seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa keterbatasan yang ada pada diri kita, selain bukan untuk membatasi hidup kita, juga bukan untuk dijadikan alasan tidak bisa memiliki, mendapatkan dan menguasai ini-itu. Sementara, kita memahami niat sebagai ucapan lisan saja, saya ber-niat menjadi penulis, gitu aja. Niat buat saya adalah kesungguhan hati untuk melakukan sesuatu dalam rangka mencapai apa yang saya inginkan. Ah .. teori !
Teori atau praktek, sama saja, sama-sama mensegerakan tindakan. Niat yang sungguh-sungguh, akan melahirkan tindakan sesegera mungkin, seketika. Dalam hal teori, niat bisa mensegerakan tindakan untuk mengerti, lalu memahami apa yang dibicarakan dalam teori itu dengan pikiran. Sementara dalam praktek, niat mampu mensegerakan tindakan untuk melakukan apa yang diinginkan, secara fisik.
Akhirnya, ketika kita mengetahui keterbatasan bukanlah hantu yang menakut-nakuti kita, maka kita berani bilang, SIAPA TAKUT !. Tokh, keterbatasan adalah asset yang bisa kita ubah menjadi berbagai kemungkinan, untuk memberikan kenikmatan, kegembiraan, dan kebahagiaan hidup. Pesannya hanya, sebabkan tiadanya keterbatasan menulis. Gitu aja kok repot !
Bagaimana, kalau begitu !
Bekasi, 14 Maret 2009.
Pernah suatu ketika, saya bertanya kepada teman yang baru saja lulus dari S1 Ekonomi, kenapa nggak coba menggiatkan menulis. Dia jawab, waktu saya terbatas, pulang kerja sudah malam, mandi, nonton TV, trus tidur. Kenapa nggak nulis pada hari sabtu atau minggu, aja. Dia jawab lagi, hari sabtu saya ngeles anak-anak tetangga yang kurang mampu berhitung, trus minggunya ada aja acara keluarga. Kasihan dech looo ?. Teman saya ini bener-bener kehabisan waktu. Kehabisan waktu atau nggak mau nambah kegiatan baru, tau ah gelap !
Kalau saja kita mau belajar memahami, meskipun dengan banyak keterbatasan yang kita miliki, bahwa keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki, bukan untuk membatasi kita untuk menginginkan sesuatu. Makanya Allah mengatakan bahwa perbuatan manusia tergantung bukan pada keterbatasannya, tapi pada niatnya. Oleh karena itu, apapun, kapanpun dan dimanapun, usaha manusia tidak pernah bisa dibatasi oleh keterbatasannya. Tokh, kita sering membaca, baik secara tersirat maupun tersurat, bahwa orang yang bodoh bisa kaya raya dan jadi pejabat, sementara orang pintar malah miskin nggak punya kerjaan. Orang yang nggak punya asset bisa sekolah sampai S3, sementara orang yang berlimpah harta, lulus SMA aja pake ujian persamaan. Trus, orang yang nggak lulus S1 lancar banget menulis, tapi seorang dosen yang lulus S3, ngak bisa-bisa memulai kegiatan menulis. Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang membuktikan bahwa keterbatasan di alam semesta ini, tidak berfungsi untuk membatasi hidup kita.
Sepertinya, keterbatasan yang ada pada diri kita, selain bukan untuk membatasi hidup kita, juga bukan untuk dijadikan alasan untuk tidak berniat memiliki, mendapatkan dan menguasai ini-itu. Bagi kita, keterbatasan harus diakui sebagai kenyataan untuk melahirkan kreativitas, melahirkan kesenangan, melahirkan kegembiraan, melahirkan yang lain-lainnya, yang kita inginkan. Karena setiap kelahiran dan kematian ada rasa sakit disitu. Tetapi, jangan dikira rasa sakit itu adalah penderitaan. Orang yang bisa merubah rasa sakit menjadi kenikmatan, adalah orang yang arif dan bijaksana, alias orang yang berjiwa besar. Saya batasi tulisan ini untuk tidak membahas tentang orang arif bijaksana ini, bisa panjang ceritanya. Njlentreh kemana-mana.
Oke saya lanjutkan, kalau saja kita menginginkan menjadi penulis beneran, jadikan keterbatasan pengetahuan dengan terus belajar menulis. Jika pengen jadi usahawan/wati, jadikan keterbatasan modal, untuk terus meningkatkan semangat dalam mencari partner-partner bisnis yang memiliki modal. Kalau pengen punya penghasilan besar, jadikan keterbatasan sebagai dorongan untuk mencari tambahan penghasilan. Sok tahu ya ? EGP aja, gitu lhooo.
Ketika kita sudah sedikit paham tentang makna dan hakekat keterbatasan ini, coba kita hubungkan keterbatasan kita dengan hukum sebab-akibat, yang sudah ada sejak alam semesta ini diciptakan. Hukum sebab-akibat ini menjadi sunatullah, yang tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh semua penghuninya. Persis ustadz !. Misalnya, keterbatasan kita dalam menulis, ikhtiar yang kita lakukan adalah sebabkan tiadanya belenggu menulis, hal ini diupayakan agar kita memiliki akibat untuk terwujudnya kebiasaan menulis. Belenggu kreativitas menulis yang kita pahami sementara ini adalah selalu memikirkan apa yang akan ditulis. Coba mulai dari sekarang menuliskan apa yang ada di pikiran. Perhatikan, apa yang terjadi !
Seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa keterbatasan yang ada pada diri kita, selain bukan untuk membatasi hidup kita, juga bukan untuk dijadikan alasan tidak bisa memiliki, mendapatkan dan menguasai ini-itu. Sementara, kita memahami niat sebagai ucapan lisan saja, saya ber-niat menjadi penulis, gitu aja. Niat buat saya adalah kesungguhan hati untuk melakukan sesuatu dalam rangka mencapai apa yang saya inginkan. Ah .. teori !
Teori atau praktek, sama saja, sama-sama mensegerakan tindakan. Niat yang sungguh-sungguh, akan melahirkan tindakan sesegera mungkin, seketika. Dalam hal teori, niat bisa mensegerakan tindakan untuk mengerti, lalu memahami apa yang dibicarakan dalam teori itu dengan pikiran. Sementara dalam praktek, niat mampu mensegerakan tindakan untuk melakukan apa yang diinginkan, secara fisik.
Akhirnya, ketika kita mengetahui keterbatasan bukanlah hantu yang menakut-nakuti kita, maka kita berani bilang, SIAPA TAKUT !. Tokh, keterbatasan adalah asset yang bisa kita ubah menjadi berbagai kemungkinan, untuk memberikan kenikmatan, kegembiraan, dan kebahagiaan hidup. Pesannya hanya, sebabkan tiadanya keterbatasan menulis. Gitu aja kok repot !
Bagaimana, kalau begitu !
Bekasi, 14 Maret 2009.








0 komentar:
Post a Comment