Ketika kita sulit menulis, bukan berarti kita tidak bisa menulis. Sebagian kita yang percaya bahwa menulis itu sulit, disebabkan karena banyaknya aturan yang sengaja diciptakan, untuk menjadi pagar kawat berduri, penghalang aktivitas menulis. Aturan-aturan inilah yang kemudian memenjarakan pikiran kita dan menciptakan keterbatasan-keterbatasan. Aturan-aturan tersebut membelenggu pikiran, kita tidak lagi bisa bergerak, tidak lagi bisa (bebas) kesana-kemari, lantas tidak bisa lagi ber-pikir jernih (cair), yang akhirnya kegiatan menulis, tidak bisa lagi mengalir.
Kebanyakan kita, sebelum menulis, selalu ingin mempersiapkan ini-itu, agar benar-benar siap menulis, mengalokasikan waktu, mengkondisikan badan agar tetap dalam stamina prima, selama menulis, kita mengumpulkan bahan-bahan untuk referensi tulisan, dan mengkomunikasikan kepada anak-istri agar jangan mengganggu kita sebelum tulisannya selesai. Setelah itu, perhatikan apa yang terjadi ? Buntu aja lagi !. Eh, Ini bukan bahasa yang baik dan benar. Bahasa yang baiknya dan benarnya mungkin begini, pikiran jadi putus-nyambung, putus-nyambung, putus nyambung. Byar-pet, gitu lhooo !. Susah amat sih cari bahasa yang baik dan yang benar !
Sewaktu, penulis masih nguli di kampus, nyombong dikit ah !, tidak ada tulisan yang tidak menggunakan referensi. Semua tulisan harus merujuk pada teori-teori para ilmuan, kalau tidak, maka tulisan kita tidak bisa dianggap ilmiah dan tidak pula bisa dikatakan valid. Ilmiah-tidaknya tergantung kepada teori-teori yang berhubungan dengan variable dan indikator yang dipilih. Kemudian, valid tidaknya tergantung kepada jumlah dan jenis sample yang digunakan, untuk menguji instrument peneli-tian. Biasanya, yang baca tulisan ini, mahasiswa yang berkepentingan menyusun skripsi, thesis atau disertasi. Kalau sudah selesai nyusun, mana mungkin dia mau baca-baca lagi, paling banter disimpen dirak buku, sampai berdebu.
Tetapi, ketika mengetahui bahwa tulisan yang baik bukan cuma menulis artikel ilmiah saja, dan demi melancarkan kegiatan menulis, ternyata tulisan alamiah (baca fiksi, essai, opini, dll) lebih banyak diminati oleh pembaca. Apalagi dalam menulis fiksi, bebannya lebih ringan. Kita tidak terlalu terikat fakta, sebab fiksi lebih berori-entasi kepada imajinasi.
Apabila saya ditanya, apa sih tujuan anda menulis ? Saya katakan bahwa saya menulis hanya untuk dibaca. Kalau sudah dibaca, mau dikritisi, dibahas, dicaci-maki, diambil buat referensi, atau dibuat bungkus kacang, terserahlah. Yang penting di-baca. Kalau kemudian nggak dibaca ?, EGP aja lagi !
Kalau saja, tulisan saya tidak dibaca orang, bukan berarti tulisan yang saya buat mubajir alias sia-sia. Perpektif saya mengatakan bahwa semua tulisan yang bisa saya selesaikan, tidak pernah sia-sia, apalagi mubajir. Semua tulisan yang saya se-lesaikan, akan membiasakan saya untuk terus menulis. Kata ahli teori menulis, kalau tulisan kita menjadi polemik di media, maka tulisan kita dinyatakan berbobot. Bener juga tuh ! Tapi buat saya, menulis, ya, menulis, aja terus !. Tak ada kepentingan apapun, selain menulis, menulis, dan menulis. Kalau tokh, kemudian dikritisi, dicemooh, apalagi jadi polemik, EGP aja lagi !. Dan saya selalu ingat apa kata Imam Ghozalie, kalau anda bukan anak seorang tokoh spiritual atau anak ulama, maka menulislah.
Kembali ke konteks diatas, bahwa kesiapan menulis, sebenarnya tidak pernah ada, yang ada hanya, lakukan saja menulis. Apalagi, waktu menulis, sebenarnya juga ti-dak pernah ada, yang ada hanya sekaranglah saat yang tepat untuk menulis. Jika kita menginginkan kondisi tubuh prima, maka menulis tidak pernah mendapat ke-sempatan untuk disegerakan. Mengapa begitu ? pada hakekatnya, ketika kita menginginkan kesiapan menulis, kita sebebarnya tidak pernah siap untuk menulis. Dan pada saat kita memilih waktu yang tepat untuk menulis, pada hakekatnya, kita kehabisan waktu sekarang untuk menulis. Oleh karena itu, menulislah sekarang, ti-tik.
Banyak teoritikus memaparkan bahwa, jika ingin menulis, mantapkan dulu tu-juannya, tentukan dulu temanya, apa misinya, dan lain-lain. Tidak salah memang. Tetapi, coba sekali-kali ‘teori’ tersebut dibalik. Jangan pikirkan apa yang akan ditulis, tapi tuliskan yang ada di pikiran. Perhatikan apa yang terjadi ? Tulisan itupun men-jadi, bukti.
Menurut teman saya yang orang indramayu, mengatakan bahwa menulis itu adalah, sa-ucaping pangucap, sa-krenteg-ing ati, bukti. Artinya begini, menulis itu sama seperti kita berbicara dengan seseorang, yang lahir langsung dari pikiran. Menulis itu adalah kehendak hati (jiwa), dimana jiwa tidak bisa diatur-atur untuk merencanakan apa dan kapan mulai menulis. Nah, kalau sudah bisa menulis apa yang ada dipikiran dan tanpa aturan yang membelenggu jiwa, maka tulisan kita akan menjadi bukti.
Menurut ahli strategi, rencana menulis nggak ada hubungannya dengan tindakan menulis. Rencana menulis yang dimatangkan di pikiran, hanya berguna untuk men-segerakkan tindakan. Namun, ketika kita menulis, content (isi) tulisan sedikit banyak akan menyimpang dari rencana semula. Makanya, kalau mau memulai menjadi pe-nulis, jangan pake rencana-rencana segala, mau nulis apa ya ?. Langsung, tulis aja yang ada dipikiran kita. Titik. Baru setelah itu, kita bisa mikirin kemana tulisan ini bisa di kirim atau di-upload.
Bang Ersis, dalam Ersis writing Theory, mengemukakan bahwa pada hakekatnya, kita semua, setiap saat, menulis di otak. Apa pun yang kita pikirkan, begitu otak dioperasikan, apalagi merespon hal di luar diri, proses menulis di otak terjadi. Kita semua, tanpa kecuali, adalah penulis di otak sendiri. Dalam sehari semalam, menu-rut para ahli neurology, kita mengganti content (isi) tulisan di otak, antara 60.000 sampai 65.000 tulisan. Dahsyat meeen ? Tapi, kenapa satu tulisan pun nggak pernah selesai, meskipun sudah seharian melototin komputer.
Bang Ersis Warmansya Abbas bilang, kalau begitu, menulis itu mudah dong. Yes. Siapa bilang susah. Mereka yang berpendapat demikian, setidaknya diganjar dua hal mendasar. Pertama, tidak pernah sadar otak setiap saat ‘merekam’ apa pun, ditulis di memori. Kalau tidak percaya ‘panggil’, apa yang dimaui akan muncul seketika. Kedua, tidak membiasakan menuliskan yang telah ditulis di otak. Padahal hanya tinggal ‘menyalin’ saja. Kalau pemahaman kita sudah demikian, kata Bang Ersis lagi, menulis akan dirasakan mudah, dan menyenangkan. Sebab, tidak lagi diganduli ke-hendak ini-itu, angan-angan ini-itu, target ini-itu, syarat ini-itu, dan kepentingan ini-itu. Kalau sudah begini, tulisan akan mengalir dan meluap, sampai jauh, seperti kali Bengawan di Solo.
Bagaimana, kalau begitu !
Bekasi, 4 Maret 2009.
Kebanyakan kita, sebelum menulis, selalu ingin mempersiapkan ini-itu, agar benar-benar siap menulis, mengalokasikan waktu, mengkondisikan badan agar tetap dalam stamina prima, selama menulis, kita mengumpulkan bahan-bahan untuk referensi tulisan, dan mengkomunikasikan kepada anak-istri agar jangan mengganggu kita sebelum tulisannya selesai. Setelah itu, perhatikan apa yang terjadi ? Buntu aja lagi !. Eh, Ini bukan bahasa yang baik dan benar. Bahasa yang baiknya dan benarnya mungkin begini, pikiran jadi putus-nyambung, putus-nyambung, putus nyambung. Byar-pet, gitu lhooo !. Susah amat sih cari bahasa yang baik dan yang benar !
Sewaktu, penulis masih nguli di kampus, nyombong dikit ah !, tidak ada tulisan yang tidak menggunakan referensi. Semua tulisan harus merujuk pada teori-teori para ilmuan, kalau tidak, maka tulisan kita tidak bisa dianggap ilmiah dan tidak pula bisa dikatakan valid. Ilmiah-tidaknya tergantung kepada teori-teori yang berhubungan dengan variable dan indikator yang dipilih. Kemudian, valid tidaknya tergantung kepada jumlah dan jenis sample yang digunakan, untuk menguji instrument peneli-tian. Biasanya, yang baca tulisan ini, mahasiswa yang berkepentingan menyusun skripsi, thesis atau disertasi. Kalau sudah selesai nyusun, mana mungkin dia mau baca-baca lagi, paling banter disimpen dirak buku, sampai berdebu.
Tetapi, ketika mengetahui bahwa tulisan yang baik bukan cuma menulis artikel ilmiah saja, dan demi melancarkan kegiatan menulis, ternyata tulisan alamiah (baca fiksi, essai, opini, dll) lebih banyak diminati oleh pembaca. Apalagi dalam menulis fiksi, bebannya lebih ringan. Kita tidak terlalu terikat fakta, sebab fiksi lebih berori-entasi kepada imajinasi.
Apabila saya ditanya, apa sih tujuan anda menulis ? Saya katakan bahwa saya menulis hanya untuk dibaca. Kalau sudah dibaca, mau dikritisi, dibahas, dicaci-maki, diambil buat referensi, atau dibuat bungkus kacang, terserahlah. Yang penting di-baca. Kalau kemudian nggak dibaca ?, EGP aja lagi !
Kalau saja, tulisan saya tidak dibaca orang, bukan berarti tulisan yang saya buat mubajir alias sia-sia. Perpektif saya mengatakan bahwa semua tulisan yang bisa saya selesaikan, tidak pernah sia-sia, apalagi mubajir. Semua tulisan yang saya se-lesaikan, akan membiasakan saya untuk terus menulis. Kata ahli teori menulis, kalau tulisan kita menjadi polemik di media, maka tulisan kita dinyatakan berbobot. Bener juga tuh ! Tapi buat saya, menulis, ya, menulis, aja terus !. Tak ada kepentingan apapun, selain menulis, menulis, dan menulis. Kalau tokh, kemudian dikritisi, dicemooh, apalagi jadi polemik, EGP aja lagi !. Dan saya selalu ingat apa kata Imam Ghozalie, kalau anda bukan anak seorang tokoh spiritual atau anak ulama, maka menulislah.
Kembali ke konteks diatas, bahwa kesiapan menulis, sebenarnya tidak pernah ada, yang ada hanya, lakukan saja menulis. Apalagi, waktu menulis, sebenarnya juga ti-dak pernah ada, yang ada hanya sekaranglah saat yang tepat untuk menulis. Jika kita menginginkan kondisi tubuh prima, maka menulis tidak pernah mendapat ke-sempatan untuk disegerakan. Mengapa begitu ? pada hakekatnya, ketika kita menginginkan kesiapan menulis, kita sebebarnya tidak pernah siap untuk menulis. Dan pada saat kita memilih waktu yang tepat untuk menulis, pada hakekatnya, kita kehabisan waktu sekarang untuk menulis. Oleh karena itu, menulislah sekarang, ti-tik.
Banyak teoritikus memaparkan bahwa, jika ingin menulis, mantapkan dulu tu-juannya, tentukan dulu temanya, apa misinya, dan lain-lain. Tidak salah memang. Tetapi, coba sekali-kali ‘teori’ tersebut dibalik. Jangan pikirkan apa yang akan ditulis, tapi tuliskan yang ada di pikiran. Perhatikan apa yang terjadi ? Tulisan itupun men-jadi, bukti.
Menurut teman saya yang orang indramayu, mengatakan bahwa menulis itu adalah, sa-ucaping pangucap, sa-krenteg-ing ati, bukti. Artinya begini, menulis itu sama seperti kita berbicara dengan seseorang, yang lahir langsung dari pikiran. Menulis itu adalah kehendak hati (jiwa), dimana jiwa tidak bisa diatur-atur untuk merencanakan apa dan kapan mulai menulis. Nah, kalau sudah bisa menulis apa yang ada dipikiran dan tanpa aturan yang membelenggu jiwa, maka tulisan kita akan menjadi bukti.
Menurut ahli strategi, rencana menulis nggak ada hubungannya dengan tindakan menulis. Rencana menulis yang dimatangkan di pikiran, hanya berguna untuk men-segerakkan tindakan. Namun, ketika kita menulis, content (isi) tulisan sedikit banyak akan menyimpang dari rencana semula. Makanya, kalau mau memulai menjadi pe-nulis, jangan pake rencana-rencana segala, mau nulis apa ya ?. Langsung, tulis aja yang ada dipikiran kita. Titik. Baru setelah itu, kita bisa mikirin kemana tulisan ini bisa di kirim atau di-upload.
Bang Ersis, dalam Ersis writing Theory, mengemukakan bahwa pada hakekatnya, kita semua, setiap saat, menulis di otak. Apa pun yang kita pikirkan, begitu otak dioperasikan, apalagi merespon hal di luar diri, proses menulis di otak terjadi. Kita semua, tanpa kecuali, adalah penulis di otak sendiri. Dalam sehari semalam, menu-rut para ahli neurology, kita mengganti content (isi) tulisan di otak, antara 60.000 sampai 65.000 tulisan. Dahsyat meeen ? Tapi, kenapa satu tulisan pun nggak pernah selesai, meskipun sudah seharian melototin komputer.
Bang Ersis Warmansya Abbas bilang, kalau begitu, menulis itu mudah dong. Yes. Siapa bilang susah. Mereka yang berpendapat demikian, setidaknya diganjar dua hal mendasar. Pertama, tidak pernah sadar otak setiap saat ‘merekam’ apa pun, ditulis di memori. Kalau tidak percaya ‘panggil’, apa yang dimaui akan muncul seketika. Kedua, tidak membiasakan menuliskan yang telah ditulis di otak. Padahal hanya tinggal ‘menyalin’ saja. Kalau pemahaman kita sudah demikian, kata Bang Ersis lagi, menulis akan dirasakan mudah, dan menyenangkan. Sebab, tidak lagi diganduli ke-hendak ini-itu, angan-angan ini-itu, target ini-itu, syarat ini-itu, dan kepentingan ini-itu. Kalau sudah begini, tulisan akan mengalir dan meluap, sampai jauh, seperti kali Bengawan di Solo.
Bagaimana, kalau begitu !
Bekasi, 4 Maret 2009.








0 komentar:
Post a Comment