Oleh. Purwalodra
Dulu, ketika masih seumuran mahasiswa (S1), saya mempunyai gelora semangat yang tidak pernah saya miliki sebelumnya. Apapun yang saya impikan mengalir be-gitu saja dan mewujudkan realitas yang tidak pernah bisa dibendung. Mimpi-mimpi besar bermunculan bereiringan dengan situasi dan kondisi yang sangat menekan, namun semangat untuk konsisten dengan impian-impian tersebut maka kondisi apapun yang melemahkan mimpi-mimpi saya, menyingkir begitu saya melintasinya. Dan mimpi-mimpi saya itupun kemudian mewujudkan diri sebagai realitas secara fisik.
Namun, seiring dengan bergulirnya waktu, pengetahuan dan usia, maka keteguhan memegang gagasan dan mimpi-mimpi hanya dianggap kosong belaka. Tamparan kehidupan dan hempasan gelombang persoalan rumah tangga serta pekerjaan, me-nepiskan saya ke lembah kekuatiran dan ketakutan untuk mempercayai sesuatu yang tidak mempunyai nilai-nilai kepastian. Sehingga setiap langkah, setiap tindakan dan setiap perbuatan mesti harus terukur secara cermat dan akurat, apapun yang tidak diketahui oleh panca indra sebagai pengetahuan mesti dihilangkan dari pikiran-pikiran kita, termasuk mimpi dan gagasan-gagasan saya menjadi apa nantinya.
Ketika saya kehilangan keyakinan kepada sesuatu yang tidak saya ketahui, maka semangat untuk mempercayai sesuatu itu menjadi musnah dan sia-sia. Sebagai satu contoh, dari sekian banyak contoh yang saya alami dalam hidup ini, pada saat kedua orang tua membutuhkan biaya rumah sakit, pada saat tagihan listrik, telepon dan hutang-hutang lainnya belum terbayar, maka gagasan untuk memiliki atau membeli rumah menjadi mustahil untuk dihadirkan, meskipun kerabat saya mempersilahkan rumah yang akan dijualnya tersebut saya tempati dulu sebelum di bayar DP-nya. Saya menjadi takut bukan kepalang, terbayang biaya yang yang harus saya lunasi sekian besar banyaknya. Ditambah lagi, istri yang memang sejak dari sononya nggak pernah percaya kepada sesuatu yang tidak diketahuinya. Semua harus trans-paran, jelas, tidak mengada-ada, dan terprediksi oleh akal serta pikiran.
Kalau saya merujuk pada saat saya masih kuliah, meskipun semua materi kuliah saya adalah hitung-menghitung, mulai dari time and motion study-nya henry Fayol, budgeting, linier programming, project evaluation, sampai dengan product, planning and control (PPC). Namun dalam hal persoalan-persoalan pribadi, saya lebih meyakini sesuatu yang tidak pasti alias meyakini sesuatu yang saya sendiri tidak ketahui menurut panca indra. Wal hasil, apapun yang saya inginkan, apapun yang menjadi gagasan, dan apapun yang menjadi mimpi saya, perwujudannya menjadi sulit untuk dibendung. Tetapi kenapa saat ini, ketika semua persoalan kehidupan terprediksi dengan cermat dan masuk akal, semua keinginan dan mimpi-mimpi tidak lagi menunjukkan realitas yang diharapkan ?
Ironi yang ada dalam kehidupan saya kemudian terjawab, ketika saya mencoba membuka-buka lagi buku berjudul Spiritual Solution to Every Problem, tulisan dari Wayne W. Dyer (253:2001). Menurut Dyer, rasa percaya kepada apa yang tidak diketahui itu seperti magnet yang tak kasat mata dan tak terkalahkan, yang menarik apapun yang menjadi hasrat dan pengharapannya.
Sebelumnya, Dyer menjelaskan bahwa apa yang tidak diketahui adalah hal yang tidak terjangkau oleh indra kita. Sebagai penjelmaan makhluk fisik, kita cenderung mengandalkan indra kita untuk menentukan apa yang nyata. Jika kita tak bisa meli-hat, menyentuh, mencicipi, merasakan, atau membauinya, kita cenderung yakin bahwa hal itu tidak ada. “Kepastian” melibatkan kita untuk begerak melampaui indra untuk menjadikan tempat yang kita percayai sebagai kesadaran spiritual, bukan se-kedar kesadaran secara fisik saja.
Dyer menyarankan, kembangkan rasa percaya meskipun tidak ada bukti fisik yang bisa ditangkap indra Anda. Apapun keadaan atau rintangannya, begitu Anda merancang impian, maka jalan akan terbuka, dan alam semesta menanggapi serta bekerja bersama Anda, untuk mewujudkan gagasan itu ke dalam kenyataan fisik. Dyer juga memastikan kepada saya bahwa yang tidak diketahui bisa dipahami dan jauh lebih banyak daripada yang diketahui.
Pernyataan-pernyataan Dyer ini seakan menyirami keyakinan saya yang lama tandus, dan sekarang saya tidak takut lagi memiliki mimpi dan gagasan-gagasan besar, meskipun saat ini situasi dan kondisi masih sangat-sangat mustahil untuk mewujud-kannya. Saya lebih percaya kepada sesuatu yang tidak saya ketahui.
Bekasi, 12 April 2009.
Namun, seiring dengan bergulirnya waktu, pengetahuan dan usia, maka keteguhan memegang gagasan dan mimpi-mimpi hanya dianggap kosong belaka. Tamparan kehidupan dan hempasan gelombang persoalan rumah tangga serta pekerjaan, me-nepiskan saya ke lembah kekuatiran dan ketakutan untuk mempercayai sesuatu yang tidak mempunyai nilai-nilai kepastian. Sehingga setiap langkah, setiap tindakan dan setiap perbuatan mesti harus terukur secara cermat dan akurat, apapun yang tidak diketahui oleh panca indra sebagai pengetahuan mesti dihilangkan dari pikiran-pikiran kita, termasuk mimpi dan gagasan-gagasan saya menjadi apa nantinya.
Ketika saya kehilangan keyakinan kepada sesuatu yang tidak saya ketahui, maka semangat untuk mempercayai sesuatu itu menjadi musnah dan sia-sia. Sebagai satu contoh, dari sekian banyak contoh yang saya alami dalam hidup ini, pada saat kedua orang tua membutuhkan biaya rumah sakit, pada saat tagihan listrik, telepon dan hutang-hutang lainnya belum terbayar, maka gagasan untuk memiliki atau membeli rumah menjadi mustahil untuk dihadirkan, meskipun kerabat saya mempersilahkan rumah yang akan dijualnya tersebut saya tempati dulu sebelum di bayar DP-nya. Saya menjadi takut bukan kepalang, terbayang biaya yang yang harus saya lunasi sekian besar banyaknya. Ditambah lagi, istri yang memang sejak dari sononya nggak pernah percaya kepada sesuatu yang tidak diketahuinya. Semua harus trans-paran, jelas, tidak mengada-ada, dan terprediksi oleh akal serta pikiran.
Kalau saya merujuk pada saat saya masih kuliah, meskipun semua materi kuliah saya adalah hitung-menghitung, mulai dari time and motion study-nya henry Fayol, budgeting, linier programming, project evaluation, sampai dengan product, planning and control (PPC). Namun dalam hal persoalan-persoalan pribadi, saya lebih meyakini sesuatu yang tidak pasti alias meyakini sesuatu yang saya sendiri tidak ketahui menurut panca indra. Wal hasil, apapun yang saya inginkan, apapun yang menjadi gagasan, dan apapun yang menjadi mimpi saya, perwujudannya menjadi sulit untuk dibendung. Tetapi kenapa saat ini, ketika semua persoalan kehidupan terprediksi dengan cermat dan masuk akal, semua keinginan dan mimpi-mimpi tidak lagi menunjukkan realitas yang diharapkan ?
Ironi yang ada dalam kehidupan saya kemudian terjawab, ketika saya mencoba membuka-buka lagi buku berjudul Spiritual Solution to Every Problem, tulisan dari Wayne W. Dyer (253:2001). Menurut Dyer, rasa percaya kepada apa yang tidak diketahui itu seperti magnet yang tak kasat mata dan tak terkalahkan, yang menarik apapun yang menjadi hasrat dan pengharapannya.
Sebelumnya, Dyer menjelaskan bahwa apa yang tidak diketahui adalah hal yang tidak terjangkau oleh indra kita. Sebagai penjelmaan makhluk fisik, kita cenderung mengandalkan indra kita untuk menentukan apa yang nyata. Jika kita tak bisa meli-hat, menyentuh, mencicipi, merasakan, atau membauinya, kita cenderung yakin bahwa hal itu tidak ada. “Kepastian” melibatkan kita untuk begerak melampaui indra untuk menjadikan tempat yang kita percayai sebagai kesadaran spiritual, bukan se-kedar kesadaran secara fisik saja.
Dyer menyarankan, kembangkan rasa percaya meskipun tidak ada bukti fisik yang bisa ditangkap indra Anda. Apapun keadaan atau rintangannya, begitu Anda merancang impian, maka jalan akan terbuka, dan alam semesta menanggapi serta bekerja bersama Anda, untuk mewujudkan gagasan itu ke dalam kenyataan fisik. Dyer juga memastikan kepada saya bahwa yang tidak diketahui bisa dipahami dan jauh lebih banyak daripada yang diketahui.
Pernyataan-pernyataan Dyer ini seakan menyirami keyakinan saya yang lama tandus, dan sekarang saya tidak takut lagi memiliki mimpi dan gagasan-gagasan besar, meskipun saat ini situasi dan kondisi masih sangat-sangat mustahil untuk mewujud-kannya. Saya lebih percaya kepada sesuatu yang tidak saya ketahui.
Bekasi, 12 April 2009.








0 komentar:
Post a Comment