Here is the ultimate resource for detailed purwalodra guides, and tips. Find about purwalodra that will match your need | Education | Life | Writing | Politics

Click

15 April 2009

MODAL DASAR MENULIS

Dunia menulis, seperti halnya dunia kis-melukis, hat-memahat, lat-menjilat, eh … sak-memasak, maksudnya itu, tak iye !. Sangat dipengaruhi oleh keberadaan indra bathin. Indra bathin ini, meskipun tidak terlihat secara fisik, tapi kekuatannya luar biasa, hebat. Banyak orang terselamatkan hidupnya, gara-gara indra bathinnya bekerja. Namun, tidak jarang orang tertipu dengan indra fisiknya, yang kelihatannya nyata dan masuk akal. Pertanyaannya, bagaimana seorang penulis menggunakan kedua indranya ?

INDRA BATHIN DAN INDRA FISIK

Di dalam dunia lahir, fisik atau jasmani, kita mengenal hanya lima indra saja. Indra penglihatan, penciuman, pendengaran, rasa yang dilakukan lidah, dan sentuhan (perabaan). Semua indra ini terhubung langsung ke otak manusia. Sehingga, dengan sangat cepat otak akan memilah, memilih bahkan menafsirkan data-data yang dikirm indra-indra tersebut, menjadi informasi. Informasi tentang suara, berisik atau merdu, datanya diperoleh dari telinga. Informasi tentang gambar, indah atau tidak, datanya berasal dari mata. Informasi tentang bebauan, harum atau sebaliknya, datanya diolah dari hidung. Dan seterusnya.

Indra bathin dan indra lahir (fisik) sebenarnya saling bekerja sama, saling melengkapi dan saling mengerti satu sama lain. Ketika kita melakukan sesuatu, maka proses yang berjalan adalah synergy antara indra bathin dan indra fisik. Seluruh tindakan manusia adalah perpaduan antara, indra bathin dan indra fisik. Apapun, dimanapun, kapanpun. Kedua indra itu saling bergandengan tangan. Persoalannya adalah, mana diantara kedua Indra tersebut yang paling dominant bekerja ?

Pada saat, kita masih nak-kanak, indra bathin lebih dominant bekerja. Namun ketika kita sekolah, indra fisik atau lahiriah, dilatih dan diberi pembelajaran, melalui pengenalan dan pemahaman IPTEK. Makanya, di sekolah-sekolah formal, manusia dibentuk suatu pemahaman agar segala sesuatu menjadi ilmiah. Namun demikian, bukan berarti tidak ada yang tidak ilmiah.

Pada awal, segala sesuatu di alam semesta ini, alamiah. Tapi karena berkembangnya pengetahuan manusia, maka alam yang alamiah atau natural (apa adanya) ini, menjadi ilmiah (bukan atau jangan apa adanya). Infoemasi yang ilmiah dimotori oleh indra fisik, sementara sesuatu yang alamiah dipegang teguh oleh indra bathin. Kalau dipikir-pikir, memang segala sesuatu di alam semesta ini khan, keberadaannya berpasang-pasangan. Ada laki-laki, ada perempuan. Ada baik dan ada buruk. Ada siang, ada malam. Ada indra bathin, ada indra lahir/fisik. Dan seterusnya.

Tentu, ada maksud dan tujuan Allah Swt. menciiptakannya, baik yang bisa diindrai secara fisik maupun secara bathin. Ketika seseorang memiliki kemampuan lebih dari manusia pada umumnya, maka ia dikatakan memiliki indra ke-enam. Untuk memberikan arti bahwa informasi yang dimiliki orang tersebut, diperoleh bukan dari indra yang lima, secara fisik. Ia menggunakan indra bathin.

Orang yang memiliki indra bathin lebih kuat dari pada indra fisiknya, gampang memilih profesi paranormal. Sementara bagi orang yang indra fisiknya lebih tajam dari indra bathinnya, “Mbah sarankan jadi peneliti, aja.” Ketik reg, mbah roso, kirim ke 021.8843242, wah ini sih, telpon kantor saya.

Bagi orang yang memiliki indra bathin kuat, segala sesuatu di alam ini tidak pernah diragukan. Semua hal di alam semesta ini, berada dalam pengaturan yang sempurna. Mereka, paham low of attraction, hukum sebab akibat, the screet. Namun, bagi orang yang mempunyai indra fisik lebih tajam, akan meragukan terlebih dahulu, sebelum ada penelitian dengan data dan sample yang valid. Indra fisiknya, akan membawa persepsinya kepada sikap apriori, meragukan semua yang ada di kolong langit ini. Makanya harus diteliti dulu eksistensinya, baru percaya. Banyak peneliti, selalu menduga dulu kebenarannya, setelah terbukti secara klinis dan signifikan, baru boleh percaya.

Friksi, bahkan konflik sering terjadi, antara orang-orang yang memiliki indra bathin kuat, dengan orang-orang yang memiliki indra fisik tajam. Saya tidak akan membahas, contohnya. Kuatir ada yang menafsirkannya berbeda dari konteks sebenarnya.


Sebagai bahan renungan saja, mampukan kita menyeimbangkan antara kekuatan indra batin dengan kekuatan indra fisik. Ketika keseimbangan itu terjadi, keselarasan akan tercipta, dan kedamaian akan menjadi bagian hidup kita. Dengan kedamaian, para penulis mampu menciptakan karya tulis yang hebat.

MODAL MENULIS

Para pakar menulis selalu menyarankan, kepada para penulis pemula, agar menggunakan indra bathin aja dulu, atau alamiah aja gituuu. Biarkan, apa yang kita lihat, dengar, tahu, dan rasakan, tulis, apa adanya, mengalir aja. Biarkan dalam kondisi alamiah. Jangan dicampur dengan hal-hal yang ilmiah, seperti metodologi dan teori-teori menulis, yang justru akan mengganggu, proses kelancaran menuangkan kata-kata dalam bentuk tulisan.

Sama, seperti kita belajar bahasa Inggris, bila kita terpatok pada grammer, mulut kita terasa digembok dari luar. Begitupun, dengan menulis. Ketika kita terpaku dengan, yang mana daripada teori dan metodologi, pikiran kita terasa digembok dari segala penjuru. Kemudian, mandeg dech, perjuangan kita, menjadi penulis hebat.

Bagi penulis pemula, seperti saya, biasakan memakan buah mengkudu, mentah-mentah, agar sehat dan kuat staminanya untuk menulis. Kata mengkudu, ternyata berasal dari kata ‘emang kudu’. Berarti khan, kita emang-kudu nulis, emang-kudu nulis lagi, emang-kudu nulis terus, emang –kudu bisa nulis, gitu lhoooo.

Sudah banyak kok contoh, orang yang menamakan dirinya ilmuan, dosen, guru, sulit menulis, bahkan untuk disiplin ilmu, yang dipelajarinya. Sementara, banyak orang yang tidak tamat kuliah, lancar banget menulisnya. Saya bisa berani ngomong disini, bahwa ilmuan, dosen dan guru, bisa jadi bukan penulis. Tapi, seorang penulis, bisa jadi ilmuan, bisa jadi dosen atau bisa jadi seorang guru.

Saya mencoba merenung lagi, ketika Nabi Muhammad menerima wahyu pertama di gua Hiro, malaikat Jibril khan bilang, Iqro’, Iqro’, Iqro’ …. Baca, baca, baca ….. Berarti khan, Allah Swt. sudah menyiapkan tulisan di alam semesta ini. Ternyata, tulisan yang dibuat Allah Swt, ada yang bisa di indrai secara fisik dan ada yang hanya bisa diindrai secara bathin.

Bekasi, 17 Februari 2009.

0 komentar:

Viviti