Here is the ultimate resource for detailed purwalodra guides, and tips. Find about purwalodra that will match your need | Education | Life | Writing | Politics

Click

16 April 2009

BERBISNIS KEPADA ORANG TUA

Oleh. Purwalodra

Jam 14.00 WIB, siang ini, orang tua lak-laki saya alias Bapak saya, bisa menghirup udara segar, keluar dari Rumah Sakit Mekar Sari bekasi. Sudah seminggu lebih Ba-pak dirawat di rumah sakit ini, dan menjalani operasi hernia dan prostate. Setelah menyelesaikan administaasi keuangan, kami bergegas pulang, kami menikmati kele-gaan bersama ibu, menantu, adik istri dan para cucu-cucu. Suasana hangat dan pe-nuh kegembiraanpun menjadi bagian dari hidup kami.

Jam 14.00 WIB, siang ini, orang tua lak-laki saya alias Bapak saya, bisa menghirup udara segar, keluar dari Rumah Sakit Mekar Sari bekasi. Sudah seminggu lebih Ba-pak dirawat di rumah sakit ini, dan menjalani operasi hernia dan prostate. Setelah menyelesaikan administaasi keuangan, kami bergegas pulang, kami menikmati kele-gaan bersama ibu, menantu, adik istri dan para cucu-cucu. Suasana hangat dan pe-nuh kegembiraanpun menjadi bagian dari hidup kami.

Belum selesai Shalat magrib, adik bontot saya, datang ke rumah dan mengabarkan bahwa bapak sulit kencing. Bapak bilang, sejak pulang dari rumah sakit, tadi siang, bahkan mungkin sejak selang kateter di saluran kencingnya dicabut pagi tadi, ia ke-sulitan mengeluarkan air seni. Setelah mendengar kabar itu, saya menyuruh adik saya untuk membawanya ke rumah sakit lagi, untuk kembali dikateter saluran kencingnya.

Sesampainya di ruang UGD, Bapak langsung ditangani seorang dokter dan dua per-awat, nggak lama kemudian, kondisi orang tua saya kembali nyaman. Kata dokter kepada adik saya, bahwa kondisi semacam ini sering terjadi pada pasien bedah, jadi jangan dibuat kuatir. Mendengar kata-kata dokter, kami sekeluarga kembali lega. Kemudian, Bapak pulang dengan kateter di saluran kecingnya, dan menjalani rawat jalan di rumah.

Pengalaman tersebut, menginspirasi saya untuk menulis tentang bisnis sejati yang di jalani oleh setiap manusia di muka bumi ini. Dalam tulisan saya terdahulu, Bis-nis=Keuntungan ?, saya mengatakan bahwa dalam berwirausaha sebisa mungkin, jangan berorientasi pada keuntungan semata-mata. Karena hakekat berusaha atau berwirausaha adalah pengorbanan, memenuhi kebutuhan orang (konsumen). Keun-tungan hanya ekses aja, bukan pula sebagai akibat. cuma ekses yang ngikut begitu saja. Ketika barang dan jasa yang kita jual laku dan diminati masyarakat, sudah ada keuntungan disitu. Inilah kepastian dalam berbisnis. Tapi kalau barang dan jasa yang kita siapkan nggak laku, nggak diminati, tidak memenuhi kebutuhan masyara-kat, ya, siap-siap aja gulung tiker.

Bisnis adalah pengorbanan, merupakan fakta kehidupan dan fakta pengalaman bagi setiap manusia. Karena dalam Q.S. Al Ashr ayat 1 – 3 : Demi waktu ‘ashr (sore). Sebetulnya manusia itu pasti dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih; dan saling berpesan dalam kebenaran dan saling berpesan dengan kesabaran.

Sebagian besar kita yang berwirausaha, menjadikan ‘keuntungan materiil’ menjadi fokus dalam berusaha. Pikiran kita akan terus berhitung secara material, berhitung secara fisik, berhitung efisien, berhitung efektifitas, dan berhitung kinerja, dan proses berhitung itu sendiri adalah pekerjaan fikiran, yang gampang diganduli has-rat-hasrat duniawi, yaitu ego dan nafsu. Pada akhirnya, kita tidak lagi menyadari, bahwa berwirausaha adalah proses pengorbanan untuk memenuhi kebutuhan orang alias konsumen. Kita lupa akan peringatan Allah, bahwa waktu yang kita miliki se-mata-mata adalah kerugian, bukan keuntungan. Orang-orang yang beruntung ber-sama waktu yang bergulir, adalah orang-orang memiliki keyakinan bahwa keuntun-gan bukan bersifat fisik atau material; orang beruntung adalah orang yang mampu berbuat kebaikan untuk sesama (memberikan manfaat untuk sesama); orang yang bersikap, berfikir dan berperlaku benar; orang yang berserah diri kepada yang Maha Bijak, Maha Kaya dan Maha Mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui (sabar).

Manifestasi firman Tuhan diatas, juga mengingatkan saya pada perdebatan kecil dengan adik bontot saya, di kantin rumah sakit, tadi pagi. Ia sangat berharap ban-yak dengan bisnis warnetnya yang sudah direncanakan sangat matang. Saya bilang, dalam berbisnis kita butuh keikhlasan tingkat tinggi, karena tidak mungkin kita memberi manfaat kepada orang lain tanpa nilai-nilai keikhlasan. Adik saya ngotot, bahwa bisnis yang dijalankan selama ini penuh dengan nilai-nilai keikhlasan, meskipun akhirnya bangkrut. Saya bilang bahwa hakekatnya dalam bisnis yang benar tidak ada kata bangkrut alias gulung tiker. Pailit alias bangkut hanya dimiliki bagi mereka yang berusaha mendapatkan modalnya kembali atau mereka hanya mengejar keuntungan dari modal yang dia putar.

Selama kita masih mempunyai pikiran atas keuntungan (baca, kepentingan) dalam berbisnis, maka urusan-urusan kita dalam menjalankan bisnis penuh dengan lika-liku manajemen, organisasi, keuangan dan lain-lain. Kalau kita mau melihat sikap bisnis Rasulullah SAW, kenapa beliau begitu jujur dengan bisnis yang dijalaninya ?. Tidak lain karena bisnis yang beliau jalankan sarat dengan nilai-nilai ke-Ikhlasan. Tidak berharap untung secara matriil, tetapi bagaimana kebutuhan orang lain bisa terpe-nuhi, itu saja. Makanya, Pak Mario teguh selalu bilang, penuhi kebutuhan orang lain, selain diri kita, dan perhatikan apa yang terjadi !

Dengan demikian, apa yang kita harapkan dari bisnis semata-mata membantu orang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Mungkin, sekarang saat yang tepat bagi saya untuk bisa belajar berbisnis tanpa kepentingan apapun, selain membantu kebutuhan orang tua sembuh dari penyakitnya.

Bagaimana, kalau begitu !

Bekasi, 26 Maret 2009.


0 komentar:

Viviti