Here is the ultimate resource for detailed purwalodra guides, and tips. Find about purwalodra that will match your need | Education | Life | Writing | Politics

Click

16 April 2009

MENULIS, KEBUTUHAN SEMUA ORANG

Tulisan ini sengaja di-up load, bukan untuk mengolok-olok Guru saja, tetapi untuk kita semua, yang belum menjadikan kegiatan menulis sebagai kebiasaan yang mengasyikkan. Kata, megolok-olok, mengejek, bahkan menghina sekalipun, menjadi kata yang paling indah di dengar, kalau tahu rahasianya. Masa, iya sih !

Sebagai contoh, jika saya diberi sesuatu (bisa barang, bisa jasa, apalagi uang) dari orang lain dan saya menolaknya, maka sesuatu itu masih milik orang lain, bukan milik kita. Ya, iyalah. Maksud lhoooo. Begini, anggap saja olok-olok, ejekan dan hinaan itu adalah sesuatu itu, kemudian kalau kita menolaknya, maka omongan yang bernada olok-olok, ejekan dan hinaan itu, masih melekat pada orang yang mengolok-olok, mengejek dan menghina, tadi. Jadi, ngapain pake marah. Capek deeeeech ?

Selanjutnya, orang-orang sufi punya paradigma, jika dia dihina, direndahkan, diremehkan, bahkan dihujat sekalipun, derajadnya di sisi Allah Swt, meningkat satu tingkat. Sementara, ketika dia dipuji-puji, dan dia menerimanya sebagai penghargaan, maka derajatnya turun satu tingkat. Oleh karena itu, banyak orang-orang yang jiwa spiritualnya tinggi, lebih suka di rendahkan dan dihina, dari pada dipuji-puji orang lain.

Kembali ke persoalan diatas. Tak dapat dipungkiri oleh siapapun bahwa menulis bagi sebagian besar kita adalah kegiatan yang amat sangat sulit... lit... lit... lit, untuk dilakukan. Sehingga sedikit sekali kita yang menentukan pilihan sebagai penulis. Selain, kata orang menguras pikiran, juga menguras waktu. Bahayanya, jika hal ini terjadi pada lingkungan pendidikan, seperti Sekolah, yang seharusnya menjadi komunitas pelopor atas bangkit dan berkembangnya kegiatan lis-menulis, tak iye !

Mungkin, saking parahnya, gairah menulis pada komunitas sekolah dan lingkungan pendidikan, sampai-sampai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, menelorkan Surat Keputusan Nomor: 025/O/1995 yang mensyaratkan adanya kewajiban guru, sebagai tenaga kependidikan, yang telah menduduki jabatan fungsional sebagai guru pembina sampai dengan guru utama, untuk melaksanakan pengembangan profesi berupa kegiatan karya tullis/karya ilmiah di bidang kependidikan.

Surat Keputusan tersebut juga sebagai wujud keprihatinan yang mendalam, atas rendahnya minat para guru di bidang tulis-menulis, serta sebagai upaya untuk menumbuhsuburkan kembali gairah menulis, khususnya karya tulis ilmiah di kalangan para praktisi pendidikan.

Ya, menulis memang kegiatan yang sulit. Seperti halnya, kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak kta sukai. Namun apabila di dalami, menulis memiliki dampak yang sangat mendasar bagi sang penulis, baik sebagai pribadi, lebih-lebih sebagai makhluk sosial. Menulis dapat mempengaruhi dan menyentuh dimensi spiritual sang penulis. Maka bagi seorang penulis, menulis dapat dirasakan dan dinikmati sebagai rekreasi spiritual, yakni suatu aktifitas kajian yang dapat menumbuhkan kesadaran pribadi atas pentingnya eksploitasi nilai-nilai spiritual dan norma-norma sosial serta kemurnian dan keindahan religius. Pendek kata, menemukan pencerahan spiritual.


FAKTANYA

Kesulitan kita dalam menulis walaupun kelihatan tidak wajar, tetapi mungkin masih bisa dimaafkan, kalau ditinjau dari sudut budaya kita yang memang masih berkutat pada budaya lisan. Namun, menjadi sulit dimaafkan, bilamana kita, di lingkungan pendidikan, tidak mengakui kelemahannya dalam menulis karya ilmiah, apalagi ada indikasi yang cenderung mengambing-kambingkan pihak lain. Sehubungan dengan itu, kondisi dan fakta yang dikemukakan berikut ini, mungkin bisa dijadikan indikator agar duduk perkaranya menjadi jelas.

Pertama, bahwa jumlah penerbitan buku yang ditulis oleh kita, pekerja pendidikan, relatif masih kurang, dibandingkan dengan jumlah tenaga kependidikan, yang hampir 3 juta orang. Kurangnya jumlah penerbitan tersebut, bagaimanapun, sedikit-banyaknya, berkorelasi ‘sangat significant,’ dengan kemampuan menulis.

Kedua, Belum berkembangnya budaya menulis di sekolah kita. Hal ini, sangat kasat mata, terlihat dari proses pembelajaran yang jarang mampu merangsang murid agar tergerak untuk menulis. Atau paling tidak, kita mau mengintegrasikan kegiatan menulis dengan mata pelajaran yang kita ajarkan. Dalam hal ini, hendaknya pembelajaran menulis tidak hanya dibebankan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia saja, tetapi bila perlu untuk semua mata pelajaran. Dengan cara ini secara otomatis kita pun akan terkondisi untuk melakukan pembimbingan, sehingga kita pun tergerak untuk belajar menulis.

PENYEBABNYA

Mencari dimana penyebab, kenapa kita sulit menulis, banyak ahlinya. Orang yang tidak bisa menulispun bahkan lebih mampu dan paling ahli, mencari penyebab dengan variabel-variabel yang masuk akal. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada kita semua, yang bekerja di bidang pendidikan, beberapa variabel yang bisa saya ketahui antara lain :

Pertama, disebabkan karena kita kurang membaca. Kegiatan membaca dapat dikatakan sebagai faktor kunci dalam menulis. Penulis besar sekalipun tidak akan dapat berbuat banyak apabila tidak membaca berbagai literatur sehubungan dengan materi yang ditulis. Dengan banyaknya seseorang menguasai informasi maka ada kecenderungan semakin mudah pula ia dalam menulis. Kalau Anda sering menulis pasti pernah merasakan bagaimana sulitnya menulis bilamana tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang topik yang ditulis. Tulisan pun terasa kering, monoton, bahkan bisa menjadi subyektif karena kekurangan data dan informasi pendukung. Menguasai informasi, dengan cara membaca, adalah material untuk membangun tulisan.

Kedua, kesulitan disebabkan karena kita kurang latihan menulis. Belajar menulis sama halnya dengan belajar berenang; kalau tidak dipraktikkan tidak akan pernah bisa berenang. Makin banyak guru berlatih akan semakin baik. Penulis yang baik akan selalu belajar secara terus-menerus dari pengalaman yang didapat dari latihan tersebut. Perlu dicatat bahwa kegiatan menulis merupakan proses belajar yang tidak pernah tamat. Cara terbaik untuk belajar menulis, ya, dengan menulis, itu aja. Emang gua pikirin, nulis aja lagiiii ?

Ketiga, kesulitan disebabkan karena kekacauan dalam berpikir. Faktor ini sering sekali terjadi sehingga tulisan kelihatan kacau dan tidak jelas alur logika yang digunakan. Pesan ilmiah yang ingin disampaikan biasanya menjadi kabur, tidak sistematis sehingga sangat sulit dipahami. Benang merah, mulai dari permasalahan sampai kepada penarikan kesimpulan biasanya tidak nyambung. Oleh karena itu tidak aneh apabila sering berbeda antara permasalahan yang dikemukakan dengan pemecahan, beserta penarikan kesimpulannya. Menulis bukan sekedar menuangkan pengetahuan yang kita miliki saja, tetapi menulis adalah proses membangun pikiran, agar sistemik, analitis dan jujur, apa adanya.

Keempat, kesulitan disebabkan karena takut dan ketakutan. Seperti juga berani dan keberanian, adalah bagian ‘diri’ seseorang. Tidak ada orang yang tidak mempunyai rasa takut, betapa pun kecilnya. Rasa takut dan ketakutan adalah hal wajar. Pertanda kita masih waras. Yang perlu dihindarkan adalah takut dan ketakutan yang berlebihan, yang tidak berdasar. Takut dan ketakutan sangat tidak kontributif dalam menulis. Betapa tidak. Banyak orang sulit menulis karena takut. Takut pada diri sendiri, atau ketakutan tulisan ‘direspon’, dicaci n dimaki, dikritisi, de el el.

AKHIRNYA

Sebagai anjuran aja, buat diri saya khususnya, menulislah karena ingin menulis. Kalau ada ide, seliar apapun (emang Singa) ide tersebut ditulis. Kalau sudah selesai, baru pertimbangkan, apakah pantas dilepas ke wilayah publik atau disimpan jadi koleksi saja. Yang penting menulisnya dulu, jadi tulisan.

Soal dimuat dimana, bakalan dapat honor berapa, akan jadi polemik atau dibiarkan bak angin lalu, itu soal nanti. Teori menulis konvensioal memang hal-hal ideal dulu, baru menulisnya.

Dus, jangan ada lagi ‘belenggu’, menulis harus menunggu mood, tempatnya harus nyaman, tidak bising, tengah malam, setelah membaca lima puluh kilo buku, atau hal-hal sepadan yang tidak ada hubungan langsung dengan menulis. Ah, itu teori. Menulis bukan teori kog, tetapi praktek.

Keseluruhan aktivitas menulis adalah pelajaran itu sendiri, adalah guru itu sendiri. Bahkan, proses pemulanya, katakanlah membaca, mengamati, menganalisi, atau konsepsi di otak, di pikiran adalah rangkaian belajar. Sesuatu yang tidak dapat dicantolkan atau dicangkokkan. Bingung? Syukur, pertanda kita semua masih sadar, masih berpikir.

Kesimpulannya, sederhana aja, biasakan menulis. Latih kemampuan menulis dengan menulis, menulis dan menulis lagi. Ketika belajar tertawa, berdiri, bicara, dan seterusnya, memangnya ada guru khusus, guru ahli ? Yang ada, mama, papa, kakek-nenek, kakak dan atau saudara yang menuntun. Selanjutnya, terserah anda ....

Bekasi, 05 Februari 2009.



0 komentar:

Viviti