Pada saat diskusi atau ngobrol santai, tak bertujuan, sering kita menemukan ide dasar untuk bahan tulisan. Point of view, arah tulisan, seakan-akan tergambar nyata, dikepala kita. Bahkan struktur dan pola tulisan, terbentuk dengan sendirinya. Bagi kita, yang akan menulis artikel ilmiahpun, ketika bahan terkumpul, data-data yang sudah dianggap valid, struktur dan sistematika sudah terencana baik, ternyata belum juga mampu membakar semangat, untuk mensegerakan tindakan menulis. Pertanyaannya, mengapa, ketika kita mulai menulis, seluruh gambaran yang tadi dianggap masih eksis, hilang tak berbekas ? Bagaimana hal itu bisa terjadi ? Nah, tulisan ini, insya Allah akan mengurai persoalan ide dan problematikanya dari sudut pandang saya.
Boleh jadi, kita merasa senang ketika tiba-tiba, entah darimana datangnya, muncul ide di batok kepala. Dalam fikiran yang ditunggangi perasaan, kita berkeinginan mau menulis ini-itu, nanti malam. Bahkan catatan kecil di HP atau di sobekan kertas bon-bon tagihan hutang, dianggap mampu merekam ide/gagasan yang tertangkap dikepala kita. Ternyata, bukan main kesalnya kita, pada saat siap menulis, ide/gagasan itupun menguap bersama kekecewaan kita yang dalam. Meskipun sesa-jen kita, untuk menghadirkan ide tulisan, sudah siap disamping komputer. Tinggal diminum aja, tinggal ngunyah aja, n tinggal nelen aja. Ennnnak, tennaaaan ?
Para ahli teori, yang belum tentu bisa menulis, kalau nggak dipaksa, mengatakan bahwa hilangnya ide menulis di sebabkan karena kondisi fisik kita kurang mendu-kung. Mulai dari gejala masuk angin, sampai koreng yang nggak sembuh-sembuh. Bercanda, jangan serius. Maksud saya begini, fenomena good mood, bukan monopoli aktivitas menulis saja. Aktivitas yang lainnya, seperti apel (bukan buah) ke rumah pacar, kalau nggak ada good mood juga akan menimbulakan bencana besar alias mandeg komunikasi serta keindahannya. Emang ada, yang apel pacar, nggak giood mood ?, banyak atuh kang !. Sebagai contoh, kisah Benyamin Syuaeb, dalam la-gunya Nonton Bioskop !.
Menurut bang Ersis di Padang, dan bang Jonru di Jakarta, yang saya akui telah ban-yak menggurui saya tentang gimana menulis, mengatakan bahwa mood, atau good mood bermakna suasana hati. Bagi kedua abang saya ini, good mood berkaitan langsung dengan suasana hati. Karena itu, tidak ada istilah ‘menunggu mood’. Emang kalau menunggu good mood di pinggri kolam ikan ia akan datang? Nggak lah yaw, kata bang Ersis.
Selanjutnya, bang Ersis berpendapat, kalau menginginkan good mood, ya nyamankan perasaaan, nyamankan suasana hati. Kalau sudah nyaman, jangankan menulis, pekerjaan apa saja akan asyik dilakukan. Logika jangan dijungkarbalik, mood mampir baru menulis. Kalau perasaan rusuh melulu bagaimana?. Betul bang, he...he...he...
Dari pandangan kedua pakar sekaligus motivator menulis tersebut, saya sangat ber-harap baik, bahwa good mood adalah ilusi yang kita buat-buat sendiri. Ken-yataannya, good mood lahir karena kita sendiri yang melahirkannya. Emang, kapan hamilnya ? Maksud saya, kalau toh, nggak penting-penting amat kita hadirkan good mood, ngapain dibikin hidup. Seringnya sih, ketika good mood itu berada bersama kita, kita mencoba menjaganya mati-matian. Lupa istirahat, lupa makan dan lupa sholat. Anehnya, pada saat penjagaan kita terlalu ketat, good mood itu menghilang, entah kemana. Jadi, bisa saya katakan, good mood itu, datang nggak diundang, pu-lang nggak diantar. Jelangkung kaleee ! Makanya, nggak usah dijaga-jaga, dipagari atau dikurung di sangkar mas yang indah.
Good mood, akan menemani kita selama menulis, jika kita penuhi syarat dan rukun-nya. Syaratnya adalah mengenal good mood sebagai sesuatu yang alamiah, bukan ilmiah. Ia hadir, jika fikiran dan perasaan kita berdamai. Tidak saling merasa lebih mampu dan lebih berkuasa. Fikiran dan perasaan sama-sama memiliki andil dalam menghadikan good mood. Artinya, selaraskan antara fikiran kita yang memiliki keinginan menulis, dengan perasaan kita, yang tidak memiliki beban apapun untuk menulis. Sebelum kita membicarakan rukunnya, kita wajib memahami bahwa good mood adalah akibat, bukan sebab. Oleh karena itu, sebabkan hadirnya good mood bersama kita. Caranya, dengan mendamaikan fikiran dan perasaan kita. Bikin agar terjadi gencatan senjata.
Selanjutnya, rukun yang pertama, adalah segerakan menulis, jangan sampai menundanya. Karena ide menulis, selalu berubah dalam hitungan detik, menit, jam atau hari. Rukun kedua, jadikan fikiran dan perasaan kita sealamiah mungkin, mak-sudnya jangan terpengaruh dengan teori-teori menulis, yang juga terus berubah itu. Rukun yang terakhir, menulis aja terus, jangan sampai berhenti, kecuali istirahat, makan dan sholat. Nah, dengan demikian, maka kita akan menulis dengan baik dan lancar-lancar aja.
Mari kita merujuk tulisan saya berjudul Menerobos Pikiran Keruh, bahwa ide menulis ada dimana-mana, kapan saja dan tak terbatas jumlahnya. Ide tulisan, tidak bersifat positip atau negatif, ide tulisan itu netral dan alami sifatnya. Oleh karena itu, ide tulisan, tidak bisa dihakimi dan tidak bisa menghakimi, tidak bisa dinilai baik-buruknya, sebelum jadi sebuat tulisan. Bahkan ide tulisan adalah lautan tak bertepi. Ide tulisan adalah fikiran kita sendiri, lebih jauh lagi, ide tulisan adalah diri kita sendiri. Syukuri ketika ide tulisan melintas dibenak kita, perintahkan pada perasaan di hati kita, untuk berniat menulis ini dan itu. Kemudian, kalau tidak segera menuliskannya, lupakan !
Penulis pemula seperti saya, sangat pamali, menangkap ide dan memenjarakannya di batok kepala. Saya biarkan ide tulisan melintas, saya syukuri kehadirannya, dan membiarkannya pergi ke lain hati, jika saya sibuk dengan pekerjaan lainnya. Kalau nggak percaya, coba aja catat, dikertas, ide-ide tulisan yang melintas di benak kita, kemudian malamnya kita buka lagi catatan ide-ide tersebut. Perhatikan apa yang terjadi ! Pikiran dan perasaan kita akan berkelahi, saling tuduh, salah menyalahkan, kenapa ide tersebut tidak langsung dubuat tulisan aja tadi ! Sekarang ide itu sudah berubah, bukan ide tadi siang, basi tau, kata perasaan kepada pikiran. Ujung-ujungnya, semangat menulis berakhir di catatan ide aja.
Sebagai penutup tulisan ini, saya petik salah satu paragaraf dari seorang motivator, bahwa landasan pacu untuk menulis adalah menulis apa yang ada di pikiran, apa yang terpikirkan, atau apa yang dipikirkan. Tidak perlu, menghabiskan waktu untuk memikirkan apa yang akan ditulis (ide menulis). Sekali lagi, menulislah apa yang ada di pikiran. Selaraskan fikiran dan perasaan kita, bahwa menulis sebagai sesuatu yang menyenangkan. Jangan lagi menunggu good mood, ya ?
Bekasi, 20 Februari 2009.
Boleh jadi, kita merasa senang ketika tiba-tiba, entah darimana datangnya, muncul ide di batok kepala. Dalam fikiran yang ditunggangi perasaan, kita berkeinginan mau menulis ini-itu, nanti malam. Bahkan catatan kecil di HP atau di sobekan kertas bon-bon tagihan hutang, dianggap mampu merekam ide/gagasan yang tertangkap dikepala kita. Ternyata, bukan main kesalnya kita, pada saat siap menulis, ide/gagasan itupun menguap bersama kekecewaan kita yang dalam. Meskipun sesa-jen kita, untuk menghadirkan ide tulisan, sudah siap disamping komputer. Tinggal diminum aja, tinggal ngunyah aja, n tinggal nelen aja. Ennnnak, tennaaaan ?
Para ahli teori, yang belum tentu bisa menulis, kalau nggak dipaksa, mengatakan bahwa hilangnya ide menulis di sebabkan karena kondisi fisik kita kurang mendu-kung. Mulai dari gejala masuk angin, sampai koreng yang nggak sembuh-sembuh. Bercanda, jangan serius. Maksud saya begini, fenomena good mood, bukan monopoli aktivitas menulis saja. Aktivitas yang lainnya, seperti apel (bukan buah) ke rumah pacar, kalau nggak ada good mood juga akan menimbulakan bencana besar alias mandeg komunikasi serta keindahannya. Emang ada, yang apel pacar, nggak giood mood ?, banyak atuh kang !. Sebagai contoh, kisah Benyamin Syuaeb, dalam la-gunya Nonton Bioskop !.
Menurut bang Ersis di Padang, dan bang Jonru di Jakarta, yang saya akui telah ban-yak menggurui saya tentang gimana menulis, mengatakan bahwa mood, atau good mood bermakna suasana hati. Bagi kedua abang saya ini, good mood berkaitan langsung dengan suasana hati. Karena itu, tidak ada istilah ‘menunggu mood’. Emang kalau menunggu good mood di pinggri kolam ikan ia akan datang? Nggak lah yaw, kata bang Ersis.
Selanjutnya, bang Ersis berpendapat, kalau menginginkan good mood, ya nyamankan perasaaan, nyamankan suasana hati. Kalau sudah nyaman, jangankan menulis, pekerjaan apa saja akan asyik dilakukan. Logika jangan dijungkarbalik, mood mampir baru menulis. Kalau perasaan rusuh melulu bagaimana?. Betul bang, he...he...he...
Dari pandangan kedua pakar sekaligus motivator menulis tersebut, saya sangat ber-harap baik, bahwa good mood adalah ilusi yang kita buat-buat sendiri. Ken-yataannya, good mood lahir karena kita sendiri yang melahirkannya. Emang, kapan hamilnya ? Maksud saya, kalau toh, nggak penting-penting amat kita hadirkan good mood, ngapain dibikin hidup. Seringnya sih, ketika good mood itu berada bersama kita, kita mencoba menjaganya mati-matian. Lupa istirahat, lupa makan dan lupa sholat. Anehnya, pada saat penjagaan kita terlalu ketat, good mood itu menghilang, entah kemana. Jadi, bisa saya katakan, good mood itu, datang nggak diundang, pu-lang nggak diantar. Jelangkung kaleee ! Makanya, nggak usah dijaga-jaga, dipagari atau dikurung di sangkar mas yang indah.
Good mood, akan menemani kita selama menulis, jika kita penuhi syarat dan rukun-nya. Syaratnya adalah mengenal good mood sebagai sesuatu yang alamiah, bukan ilmiah. Ia hadir, jika fikiran dan perasaan kita berdamai. Tidak saling merasa lebih mampu dan lebih berkuasa. Fikiran dan perasaan sama-sama memiliki andil dalam menghadikan good mood. Artinya, selaraskan antara fikiran kita yang memiliki keinginan menulis, dengan perasaan kita, yang tidak memiliki beban apapun untuk menulis. Sebelum kita membicarakan rukunnya, kita wajib memahami bahwa good mood adalah akibat, bukan sebab. Oleh karena itu, sebabkan hadirnya good mood bersama kita. Caranya, dengan mendamaikan fikiran dan perasaan kita. Bikin agar terjadi gencatan senjata.
Selanjutnya, rukun yang pertama, adalah segerakan menulis, jangan sampai menundanya. Karena ide menulis, selalu berubah dalam hitungan detik, menit, jam atau hari. Rukun kedua, jadikan fikiran dan perasaan kita sealamiah mungkin, mak-sudnya jangan terpengaruh dengan teori-teori menulis, yang juga terus berubah itu. Rukun yang terakhir, menulis aja terus, jangan sampai berhenti, kecuali istirahat, makan dan sholat. Nah, dengan demikian, maka kita akan menulis dengan baik dan lancar-lancar aja.
Mari kita merujuk tulisan saya berjudul Menerobos Pikiran Keruh, bahwa ide menulis ada dimana-mana, kapan saja dan tak terbatas jumlahnya. Ide tulisan, tidak bersifat positip atau negatif, ide tulisan itu netral dan alami sifatnya. Oleh karena itu, ide tulisan, tidak bisa dihakimi dan tidak bisa menghakimi, tidak bisa dinilai baik-buruknya, sebelum jadi sebuat tulisan. Bahkan ide tulisan adalah lautan tak bertepi. Ide tulisan adalah fikiran kita sendiri, lebih jauh lagi, ide tulisan adalah diri kita sendiri. Syukuri ketika ide tulisan melintas dibenak kita, perintahkan pada perasaan di hati kita, untuk berniat menulis ini dan itu. Kemudian, kalau tidak segera menuliskannya, lupakan !
Penulis pemula seperti saya, sangat pamali, menangkap ide dan memenjarakannya di batok kepala. Saya biarkan ide tulisan melintas, saya syukuri kehadirannya, dan membiarkannya pergi ke lain hati, jika saya sibuk dengan pekerjaan lainnya. Kalau nggak percaya, coba aja catat, dikertas, ide-ide tulisan yang melintas di benak kita, kemudian malamnya kita buka lagi catatan ide-ide tersebut. Perhatikan apa yang terjadi ! Pikiran dan perasaan kita akan berkelahi, saling tuduh, salah menyalahkan, kenapa ide tersebut tidak langsung dubuat tulisan aja tadi ! Sekarang ide itu sudah berubah, bukan ide tadi siang, basi tau, kata perasaan kepada pikiran. Ujung-ujungnya, semangat menulis berakhir di catatan ide aja.
Sebagai penutup tulisan ini, saya petik salah satu paragaraf dari seorang motivator, bahwa landasan pacu untuk menulis adalah menulis apa yang ada di pikiran, apa yang terpikirkan, atau apa yang dipikirkan. Tidak perlu, menghabiskan waktu untuk memikirkan apa yang akan ditulis (ide menulis). Sekali lagi, menulislah apa yang ada di pikiran. Selaraskan fikiran dan perasaan kita, bahwa menulis sebagai sesuatu yang menyenangkan. Jangan lagi menunggu good mood, ya ?
Bekasi, 20 Februari 2009.








0 komentar:
Post a Comment