Oleh. Purwalodra
Setelah pikiran ngeluyur kesana-kemari, mencari-cari bongkahan ide tulisan yang tepat, untuk teman makan malam, ternyata sulit saya dapatkan. Justru yang saya dapatkan hanya semakin kehausan pengetahuan. Untuk menghentikan pikiran yang terlanjur mendendangkan lagu ‘Berkelanan’ Rhoma Irama, saya berusaha untuk ti-dak memikirkan apa yang akan saya tulis, tetapi mulai menulis apa yang ada dalam pikiran. Dan seketika itu pula, saya menemukan judul yang aneh yang bisa saya kunyak-kunyah dengan lembut.
Sebelum menemukan judul ini, hasil keluyuran pikiran saya menemukan kalimat dari bang Ersis W. Abbas, yang memperkuat ide tulisan ini. Begini katanya, membaca yang nikmat adalah ‘membaca diri’, menulis yang aduhai adalah ‘menulis diri’. Se-pintar apa pun sesorang menulis, kalau yang ditulis hal-hal di luar dirinya, tidaklah senikmat menulis tentang dirinya sendiri.
Bang Ersis juga mengemukakan bahwa manakala kita tidak menyenangi puisi, apalagi tidak berminat sama-sekali, maka sesuaikan kemauan diri kita dengan apa yang kita sukai. Jangan sampai terjebak, semua hal ingin ditulis, ingin dikuasai. Kalau menyenangi sejarah, jangan memaksakan diri menulis tentang kimia. Kalau-pun berkehendak, tau dirilah, pelajari seperlunya. Tidak mungkin semua orang men-guasai semua hal, tidak akan pernah orang menjadi ahli semua hal, dan berkeahl-ianlah menulis pada ilmu yang disenanginya saja. Hidup bukan angan-angan kok.
Dari pernyataan bang Ersis inilah, saya menangkap dua pandangan yang dapat menjadi bahan bakar menulis. Pertama, menulis apa yang ada di pikiran (jangan me-maksakan sesuatu di luar pikiran). Kedua, menuliskan tentang isi (content) apa yang paling disenangi (jangan memaksakan apa yang tidak dimengerti). Dan kedua pan-dangan ini jika disatukan, menjadi judul tulisan saya, yaitu menulis tentang ke-mauan menulis.
Beberapa saat lalu, saya juga membaca tulisan tentang sulitnya menulis dari seorang Penulis, yang mengatakannya sedikit emosi bahwa kesulitan menulis bukan persepsi yang dibuat-buat, tetapi kenyataan alias fakta. Sebagian orang memang mengatakan menulis itu mudah, ya, karena ia sudah biasa menulis. Sebagian lagi menulis itu sulit, ya, karena nggak biasa menulis. Inti tulisan yang saya baca itu adalah jangan mengingkari fakta bahwa menulis itu memang sulit alias tidak mudah.
Saya yakin, banyak guru yang mengajarkan menulis tidak mengatakan hal sebenarnya tentang susahnya memulai menulis. Begitu juga, guru matematika, fisika atau pelajaran lainnya, mereka tidak akan mengatakan bahwa matematika, fisika dan pelajaran lainnya sulit dipahami. Para guru itu mengatakan bahwa tidak ada yang sulit memahami ilmu pengetahuan, apapun itu. Yang sulit adalah memahami kemauan kita. Apapun ilmunya, kalau ada kemauan, apalagi kesukaan terhadap ilmu itu, tidak ada yang sulit, semua menjadi mudah.
Semua menjadi mudah kalau mau, semua menjadi nikmat kalau kita suka, bukan begitu !. Para ahli spiritual bilang, jika murid sudah siap maka guru akan datang, se-baliknya jika guru sudah siap maka murid akan datang. Nah, akhirnya jika kemauan sudah mantap, maka apapun yang kita maui ada jalan untuk mewujudkannya. Seir-ing dengan adanya kemauan ini, maka akan tumbuh semangat untuk merealisasikan kemauan tersebut.
Pertanyaan berikutnya, bagaimana melahirkan kemauan ? ya, sebenarnya ngak su-lit-sulit amat menumbuhkan kemauan. Kemauan tumbuh ketika kita menyenangi atau menyukai apa yang kita lakukan. Ketika kita sudah melakukan apa yang kita sukai, maka kita bisa naik tangga kepada menyukai apa yang kita lakukan. Kegiatan menulis pun lahir dari perasaan suka atau senang dulu, kalau tidak senang ngapain dilakukan, tinggalkan saja.
Dengan menyukai kegiatan menulis, dengan menyenangi menjadi penulis, dengan menikmati jalan sebagai penulis, maka kemauan menulis bisa kita lakukan kapan saja, dimana saja, dan dalam kondisi apa saja. Maka mulailah dari menulis kemauan kita dulu, baru kemudian menulis apa yang ada di dalam pikiran kita.
Bagaimana, kalau begitu !
Bekasi, 26 Maret 2009.
Sebelum menemukan judul ini, hasil keluyuran pikiran saya menemukan kalimat dari bang Ersis W. Abbas, yang memperkuat ide tulisan ini. Begini katanya, membaca yang nikmat adalah ‘membaca diri’, menulis yang aduhai adalah ‘menulis diri’. Se-pintar apa pun sesorang menulis, kalau yang ditulis hal-hal di luar dirinya, tidaklah senikmat menulis tentang dirinya sendiri.
Bang Ersis juga mengemukakan bahwa manakala kita tidak menyenangi puisi, apalagi tidak berminat sama-sekali, maka sesuaikan kemauan diri kita dengan apa yang kita sukai. Jangan sampai terjebak, semua hal ingin ditulis, ingin dikuasai. Kalau menyenangi sejarah, jangan memaksakan diri menulis tentang kimia. Kalau-pun berkehendak, tau dirilah, pelajari seperlunya. Tidak mungkin semua orang men-guasai semua hal, tidak akan pernah orang menjadi ahli semua hal, dan berkeahl-ianlah menulis pada ilmu yang disenanginya saja. Hidup bukan angan-angan kok.
Dari pernyataan bang Ersis inilah, saya menangkap dua pandangan yang dapat menjadi bahan bakar menulis. Pertama, menulis apa yang ada di pikiran (jangan me-maksakan sesuatu di luar pikiran). Kedua, menuliskan tentang isi (content) apa yang paling disenangi (jangan memaksakan apa yang tidak dimengerti). Dan kedua pan-dangan ini jika disatukan, menjadi judul tulisan saya, yaitu menulis tentang ke-mauan menulis.
Beberapa saat lalu, saya juga membaca tulisan tentang sulitnya menulis dari seorang Penulis, yang mengatakannya sedikit emosi bahwa kesulitan menulis bukan persepsi yang dibuat-buat, tetapi kenyataan alias fakta. Sebagian orang memang mengatakan menulis itu mudah, ya, karena ia sudah biasa menulis. Sebagian lagi menulis itu sulit, ya, karena nggak biasa menulis. Inti tulisan yang saya baca itu adalah jangan mengingkari fakta bahwa menulis itu memang sulit alias tidak mudah.
Saya yakin, banyak guru yang mengajarkan menulis tidak mengatakan hal sebenarnya tentang susahnya memulai menulis. Begitu juga, guru matematika, fisika atau pelajaran lainnya, mereka tidak akan mengatakan bahwa matematika, fisika dan pelajaran lainnya sulit dipahami. Para guru itu mengatakan bahwa tidak ada yang sulit memahami ilmu pengetahuan, apapun itu. Yang sulit adalah memahami kemauan kita. Apapun ilmunya, kalau ada kemauan, apalagi kesukaan terhadap ilmu itu, tidak ada yang sulit, semua menjadi mudah.
Semua menjadi mudah kalau mau, semua menjadi nikmat kalau kita suka, bukan begitu !. Para ahli spiritual bilang, jika murid sudah siap maka guru akan datang, se-baliknya jika guru sudah siap maka murid akan datang. Nah, akhirnya jika kemauan sudah mantap, maka apapun yang kita maui ada jalan untuk mewujudkannya. Seir-ing dengan adanya kemauan ini, maka akan tumbuh semangat untuk merealisasikan kemauan tersebut.
Pertanyaan berikutnya, bagaimana melahirkan kemauan ? ya, sebenarnya ngak su-lit-sulit amat menumbuhkan kemauan. Kemauan tumbuh ketika kita menyenangi atau menyukai apa yang kita lakukan. Ketika kita sudah melakukan apa yang kita sukai, maka kita bisa naik tangga kepada menyukai apa yang kita lakukan. Kegiatan menulis pun lahir dari perasaan suka atau senang dulu, kalau tidak senang ngapain dilakukan, tinggalkan saja.
Dengan menyukai kegiatan menulis, dengan menyenangi menjadi penulis, dengan menikmati jalan sebagai penulis, maka kemauan menulis bisa kita lakukan kapan saja, dimana saja, dan dalam kondisi apa saja. Maka mulailah dari menulis kemauan kita dulu, baru kemudian menulis apa yang ada di dalam pikiran kita.
Bagaimana, kalau begitu !
Bekasi, 26 Maret 2009.








0 komentar:
Post a Comment