Here is the ultimate resource for detailed purwalodra guides, and tips. Find about purwalodra that will match your need | Education | Life | Writing | Politics

Click

16 April 2009

PERTENGKARAN

Oleh. Purwalodra

Dulu, ketika saya masih memiliki banyak waktu untuk aktif di banyak organisasi, tersedia waktu untuk sekedar ngobrol semalam suntuk, tersedia waktu hanya untuk minum segelas kopi, yang baru habis sehari penuh, banyak waktu yang bisa saya lakukan untuk bertemu face to face. Tetapi sekarang, seiring dengan perkembangan pekerjaan yang harus di selesaikan, dan tuntutan hobi yang selalu ingin dipenuhi, waktu menjadi mahal harganya. Orang-orang kapitalis mengatakan waktu adalah uang, kok rasanya waktu yang saya jalani tidak sekedar bernilai uang saja ya ?. Waktu buat saya adalah kedamaian.

Dulu, ketika saya masih memiliki banyak waktu untuk aktif di banyak organisasi, tersedia waktu untuk sekedar ngobrol semalam suntuk, tersedia waktu hanya untuk minum segelas kopi, yang baru habis sehari penuh, banyak waktu yang bisa saya lakukan untuk bertemu face to face. Tetapi sekarang, seiring dengan perkembangan pekerjaan yang harus di selesaikan, dan tuntutan hobi yang selalu ingin dipenuhi, waktu menjadi mahal harganya. Orang-orang kapitalis mengatakan waktu adalah uang, kok rasanya waktu yang saya jalani tidak sekedar bernilai uang saja ya ?. Waktu buat saya adalah kedamaian.

Banyak teman-teman, mencibir sinis dengan pernyataan saya tadi. Emangnya kenyang makan kedamaian ?. Emangnya uang bisa dicari dengan kedamaian ?. Saya cuma bisa jawab, emangnya gue pikirin !. Sebenarnya, saya paling anti mengatakan bahwa kedamaian akan menghasilkan uang, atau kedamaian akan bikin saya ken-yang. Istri saya aja belum tentu percaya.

Dalam situasi yang chaos seperti sekarang ini, nggak ada yang bisa saya lakukan, selain damai aja gituuu ?. Damai dengan siapa ?, Ya, damai dengan diri saya sendiri. Memangnya selama ini kita bertengkar dengan diri kita ?. Tegas bangets jawaban saya, ya iyalah masa ya, iya dong.

Buktinya apa kita bertengakar terus dengan diri kita ?. Ya, gampang aja jawabnya, pernah nggak kita mengeluh ?. Pernah nggak kita marah-marah ?. Pernah tidak kita menilai orang lain atau menghakimi, salah-benar dan baik-buruk kepada diri kita sendiri maupun orang lain ?. Pernah nggak kita merasa takut, kuatir dan cemas ? dan lain-lain. Kalau sudah pernah semua, maka berarti kita sedang bertengkar den-gan diri kita sendiri. Gimana logikanya agar bisa masuk akal, tak iye !

Sebelum menjawab, saya meluruskan dulu istilah masuk akal atau orang bilang, logis. Perlu kita pahami sama-sama, bahwa yang namanya hidup, sebenarnya nggak masuk akal lhoo. Hidup yang diberikan Allah Swt, kepada kita semua, sebenarnya nggak pernah ada yang masuk akal. Contoh secara fisik aja, kenapa dalam satu sel otot manusia ada yang disebut DNA (Dioksiribo nuclead acid) atau bisa juga disebut GEN. Dalam satu sel aja ada milyaran DNA, dan setiap selnya memiliki DNA yang berbeda-beda. Setiap tubuh manusia terdiri dari milyaran sel, jadi berapa tuh jumlah DNA nya ? Itu baru DNA dan sel. Belum lagi system yang sedang hidup dalam tubuh fisik kita. Ada sistem pernafasan, ada sistem peredaran darah, ada system pencer-naan, ada sistem saraf, dan jutaan sistem lainnya. Apa itu semua masuk akal ? Nggak pernah akal kita bisa sampai ke sana, nggak pernah kita bisa paham maksud semua ini. Yang kita pahami, hanyalah Maha Besar Allah, dengan segala ciptaannya. Oleh karena itu, saya menjadikan hidup saya, selama ini, sebagai misteri yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Kembali kepada persoalan pertengkaran yang setiap saat berkecamuk dalam diri kita. Kenapa saya bisa marah ?, karena apa yang saya fikirkan atau inginkan tidak sesuai dengan apa yang saya peroleh. Kenapa saya nerasakan takut, kuatir dan ce-mas ? karena apa yang saya pikirkan atau inginkan lebih besar dari potensi (ke-mampuan) yang kita miliki. Kenapa saya menilai seseorang ?, karena kita memikirkan apa yang benar saja menurut diri saya sendiri. Kenapa pula kita menghakimi orang lain ?, karena kita merasa paling benar sendiri di dunia ini. Orang-orang seperti ini adalah orang yang sedang bertengkar dengan pikirannya sendiri. Pertengkaran antara kehendak Jiwa/hati nurani dengan pikiran saya sendiri.

Kharakter pikiran tidak mau terkalahkan, sementara kharakter jiwa/hati nurani selalu ingin mengalah. Sikap pikiran, bagaimana nanti aja !. Sementara sikap jiwa, nanti bagaimana ?. Kalau pikiran sudah menjadi pengendali hidup kita, maka jiwa/hati nurani lebih banyak mengalah. Daripada benjol ! Nah, kalo dah kena ba-tunya, alias pikiran mentog gara-gara masalah yang dia bikin sendiri, pikiran kabur entah kemana. Lantas, si jiwa/hati nurani, dibiarkan sendiri membersihkan puing-puing masalah yang dibikin si pikiran tadi. Kita bisa lihat, orang-orang yang sudah ditinggalin ama pikirannya, mereka biasanya berserah diri aja. Pasrah bongkokan. Tapi, jangan heran, ketika masalahnya dah selesai, pikiran datang lagi, sikap berserah diri lantas dikubur habis oleh ego yang bersekutu dengan pikiran.

Nah, gitu aja dulu ya ? Besok disambung lagi.

Bekasi, 12 Maret 2009.



0 komentar:

Viviti