Gara-gara tadi siang, di depan teman-teman yang belum siap menulis, saya berencana menulis essai atau artikel pendidikan. Eh, malam ini, jari-jemari tak mampu mengalirkan ide-ide hebat, yang tadi siang tergambar di dalam batok kepala. Kesalnya bukan main-main. Sudah tiga jam lebih, berlalu tanpa ada kesepakatan antara pikiran, perasaan dan sepuluh jemari. Buntu aja, lagi !.
Gara-gara tadi siang, di depan teman-teman yang belum siap menulis, saya berencana menulis essai atau artikel pendidikan. Eh, malam ini, jari-jemari tak mampu mengalirkan ide-ide hebat, yang tadi siang tergambar di dalam batok kepala. Kesalnya bukan main-main. Sudah tiga jam lebih, berlalu tanpa ada kesepakatan antara pikiran, perasaan dan sepuluh jemari. Buntu aja, lagi !.
Data-data terbaru, tentang issue-issue kritis dunia pendidikan, sudah siap membumbui artikel yang bakal saya susun, malam ini, namun apa daya, buntu aja, lagi ! Capek deeech !. Mungkin hanya saya aja, yang mengalami kutukan semacam ini, maklum, baru mendadak kreatif. Semangat menggebu-gebu. Meskipun, harus dipaksa-paksa nulis. Ya, begini inilah jadinya, nggak karuan arah tujuannya. Tapi, biarin aja, saya tetap menulis, menulis, dan menulis.
Kondisi seperti ini, sering terjadi. Ketika persiapan sudah bener-bener matang, data-data lengkap, bahkan kepenuhan. Eh, tahu-tahu buntu aja lagi ! Nggak tahu apa penyebab sebenarnya. Biasanya, kalau sudah menyerah begini, aku cuma bisa baca-baca aja, tulisan orang. Salah duanya adalah Bang Jonru, pendiri penulis lepas dot com dan Bang Ersis alias Ersis Warmansyah Abbas dari Kalsel, yang telah berhasil merumuskan teori menulis, dan dia beri nama Ersis writing Theory (EWT).
Bang Jonru dalam tulisannya berjudul Status Penulis Pemula Bukan Kutukan, mengisahkan tentang pengalaman Kang Abik alias Habiburrahman El Shirazy. Kata Bang Jonru, sebelum Novel Ayat-ayat Cinta-nya menjadi best seller, kang Abik juga mengalami status sebagai penulis pemula. Sebelum novelnya dibaca oleh jutaan orang dan di filmkan, Kang Abik nggak pernah dikenal orang, apalagi sebagai penulis pemula. Dikenal aja nggak !.
Senasib dengan Kang Abik, Penulis Laskar Pelangi, Andrea Hirata, dia nggak kepikiran menjadi penulis, apalagi menulis buku best seller. Aditya Mulya, yang menulis Novel Jomblo, dan masih sangat pemula, boro-boro dikenal orang, cerpennya pun nggak pernah dilirik redaksi. Dan masih banyak lagi penulis pemula, yang mampu membebaskan diri dari ‘kutukan penulis pemula.’
Bang Jonru, yang pada 8 Maret 2009, manggung di Faperta Unisma Bekasi, menyimpulkan, bahwa secara logika, tak ada penulis yang tiba-tiba jadi terkenal dan sukses. Mereka semua pasti pernah melewati status, yang bernama penulis pemula. Eh, ngomong-ngomong, saya selaku pengelola website : www.alazhar-bekasi.org, pengen juga ngundang bang Jonru, ngoceh di YW Al Muhajirien Jakapermai Bekasi, tentang dunia lis menulis, tak iye. Perlu bang Jonru ketahui, website kita memiliki 15 admin, dan satu orang web developer, 9 orang kepala Tata usaha sekolah, dan 200 lebih guru. Tapi, yang namanya menulis, lagi-lagi, persis seperti judul tulisan ini, buntu aja, lagi !.
Nggak beda dengan Bang Jonru, Bang Ersis yang sindirannya cukup pedes itu, ngomel begini, jangan pernah memikirkan apa yang akan ditulis, tetapi tulislah apa yang ada di pikiran. Kepercayaan diri alias Pe-De tidak pernah didapat kalau hanya bermain pada tataran ide. Kepercayaan diri bangkit apabila kita melakukan sesuatu. Lagi pula, bagaimana orang mengapresiasi manakala pikiran masih bersemanyam di otak, di pikiran. Tuangkan, lahirkan, tuliskan.
Bang Ersis, selalu meneriakkan kepada khalayak penulis dadakan, seperti saya, jangan pernah menilai tulisan yang masih di otak sebab belum menjadi (belum jadi tulisan). Memikirkan hal tersebut membuang-buang energi, itu dunia para pelamun. Nilailah, perbaiki, diskusikan, tulisan yang telah menjadi. Dengan demikian kita belajar darinya.
Biasanya, kalau sudah diomelin begini, sama Bang Ersis dan Bang Jonru, semangat langsung kebakar lagi. Ujung-ujungnya, meskipun judulnya juga nggak nyambung, selesai juga tuh tulisan.
Kadang-kadang saya seperti orang nggak waras, saya bilang sama pikiran, hai pikiran, mau ikut saya nggak ! kalau nggak mau, ya sudah, saya nulis terus, he .. he.. he…, akhirnya ngikut juga dia. Sama, ketika mata sudah mulai sepet, bodi sudah ngajak ke kamar tidur, trus saya bilang aja begini, hai mata, hai bodi, kamu boleh ngantuk n kamu juga boleh ke kamar tidur, tapi saya masih mau ngetik, sana pergi tidur !. Eh, akhirnya dia mau juga ikut saya, melototin komputer. Mungkin mereka merasa, kaleee ya ? Ngantuknya hilang, dan si bodi alias tubuh yang jauh dari ideal ini, tetep aja nongkrong di depan komputer. Dan nulisnya bisa dipaksa bubar, kalau istri tiba-tiba mendusin dan kaget melihat jam sudah menunjukkan waktu tahajud.
Ssssssttt, pelan-pelan. Jadi, saya pikir tidak perlu ada kesimpulan, yang penting, apa yang ditanya oleh judul tulisan, sudah menemukan jawabannya, yaitu jangan pernah memikirkan apa yang akan ditulis, tetapi tulislah apa yang ada di pikiran. “Capek deeeech !” bentak istri saya, dari kamar tidur.
Bekasi, 24 Februari 2009.
Gara-gara tadi siang, di depan teman-teman yang belum siap menulis, saya berencana menulis essai atau artikel pendidikan. Eh, malam ini, jari-jemari tak mampu mengalirkan ide-ide hebat, yang tadi siang tergambar di dalam batok kepala. Kesalnya bukan main-main. Sudah tiga jam lebih, berlalu tanpa ada kesepakatan antara pikiran, perasaan dan sepuluh jemari. Buntu aja, lagi !.
Data-data terbaru, tentang issue-issue kritis dunia pendidikan, sudah siap membumbui artikel yang bakal saya susun, malam ini, namun apa daya, buntu aja, lagi ! Capek deeech !. Mungkin hanya saya aja, yang mengalami kutukan semacam ini, maklum, baru mendadak kreatif. Semangat menggebu-gebu. Meskipun, harus dipaksa-paksa nulis. Ya, begini inilah jadinya, nggak karuan arah tujuannya. Tapi, biarin aja, saya tetap menulis, menulis, dan menulis.
Kondisi seperti ini, sering terjadi. Ketika persiapan sudah bener-bener matang, data-data lengkap, bahkan kepenuhan. Eh, tahu-tahu buntu aja lagi ! Nggak tahu apa penyebab sebenarnya. Biasanya, kalau sudah menyerah begini, aku cuma bisa baca-baca aja, tulisan orang. Salah duanya adalah Bang Jonru, pendiri penulis lepas dot com dan Bang Ersis alias Ersis Warmansyah Abbas dari Kalsel, yang telah berhasil merumuskan teori menulis, dan dia beri nama Ersis writing Theory (EWT).
Bang Jonru dalam tulisannya berjudul Status Penulis Pemula Bukan Kutukan, mengisahkan tentang pengalaman Kang Abik alias Habiburrahman El Shirazy. Kata Bang Jonru, sebelum Novel Ayat-ayat Cinta-nya menjadi best seller, kang Abik juga mengalami status sebagai penulis pemula. Sebelum novelnya dibaca oleh jutaan orang dan di filmkan, Kang Abik nggak pernah dikenal orang, apalagi sebagai penulis pemula. Dikenal aja nggak !.
Senasib dengan Kang Abik, Penulis Laskar Pelangi, Andrea Hirata, dia nggak kepikiran menjadi penulis, apalagi menulis buku best seller. Aditya Mulya, yang menulis Novel Jomblo, dan masih sangat pemula, boro-boro dikenal orang, cerpennya pun nggak pernah dilirik redaksi. Dan masih banyak lagi penulis pemula, yang mampu membebaskan diri dari ‘kutukan penulis pemula.’
Bang Jonru, yang pada 8 Maret 2009, manggung di Faperta Unisma Bekasi, menyimpulkan, bahwa secara logika, tak ada penulis yang tiba-tiba jadi terkenal dan sukses. Mereka semua pasti pernah melewati status, yang bernama penulis pemula. Eh, ngomong-ngomong, saya selaku pengelola website : www.alazhar-bekasi.org, pengen juga ngundang bang Jonru, ngoceh di YW Al Muhajirien Jakapermai Bekasi, tentang dunia lis menulis, tak iye. Perlu bang Jonru ketahui, website kita memiliki 15 admin, dan satu orang web developer, 9 orang kepala Tata usaha sekolah, dan 200 lebih guru. Tapi, yang namanya menulis, lagi-lagi, persis seperti judul tulisan ini, buntu aja, lagi !.
Nggak beda dengan Bang Jonru, Bang Ersis yang sindirannya cukup pedes itu, ngomel begini, jangan pernah memikirkan apa yang akan ditulis, tetapi tulislah apa yang ada di pikiran. Kepercayaan diri alias Pe-De tidak pernah didapat kalau hanya bermain pada tataran ide. Kepercayaan diri bangkit apabila kita melakukan sesuatu. Lagi pula, bagaimana orang mengapresiasi manakala pikiran masih bersemanyam di otak, di pikiran. Tuangkan, lahirkan, tuliskan.
Bang Ersis, selalu meneriakkan kepada khalayak penulis dadakan, seperti saya, jangan pernah menilai tulisan yang masih di otak sebab belum menjadi (belum jadi tulisan). Memikirkan hal tersebut membuang-buang energi, itu dunia para pelamun. Nilailah, perbaiki, diskusikan, tulisan yang telah menjadi. Dengan demikian kita belajar darinya.
Biasanya, kalau sudah diomelin begini, sama Bang Ersis dan Bang Jonru, semangat langsung kebakar lagi. Ujung-ujungnya, meskipun judulnya juga nggak nyambung, selesai juga tuh tulisan.
Kadang-kadang saya seperti orang nggak waras, saya bilang sama pikiran, hai pikiran, mau ikut saya nggak ! kalau nggak mau, ya sudah, saya nulis terus, he .. he.. he…, akhirnya ngikut juga dia. Sama, ketika mata sudah mulai sepet, bodi sudah ngajak ke kamar tidur, trus saya bilang aja begini, hai mata, hai bodi, kamu boleh ngantuk n kamu juga boleh ke kamar tidur, tapi saya masih mau ngetik, sana pergi tidur !. Eh, akhirnya dia mau juga ikut saya, melototin komputer. Mungkin mereka merasa, kaleee ya ? Ngantuknya hilang, dan si bodi alias tubuh yang jauh dari ideal ini, tetep aja nongkrong di depan komputer. Dan nulisnya bisa dipaksa bubar, kalau istri tiba-tiba mendusin dan kaget melihat jam sudah menunjukkan waktu tahajud.
Ssssssttt, pelan-pelan. Jadi, saya pikir tidak perlu ada kesimpulan, yang penting, apa yang ditanya oleh judul tulisan, sudah menemukan jawabannya, yaitu jangan pernah memikirkan apa yang akan ditulis, tetapi tulislah apa yang ada di pikiran. “Capek deeeech !” bentak istri saya, dari kamar tidur.
Bekasi, 24 Februari 2009.








0 komentar:
Post a Comment