Here is the ultimate resource for detailed purwalodra guides, and tips. Find about purwalodra that will match your need | Education | Life | Writing | Politics

Click

16 April 2009

MIMPI MENJADI PENULIS

Sebut saja, Anto, seorang yang sejak SMP sudah berkeinginan menjadi penulis. Pendidikan formal yang lebih dari cukup memadai untuk menjadi penulis, sampai sekarang, belum juga mampu menepis ketidakpercayaan pada dirinya sendiri. Seabrek teori menulis, mulai dari esai, opini, artikel (fiksi maupun nonfiksi) bahkan menulis thesis S2, sudah mengisi batok kepalanya. Namun, lagi-lagi masih banyak faktor internal dan eksternal, yang harus ia hadapi, untuk melaju di jalan lurus seba-gai penulis.

Kepanikannya menghadi banyaknya faktor, baik internal maupun eksternal, tidak termasuk teori menulis, telah berkali-kali menghempaskannya ke dalam jurang keputus-asaan. Meskipun, sarana dan peralatan menulis, seperti computer (laptop), teknik membuat blog dan motivasi, telah dimiliki sebagai kelengkapan yang nyata. Namun, lagi-lagi faktor yang ia sendiri nggak ngertilah, yang membelenggunya sam-pai ia kehabisan energi kreatifitas.

Pada saat motivasi menulisnya luber, hampir setiap malam ia menulis satu tulisan, dan langsung dikirimnya via email ke redaksi media massa. Nggak tahu gimana, baru jalan dua minggu, Anto, sudah ambil cuti panjang, bahkan berniat ambil pen-siun dini menjadi penulis. Namun, lagi-lagi motivasinya terbakar, ketika seorang An-drea Hirata menerbitkan tetralogi novelnya, dan laris dibeli masyarakat. Padahal menurut cerita-cerita yang ia dengar dari seorang Andrea Hirata, bahwa satu cerpen pun belum pernah di terbitkan oleh media massa, namun ketika Novel Laskar Pe-langinya di filmkan, novel-novel berikutnya menjadi fenomena bagi penulis di Indo-nesia. Sekarang, Anto, memilih menjadi penulis lagi. Dan lagi-lagi, Anto, mau tidak mau, berhadapan lagi dengan persoalan-persoalan internal dan eksternal.

Kali ini, Anto, harus mampu menulis satu hari satu tulisan. Apapun jenis tulisannya. Di sela-sela kesibukannya sebagai karyawan tetap di salah satu perusahaan. Sudah tujuh tulisan lepas, tiga diantaranya cerpen, ia hasilkan. Berarti sudah tujuh hari ia menulis. Anto mengirimkan ke redaksi, media massa, via email.

Memasuki, minggu kedua, tantangan internal dan eksternal, sudah mulai terlihat. Dia pikir, dengan shalat hajat setiap malam, tantangan internal dan eksternalnya, hilang begitu saja. Ternyata boro-boro, nggaklah yaw !. Persoalan internalnya makin ruwet, persoalannya makin menguat. Anto, sekarang, menemukan dirinya di per-simpangan jalan, mau jalan lurus melanjutkan mimpinya menjadi penulis, atau belok aja ke kanan, menjadi karyawan tetap yang sudah lama dia jalani itu.

Ketika berada di depan computer, Anto, selalu dihadapkan oleh banyak pertanyaan. Dengan jalan lurus, menjadi penulis, Anto, akan mampu mendapat penghasilan tam-bahan, meskipun belum ada jawaban dari redaksi manapun yang dia kirim. Dengan jalan berbelok, dia akan menemukan dirinya dalam keadaan nyaman, tapi penghasi-lannya tak mampu menutup hutang-hutangnya yang mulai mendaki puncak merapi. Anto, terbelenggu sikap pragmatisme materi.

Pada saat, Anto mulai berselancar dengan tulisan-tulisannya, pikirannya memahatnya pada jenis tulisan yang diminati media massa, sehingga ia terpaku pada jenis-jenis tulisan tertentu, seperti artikel atau tulisan yang lagi ngetren saat ini, semen-tara kondisi pikirannya nggak fokus ke hal-hal yang lagi ngetren tersebut.

Suatu hari, teman Anto yang boro-boro bisa nulis, tapi mampu menggoyang jiwanya kearah pencerahan, menasehatinya agar tetap tabah dan sabar terhadap terpaan masalah internal dan eksternalnya. Menurutnya, jika tulisan itu lahir dari jiwa, maka akan mudah dibaca oleh jiwa. Maka gak perlu, pikir ini-itu, tulis aja, kelak akan lahir tulisan yang enak dibaca dan menghibur. Karena, jiwa akan bertemu jiwa, dan pikiran akan bertemu dengan pikiran. “Mana yang lebih baik ?” kataku bersemnagat. “Yang akan banyak dibaca orang adalah tulisan yang lahir dari jiwa.” Jawabnya man-tap.

Mulanya, anto, nggak yakin dengan kata-kata temannya itu, bagaimana menulis dengan jiwa dan bagaimana juga menulis dengan pikiran. Justru, temannya yang nggak bisa nulis itu bilang begini, “Tulisan yang lahir dari pikiran, menumpahkan apa saja dari pikiran kita ke dalam tulisan, apa saja bentuknya, pokonya tulisan. Trus, tulisan yang lahir dari jiwa, selain kita mampu menumpahkan isi kepala kita ke dalam tulisan, kita merasakan adanya kenikmatan dalam mengalirkannya. Ibarat sungai yang jernih, mengalir deras, tanpa hambatan. Kita menjadi enjoy, menikmati kata-kata kita yang mengalir.”

“Subhanallah, ini bukan sekedar teori.” Kata Anto dalam hati. Sejak saat itu, meski istri dan anak-anaknya menggangu dan mengeluh, karena kecintaannya terbagi, Anto tetap mampu menembus pikiran keruhnya dengan kenikmatannya tanpa batas, dengan berlimpahnya ide-ide, kapanpun dan dimanapun. Tulisan inilah, bukti, Anto mampu menembus pikirannya yang lama keruh.

Bekasi, 16 Februari 2009.

0 komentar:

Viviti