Oleh. Purwalodra
Suatu sore, sebelum saya mencatatkan jari telunjuk pada mesin pencatat waktu pulang, handphone di saku baju saya berdering. Setelah tahu, siapa yang akan saya ajak bicara, baru saya berani meletakkan Ha-Pe itu di dekat telinga, lalu bicara ke-sana-kesini, ketawa-ketiwi, bicara ini-itu, ngalor-ngidul, yang ujung-ujungnya, dia meminta saya mampir ke kantornya, sebelum sampai ke rumah.
Suatu sore, sebelum saya mencatatkan jari telunjuk pada mesin pencatat waktu pu-lang, handphone di saku baju saya berdering. Setelah tahu, siapa yang akan saya ajak bicara, baru saya berani meletakkan Ha-Pe itu di dekat telinga, lalu bicara ke-sana-kesini, ketawa-ketiwi, bicara ini-itu, ngalor-ngidul, yang ujung-ujungnya, dia meminta saya mampir ke kantornya, sebelum sampai ke rumah.
Sampai di kantornya, secangkir kopi dan beberapa nyamikan kecil, sudah menghiasi mejanya. Tanpa basa-basi, saya menjadi lebih akrab dengan jamuan di meja presdir, dari pada tuan rumah yang mengundangku mampir di kantornya. Teman saya, yang presdir itu, sudah dua tahun jalan, mengusahakan penyaluran tenaga kerja ke peru-sahaan-perusahaan industri, dengan system aotsourching. Namun, sudah hampir jalan dua tahun, belum ada satupun, perusahaan yang mau mengajakknya bekerja sama.
Pembicaraan dimulai, dari keluh-kesahnya seputar biaya operasional perusahaan yang belum memperoleh pengganti dari sang komisaris, sampai pesanan tenaga kerja yang belum pernah dia dapatkan dari perusahaan pengguna, karena tidak mampu memberi De-Pe (fulus), kepada pimpinan personalia.
Selama hampir dua tahun, bukan berarti tidak ada yang mendaftar sebagai calon tenaga kerja, bahkan informasi tentang lowongan kerja banyak datang dari kawan-kawannya, yang juga berprofesi sebagai presdir outsourching. Namun, lagi-lagi pendekatan ke pimpinan persoalia, belum bisa membuahkan kerjasama.
Seingat saya, baru sekali aja, teman saya itu mengadakan adjustment training, di-mana si calon tenaga kerja dilatih untuk mempersiapkan diri, terjun ke dunia pekerjaan, tetapi hanya sampai disitu saja kegiatannya. Mereka, para calon tenaga kerja, sampai sekarang, belum tersalurkan ke perusahaan-perusahaan yang membu-tuhkannya.
Prosedur usaha yang dilakukan teman saya, yaitu, si calon tenaga kerja mendaftar-kan diri ke perusahaannya, bersama-sama uang administrasi seratus ribu dan uang jaminan kerja sebesar satu juta rupiah. Sesuai peraturan, yang di bikin sendiri, jika selama satu bulan belum mendapatkan pekerjaan, maka uang jaminan dikembalikan kepada si calon tenaga kerja, utuh, yang tinggal cuma uang administrasinya aja. Tapi, kalau tenaga kerja itu tersalurkan, maka uang satu juta masuk kantong pak presdir. Namun, lagi-lagi, pak presdir, yang teman saya itu, belum mau mengem-balikan dana, yang satu juta, kepada calon tenaga kerja, meskipun sudah dua bulan lebih belum bekerja di perusahaan. Alasan pak presdir, masih banyak lowongan yang akan menanti untuk ditawarkannya.
Karuan saja, akhirnya, semakin banyak calon tenaga kerja yang mendaftar, semakin banyak pula dana si calon tenaga kerja yang digunakan, sementara sang komisaris, lepas tangan sama sekali. Pinjaman lunak sampai pinjaman keras, diajukan sebagai upaya untuk menutup dana-dana calon tenaga kerja, yang sudah dia gunakan. Wal hasil, sampai kopi dicangkir saya habis, pinjaman itupun belum dia dapatkan.
Diakhir, keluh kesahnya, teman saya yang presdir itu, meminta saya berkomentar seputar gagasannya untuk memberikan ‘Dana Talangan’ upah kepada 600 orang tenaga kerja, dari salah satu perusahaan elektronik yang akan beroperasi di kawa-san industri Bekasi. Menurutnya, komisaris sudah setuju dengan idenya itu, dan akan mencarikan dana dari koperasi militer, dimana si komisaris berprofesi. Dana yang dibutuhkan nggak tanggung-tanggung, 1,3 milyard coy, sebulan. Sementara ia membutuhkan dana talangan selama 3 bulan. Bisa dihitung, berapa dana yang bakal dikeluarkan oleh si komisaris. Tiga koma sembilan milyard, bo !
Bukan persoalan kecil, menurut saya, kalau tokh si komisaris mampu mengeluarkan dana sebesar itu. Persoalan besarnya, menurut saya, kenapa dana-dana si calon tenaga kerja bisa digunakan sebagai operasional perusahaan, sementara dengan cuma-cuma, dia mampu memberikan pinjaman berupa dana talangan ke perusahaan lain, yang belum tentu menghasilkan keuntungan sama sekali. Pasti ada udang di balik rempeyek !, dalam hati.
Setelah telusur punya selidik. Selidik punya fakta, dan fakta punya informasi. Saya mengerti, mengapa si presdir itu enteng bangeeet’s, memberikan dana kepada peru-sahaan elektronik yang baru berdiri. Sementara, kebutuhan oprasinalnya sendiri, seperti bayar telepon dan listrik aja, pailit !. Ternyata, ia punya hasrat yang kurang baik, agar si komisaris mengeluarkan dananya, untuk mengganti dana-dana yang sudah dikeluarkannya. Sekaligus mampu menutup semua hutang-hutang perusa-haan kepada pihak ketiga.
Saya mengawali komentar saya dengan mengatakan, urus dulu diri sendiri baru pe-rusahaan orang. Usaha apapun kalau diawali dengan niat tidak baik, akan berakibat tidak baik pula bagi usaha kita itu. Perjalanan usaha selama, nyaris, dua tahun, dan belum menghasilkan apa-apa, perlu usaha lagi untuk introskeksi, melihat kedalam diri sendiri. Sebenarnya, apa sih, yang kita inginkan dari usaha kita itu ?. Saya sedikit menyalahkan, meski saya sendiri nggak bisa menjalankan usaha.
Selanjutnya, saya menjelaskan kepada presdir yang sudah terjangkit penyakit ben-gong itu, bahwa dalam berwirausaha sebisa mungkin, jangan berorientasi pada ke-untungan semata-mata. Karena hakekat berusaha atau berwirausaha adalah pen-gorbanan, memenuhi kebutuhan orang. Keuntungan hanya ekses aja, bukan pula sebagai akibat. Cuma ekses yang ngikut begitu saja. Ketika barang dan jasa yang kita jual laku dan diminati masyarakat, udah ada untung disitu. Inilah kepastian dalam berbisnis. Tapi kalau barang dan jasa yang kita siapkan nggak laku, nggak diminati, tidak memenuhi kebutuhan masyarakat, ya, siap-siap aja gulung tiker.
Sebagian besar pengusaha, nggak pada sadar kaleee, bahwa, apabila keuntungan menjadi fokus dalam berusaha, maka kita akan terus berhitung secara material, ber-hitung secara fisik, berhitung efisiensi, berhitung efektifitas, dan berhitung kinerja, dan proses berhitung itu sendiri adalah kerjaan fikiran, yang gampang bangeeet’s ditunggangi hasrat-hasrat duniawi, yaitu ego dan nafsu. Akhirnya, kita tidak lagi menyadari, bahwa berwirausaha adalah proses pengorbanan untuk memenuhi kebu-tuhan orang alias konsumen. Pokoknya seperti ustadz ajalah, ngomongnya.
Sementara dia masih bengooong aja, saya buat shock therapy, berarti selama ham-pir dua tahun ini, sebenarnya pak presdir tidak fokus sama bisnisnya, tapi fokus sama keuntunganya saja. Jadi, seperti inilah hasilnya. Bukannya untung di dapat, malah hutang menumpuk, perusahaan nggak lagi dipercaya oleh masyarakat.
Mendengar komentar saya, presdir, yang teman saya itu menyalahkan komisarisnya, bahwa selama ini komisaris sudah nggak mau tahu urusan perusahaan. Komisaris hanya mau tahu untungnya aja. Sementara, untuk urusan dana ini-itu, nggak mau tahu, komisaris tidak mau mengeluarkan duit lagi.
Kemudian, presdir itu, memaksa saya untuk meberikan solusinya. Jangan ngomong doang. Pura-pura bodoh aja (emang bener nggak tahu), saya bilang, mana saya tahu, tokh yang berwirausaha khan bukan saya, weeee ? Saya meledeknya habis-habisan. Karena saya sendiri, sebenarnya, nggak ngerti, yang mana dari pada ber-wirausaha. Untuk menutupi kekurangan yang saya miliki, saya bilang begini, konsul-tan bukan !, penasehat bukan !, kok malah minta solusi, emang gue pikirin ?. Eh, dia malah cengengesan.
Melihat, si presdir, sudah tak berdaya, saya nggak tega juga sih, tapi apa boleh buat, karena akibat seperti ini khan, buah dari sebab yang dia ciptakan sendiri. Lalu, saya coba mengulang apa-apa yang saya katakan. Sekarang gimana ? Apakah sudah ditemukan dan disadari, kenapa usaha pak presdir sampai seperti ini ?. Sambil sedikit merenung, dia bilang, sudah !. Oke, masih banyak jalan keluar, tapi jalan ini tidak selogis dan masuk akal seperti jalan-jalan yang ditempuh banyak pengusaha lainnya. Gimana tuh ? dia mulai penasaran.
Begini, sebenarnya (menurut orang yang nggak ngerti usaha seperti saya) kita ting-gal membalik telapak tangan aja. Pak presdir makin penasaran dan mengulang apa yang saya katakan. Cuma membalik telapak tangan ?.
Iya, membalik tepak tangan artinya, membalik pikiran kita. Kalau pikiran kita kema-ren tertutup akibat berfokus pada keuntungan, baik materi maupun non materi (nama baik dan kepentingan lain, sejenisnya), coba sekarang kita fokus kepada ke-beranian hati untuk berkorban, memenuhi kebutuhan orang, siapapun dan apapun kondisinya. Artinya, jangan lagi mikir keuntungan, mikir aja bagaimana para tenaga kerja yang terdaftar bisa tersalurkan untuk bekerja di perusahaan pengguna. Jangan pikirin dia mau bayar apa nggak, jangan pikirin perusahaan dapat duit dari tenaga kerja. Yang penting, pak presdir bisa mempermudah para pencari kerja itu mendapatkan pekerjaannya. Gimana, kalo gitu ?
Apa nggak ada saran lain ?, kata pak presdir. Cuma segitu-gitunya ilmu saya pak ?, saya beralasan. Dia hanya mengangguk, heran.
Bekasi, 22 Februari 2009.
Suatu sore, sebelum saya mencatatkan jari telunjuk pada mesin pencatat waktu pu-lang, handphone di saku baju saya berdering. Setelah tahu, siapa yang akan saya ajak bicara, baru saya berani meletakkan Ha-Pe itu di dekat telinga, lalu bicara ke-sana-kesini, ketawa-ketiwi, bicara ini-itu, ngalor-ngidul, yang ujung-ujungnya, dia meminta saya mampir ke kantornya, sebelum sampai ke rumah.
Sampai di kantornya, secangkir kopi dan beberapa nyamikan kecil, sudah menghiasi mejanya. Tanpa basa-basi, saya menjadi lebih akrab dengan jamuan di meja presdir, dari pada tuan rumah yang mengundangku mampir di kantornya. Teman saya, yang presdir itu, sudah dua tahun jalan, mengusahakan penyaluran tenaga kerja ke peru-sahaan-perusahaan industri, dengan system aotsourching. Namun, sudah hampir jalan dua tahun, belum ada satupun, perusahaan yang mau mengajakknya bekerja sama.
Pembicaraan dimulai, dari keluh-kesahnya seputar biaya operasional perusahaan yang belum memperoleh pengganti dari sang komisaris, sampai pesanan tenaga kerja yang belum pernah dia dapatkan dari perusahaan pengguna, karena tidak mampu memberi De-Pe (fulus), kepada pimpinan personalia.
Selama hampir dua tahun, bukan berarti tidak ada yang mendaftar sebagai calon tenaga kerja, bahkan informasi tentang lowongan kerja banyak datang dari kawan-kawannya, yang juga berprofesi sebagai presdir outsourching. Namun, lagi-lagi pendekatan ke pimpinan persoalia, belum bisa membuahkan kerjasama.
Seingat saya, baru sekali aja, teman saya itu mengadakan adjustment training, di-mana si calon tenaga kerja dilatih untuk mempersiapkan diri, terjun ke dunia pekerjaan, tetapi hanya sampai disitu saja kegiatannya. Mereka, para calon tenaga kerja, sampai sekarang, belum tersalurkan ke perusahaan-perusahaan yang membu-tuhkannya.
Prosedur usaha yang dilakukan teman saya, yaitu, si calon tenaga kerja mendaftar-kan diri ke perusahaannya, bersama-sama uang administrasi seratus ribu dan uang jaminan kerja sebesar satu juta rupiah. Sesuai peraturan, yang di bikin sendiri, jika selama satu bulan belum mendapatkan pekerjaan, maka uang jaminan dikembalikan kepada si calon tenaga kerja, utuh, yang tinggal cuma uang administrasinya aja. Tapi, kalau tenaga kerja itu tersalurkan, maka uang satu juta masuk kantong pak presdir. Namun, lagi-lagi, pak presdir, yang teman saya itu, belum mau mengem-balikan dana, yang satu juta, kepada calon tenaga kerja, meskipun sudah dua bulan lebih belum bekerja di perusahaan. Alasan pak presdir, masih banyak lowongan yang akan menanti untuk ditawarkannya.
Karuan saja, akhirnya, semakin banyak calon tenaga kerja yang mendaftar, semakin banyak pula dana si calon tenaga kerja yang digunakan, sementara sang komisaris, lepas tangan sama sekali. Pinjaman lunak sampai pinjaman keras, diajukan sebagai upaya untuk menutup dana-dana calon tenaga kerja, yang sudah dia gunakan. Wal hasil, sampai kopi dicangkir saya habis, pinjaman itupun belum dia dapatkan.
Diakhir, keluh kesahnya, teman saya yang presdir itu, meminta saya berkomentar seputar gagasannya untuk memberikan ‘Dana Talangan’ upah kepada 600 orang tenaga kerja, dari salah satu perusahaan elektronik yang akan beroperasi di kawa-san industri Bekasi. Menurutnya, komisaris sudah setuju dengan idenya itu, dan akan mencarikan dana dari koperasi militer, dimana si komisaris berprofesi. Dana yang dibutuhkan nggak tanggung-tanggung, 1,3 milyard coy, sebulan. Sementara ia membutuhkan dana talangan selama 3 bulan. Bisa dihitung, berapa dana yang bakal dikeluarkan oleh si komisaris. Tiga koma sembilan milyard, bo !
Bukan persoalan kecil, menurut saya, kalau tokh si komisaris mampu mengeluarkan dana sebesar itu. Persoalan besarnya, menurut saya, kenapa dana-dana si calon tenaga kerja bisa digunakan sebagai operasional perusahaan, sementara dengan cuma-cuma, dia mampu memberikan pinjaman berupa dana talangan ke perusahaan lain, yang belum tentu menghasilkan keuntungan sama sekali. Pasti ada udang di balik rempeyek !, dalam hati.
Setelah telusur punya selidik. Selidik punya fakta, dan fakta punya informasi. Saya mengerti, mengapa si presdir itu enteng bangeeet’s, memberikan dana kepada peru-sahaan elektronik yang baru berdiri. Sementara, kebutuhan oprasinalnya sendiri, seperti bayar telepon dan listrik aja, pailit !. Ternyata, ia punya hasrat yang kurang baik, agar si komisaris mengeluarkan dananya, untuk mengganti dana-dana yang sudah dikeluarkannya. Sekaligus mampu menutup semua hutang-hutang perusa-haan kepada pihak ketiga.
Saya mengawali komentar saya dengan mengatakan, urus dulu diri sendiri baru pe-rusahaan orang. Usaha apapun kalau diawali dengan niat tidak baik, akan berakibat tidak baik pula bagi usaha kita itu. Perjalanan usaha selama, nyaris, dua tahun, dan belum menghasilkan apa-apa, perlu usaha lagi untuk introskeksi, melihat kedalam diri sendiri. Sebenarnya, apa sih, yang kita inginkan dari usaha kita itu ?. Saya sedikit menyalahkan, meski saya sendiri nggak bisa menjalankan usaha.
Selanjutnya, saya menjelaskan kepada presdir yang sudah terjangkit penyakit ben-gong itu, bahwa dalam berwirausaha sebisa mungkin, jangan berorientasi pada ke-untungan semata-mata. Karena hakekat berusaha atau berwirausaha adalah pen-gorbanan, memenuhi kebutuhan orang. Keuntungan hanya ekses aja, bukan pula sebagai akibat. Cuma ekses yang ngikut begitu saja. Ketika barang dan jasa yang kita jual laku dan diminati masyarakat, udah ada untung disitu. Inilah kepastian dalam berbisnis. Tapi kalau barang dan jasa yang kita siapkan nggak laku, nggak diminati, tidak memenuhi kebutuhan masyarakat, ya, siap-siap aja gulung tiker.
Sebagian besar pengusaha, nggak pada sadar kaleee, bahwa, apabila keuntungan menjadi fokus dalam berusaha, maka kita akan terus berhitung secara material, ber-hitung secara fisik, berhitung efisiensi, berhitung efektifitas, dan berhitung kinerja, dan proses berhitung itu sendiri adalah kerjaan fikiran, yang gampang bangeeet’s ditunggangi hasrat-hasrat duniawi, yaitu ego dan nafsu. Akhirnya, kita tidak lagi menyadari, bahwa berwirausaha adalah proses pengorbanan untuk memenuhi kebu-tuhan orang alias konsumen. Pokoknya seperti ustadz ajalah, ngomongnya.
Sementara dia masih bengooong aja, saya buat shock therapy, berarti selama ham-pir dua tahun ini, sebenarnya pak presdir tidak fokus sama bisnisnya, tapi fokus sama keuntunganya saja. Jadi, seperti inilah hasilnya. Bukannya untung di dapat, malah hutang menumpuk, perusahaan nggak lagi dipercaya oleh masyarakat.
Mendengar komentar saya, presdir, yang teman saya itu menyalahkan komisarisnya, bahwa selama ini komisaris sudah nggak mau tahu urusan perusahaan. Komisaris hanya mau tahu untungnya aja. Sementara, untuk urusan dana ini-itu, nggak mau tahu, komisaris tidak mau mengeluarkan duit lagi.
Kemudian, presdir itu, memaksa saya untuk meberikan solusinya. Jangan ngomong doang. Pura-pura bodoh aja (emang bener nggak tahu), saya bilang, mana saya tahu, tokh yang berwirausaha khan bukan saya, weeee ? Saya meledeknya habis-habisan. Karena saya sendiri, sebenarnya, nggak ngerti, yang mana dari pada ber-wirausaha. Untuk menutupi kekurangan yang saya miliki, saya bilang begini, konsul-tan bukan !, penasehat bukan !, kok malah minta solusi, emang gue pikirin ?. Eh, dia malah cengengesan.
Melihat, si presdir, sudah tak berdaya, saya nggak tega juga sih, tapi apa boleh buat, karena akibat seperti ini khan, buah dari sebab yang dia ciptakan sendiri. Lalu, saya coba mengulang apa-apa yang saya katakan. Sekarang gimana ? Apakah sudah ditemukan dan disadari, kenapa usaha pak presdir sampai seperti ini ?. Sambil sedikit merenung, dia bilang, sudah !. Oke, masih banyak jalan keluar, tapi jalan ini tidak selogis dan masuk akal seperti jalan-jalan yang ditempuh banyak pengusaha lainnya. Gimana tuh ? dia mulai penasaran.
Begini, sebenarnya (menurut orang yang nggak ngerti usaha seperti saya) kita ting-gal membalik telapak tangan aja. Pak presdir makin penasaran dan mengulang apa yang saya katakan. Cuma membalik telapak tangan ?.
Iya, membalik tepak tangan artinya, membalik pikiran kita. Kalau pikiran kita kema-ren tertutup akibat berfokus pada keuntungan, baik materi maupun non materi (nama baik dan kepentingan lain, sejenisnya), coba sekarang kita fokus kepada ke-beranian hati untuk berkorban, memenuhi kebutuhan orang, siapapun dan apapun kondisinya. Artinya, jangan lagi mikir keuntungan, mikir aja bagaimana para tenaga kerja yang terdaftar bisa tersalurkan untuk bekerja di perusahaan pengguna. Jangan pikirin dia mau bayar apa nggak, jangan pikirin perusahaan dapat duit dari tenaga kerja. Yang penting, pak presdir bisa mempermudah para pencari kerja itu mendapatkan pekerjaannya. Gimana, kalo gitu ?
Apa nggak ada saran lain ?, kata pak presdir. Cuma segitu-gitunya ilmu saya pak ?, saya beralasan. Dia hanya mengangguk, heran.
Bekasi, 22 Februari 2009.








0 komentar:
Post a Comment